Pocong Opa-Opa Korea
Campuran
Hanum berdiri di bawah langit yang kini sok-sok cerah, seolah hujan barusan hanyalah prank semesta. Jaketnya basah, sepatunya nyiprat lumpur, rambutnya lepek seperti rumput habis disiram, dan yang paling menyedihkan—dia baru saja ngobrol serius dengan mantan pacar yang sudah meninggal.
“Bagus, Hanum,” gumamnya sambil menepuk pipinya sendiri. “Kamu bukan cuma gagal move on. Kamu sudah naik level: halu premium.”
Ia menoleh ke bangku halte. Kosong. Tidak ada Bima. Tidak ada senyum teduh. Tidak ada suara lembut. Yang ada hanya plastik bekas gorengan yang tertiup angin dan poster iklan pinjaman online yang sobek setengah.
Hanum menghela napas panjang.
“Minimal tadi bukan pinjol yang muncul,” katanya lirih. “Bayangin kalau yang muncul Mas Budi Debt Collector, bukan Bima.”
Ia tertawa kecil sendiri. Tertawa yang aneh. Tertawa orang yang baru saja nangis brutal tapi sekarang otaknya sedang mencoba waras kembali dengan humor receh.
Hanum melangkah keluar dari halte. Baru tiga langkah, kakinya terpeleset.
“ASTAGHFIRULLAH!”
BRAKK.
Ia jatuh terduduk di aspal yang masih basah. Bokongnya mendarat dengan suara yang tidak elegan dan tidak pantas didengar orang waras.
“Lengkap sudah,” keluhnya. “Ketemu arwah mantan, lalu jatuh di tempat umum. Tinggal tunggu ada kamera tersembunyi.”
“Mbakyu nggak papa?”
Hanum menoleh. Seorang bapak penjual cilok berdiri di samping gerobaknya. Kumisnya tebal, matanya penuh empati, dan sendalnya—yang anehnya—tidak basah sama sekali.
“Papa,” kata Hanum dengan wajah datar, “kalau saya bilang barusan ngobrol sama orang mati, Bapak percaya nggak?”
Bapak cilok mengangguk mantap. “Percaya.”
Hanum mengernyit. “Serius?”
“Lha wong saya tiap hari ngobrol sama mantan pelanggan yang ngutang cilok tapi nggak pernah bayar,” jawab bapak itu tenang. “Secara moral mereka sudah mati, Mbak.”
Hanum terdiam. Lalu tertawa.
Tertawa keras. Tertawa lepas. Tertawa sampai air matanya keluar lagi, tapi kali ini bukan karena sedih—melainkan karena absurdnya hidup.
“Oke,” katanya sambil berdiri tertatih. “Saya butuh cilok. Banyak.”
“Cilok bisa menyembuhkan patah hati,” kata bapak itu bijak. “Asal pedasnya level lima.”
1
Cilok, Arwah dan Kenyataan
Hanum duduk di bangku pinggir jalan, menyantap cilok dengan saus kacang yang entah kenapa terlalu encer tapi sangat jujur rasanya. Bapak cilok menatapnya seperti seorang psikolog senior yang sedang menghadapi klien tidak stabil.
“Mbak habis putus cinta?” tanyanya.
“Lebih parah,” jawab Hanum. “Saya habis nostalgia lintas alam.”
“Oh,” kata bapak itu santai. “Berarti Mbak belum mandi.”
“Belum.”
“Pantesan arwahnya betah.”
Hanum hampir tersedak cilok.
“Pak, Bapak ini jualan cilok apa jualan filsafat?”
“Dua-duanya,” jawabnya bangga. “Cilok ini hanya media. Intinya hidup itu kenyal. Kadang keras, kadang lembek, tapi kalau dikunyah pelan-pelan bisa ditelan.”
Hanum menatap cilok di tusukannya.
“…Saya nggak tahu harus nangis atau manggut-manggut.”
“Dua-duanya juga boleh.”
Hanum mengunyah. Dunia terasa sedikit lebih masuk akal.
Setelah cilok habis dan perutnya agak terisi, Hanum berdiri. Ia mengeluarkan uang.
“Pak, terima kasih.”
“Sama-sama. Jangan lupa pulang.”
Hanum melangkah pergi. Baru beberapa meter, ia berhenti dan menoleh lagi.
