Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Pengganti Elan, Dejavu

Tatapan Lea menusuk seperti belati. Bibirnya melengkung sinis, kata-katanya meluncur tanpa ampun.

“Tukang pamer! Kamu nggak pantas hamil.”

Winda terperangah, tak percaya anak yang dibanggakan besannya bisa mengucap doa keburukan seperti itu.

“Lea!” suaranya tegas, penuh kekecewaan. “Apa pantas seorang kakak berkata begitu pada adik sendiri? Kamu bukan Tuhan." Winda menunjuk wajah Lea.

Qale diam, kedua tangannya bertaut di atas meja. Wafa menepuk pahanya pelan, matanya redup menahan amarah. Winda lalu beralih berdiri di belakang Qale.

“Jangan dengar kata-katanya, Nak,” bisik Winda menenangkan.

Tatapan penuh kasih itu membuat hati Qale sedikit luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasa Winda benar-benar seperti sang mama, membelanya.

"Apa kabarmu, Kak?" tanya Qale lembut, seperti biasanya.

"Basa basi, mau apa ke sini?" sambar Lea, masih arogan. 

"Cuma jenguk, syukur kalau sehat. Jaga diri, jangan sampe panen di sini, nggak ada ayah yang belain," kata Qale berdiri. Walau bagaimanapun, dia tak ingin Lea menuai apa yang telah dilakukan padanya di dalam penjara. "Nanti kamu nangis," sambungnya tak kalah sinis.

Brak! "Jangan pernah datang lagi! Awas kamu!" sentak Lea bangkit langsung balik badan.

Winda melirik Wafa yang cuma diam, dia yakin putranya sudah tahu perangai Lea. Meski tidak mengatakan alasan menikahi Qale, tapi Winda tahu, Wafa sudah memikirkan seksama.

Selepas kunjungan itu, Winda mengajak Qale menonton. “Biar pikiranmu lega," katanya.

Wafa ikut serta, meski sepanjang film tak sepenuhnya fokus. Tatapan gelisahnya kerap jatuh pada Qale, khawatir istrinya masih merasakan mual tapi segan menolak karena ajakan sang mama.

Usai menonton, mereka pulang ke rumah Winda. Malam semakin larut saat telepon Wafa berdering. Nama Bakar tertera.

“Bos, pengganti Elan sudah ada. Wanita. Lusa bisa ketemu, soalnya besok Anak Lipat tutup dua hari,” jelasnya.

"Ok. Aku sampaikan ke Sya." Wafa mengiyakan. Pandangannya sempat melirik Qale yang sedang berdiri membereskan buku-bukunya di kursi. Ia ingin segera memastikan istrinya nyaman sebelum orang baru itu masuk ke lingkaran kerjanya.

Dia menghampiri Qale, menariknya sampai terjatuh di pangkuan. Wafa menyelusupkan wajahnya di ceruk leher, menghidu wanginya.

Qale menegang, gelenyar menjalari tubuhnya. Parfum Wafa tercium, menenangkan membuatnya pasrah dalam dekapan.

"Capek nggak?" bisiknya.

"Nggak," balas Qale serak.

"Besok istirahat ya. Toko tutup, kan? Aku pulang sore, terus kita ketemu pengganti Elan," sambung Wafa, sambil menarik karet rambut Qale.

Rambut ikal sebahu itu terurai, wangi melon menyeruak. Wafa kian erat mendekap istrinya. 

"Wanginya enak, Sya. Jadi ngantuk," katanya lirih. Hembus napas hangat Wafa menjalari bahu kiri Qale, dia menggeliat pelan.

"Kak." 

"Ehm." 

"Lepasin dulu, mau beberes," pintanya menepuk lengan Wafa.

"Nggak mau." 

Qale malas debat, dia menyelesaikan pekerjaannya sambil dipangku Wafa. Tak nyaman tapi untuk mempersingkat waktu, dia nurut.

Wafa melepaskan Qale saat akan ganti baju. Otak Qale masih berpikir, apakah sikap manis Wafa hanya agar identitasnya tidak diketahui? 

Meski tidur ditempeli Wafa, Qale tetap belum merasa nyaman, banyak ganjalan dalam hatinya.

Keesokan hari, Winda dengan semangat mengantar Qale ke kampus. Seusai urusan kuliah, mereka mampir sebentar ke toko Anak Lipat untuk memindahkan barang-barang ke rumah.

“Mulai sekarang tinggal di rumah Mama saja. Kamu nggak usah repot bolak-balik,” ucap Winda tulus.

