Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Aku layak dicintai
Mobil mewah itu bergetar halus saat Danisha menekan pedal gas Jemarinya mencengkeram setir, wajahnya kaku, penuh amarah. Dua pria berseragam polisi mendekat dari arah depan.
“Selamat sore, Bu Danisha. Kami dari kepolisian. Mohon kerja samanya,” ucap salah satu petugas, sambil menyodorkan selembar surat dengan stempel resmi.
Dari dalam mobil, alis Danisha bertaut. “Apa ini?”
“Surat perintah larangan bepergian. Anda berstatus tahanan rumah sampai sidang esok hari. Kami ditugaskan mengawasi agar tidak ada upaya melarikan diri.”
Wajah Danisha memerah. “Tidak masuk akal! Saya bisa bepergian sesuka saya!” Ia menghentak setir, menolak keluar dari mobil.
Polisi tetap tenang. “Kalau Ibu memaksa kabur, risikonya besar. Mobil rusak, fasilitas negara rusak, keributan mengundang perhatian warga … dan Ibu sendiri bisa cedera. Pilihannya sederhana, kembali masuk rumah dengan terhormat, hadapi keputusan, lalu ajukan banding bila merasa benar.”
Tiba-tiba suara sirine meraung. Dua mobil patwal berjajar tepat di depan garasi, menutup jalan keluar. Dari dalam, dua polisi lain turun dan berdiri di sisi kanan-kiri mobil Danisha.
Danisha membeku. Untuk pertama kalinya, ancaman nyata berdiri di depan matanya.
“Danish!” Suara lirih tapi putus asa itu membuatnya menoleh. Sang ibu berdiri di sisi jendela mobil, mengetuk kaca dengan tangis yang pecah. “Nak … tolong keluar. Jangan bikin malu. Turun, ayo masuk ke rumah.”
Danisha menggertakkan gigi. Matanya berair, tapi gengsinya menolak runtuh. Akhirnya ia menghentak pintu mobil dan turun, langkahnya kasar, tatapannya menyala sinis.
“Kalian dibayar berapa sama Wafa, hah? Aku bisa bayar lebih!” suaranya lantang, arogan.
Ibunya buru-buru meraih lengan putrinya, memaksa Aspri Danisha ikut menarik. “Cukup! Jangan bicara sembarangan!” ucap sang ibu, hampir tersedu. Kepada polisi, ia menunduk. “Maafkan anak saya. Silakan lakukan pemeriksaan.”
Petugas lalu masuk, memeriksa pintu belakang, pagar, bahkan struktur bangunan yang rawan jadi jalur kabur.
“Mulai malam ini, tiga orang petugas berjaga di rumah. Maaf sedikit membuat tidak nyaman, tapi ini prosedur karena terdakwa diduga hendak melarikan diri.”
Sang ibu menghela napas berat, wajahnya sendu. “Saya akan menjamin putri saya bertanggung jawab. Meski bagi kami ini aib, saya terima.”
Di ruang tamu, Danisha menghentak kaki, wajahnya masam. Tapi sorot matanya diam-diam menyimpan resah.
***
Di tempat lain, operasi pencarian Elan berlangsung. Polisi mendatangi rumahnya—kosong. Mereka lanjut ke kediaman orang tuanya—tak ada.
Sampai akhirnya, sebuah gudang tua yang dulu milik sahabat ayah Wafa dikepung. Di sanalah Elan bersembunyi.
Bakar ikut dalam rombongan itu. Kepada sang pemilik gudang, ia menjelaskan dengan suara tegas.
“Kami diperalat Elan. Qalesya, tak ada hubungannya. Semua ini hanya sisa perjanjian lama Anda yang rusak karena sabotase. Tuan muda Wafa kecelakaan, Tuan besar meninggal. Distribusi sudah kembali ke pemilik sah, tapi Elan…” suaranya patah.
Winda sudah menjelaskan detail kesalahpahaman yang terjadi di antara internal perusahaan. Danisha memang tahu banyak soal Wafa, sehingga dengan mudah mencari celah untuk menyakiti, apalagi didukung Elan.
Pemilik gudang hanya mengangguk singkat, lalu memberi tahu lokasi Elan.
Saat pintu gudang lainnya digedor, Elan panik, mencoba kabur. Namun sebutir timah panas menghantam kakinya. Ia terhuyung, terjatuh, wajahnya terpelintir sakit.
“Kalian keterlaluan!” umpatnya, terengah. Wajahnya masih memar akibat pukulan Wafa beberapa waktu lalu.
Polisi menyeretnya keluar. Elan berteriak putus asa, “Dia itu tidak lumpuh, tidak buta! Dia menipu kalian semua! Seharusnya Wafa yang diseret!”
Tapi teriakannya tak dihiraukan.
