Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Remarried

Winda menyambung keinginan putranya. Ada harapan tersemat untuk Qale. Gadis ini, begitu rendah hati dan tangguh. Ada semangat dalam diri Qale, selain pintar dan kreatif. Winda hanya berharap keluarganya memiliki banyak penerus yang memiliki jiwa seperti Qalesya.

Wafa satu-satunya harapan, putranya sulit dimengerti tapi justru dari Qale lah, dari Rahayu, Wafa banyak belajar mengerti dan mendengar.

"Gimana, Sayang?" tanya Winda lagi, "mau, kan?" 

Hening. Semua perhatian tertuju pada Qalesya yang menunduk.

"Butuh waktu?" sambung Hasan, ikut bicara. 

Ruang rawat masih sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Qale duduk bersandar di bantal, wajahnya masih pucat, tapi matanya jernih.

Perlahan, kepala yang menunduk itu terangkat. Melihat sang ayah dan mertuanya, lalu beralih ke Wafa.

Di hadapannya, Wafa menatap penuh harap, sementara Winda dan Hasan berada di sisi lain, ikut menyimak percakapan yang terasa berat.

“Aku … ragu, Kak.” suara Qale parau. Ia menunduk lagi, jemari saling meremas. “Kalau Kakak bisa jalan … rasanya kita timpang. Kakak stunning, penerus keluarga besar, punya jabatan, idaman banyak perempuan. Sedangkan aku…” suaranya pecah, ia menarik napas, “kuliah belum lulus, mataku sipit sebelah, cuma pedagang roti. Keluargaku pun biasa saja di kampung.”

Hasan menoleh pada putrinya, lalu pada Wafa. Wajahnya berubah tegang. “Qale ada benarnya. Wafa, pikirkan lagi. Apa kamu yakin? Jangan sampai Qale terbebani dengan statusmu.”

Wafa terdiam, rahangnya mengeras.

Winda bangun dan berjalan ke ranjang Qale. Suaranya tenang tapi seolah ada harapan dalam kalimat tajamnya.

“Qale, apakah jadi istri Wafa terasa seperti beban buatmu? Selama ini kamu jalani peran itu atas dasar apa?” Tatapannya lurus dan penuh kasih.

Qale mengerjap, gugup.

“Kalau bukan karena menghormati dia sebagai suami, lalu kenapa?” lanjut Winda. “Kalau kamu ragu karena Wafa pernah menyembunyikan status, berpura-pura lumpuh, dan menutup siapa dia sebenarnya… katakan jujur semua unek-unekmu di sini.”

Qale terdiam. Bahunya sedikit merosot. Wafa pun memilih diam, memberi ruang bagi Qale untuk mengutarakan isi hatinya.

Sunyi. 

Satu menit, dua menit.

Winda menunduk, mengusap pucuk kepala menantunya, suaranya melembut. "Sayang, jangan takut, Mama dengerin, kok," imbuh Winda, sembari tersenyum tipis.

Qalesya susah mengutarakan isi hatinya. Dia hanya menghela napas panjang.

“Nak, jawab pertanyaan Mama. Apakah ada sedikit saja rasa di hatimu … pada Wafa?”

Qale mengulum bibir, menahan haru. Perlahan ia mengangguk, menunduk dalam. “Ada.”

"Pak Hasan, putrinya pemalu banget ya," kekeh Winda, rasanya dia baru saja membujuk anak abege.

Hasan menghela napas panjang, lalu bersuara parau. “Kalau begitu, apa yang paling kamu inginkan, Lesa?”

Qale mulai bicara, suaranya kecil. “Aku cuma pengen hidup damai. Nggak mau lagi berurusan dengan hal-hal yang bikin capek. Aku cuma ingin hidup normal … kuliah, lulus, buka toko, jualan, buka kursus kue, atau bantu Ayah di peternakan. Itu aja.”

Hening sejenak. Wafa mendekat, menggenggam tangannya erat.

“Bisa, Sayang. Kita bisa wujudkan semua itu. Aku akan melindungimu, mulai dari ayah juga. Kamu akan tetap jadi Qale yang tumbuh, bangkit, tanpa campur tanganku. Ini milikmu. Tapi aku ingin jadi bagian dari proses itu semua.” Suara Wafa bergetar, tapi tegas.

Winda merangkul pundak menantunya, mengusap lembut bahu Qale. 

Qale menunduk kian dalam, air matanya mulai menggenang di sudut netra, nyaris jatuh. “Aku bukanlah wanita yang engkau pilih, Kak.”

Wafa tersenyum tipis. “Memang bukan. Ibu yang memilihkanmu untukku. Tapi sekarang… aku juga memilihmu.”

"Kami ... memilih Qalesya," imbuh Winda meyakinkan Qale bahwa dirinya bukanlah mertua yang otoriter. Qale tak perlu merasa risau untuk hal satu ini.

Ucapan itu menghantam dada Qale. Perlahan ia mengangguk. Diam-diam, hatinya luluh.

