Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Usaha membujuk Qalesya

Pagi itu, aroma tanah basah masih bertahan di halaman rumah Hasan. Burung-burung mulai riuh, tapi suasana di dalam rumah justru terasa kaku.

Qalesya membuka mata, tubuhnya menggeliat pelan. Seketika ia sadar—ada tangan yang melingkari pinggangnya. Ia menoleh, dan mendapati Wafa tertidur di sampingnya. Napas lelaki itu berat, wajahnya letih, tapi tetap tampak tenang.

Qale membeku. Ada campuran kesal, rindu, dan gengsi yang berperang di dadanya. Ia ingin mendorongnya pergi, tapi jemari itu terlalu hangat. “Kenapa dia bisa seenaknya datang, lalu tidur di sini tanpa kata maaf?” pikir Qale getir.

Ia bangkit perlahan, melepaskan diri, lalu keluar kamar. Olahraga pagi kemudian ikut menyiapkan menu sarapan.

Ketika dia kembali ke kamar, Wafa sudah bangun sedang mencari bajunya di ransel yang dia bawa. Qale diam tak membantu, dia memilih langsung mandi.

Di meja makan, Hasan sudah duduk dengan koran pagi. Tatapannya tajam menyapu sebentar ke arah anak dan menantunya yang akhirnya ikut duduk. Atmosfer terasa tegang.

“Lesa, sarapan,” ucap Hasan singkat.

Qale menunduk, mengambil roti tanpa banyak bicara.

Wafa memperhatikan, sesekali berusaha menyodorkan lauk. “Makan yang banyak, Sya.”

Qale hanya diam, tidak menoleh.

Hasan pura-pura acuh, tapi ia bisa merasakan hawa dingin di antara keduanya. Dia tahu, ada sesuatu yang belum selesai.

Selesai sarapan, Qale bersiap ke kampus. Mengambil tas ke kamar. Baru saja ia hendak keluar, Wafa menahannya di ambang pintu.

“Boleh kita bicara sebentar?” suara Wafa pelan tapi tegas.

Qale berdiri kaku. “Waktuku mepet.”

“Sya.” Wafa menatapnya lekat. “Aku serius. Ada hal penting. Soal kamu … soal kita.”

Qale memalingkan wajah. Kata-kata ayahnya semalam kembali terngiang. “Kalau dia benar lelaki, dia akan menjemputmu kembali dengan hormat.”

Tapi Wafa? Dia datang tanpa klarifikasi, tanpa maaf, hanya memeluk seolah semua bisa selesai begitu saja.

“Kalau hanya ingin menenangkanku dengan pelukan, itu bukan jawaban, Kak,” ucap Qale dingin lalu melangkah pergi.

Wafa menghela napas, memundurkan kursi rodanya agar Qale bisa pergi. Dia mengalah, menawarkan diri mengantar tapi diabaikan istrinya itu.

Karena tidak ada rencana kemana-mana, Wafa akhirnya duduk berhadapan dengan Hasan di ruang tamu.

“Ada yang harus aku bicarakan, Pak.”

Hasan menatapnya. “Soal Lesa?”

“Ya. Juga urusan hukum.” Wafa menghela napas, lalu membuka map yang ia bawa. “Pak, apa Nadia itu memang suruhan Lea?”

Hasan mengernyit. “Nadia? Siapa?”

Wafa menyodorkan sebuah foto ke Hasan. Wajah Nadia, juga Hasan yang terlihat ketakutan saat bertemu pertama kali dengan Nadia.

Manik mata Hasan melebar, lalu meletakkan foto ke meja. "Oh, pegawai baru Lesa," katanya.

“Dia bukan sekadar pegawai, Pak. Aku punya bukti. Lea dan Nadia ada dalam satu pertemanan. Mereka penyebab sakitnya Qale.”

Hasan berdiri, menatap lekat, nyaris tak percaya. “Jangan main-main, Fa.”

Wafa menggeser berkas—salinan pengajuan kasus baru. Ada nama Lea dan Nadia tercantum.

Hasan membaca cepat, wajahnya pucat. Tangan tuanya gemetar, dadanya tiba-tiba sesak. Ia terhuyung, duduk kembali sambil memegangi dada.

“Pak!” Wafa panik.

Hasan menghela napas panjang. “Kalau Lea … sampai tega begini pada adiknya sendiri … silakan. Pidanakan saja. Ayah pasrah.”

Keheningan panjang menekan ruangan.

Wafa akhirnya bertanya pelan, “Pak, maaf ... uang pinjaman yang dulu aku dan Qale berikan, untuk tambahan modal … itu kemana? Apakah diserahkan ke Lea? Dipakai untuk Nadia?”