Bakar, yang datang bersama tim, meludah kesal. “Jadi, karena dia masih sehat, kamu pikir bisa memperalat Qalesya, ya?” ucapnya sinis. “Sekongkol dengan Danisha, mencari musuh Wafa, dan ngajak balas dendam? Sayangnya … info lokasi ini pun aku dapat dari sana.”
Wajah Elan terkejut. “Danisha atau Tuan Agil … yang mengkhianati aku?”
Bakar terkekeh, puas. “Dia dikurung. Nadia selamat, kalau kamu mau tahu.”
Elan terdiam, wajahnya hancur. Saat polisi menyeretnya masuk ke mobil, ia kembali berteriak, “Kurang ajar!”
“Jangan mengumpat. Pikirkan nasibmu sendiri,” kata salah satu polisi dingin.
Bakar mendekat, menatap Elan dengan jijik. “Bocah ingusan. Kamu salah langkah sejak awal. Kalau nggak macam-macam, mungkin hidupmu enak, dipercaya Wafa. Sekarang? Habis sudah.”
Bakar menepuk atap mobil itu, dan iringan kendaraan polisi pun meninggalkan lokasi.
***
Di rumah sakit, suasana justru berbalik.
Qalesya duduk di sisi ranjang, tubuhnya masih lemah tapi parasnya memukau. Kebaya sederhana dengan siger kecil menghiasi kepala, riasan lembut membuat wajah Qale bercahaya. Winda menatap menantunya dengan mata berkaca-kaca.
Wafa berdiri di depannya, mengenakan setelan senada khas adat Sunda, sorot matanya teduh tapi penuh cinta.
Hasan bersiap menjadi saksi, sementara ustadz duduk di sisi meja kecil.
“Aku terima nikahnya Qalesya Namari Hasna binti Hasan, dengan mas kawin tersebut, tunai,” ucap Wafa mantap, genggamannya erat di tangan ustadz.
Suasana hening, lalu gema “sah” disertai doa, pecah memenuhi ruangan. Air mata Qale menetes, wajahnya bergetar menahan haru.
Cincin berlian disematkan di jarinya. Dengan penuh haru, Qale mencium punggung tangan Wafa untuk pertama kalinya. “Maafkan aku,” suaranya lirih.
“Nggak perlu. Penting kita mulai lagi dari hari ini, kan?” Wafa membalas lembut, lalu mengecup pucuk kepala istrinya dengan doa yang terlantun.
“Alhamdulillah,” ucap Hasan, Winda, dan semua yang hadir.
Fotografer yang disewa Winda mengabadikan setiap momen. Wafa bahkan langsung mengganti wallpaper ponselnya dengan potret Qale yang menunduk khidmat saat ia mengucap ijab tadi.
“Cantik banget…” bisiknya, senyum menawan merekah.
Setelah prosesi adat sederhana, suasana jadi hangat. Tawa renyah Nadia, Aspri Wafa, mbak Mun, dan Hasan mewarnai ruangan.
Qale tersipu malu saat disuapi Wafa. Pipi merona, bercampur tawa. Wafa tak henti mencuri ciuman kecil di kening, pipi, hingga bibir istrinya.
“Bersihin sudut bibir, Sayang,” godanya sengaja membuat Qale kian tersipu.
Semua tertawa riang kala Bakar datang menyusul. Untuk pertama kalinya, ruang itu penuh bahagia, bukan duka.
Ketika tamu pulang, Bakar menepuk bahu Wafa, senyum puas. “Elan drama tadi.”
“Drama apa?” tanya Wafa.
“Ditembak di kaki,” jawab Bakar singkat.
Wafa terdiam, lalu menoleh pada istrinya yang bersandar lemah di bahunya. Ia mengusap rambut Qale pelan. Hari ini, dunia mereka benar-benar mulai dari awal.
Malam itu, ketika semua orang sudah pulang dan kamar rawat menjadi tenang, Qalesya bersandar di bahu Wafa. Hanya suara detak jam dan hembusan napas mereka yang terdengar.
Dalam hati, ia berbisik pada dirinya sendiri:
[“Aku pikir, aku tak pantas. Aku pikir, kebahagiaan hanya untuk orang lain. Tapi hari ini… aku belajar, cinta tidak selalu datang dari pilihan, kadang dari takdir yang memaksa kita bertahan.]
Aku bukan lagi Qalesya yang kemarin. Hari ini aku adalah Qalesya—istri Wafa—yang berhak memulai dari nol, dengan luka sekaligus harapan.
Dan jika ada yang kusesali, hanya satu, mengapa aku tidak percaya sejak awal, bahwa aku pun layak dicintai. Tangannya menggenggam jemari Wafa lebih erat.
Wafa menoleh, mengecup keningnya lembut. “Tidur, Sayang. Besok kita mulai hidup baru.”
Qalesya menutup mata, senyum kecil mengembang di bibirnya. Untuk pertama kali dalam sekian lama, ia percaya, damai itu nyata.
.
.