“Pak?”
“Iya?”
“Kalau arwah mantan muncul lagi, harus diapain?”
Bapak cilok berpikir sebentar. “Ditanyain. Mau cilok apa nggak.”
Hanum tertawa dan melanjutkan langkahnya.
2
Kos, Kucing dan Kesadaran
Kos Hanum terletak di gang kecil yang jalannya berlubang seperti perasaan mantan yang belum move on. Di depan pintu kos, seekor kucing oranye gemuk sedang tidur melintang, seolah dia pemilik sah tempat itu.
“Geser, Bos,” kata Hanum. “Aku mau masuk.”
Kucing itu membuka satu mata, menatap Hanum dengan ekspresi: ‘Siapa kamu dan kenapa hidupmu berisik?’
“Ya ampun,” Hanum jongkok. “Kamu hidup santai banget, ya. Nggak mikirin cinta, nggak mikirin masa depan.”
Kucing itu mengeong.
“Bima juga nggak mikirin masa depan,” gumam Hanum, lalu terdiam. “Eh. Jangan bawa-bawa.”
Ia masuk ke kamar kosnya. Bau lembap menyambutnya seperti pelukan pasif-agresif. Ia melempar tas, menjatuhkan diri ke kasur, dan menatap langit-langit.
“Jadi,” katanya ke udara, “aku baru saja ketemu kamu, nangis, curhat, dapat motivasi hidup… lalu makan cilok.”
Sunyi.
Tidak ada suara Bima. Tidak ada bisikan. Tidak ada cahaya dramatis.
“Bagus,” kata Hanum. “Berarti tadi beneran perpisahan.”
Perutnya berbunyi.
“Lapar lagi? Serius?”
Ia bangkit, membuka lemari es kecil. Isinya hanya air mineral, saus sambal, dan satu telur yang entah sejak kapan.
“Oke,” katanya. “Aku hidup. Berarti aku harus masak.”
3
Masak Telur, Masak Trauma
Hanum memecahkan telur. Cangkangnya jatuh ke wajan.
“Ah sial.”
Ia mengangkat cangkang itu, tapi telurnya keburu gosong.
“Ya Allah,” keluhnya. “Aku gagal jadi dewasa fungsional.”
Saat itu, ponselnya bergetar.
Lucas.
Nama itu muncul seperti iklan yang tidak bisa di-skip.
Hanum menatap layar lama. Sangat lama.
“Kalau aku angkat, hidupku tambah ribet,” katanya. “Kalau nggak, dia bakal kirim pesan panjang yang lebih ribet.”
Ia mengangkat.
“Halo?” suaranya datar.
“Hanum,” suara Lucas terdengar terlalu ceria. “Kamu di mana? Aku khawatir.”
“Khawatir kenapa?”
“Kamu nggak balas chat. Aku takut kamu kenapa-kenapa.”
Hanum menatap telur gosongnya.
“Lucas,” katanya pelan, “kalau aku kenapa-kenapa, kamu bakal datang?”
“Tentu.”
“Bawa cilok?”
Hening.
“Kenapa cilok?” Lucas bingung.
“Gak apa-apa,” kata Hanum. “Aku cuma pengen tahu prioritasmu.”
Lucas tertawa kecil, canggung. “Kamu lucu deh.”
Hanum memejamkan mata.
“Lucas, aku capek.”
“Aku juga,” jawabnya cepat. “Makanya kita ketemu, ya?”
Hanum terdiam.
“Besok,” lanjut Lucas. “Kita ngobrol baik-baik. Jangan lebay.”
Hanum membuka mata.
“Lebay?” ulangnya.
“Iya, kamu tuh suka drama.”
Hanum menutup telepon.
Ia duduk di lantai dapur kecil, tertawa sendiri.
“Drama?” katanya. “Aku bahkan udah ngobrol sama arwah dan masih dibilang drama.”
Ia tertawa lagi. Kali ini lebih ringan.
4
Mimpi yang Aneh dan Lucu
Malam itu Hanum tertidur dengan perut setengah kenyang dan kepala penuh pikiran.
Ia bermimpi.
Dalam mimpinya, Bima muncul lagi—tapi kali ini mengenakan kaos oblong bertuliskan ‘MOVE ON ATAU DIBANTING’.
