Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Penyesalan Hasan

Hasan menundukkan kepala, menahan genangan air mata di pelupuk.

“Kamu nggak larang kalau Ayah pindah, kan?” tanyanya pelan pada Qalesya, suaranya bergetar.

Qale tersenyum tipis, mencoba meneguhkan hati sang ayah. “Nggak, Yah. Ayah butuh tenang, butuh ruang. Aku ngerti. Tapi…” ia berhenti sejenak, lalu menggenggam tangan Hasan, “… Ayah nggak akan kehilangan sosok anak. Aku akan selalu ada buat Ayah. Jadi jangan mikir aku akan menjauh.”

Hasan mengangguk, dadanya sesak. “Maafkan Ayah, Lesa. Ayah terlambat sayang sama kamu. Sejak ibumu tiada, Ayah lupa bahwa kamu juga berharga di hidup Ayah.”

Manik mata Qale meredup, dia menggeleng pelan. “Ayah nggak terlambat. Semua tepat waktunya. Aku bersyukur Tuhan masih ngasih kita kesempatan buat memperbaiki ini semua," ucap Qale menyungging senyum. "Aku sayang Ayah,” imbuhnya menatap Hasan sendu.

Hasan memeluk putrinya erat. Ada getar yang tidak bisa dibendung. Lama.

Setelah itu ia bangun pamit, melangkah pergi. Meski Qale menahannya. Wafa meminta Qale membiarkan Hasan pergi dan hanya memberi dukungan untuk beliau saat ini.

Hari ini. Hasan seharusnya masuk ke lapas untuk menjenguk Lea, seperti biasanya. Tapi mobilnya berhenti di depan gerbang.

Dia hanya berdiri, menatap dalam ke arah bangunan kusam yang menelan masa depan putrinya itu. Lalu bibirnya bergetar lirih.

“Lea … Ayah tahu kamu cuma pura-pura buta. Ayah kasihan, makanya selama ini Ayah lebih banyak ngasih perhatian ke kamu dibanding Lesa. Ayah pikir, kamu yang paling butuh cinta dan kasih sayang," suaranya lirih menahan getar.

Hasan menjeda beberapa menit. Dia meneguk kasar salivanya, lalu melanjutkan.

"Tapi ternyata, kasih sayang Ayah justru bikin kamu begini. Manja, penuh iri dengki. Maafkan Ayah, ya. Belajarlah hidup yang benar, Nak. Mungkin kamu bakal benci sama Ayah. Tapi lebih baik begitu, daripada Ayah terus memanjakanmu. Ayah janji akan perbaiki semuanya…”

Tanpa masuk ke Lapas, Hasan memutar balik mobilnya. Sementara ini, ia tidak akan kembali menemui Lea dengan cara lama. Lea harus belajar kehilangan.

Di dalam lapas, Lea sudah duduk manis di ruang tunggu, wajahnya penuh percaya diri. Sudah terbayang bungkusan makanan dan uang yang akan diselipkan ayahnya seperti biasa.

Namun waktu berlalu. Nama Lea tidak pernah dipanggil. Hingga jam besuk habis, Lea panik.

“Pak, tolong hubungi ayah saya. Mungkin dia telat. Pasti dia ada di depan!” pinta Lea pada sipir.

Sipir menolak, ketus. “Nggak ada aturan begitu. Kalau nggak ada yang datang, ya sudah. Besok atau minggu depan lagi.”

Lea menggertakkan gigi. “Saya masih ada uang di kantin!” Namun saat merogoh saku, ia sadar uangnya benar-benar habis.

Hari itu juga, dunianya berantakan. Pesanan makanan khususnya tidak bisa ditebus. Kipas angin rusak di sel, udara pengap membuat napasnya sesak. Laundry-an menolak mencuci pakaian karena tunggakan. Semua terasa memojokkannya.

Saat sore tiba, salah seorang penghuni lapas mendorongnya. “Hei, pura-pura buta itu udah basi. Kami udah tahu semuanya. Dasar licik!”

Lea kaget, wajahnya merah. “Tau apa kau!” bentaknya.

