Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Hasan pindahan

Keesokan pagi, dokter mengatakan bahwa Qale boleh pulang hari ini. Pemeriksaan terakhir menyatakan kondisinya sudah stabil meski tetap harus kontrol rutin pekan depan.

Sebelum pulang, Qale mengajak Wafa ke poli mata. Dia ingin mendengar perkembangan terapi yang sudah dilakoni selama sebulan belakangan.

Giliran mereka pun tiba. Dokter memeriksa mata Qale dan mengatakan bahwa semua yang dijalani membuahkan hasil lebih baik dari sebelumnya. 

"Makin baik, ya, selamat," kata dokter tersenyum senang.

Qale ikut senyum. Matanya masih sipit, tapi sudah tidak begitu parah seperti dulu.

"Makasih, Dok," kata Qale saat kembali duduk di sebelah suaminya. "Bisa normal, Dok?" sambungnya menatap dokter.

Dokter diam beberapa saat. "Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Ini..." 

Wafa memotong ucapan dokter, dengan pelan dia berujar, "Sayang, pendapatku masih sama. Bukan soal simetris." Wafa menunjuk mata Qale. "... semua ini yang membuatmu menjadi Qalesya secara utuh. Sejak awal aku nggak ingin mengubahmu. Hanya meminimalisir rasa tidak nyaman untukmu." Dia memandangi wajah istrinya inci demi inci.

Qalesya mengangguk. "Iya, Kak. Aku cuma nanya," kekehnya malu-malu ditatap intens Wafa.

Wafa menghela napas. "Pertanyaan sensitif itu bikin jantungku gak beres, Dok," timpal Wafa ditanggapi tawa pelan Dokter.

"Kalau mau simetris bisa oplas," ucap Dokter akhirnya. 

"Nggak mau," jawab Qale buru-buru, menggeleng.

Wafa mengalungkan lengannya, mengusap bahu, menenangkan Qale. Setelah bincang beberapa 10 menit, mereka keluar dari sana dengan semringah.

Saat kembali ke kamar perawatan, barang-barang pribadi Qale sudah dirapikan Dewi dan Mbak Mun yang datang mengantar menu kesukaan Qale, bubur kacang. 

Dua jam kemudian, mereka pulang. 

Rumah yang sempat lengang kini terasa berbeda. Ada aroma sup hangat buatan Winda, ada vas bunga segar di meja ruang tamu. Menyambut Qale yang pulang dari rumah sakit, masuk ke dalam sambil tertawa kecil mendengar candaan Wafa.

Pagi berikutnya, untuk pertama kalinya Qale bangun tanpa rasa was-was. Ia ingin menyiapkan sarapan sederhana, meski Wafa memaksa agar ia tetap beristirahat.

“Aku ingin mencoba jadi istri yang baik,” kata Qale sambil tersipu.

Wafa menatapnya lama, lalu mengusap pipinya. “Kamu sudah jadi yang terbaik bahkan sebelum mencoba.”

Kata-kata itu membuat Qale menunduk, hatinya bergetar.

Wafa bangun, langsung ke kamar mandi. "Nanti lagi, Sya. Siapin bajuku saja ok?" 

Qalesya mengangguk, dia mengirim pesan pada Bakar, menanyakan soal kegiatan Wafa pagi ini. 

"Tolong, berikan aku gambaran kegiatan Kak Wafa hari ini sampai lusa," ucap Qale pelan sambil mengetik di ponselnya.

["Ada meeting pagi, Nyah. Siang pulang, sore pergi lagi undangan pernikahan. Besok dan lusa sama, ngantor ... belum ada tambahan kegiatan apapun."] Bakar membalas.

Qalesya membuka lemari, melihat deretan kemeja putih, jas, juga beberapa kemeja berwarna juga tumpukan kaos.

Dia mengambil satu setelan, serba navy juga dasi dan aksesorisnya. Disusun rapi di atas meja walk in closet. 

Sambil menunggu suaminya selesai mandi. Dia berjalan pelan menyusuri sisi lemari milik Wafa. Waktu tinggal di sini, Qale tidak berani melihat-lihat koleksi suaminya itu. 

"Jam, tisu, kacamata, sepatu, dasi, kaos kaki," gumamnya mengamati deretan etalase. Banyak sekali, pikirnya. "Eh, dompet cuma satu?" kata Qale celingukan. 

Suara pintu terbuka membuatnya gegas kembali ke depan meja. "Gini?" 

Wafa tersenyum, mengangguk puas. "Iya." 

Qalesya ragu saat menata rambut suaminya, tapi Wafa malah santai sambil membaca jurnal. 

"Kak?"