"Jangan dibawa semua, Ma. Kali aku ganti baju di sini, kan?" pintanya diloloskan Winda.

Qale sempat ragu, tapi wajah penuh kasih sang mertua membuatnya hanya bisa mengangguk.

Siang itu. Selepas mereka pergi, tanpa diduga Hasan datang ke toko. Namun mendapati toko tutup, ia bertemu dengan Bakar yang ada di sana. Dia lalu mengantarnya ke rumah Winda.

“Putriku mana?” tanyanya curiga.

“Masih di luar, Pak. Sebentar lagi pulang,” jawab Bakar sopan.

Hasan menunggu di ruang tamu. Saat Qale akhirnya datang, ia langsung menodong pertanyaan.

“Kamu tinggal sama mertuamu, Lesa?" tanya Hasan.

Winda mengernyit. "Ada yang salah?" 

"Kalau kediaman Anda sebesar ini, harusnya mudah dong ... menyediakan rumah untuk anakku," ujarnya datar.

Winda hanya tersenyum, mengangguk. "Anda benar," balasnya pelan. Ingin melanjutkan tapi dia melihat Wafa datang dan menggeleng padanya.

Qale tercekat, menoleh ke arah Wafa yang baru saja masuk rumah. Lelaki itu menyambut ramah. Hasan hanya mendengus, lalu menyampaikan maksudnya.

“Ayah butuh modal. Pembagian modal usaha yang beberapa bulan lalu Ayah kasih, pinjam dulu. Jangan takut nggak dibalikin. Sama orang tua sendiri jangan pelit?”

Qale terdiam, jantungnya berdegup kencang. Tak ada alasan jelas dari ayahnya, tapi cara bicaranya menusuk. Ia ingin menolak, tapi tak berani.

Wafa yang baru memperhatikan akhirnya angkat suara, datar namun berwibawa. “Nanti kita bicarakan baik-baik, Pak.”

"Gini nih, makanya Ayah tahan-tahan bagi hasil itu karena kamu perempuan. Apa-apa harus izin suami, padahal uang sendiri. Pinjam ke anak saja susah," gerutu Hasan melihat ke arah putrinya.

"Bukan gi-tu, Yah." Qale gagap.

Hasan mengibaskan tangannya, berdiri, lalu pamit pergi dengan wajah tak ramah.

"Ayah!" Qale memanggil, ingin mengejar tapi di tahan Wafa.

"Sayang ... biar aku yang bicara. Beliau sedang panik," katanya menyusul Hasan ke depan.

Qale melihat percakapan mereka dari pintu depan. Tampaknya Hasan sudah emosi, dia pergi tak memedulikan Wafa.

Rencana bertemu dengan pengganti Elan pun tertunda sebab melihat Qale murung. Wafa menemaninya saat dia berusaha menelpon Hasan. Tapi sang ayah tidak menjawab panggilan Qale, membuatnya didera rasa bersalah.

Malam harinya, di kamar, Wafa mendekat pada Qale. “Sya ... soal ucapan Lea di rutan…” suaranya pelan, seolah khawatir melukai. “Kamu merasa keberatan kalau hamil? Atau justru takut?”

Qale tertegun. Pertanyaan itu menyentuh sisi yang rapuh sekaligus penuh harapan dalam dirinya.

"Bukan takut, Kak,” jawabnya lirih. “Aku nggak keberatan. Malah … mungkin akan bahagia kalau benar-benar dikasih titipan.”

Wafa tersenyum tipis. Tangannya membelai pipi Qale. “Kalau begitu … kita berdoa, ya. Semoga dititipi."

Wajah Qale memerah, ia menunduk tak berani menatap. Wafa terkekeh, mendekat sambil mengangkat dagu Qale lalu mengecup bibirnya sekilas. “Dp dulu,” godanya nakal.

“Ka-kak…” Qale mendorong pelan, wajahnya makin panas. Wafa hanya tertawa kecil, lalu memeluknya erat hingga malam larut dalam kehangatan yang sederhana.

Dua hari berlalu. Wafa akhirnya bertemu dengan pengganti Elan, sendiri sebab Qale mengawasi tukang di toko.

Seorang gadis dengan tatapan mantap dan ucapan lugas tentang rencana pengelolaan akun. Jawabannya penuh perhitungan, membuat Wafa merasa cukup yakin.

Namun saat gadis itu berpamitan dan melangkah keluar ruangan, Wafa menatap punggungnya lekat-lekat. Ada sesuatu yang mengganjal.

“Pernah ketemu di mana ya? Kayaknya nggak asing…” gumamnya pelan.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!