Lea berteriak panas, lapar dan gatal. Dia menggedor jeruji dengan benda-benda di sekitarnya, menimbulkan suara gaduh.

"Gara-gara kamu, Qale!" teriaknya lantang, melempar gelas hingga remuk. "Semua karena kamu. Arrggghhhhhhh Qalesya!!"

Cibiran meledak bersahutan. "Heh, brisik!"

Salah satu napi menunjuk wajahnya tajam. “Salahmu! Jangan salahin orang lain. Ini semua salahmu!”

Bentakan itu membuat Lea meradang. Pertengkaran pecah, dan Lea akhirnya dihajar hingga lebam. Sipir turun tangan, menyeretnya bersama napi lain itu ke ruang isolasi.

Malam itu, di ruangan gelap tanpa celah cahaya, Lea meraung, menendang dinding.

“Semua salah Ayah! Salah Qale! Bahkan salah Rahayu! Dasar perempuan sial itu! Kalau dia nggak ada, Ayah nggak bakal berubah!”

Suaranya parau, tubuhnya gemetar. Dan di saat yang sama, pikirannya kacau memikirkan Deni, suaminya di lapas lain. Biasanya mereka masih bisa bertukar kabar lewat titipan. Tapi kini, uangnya habis. Tak ada akses. Ia cemburu, cemas, dan terjebak dalam sepi.

“Belajarlah jadi napi sejati. Jangan manja!” tegur sipir dari balik pintu besi.

Lea terisak. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sendiri.

"Ayah." Raungnya mendekap lutut di pojok ruang.

***

Siang hari itu, di toko.

Qalesya duduk termenung di depan laptop usangnya. Layar penuh materi kursus, tapi pikirannya melayang. Bayangan wajah Hasan terus menghantui, membuatnya kehilangan konsentrasi.

“Sayang…” sebuah kecupan mendarat di pipinya, mengejutkan Qale.

Ia hampir jatuh dari kursi kalau saja Wafa tidak sigap menahan tubuhnya.

“Kaget banget,” Wafa terkekeh. “Mikirin Ayah?”

Qale mengangguk lirih. “Iya. Pengen lihat kondisi Ayah di sana … kapan ya?”

“Besok, habis makan siang. Kita bawa makanan kesukaan beliau. Kamu telpon dulu, tanya. Ayah pasti mau.”

Qale terdiam, lalu tersenyum. “Aku belum pernah ke sana. Rasanya aneh.”

“Selama ada aku, jangan ragu.” Wafa mengecup bibirnya singkat, lalu membelai pipinya.

Qale mengangguk malu-malu. Wafa memeluknya dari belakang, ikut membaca materi Qale siang ini.

Namun, Momen hangat itu buyar ketika suara Ria terdengar meninggi. Nadia buru-buru masuk ke ruang belakang, berlari kecil dari depan toko.

"Nad?" tanya Qale melihatnya.

"Jangan keluar, ada yang cari gara-gara," ujar Nadia singkat.

Qalesya penasaran. Dia mengintip dari celah pintu. Ria tampak bicara dengan seseorang, yang berkali menyebut nama suaminya.

Wafa diam, memilih membaca tulisan di laptop dan catatan Qale. Tiba-tiba, Ria masuk.

“Kak … ada tamu. Katanya ibu Danisha. Dia cari Pak Wafa.”

Qale masih berdiri di ambang pintu, menegakkan tubuh. “Ibu Danisha?”

Ria mengangguk, ragu. “Aku udah bilang Pak Wafa nggak ada, tapi beliau lihat mobil Bapak di depan. Aku nggak bisa nolaknya.”

Sebelum Qale sempat bereaksi menjawab, suara tangis memecah dari depan toko.

“Fa! Tolong keluar, Nak! Ibu butuh bicara sama kamu!”

Beberapa pengunjung toko langsung menoleh, memperhatikan keributan itu.

Qale menatap Wafa, wajahnya mendadak tegang. Di antara desir napasnya, Qale tahu … badai baru saja tiba di depan pintu.

"Mau apa dia?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!