“Hanum,” kata Bima sambil membawa cilok. “Kamu harus hidup.”
“Kenapa kamu pakai kaos norak?” tanya Hanum.
“Karena di alam sana lagi diskon.”
Di belakang Bima, bapak cilok melambaikan tangan.
“Jangan lupa bayar cilok di dunia nyata,” teriaknya.
Hanum terbangun sambil tertawa.
“Ya Allah,” katanya. “Otakku rusak.”
Namun hatinya terasa… lebih ringan.
5
Pagi, Harapan, dan Hal-Hal Kecil
Pagi datang dengan cahaya matahari yang terlalu cerah untuk orang yang hidupnya baru saja jungkir balik.
Hanum bangun, mandi, dan menatap cermin.
“Kamu masih hidup,” katanya pada pantulan dirinya. “Dan kamu kelihatan agak menyeramkan, tapi hidup.”
Ia tersenyum kecil.
Hari itu, Hanum memutuskan sesuatu.
Ia akan mencoba.
Bukan karena hidup tiba-tiba indah.
Bukan karena semua luka sembuh.
Bukan karena Bima muncul lagi.
Tapi karena kemarin ia tertawa di tengah hujan, cilok, dan kejatuhan paling aneh dalam hidupnya.
Dan itu, ternyata, cukup.
6
Keputusan Kecil yang Sok Dewasa
Hanum berdiri di depan lemari pakaiannya yang isinya tidak sampai sepuluh helai, tapi semuanya tampak seperti sedang menghakimi hidupnya.
“Baik,” katanya sambil menyilangkan tangan. “Kita akan berpakaian seperti orang yang hidupnya baik-baik saja.”
Ia mengambil baju hitam.
“Tidak. Ini terlalu berduka.”
Ia ambil baju putih.
“Ini terlalu suci untuk orang yang kemarin ngobrol sama arwah.”
Ia ambil kaos abu-abu.
“Oke. Netral. Seperti perasaanku ke Lucas.”
Hanum mengangguk puas.
Di luar kamar, suara ribut terdengar.
“BUKA PINTU KOSAN, SAYA LAPAR DAN BUTUH DRAMA!”
Hanum membuka pintu.
Di sana berdiri Sari, sahabatnya sejak SMA, dengan rambut dicepol asal, tas selempang berisi camilan, dan ekspresi yang selalu terlihat seperti sedang mengomentari sinetron.
“Kamu hidup?” tanya Sari.
“Sayangnya iya.”
Sari langsung masuk tanpa permisi. “Aku dengar kamu nangis di halte kemarin.”
Hanum membeku. “Siapa yang bilang?”
“Grup WhatsApp warga,” jawab Sari santai. “Katanya ada cewek jatuh sambil teriak nama mantan.”
Hanum menutup wajahnya dengan bantal. “Aku pengen pindah planet.”
Sari duduk di sampingnya. “Ceritain. Dari versi dramatis sampai versi lebay.”
Hanum menghela napas. “Aku ketemu Bima.”
Sari mengangguk. “Oke.”
Hanum membuka mata. “Kamu percaya?”
“Enggak,” jawab Sari jujur. “Tapi lanjut.”
Hanum menceritakan semuanya. Dari hujan, halte, dialog haru, sampai cilok.
Sari diam lama.
“…Hanum,” katanya akhirnya, “otakmu stress.”
“Terima kasih.”
“Tapi,” lanjut Sari, “kalau otakmu sampai ngeluarin Bima buat bilang kamu harus hidup, berarti alam bawah sadarmu masih waras.”
Hanum menatapnya. “Kamu ini sahabat apa motivator TikTok?”
Sari nyengir. “Dua-duanya.”
7
Lucas Datang Membawa Masalah
Siang itu, Lucas benar-benar datang.
Ia berdiri di depan kos Hanum dengan kemeja rapi, sepatu bersih, dan ekspresi sok dewasa.
Sari langsung berbisik, “Mukanya kayak HRD mau wawancara.”
Lucas masuk.
“Hanum,” katanya lembut. “Kita perlu bicara.”
Hanum duduk. “Bicara itu gratis. Silakan.”
Lucas terdiam sebentar. “Kamu kenapa akhir-akhir ini berubah?”
Hanum berpikir. “Karena aku hidup?”