Hasan terdiam. Pertanyaan itu menohok. "Maksudmu, Lea membayar perbuatan Nadia, pake uangnya Qale?" 

Wafa melanjutkan, “Tapi Nadia nggak menerima uang itu, Pak. Jadi … kemana?”

Hasan menutup wajah dengan telapak tangannya. Jemarinya memijit pelipis. Dia teringat ucapan Lea saat menyerahkan uang itu. Qale akan sakit sebab uangnya sendiri.

Wafa hanya bisa menarik napas panjang. “Tolong tanyakan ke Lea. Aku butuh jawaban.”

Mertuanya tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Hasan lalu bertanya apakah Qale tahu soal ini? Dan Wafa menjawab iya.

"Masih diberi maaf?" cicit Hasan kuatir.

Anggukan Wafa jadi jawaban untuk Hasan. Tapi, dia berkata, "aku yang nggak terima. Istriku kesakitan dan didiagnosa sulit hamil," pungkas Wafa membuat Hasan shock.

***

Siang beranjak sore.

Qale keluar dari kampus, Wafa sudah menunggu di depan gerbang. “Aku antar ke toko.”

Qale hanya diam, masuk ke mobil. Sepanjang jalan, wajahnya tetap menghadap jendela.

Sesampai di toko, Bakar menghampiri dengan setumpuk berkas. “Nyah, tolong tanda tangan di sini. Kita ajukan kasus baru.”

Qale menoleh, kaget melihat namanya tertera di dokumen. Ia melirik ke arah Wafa, tapi lelaki itu hanya menunduk tanpa penjelasan.

Qale menandatangani dengan tangan gemetar, lalu masuk ke dapur. Ia sibuk sendiri, menyiapkan pesanan, meski toko hampir tutup. Wafa mengikutinya ke mana pun, bagai bayangan.

“Sayang, tolong dengar aku—”

“Sudahlah, Kak. Jangan ikut-ikutan sampai ke dapur.”

Wafa pun akhirnya mengalah, diam memperhatikan istrinya dari sudut dapur.

Malam tiba. Toko akhirnya tutup.

Qale mengambil tasnya. “Aku pulang sendiri.”

“Tidak. Aku antar.” Wafa menghalangi.

Qale mendengus. “Nggak perlu repot.”

Tapi Wafa tak menyerah. Ia memaksa Qale ikut ke sebuah rumah makan tradisional, lesehan dengan menu sederhana. Suasana hangat lampu minyak kontras dengan dinginnya hati Qale.

“Sya … bisakah kita duduk sama-sama dan bicara dengan adem,” ucap Wafa berat.

Qale menatapnya tajam. “Justru itu. Baiknya Kakak lepaskan aku. Biar aku bisa bernapas tanpa bayanganmu.”

Wafa menggeleng. “Aku nggak bisa. Aku butuh kamu. Bukan sekadar tanggung jawab, ada sesuatu yang … aku sendiri nggak bisa jelaskan.”

Qale tersenyum sinis. “Aku bukan proyek perbaikan, Kak.”

“Tidak. Bukan. Kamu … proyek yang sedang kubangun.” Wafa menekankan kata-katanya, penuh emosi.

Qale menarik napas panjang. “Aku ingin pisah rumah. Aku akan kembali ke toko, atau ke rumah Ayah.”

“Nggak boleh, Sya—”

“Aku serius. Kalau Kakak keberatan, setidaknya izinkan aku di rumah Ayah. Itu lebih baik.”

Wafa terdiam, wajahnya kaku. Ia ingin menolak, tapi Qale menatap dengan mata yang sudah tak bisa digoyahkan.

Jika marah, mata sipit Qale tampak mulai sejajar dengan yang kiri. Wafa tak lepas memandangnya, membuat Qale terpaksa menunduk risih.

"Oke, Sayang," jawab Wafa lembut, mencoba mengusap pipi Qale tapi ditepis olehnya.

Suasana menghangat ketika Qale tersedak sambal dan Wafa menepuk tengkuknya lembut. Menuntunnya minum dan memijat belakang leher. 

"Pelan, Sayang. Aku nggak minta disuapi kok, meski kepengen," kata Wafa cengengesan membuat Qale mencubitnya sambil tersenyum.

Ketika mereka keluar dari rumah makan dan berjalan ke mobil, tiba-tiba sebuah suara memanggil.

“Qale!”

Qalesya berhenti. Wajahnya semringah. Ia berbalik, mendapati sosok yang begitu dikenalnya. Tanpa ragu, ia menyambut dan meninggalkan Wafa yang terpaku di belakangnya.

Wafa membeku. Dadanya berdegup kencang, rasa cemas dan takut bercampur jadi satu.

Siapa orang itu … dan kenapa Qale bisa begitu bahagia melihatnya?

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!