Wafa melihat cermin di depannya. Meraih tangan Qale lalu mengecupnya. "Makasih, Sayang," katanya bangkit.

"Nggak aneh?" 

"Nggak, karya nyonya Ambrasta ini tuh." Wafa berdiri merapikan jasnya, bangga, keluar dari sana.

Qale memandangi dirinya di depan cermin. Tampak kontras sekali penampilannya dengan Wafa. Dia gegas membuka lemari, memilih satu. Gaun putih kerah sabrina, bermotif bunga biru kecil.

Dia juga melihat ada aksesoris yang cocok dikenakan. Sneaker putih membalut kakinya. Tidak ingin berlebihan karena harus ke kampus pagi ini. 

Winda menyambut menantunya dengan senyum lebar. Dia bilang Wafa masuk ruang kerja dan meminta Qale menyusulnya.

"Kak."

Wafa keluar, melihat istrinya dari atas ke bawah. "Sayang?" 

"Aneh ya?" 

Wafa tidak menjawab, dia segera menyambar bibir Qale dan mengecupnya dalam.

"Pagi-pagi tuh biasanya acara tausiah, kuliah subuh. Ini malah porno-aksi," sambar Bakar yang berada di belakang Wafa.

Qalesya mencubit malu, saat Wafa langsung menarik jemarinya ke ruang makan. Mengacuhkan Bakar.

Setelah suasana sarapan yang berbeda pagi ini. Mereka pergi. Wafa ke kantor, Qale ke kampus.

***

Di tempat lain.

Pagi ini, Hasan sudah pergi ke suatu tempat.

Rumah kayu sederhana milik orang tuanya yang dulu tak dia sukai, menjadi pilihan tempat tinggalnya kelak. Dia hanya memiliki satu adik perempuan. Meninggal karena demam berdarah.

Hasan pindah ke kota, mengembangkan usaha dengan Rahayu. Hanya setahun sekali ke sini, ketika mengunjungi makam keluarganya.

Ia duduk di beranda, menatap sawah hijau yang berkabut pagi.

Penjaga rumah ini, Gani, menegur ramah.

“Pak Hasan, akhirnya kembali juga.”

Hasan tersenyum lelah. “Di sini lebih tenang. Hati saya sudah terlalu lelah.”

Gani mengangguk. “Lelah pasti tapi bisa kita rawat. Jangan biarkan kesalahan anak-anak merampas hidup Bapak sendiri.”

Hasan terdiam. Kata-kata itu menggema di dadanya, membuatnya sadar bahwa perjalanan batinnya belum selesai.

Dia bertekad, hanya akan ke peternakan di akhir pekan, sekalian berkunjung ke Qale. Dia mempercayakan pengelolaan pada Mbak Mun sebab sudah ikut dirinya sejak lama.

***

Hari-hari bersama Wafa berjalan hangat, tapi Qale mulai menyadari dunia baru yang ia masuki.

Kolega Wafa dari kalangan bisnis dan teman-temannya sering datang berkunjung. Mereka sopan, tapi tatapan mereka membuat Qale merasa kecil.

“Kalau aku hanya jadi beban, bagaimana?” tanya Qale suatu malam saat mereka hendak tidur.

Wafa terkejut, lalu menarik Qale ke pelukannya. “Sya, aku menikahimu bukan karena status, tapi karena butuh kamu di sisiku.”

"Tapi, Kak?"

"Apa yang membuatmu gelisah, Sayang? Mau melakukan apa agar hatimu merasa setara?" 

Qalesya menatap suaminya. "Pengen kursus public speaking, boleh?" 

"Boleh. Apalagi?" 

"Bahasa inggris?"

"Boleh. Tapi, waktu buatku kapan? ... Pagi sampai siang kuliah, terus ke toko, ditambah kursus. Aku?"

Qale tertawa ringan. "Online saja. Nyambi di toko," ujarnya sambil menyodorkan iklan di ponselnya.

Wafa tertawa, "jadi sudah disiapkan ya?" 

Qalesya tersenyum lebar, sampai gingsulnya terlihat. Membuat Wafa gemas.

"Masih lama liburnya ya, Sya?" 

"Tiga pekan lagi kan kata dokter. Sabar ya, Pak," kekeh Qale memeluk Wafa erat. Meski dirinya tahu ada sesuatu yang terbangun di bawah sana.

Keesokan pagi. 

Hasan berkunjung ke rumah Wafa. Winda mengajaknya sarapan bareng. 

"Mau ke Kak Lea, Yah?" 

Hasan menggeleng. "Nggak. Ayah cuma mau ngasih tau kamu, kalau Ayah sudah pindah," katanya pelan.

Wafa diam, berpura tak tahu saat wale melihatnya. 

"Pindah?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!