Lucas menghela napas. “Kamu terlalu sensitif.”
Sari batuk keras. “HOEK.”
Lucas melirik. “Ini urusan kita berdua.”
“Oh enggak,” kata Sari ceria. “Aku ini saksi hidup trauma dia.”
Hanum mengangguk. “Setuju.”
Lucas menatap Hanum. “Aku capek, Hanum. Kamu selalu membandingkan aku dengan Bima.”
Hanum terdiam.
“Bima itu masa lalu,” lanjut Lucas. “Kamu harus move on.”
Sari menyela, “Mas, dia kemarin literally ketemu masa lalunya.”
Lucas mengernyit. “Apa?”
“Enggak penting,” Hanum cepat-cepat. “Lucas, aku nggak membandingkan. Aku cuma… merasa kosong.”
“Kosong itu wajar,” jawab Lucas. “Tapi jangan berlebihan.”
Hanum tersenyum kecil. “Lucas, aku jatuh kemarin.”
“Kenapa?” Lucas panik.
“Karena licin,” jawab Hanum. “Dan kamu tahu? Yang nolongin aku bukan kamu.”
Lucas terdiam.
“Bukan juga Bima,” lanjut Hanum. “Tapi tukang cilok.”
Sari mengangguk bangga.
Lucas mengusap wajahnya. “Jadi kamu maunya apa?”
Hanum berdiri. “Aku mau sendiri dulu.”
“Putus?” Lucas bertanya cepat.
Hanum berpikir sebentar. “Iya.”
Hening.
Lucas tertawa kecil. “Kamu serius?”
Hanum mengangguk.
Lucas bangkit. “Kamu bakal nyesel.”
Hanum menatapnya tenang. “Mungkin. Tapi setidaknya ini keputusanku.”
Lucas pergi.
Sari langsung memeluk Hanum. “SELAMAT. KAMU BARU SAJA NAIK LEVEL.”
Hanum tertawa sambil menangis. “Aku takut.”
“Takut itu tanda hidup,” kata Sari. “Kalau nggak takut, itu arwah.”
8
Hidup Setelah Drama
Hari-hari Hanum berubah aneh.
Ia mulai bangun pagi, bukan karena semangat, tapi karena kucing oranye itu selalu mengeong minta makan.
“Baik, Tuan,” katanya. “Kamu lebih konsisten dari mantanku.”
Ia mulai menulis lagi. Awalnya cuma curhatan, lalu jadi cerita.
Judul sementaranya:
“Aku Pernah Jatuh di Halte dan Hidupku Tidak Hancur (Sayangnya)”
Sari membaca dan tertawa. “Ini bisa laku.”
“Serius?”
“Orang Indonesia suka penderitaan yang lucu.”
Hanum menulis setiap malam. Kadang sambil nangis, kadang sambil ketawa sendiri.
Dan yang aneh—Bima tidak pernah muncul lagi.
Tapi suara itu ada.
Bukan suara arwah.
Suara dirinya sendiri.
9
Bertemu Lagi dengan Halte
Suatu sore, Hanum melewati halte itu lagi.
Ia berhenti.
Tidak hujan. Tidak dingin. Tidak ada drama.
Hanum duduk sebentar.
“Terima kasih,” katanya pelan. “Udah bikin aku sadar.”
Tidak ada jawaban.
Ia tersenyum.
“Tenang,” lanjutnya. “Aku nggak nunggu siapa-siapa.”
Hanum berdiri dan pergi.
Langkahnya ringan.
10
Penutup yang Tidak Terlalu Dramatis
Hidup Hanum tidak langsung indah.
Ia masih sedih. Masih takut. Masih kadang rindu.
Tapi sekarang, kalau jatuh—
ia tahu bisa bangun.
Kalau hujan—
ia tahu cilok masih ada.
Dan kalau hidup terasa berat—
ia tahu, tertawa masih mungkin.
11
Hanum Mulai Merasa Seperti Tokoh Utama (Padahal Biasa Aja)
Setelah kejadian halte, cilok, putus dari Lucas, dan kesadaran spiritual dadakan yang datang tanpa seminar motivasi, Hanum mengalami fase baru dalam hidupnya: merasa sok kuat, tapi sebenarnya masih goyah.
Ia bangun pagi dengan niat produktif.
