Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Alasan untuk Qalesya

Pagi itu, rumah Hasan terasa berbeda. Hujan sudah reda, meninggalkan aroma tanah basah yang meresap ke setiap celah. Qalesya duduk di beranda kamarnya, selimut menutupi bahunya. Matanya masih bengkak, namun ada ketenangan kecil yang baru saja ia temukan, rumah ayahnya memang benar-benar “tempat pulang”.

Pintu berderit, Hasan melangkah pelan. Tangannya menggenggam sebuah cangkir teh hangat.

“Minum ini, Lesa,” ucapnya, meletakkan cangkir di meja.

Qale tersenyum tipis. “Terima kasih, Yah.”

Hasan duduk di kursi seberang, menatap putrinya lama-lama. “Kenapa kamu pulang sendirian?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi menekan hati Qale. Ia menggigit bibir, lalu berkata pelan. “Aku … merasa malu masuk ke keluarganya dengan kondisi begini."

Hasan terdiam, rahangnya mengeras. “Dia bilang kalau cuma kasihan sama kamu, Lesa?"

Qalesya terhenyak. "Bu-bukan gitu. Aku aja minder, Yah," ucapnya gagap.

"Dia membiarkan kamu pulang sendiri? Nggak belain kamu? Kalau iya, dia tidak pantas mendampingimu.”

Sorot mata Qale mulai berkaca lagi. “Tapi … aku masih ingin bertahan, Yah.”

Hasan menarik napas dalam, lalu menepuk bahu putrinya. “Bertahan itu mulia, tapi jangan sampai membuatmu hancur. Ingat, kamu bukan perempuan lemah. Kalau dia benar lelaki, dia akan menjemputmu kembali dengan hormat. Kalau tidak … biar Ayah yang urus.”

Qale menunduk. Kata-kata itu bagai campuran obat pahit, menyakitkan, tapi meneguhkan.

Hasan merasa harus melindungi putrinya, menebus kesalahannya dan membuktikan pada Qale bahwa dia menyesali perbuatan terdahulu.

Qale lalu meminta ikut ke peternakan ayahnya. Agar dirinya tidak terlalu merasa sepi.

"Dulu juga sendiri, tapi nggak sesepi ini," gumamnya saat berhias menatap cermin. "Apa aku cinta pada mahlukmu itu, Tuhan?" 

Senyum manis menghias wajah sembabnya pagi ini. Hasan menunggunya di luar dan tak lama, mereka pergi.

Sementara di tempat lainnya.

Di rumah besar yang kini sunyi, Wafa duduk terpaku di ruang kerjanya. Asbak penuh, kopi dingin, dan layar laptop yang terus menyala. Ia memijit pelipisnya, wajahnya kuyu.

Pintu terbuka, Bakar masuk. Kali ini tanpa omelan, tapi tatapan tetap tajam.

“Bos.”

“Hm.”

“Semalam ada pergerakan."

Wafa mengangguk. Menunjuk layar laptopnya. "Kita bisa pakai rekaman ini buat ajukan tuntutan kan?" ujar Wafa pada Bakar.

Bakar duduk di depannya, mengangguk setuju dan menyodorkan sebuah map. Wafa tahu apa isinya, dia membuka, membaca sekilas lalu menandatanginya.

"Kapan?" sambungnya lagi.

"Secepatnya, Bos." Bakar menutup map itu. Ada topik lain yang ingin dia bicarakan. Dia melihat Wafa, sampai bos nya itu menatapnya balik.

"Apa?" tegas Wafa.

"Kalau begini terus, besok dia nggak balik lagi.”

Wafa mengangkat kepalanya, menatap Bakar. “Aku tahu.”

“Kalau tahu, kenapa masih diem aja?” Bakar mendesak. “Bos, Qalesya itu bukan mainan. Dia sudah jatuh cinta padamu. Kalau Bos cuma mau jaga gengsi, mending lepaskan sekarang. Jangan siksa dia.”

Wafa meremas rambutnya, frustrasi. Ingatannya berkelebat, senyum Qale, tangan mungil yang sering menyiapkan bajunya akhir-akhir ini, suara lembutnya ketika menenangkan. Semua terasa nyata … dan kini kosong.

Tangannya terulur ke ponsel di meja. Layar menyala. Nama “Qalesya” ada di daftar kontak teratas. Jempolnya nyaris menekan tombol panggil, tapi … ia berhenti. Gengsi dan ragu kembali menahan.

Bakar hanya bisa mendengus. “Jangan nyesel dah.” Ia lalu meninggalkan ruangan, membiarkan Wafa terjebak dalam perang batinnya sendiri.