Wafa semringah, dia menarik kedua tangan Qale dan mengecupnya dalam. "Makasih, Sayang." 

"Qale ada permintaan khusus nggak?" tanya Winda.

Qalesya mengangguk. "Ada, tapi malu," ucapnya sambil melirik ke arah Wafa.

"Bilang, Sya. Biasakan terbuka padaku," pinta Wafa meremat jemari Qale dalam genggamannya.

"Apa?" 

Qale melihat ke arah ayahnya. Hasan mengangguk. Lalu dia berkata, "Aku mau minta kamar khusus untukku sendiri ... kalau badmood, aku pengen sendiri, boleh?" cicitnya ragu.

Wafa mengangguk. "Boleh, mau seperti apa? Kamu yang design sendiri nanti. Dimana letak dan isinya," balasnya diangguki Winda.

Senyum manis Qale akhirnya muncul, matanya menyipit, gingsulnya terlihat membuat Wafa gemas sendiri. Secepat kilat dia mengecup bibir istrinya yang mulai dirindukan.

Blush! Pipi Qalesya merona. Dia menepuk lengan suaminya yang langsung memeluk erat.

"Love you, Sayang." 

Deg!

Manik mata Qale membola, dia hanya bisa membalas dengan membalas dekapan Wafa sambil memejam. Merapal doa semoga ini bukan mimpi.

Siang itu Winda langsung sibuk menyiapkan rencana resepsi. Bukan di gedung mewah, melainkan sederhana—di halaman peternakan ayah Qale. Hangat, intim, dan pengingat dimana mereka bertemu.

Namun, Hasan punya gagasan sendiri. Seusai Maghrib, ia meminta Wafa mengulang ijab di depan Qale, di kamar rumah sakit.

“Biar perjalanan kalian dimulai dari sini. Dari titik paling rapuh … menuju yang lebih kuat.” Hasan berkata sebelum dirinya pamit pulang, menyiapkan untuk prosesi nanti malam.

Winda meminta Dewi ikut dengan Hasan, untuk mendampingi WO melihat venue acara. 

Wafa tersenyum penuh semangat, langsung menyetujui usulan Hasan.

Sore itu, Bakar datang ke rumah sakit. Raut wajahnya lelah tapi matanya berbinar. “Bos, kabar baik. Sidang putusan diumumkan besok.”

Wafa mengangguk. “Syukurlah."

Bakar menjatuhkan dirinya di sofa, menyambar air mineral dan satu potong kue dari atas meja.

"Tumben amat," celetuk Wafa, tak biasanya Bakar kelelahan begitu.

"Butuh asupan tenaga, habis ngebantai, kan."

Wafa membiarkan Bakar istirahat sejenak. Qale pun belum bangun padahal sebentar lagi, MUA akan datang untuk membantu merias wajahnya.

Setelah beberapa saat, Wafa menyebut soal pernikahan ulang. Bakar terperangah. Wajahnya memerah seperti ingin menangis, dan tanpa bisa ditahan, ia berdiri sambil menyeka wajah. “Ya Allah… aku seneng banget!”

Wafa tertawa renyah, membuat Qale terbangun. 

"Bos. Nggak canda, kaaaan?" ucap Bakar, air matanya benar menetes di ujung netra.

Qale menoleh, setengah kaget melihat sosok kekar itu justru menangis seperti anak kecil.

Wafa kembali tertawa lepas. “Lihat nih, Sya, katanya pengawal tapi malah lebay.”

Bakar mengangkat tangan. “Paling nggak … ada hal baik yang akhirnya terjadi di hidup kalian. Aku cuma … lega banget.”

Qale tersenyum kecil, netranya ikut membasah. Wafa menggenggam erat tangannya, menatap lekat. Pandangan itu berisi janji yang tak lagi main-main.

***

Sementara di tempat lain.

Di rumah besar keluarganya, Danisha berdiri di depan cermin, mematut wajahnya yang pucat. Ia meraih tas, hendak pergi

Ibunya menahan di ambang pintu, air mata berlinang. “Danish … tolong, Nak. Minta maaflah pada Wafa. Mohon dia cabut gugatan itu, hentikan semuanya.”

Danisha mencibir kasar. “Terlambat, Maa. Semua ini karena Elan serakah. Kalau aku nggak pergi, sia-sia semua yang sudah kulalui.”

Ibunya jatuh terduduk, terisak. Tapi Danisha tetap melangkah keluar. "Nishaaaaaa!"

Malam mulai turun, gerbang rumah terbuka perlahan. Tapi laju mobilnya terhenti ketika dua pria berjas gelap menghadang di depan.

Senyum tipis terukir di wajah salah satu dari mereka. “Selamat malam, Nona Danisha.”

Danisha menegang. Tangannya mencengkram erat kemudi. Untuk pertama kalinya, sorot matanya benar-benar kehilangan kendali.

Grrung. Grrrung! Danisha menginjak pedal gas. Jarinya mengetuk stir. Dia menggigit bibirnya pelan. Grruuuung!

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!