“Baik,” katanya sambil duduk di kasur. “Hari ini aku akan jadi manusia berguna.”
Lima menit kemudian, ia masih scrolling ponsel.
“Pelan-pelan,” katanya membela diri. “Roma nggak dibangun dalam sehari. Aku juga.”
Kucing oranye—yang kini resmi ia beri nama Mochi tanpa persetujuan siapa pun—meloncat ke perutnya.
“Dih,” Hanum mengeluh. “Kamu pikir aku bantal?”
Mochi mengeong.
“Ya Allah,” Hanum menghela napas. “Aku debat sama kucing sekarang.”
Ia bangun, menyeduh kopi sachet, lalu duduk di lantai sambil menatap laptop.
“Aku akan menulis,” katanya mantap.
Laptop dinyalakan.
Judul masih sama.
Kursor berkedip.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Hanum menutup laptop.
“Oke,” katanya. “Menulis itu nggak bisa dipaksakan. Seperti cinta.”
Ia mengangguk sendiri, merasa bijak.
12
Undangan yang Datang Tanpa Diminta
Sore itu, Hanum menerima undangan reuni SMA.
Nama grupnya:
“ALUMNI ANGKATAN PERNAH CANTIK”
Hanum membaca pesannya dengan ekspresi curiga.
Sari langsung menelepon.
“KAMU LIAT GRUP ITU?”
“Iya.”
“KITA DATANG.”
“Kenapa harus pakai ‘kita’?”
“Karena aku nggak mau kamu ketemu mantan sendirian,” jawab Sari tegas. “Aku ini bodyguard emosional.”
Hanum menelan ludah. “Bima nggak mungkin datang.”
“Justru itu masalahnya,” kata Sari. “Lucas pasti datang.”
Hanum memijat pelipis. “Hidup kenapa hobi banget nge-test aku.”
13
Reuni: Tempat Semua Orang Berpura-Pura Bahagia
Gedung aula sekolah dipenuhi suara tawa yang terlalu keras dan parfum yang terlalu menyengat.
Hanum masuk bersama Sari.
“Liat itu,” bisik Sari. “Si A dulu bully kita, sekarang jual skincare.”
“Semesta adil,” jawab Hanum.
Mereka duduk.
Lucas muncul.
Lebih rapi. Lebih percaya diri. Lebih menyebalkan.
“Hanum,” katanya tersenyum. “Kamu kelihatan… berbeda.”
“Karena aku hidup,” jawab Hanum ringan.
Lucas tertawa canggung.
“Kita bisa ngobrol?” tanya Lucas.
Hanum menoleh ke Sari.
Sari mengangguk pelan. ‘Aku di sini.’
Hanum berdiri.
14
Obrolan yang Tidak Dramatis Tapi Melelahkan
Lucas duduk berhadapan dengan Hanum.
“Aku mikir,” kata Lucas, “mungkin kita terlalu cepat menyerah.”
Hanum tersenyum tipis. “Lucas, aku dulu bertahan terlalu lama.”
Lucas terdiam.
“Kamu bahagia sekarang?” tanyanya.
Hanum berpikir. Lama.
“Aku belum bahagia,” jawabnya jujur. “Tapi aku lebih jujur.”
Lucas mengangguk pelan.
“Aku salah,” katanya akhirnya.
Hanum menghela napas. “Aku tahu.”
Lucas tersenyum kecil. “Kamu nggak marah?”
“Capek,” jawab Hanum. “Marah itu butuh energi.”
Lucas tertawa kecil. “Kamu berubah.”
“Karena aku jatuh,” kata Hanum. “Dan bangun.”
Lucas mengangguk.
“Makasih,” katanya. “Udah jujur.”
Hanum berdiri. “Sama-sama.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada air mata. Tidak ada backsound sedih.
Dan anehnya—itu lega.
15
Kembali ke Rumah dengan Rasa Aneh
Malam itu, Hanum pulang.
Ia membuka pintu kos, melempar tas, dan duduk di lantai.
“Aku nggak hancur,” katanya ke Mochi.
Mochi tidur.
“Aku beneran nggak hancur,” ulangnya.
Ia tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya, rasa sepi tidak terasa menakutkan.
16
Menulis, Lagi (Tapi Kali Ini Jadi)
Malam itu, Hanum membuka laptop lagi.