Wafa melempar ponselnya ke meja. Dia lalu melihat cctv toko. Mengamati beberapa menit. Seharusnya jam segini Qale sudah datang ke Anak Lipat. 

Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangannya mengusap dagu. Cemas menunggu seseorang yang ingin dilihatnya pagi ini.

Namun, setelah beberapa menit, tidak ada tanda-tanda kemunculan Qale di sana. Hanya ada Ria yang sibuk sendiri juga Nadia, sesekali terlihat membantu.

"Kemana dia?" gumamnya mencoba mengecek alat pelacak yang disematkan di ponsel Qale.

"Off." 

Wafa lalu meminta seseorang untuk menyusup ke cctv jalanan sekitar kampus. Mungkin Qale kuliah dulu meski tidak ada jadwal mata kuliah pagi ini. 

Jawabannya nihil. Wafa lantas meminta Bakar mencari Qale. 

"Ngapain dicari," jawab Bakar ketus. 

Wafa mendengus. "Cari dulu," pintanya singkat. Tak lama sebuah pesan masuk ke ponselnya, dari Bakar yang mengatakan bahwa Qale ada di peternakan Hasan.

Seketika Wafa lega, senyumnya kembali muncul. Bahkan sekedar kabar dari Qale saja membuatnya bahagia.

"Sesederhana itu kamu bikin aku tenang, Sya." Dia seolah menemukan satu alasan mengapa memilihnya.

***

Di sisi lain kota, menjelang sore hari. 

Nadia berjalan dengan langkah berat menuju sebuah rumah petak. Tangannya menggenggam ponsel erat, wajahnya pucat. Ia baru saja izin pulang cepat dari toko.

Ingatannya berkutat pada pertemuan dengan Elan dan Danisha semalam—dan hatinya makin hancur.

“Kalau mereka terus tekan aku, aku bisa gila …” bisiknya lirih.

Ia berhenti di depan pintu rumah, sebelum masuk, Nadia mengetik sesuatu di ponselnya. Jemarinya gemetar, tapi akhirnya ia menekan tombol “kirim.”

[“Aku mau ketemu. Penting. Demi adikku.”] Pesan itu terkirim untuk Wafa.

Nadia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Air mata jatuh tanpa bisa dibendung. Ia tahu, langkah ini berisiko besar. Tapi ia tak punya pilihan lain—hanya Wafa yang bisa menghentikan permainan kotor ini.

***

Malam mulai turun. Hujan gerimis masih membasahi genting rumah Hasan. Qale duduk di tepi ranjang, menatap kertas kosong di meja. Ia ingin menulis—surat yang entah ditujukan untuk siapa, untuk dirinya sendiri, atau untuk Wafa.

“Kalau memang kau tulus … jemput aku. Tapi kalau tidak, biarkan aku tinggal seterusnya di rumah ini.”

Tangannya bergetar, tapi kalimat itu berhasil ia tulis. Kepala Qale mendadak pusing, dia memutuskan tidur cepat malam ini. Hujan-hujanan nyaris seharian membuatnya sedikit meriang.

Di waktu yang sama, Wafa masih menatap layar ponselnya. Satu pesan masuk belum dia baca.

Dari : Nadia.

Dada Wafa bergemuruh, banyak hal yang harus segera diselesaikan. Malam itu, dia memanggil Bakar agar menyiapkan segalanya sebab dirinya akan ke rumah Hasan.

Perjalanan selama 45 menit akhirnya usai. Wafa turun, langsung disambut Hasan yang sedang duduk di teras depan sendirian.

"Sya tidur, Pak?" sapa Wafa setelah salam.

"Kayaknya. Kecapean tadi ikut ke peternakan," jawab Hasan menyilakan Wafa masuk. "Nginep?" tanyanya kemudian.

Wafa mengangguk. "Iya, dan ada hal yang mau aku obrolin," katanya pelan melirik sekilas ke mertuanya.

"Soal Lesa?" 

"Iya. Juga lainnya," balas Wafa lagi, tepat saat Mbak Mun datang membawa secangkir teh hangat untuknya.

Hasan menghembuskan asap tembakau ke udara. "Jangan rusak kenikmatanku saat mengepul. Besok lagi. Sana tidur," katanya sambil mengibaskan tangan ke Wafa agar masuk kamar.

Wafa menurut, dia memanggil Bakar agar istirahat juga. Tapi pria itu malah bergabung merokok dengan ayah Qale.

Dia masuk ke kamar Qalesya. Cahaya remang membuat Wafa menatap syahdu punggung yang meringkuk itu. Perlahan dia bangkit, menyibak selimut lalu memeluknya dari belakang.

"Engghh?"

"Aku." 

Qalesya ingin berontak, tapi Wafa memeluknya erat hingga dia sulit bergerak.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!