Ia mengetik.
Satu paragraf.
Dua.
Lima halaman.
Tangannya bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Ia menulis tentang halte. Tentang hujan. Tentang cilok. Tentang kucing. Tentang putus. Tentang hidup yang absurd.
Ia berhenti hanya saat jari-jarinya pegal.
Hanum membaca ulang.
“Ini lucu,” katanya. “Sedih, tapi lucu.”
Ia mengirim naskah itu ke Sari.
Balasan datang cepat.
SARI:
INI LUCU BANGET. KAMU HARUS LANJUTIN.
Hanum tersenyum.
17
Mimpi Terakhir (Yang Tidak Lebay)
Malam itu, Hanum bermimpi lagi.
Bima muncul kali ini biasa saja. Tidak bercahaya. Tidak dramatis.
“Hai,” kata Bima.
“Hai,” jawab Hanum.
“Kamu kelihatan lebih hidup,” kata Bima.
Hanum mengangguk. “Iya.”
“Bagus,” kata Bima. “Aku bisa tenang.”
Hanum tersenyum. “Makasih.”
Bima melambaikan tangan.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada pelukan.
Hanya perpisahan yang selesai.
18
Pagi yang Biasa (Dan Itu Tidak Masalah)
Hanum bangun pagi.
Tidak ada pencerahan besar.
Tidak ada keajaiban.
Hanya kopi sachet dan kucing lapar.
Dan itu cukup.
Ia membuka laptop.
Menulis lagi.
Dan hidup berjalan aneh, lucu, kadang berat, tapi nyata.
Hanum tidak lagi menunggu hujan.
Ia berjalan meski mendung.
19
Hanum dan Keputusan Sok Produktif
Setelah beberapa hari rajin menulis yang menurut standar Hanum berarti membuka laptop lebih dari sepuluh menit tanpa kabur ke dapur ia mulai merasa dirinya pantas diberi gelar baru.
“Penulis,” katanya sambil menatap pantulan dirinya di kaca lemari. “Penulis yang hidupnya masih berantakan, tapi menulis.”
Ia mengangguk sendiri. Rasanya meyakinkan.
Pagi itu, Hanum memutuskan untuk keluar rumah. Bukan untuk hal penting, hanya ingin membuktikan pada semesta bahwa ia masih bisa berfungsi di luar kamar kos.
Ia mengenakan sandal jepit yang sebelahnya sudah tipis, membawa tas kecil, dan berjalan ke minimarket.
Di depan minimarket, ia bertemu Bu Ratmi, ibu kos yang terkenal bisa muncul tiba-tiba seperti iklan pop-up.
“Hanum,” kata Bu Ratmi sambil menyipitkan mata. “Kamu sekarang sering keluar, ya?”
Hanum menelan ludah. “Iya, Bu. Biar nggak stres.”
Bu Ratmi mengangguk penuh makna. “Bagus. Jangan kebanyakan melamun. Kemarin saya lihat kamu duduk di depan kos sambil ngomong sendiri.”
Hanum tersenyum kaku. “Hehe… latihan monolog.”
Bu Ratmi pergi dengan wajah curiga.
Hanum menghela napas panjang. “Aku hampir ketahuan waras,” gumamnya.
20
Undangan yang Tidak Diinginkan Tapi Datang Juga
Di minimarket, Hanum membeli mie instan, kopi sachet, dan cokelat—paket resmi orang yang masih belajar bahagia.
Saat ia sedang memilih rasa mie, ponselnya bergetar.
Notifikasi email.
Judul:
“UNDANGAN INTERVIEW”
Hanum berhenti bernapas selama tiga detik.
“Apa ini?” gumamnya.
Ia membuka email itu pelan-pelan, seperti membuka hasil tes kesehatan.
Isinya undangan wawancara untuk pekerjaan freelance menulis konten.
Hanum menatap layar lama.
“Ini nyata?” tanyanya pada rak mie instan.
Rak mie instan diam.
“Oke,” katanya. “Diam berarti setuju.”
Ia keluar minimarket dengan perasaan campur aduk: senang, takut, dan sedikit panik.
21
Latihan Wawancara Bersama Orang yang Tidak Kompeten
Hanum langsung menelepon Sari.
“Aku dapet interview.”
“Apa?” teriak Sari. “KAMU LIAT?!”
“Iya.”
“Kapan?”
“Besok.”
“YA ALLAH KITA LATIHAN SEKARANG.”
Sore itu, kamar kos Hanum berubah jadi ruang wawancara abal-abal.
Sari duduk di kursi, menyilangkan kaki, wajahnya sok galak.
“Oke,” katanya. “Saya HRD. Silakan perkenalkan diri.”
Hanum duduk tegak. “Nama saya Hanum. Keahlian saya menulis sambil overthinking.”
Sari mencoret-coret buku. “Minus.”
Hanum panik. “Aku bercanda.”
“Tidak boleh bercanda,” kata Sari. “Hidup itu serius.”
Hanum mendesah. “Aku gugup.”
“Bagus,” jawab Sari. “Orang yang nggak gugup biasanya nggak peduli.”
Latihan berlangsung kacau.
Hanum salah jawab. Salah duduk. Salah senyum.
“Aku gagal,” keluh Hanum sambil rebahan.
Sari menatapnya. “Kamu nggak gagal. Kamu cuma belum biasa.”
Hanum terdiam.
“Dan,” lanjut Sari, “kamu lucu. Itu nilai jual.”
22
Malam Sebelum Interview
Malam itu, Hanum sulit tidur.
Ia memandangi langit-langit.
“Bima,” gumamnya pelan. “Kalau kamu lihat aku sekarang, kamu pasti ketawa.”
Tidak ada jawaban.
Hanum tersenyum kecil.
“Tenang,” katanya. “Aku nggak manggil kamu. Aku cuma… ngomel.”
Ia menarik selimut.
Mochi naik ke dadanya.
“Kalau aku gagal besok,” katanya ke kucing itu, “kita makan mie dua bungkus.”
Mochi mengeong setuju.
23
Hari Interview dan Kepanikan Massal
Pagi itu, Hanum bangun lebih cepat dari biasanya.
Ia mandi, berpakaian rapi—versi kosan—dan menyalakan laptop.
Tangannya dingin.
“Kamu bisa,” katanya pada diri sendiri. “Kalau jatuh, bangun. Kalau gagal, makan.”
Wawancara dimulai via video call.
Di layar muncul wajah seorang perempuan ramah.
“Halo, Hanum.”
“Halo,” jawab Hanum. Suaranya sedikit terlalu tinggi.
Wawancara berjalan.
Pertanyaan datang silih berganti.
Hanum menjawab seadanya, jujur, kadang gugup.
“Kenapa ingin menulis?” tanya pewawancara.
Hanum terdiam sebentar.
“Karena… hidup saya ribut,” jawabnya. “Dan menulis bikin saya bisa mengaturnya.”
Pewawancara tersenyum.
Wawancara selesai.
Hanum menutup laptop dan langsung rebahan di lantai.
“Aku hidup,” katanya.
24
Menunggu dengan Tidak Elegan
Hari-hari menunggu hasil terasa lama.
Hanum jadi sering melamun.
Kadang ia tertawa sendiri. Kadang cemas.
Sari menegur, “Jangan lebay.”
“Aku bukan lebay,” jawab Hanum. “Aku multitasking: berharap dan takut.”
Malam ketiga, email masuk.
Hanum membacanya sambil gemetar.
Ia diterima.
HANUM TERIAK.
“AKU DAPET!”
Sari ikut teriak dari telepon.
“AKHIRNYA OTAK KAMU ADA HASILNYA!”
Hanum menangis sambil tertawa.
25
Hidup Tidak Berubah Drastis, Tapi Sedikit Lebih Ringan
Hanum mulai bekerja.
Menulis. Revisi. Menulis lagi.
Bayarannya tidak besar, tapi cukup.
Ia masih di kos yang sama.
Masih mie instan.
Masih kopi sachet.
Tapi ada rasa berbeda.
Ia merasa… bergerak.
26
Halte Itu, Sekali Lagi
Suatu sore, Hanum melewati halte itu lagi.
Ia berhenti sebentar.
Tidak hujan.
Tidak ada arwah.
Hanya bangku kosong.
Hanum tersenyum.
“Terima kasih,” katanya. “Aku jalan.”
Ia melangkah pergi.
Tanpa menoleh.