Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Ditabrak Gadis di Rutan
Qalesya menggeleng pelan, tersenyum tipis. "Nggak apa-apa," jawabnya singkat.
Wafa tau ada sesuatu yang dipikirkan oleh istrinya. Tapi dia menghargai Qale. Keduanya lantas pulang setelah memastikan semua barang dan perlengkapan Anak Lipat sudah rapi.
Dua orang pekerja yang bertugas mengangkut semua itu pun sedang menuju parkiran yang sama dengan mereka.
30 menit berlalu, mereka tiba di kediaman Winda.
Rumah bercat putih, kokoh berdiri di antara pepohonan rimbun di halaman depan. Tampak gazebo di sudut pelataran, dengan kolam ikan di bawahnya.
Luasnya 2 kali lipat dengan rumah klasik keluarga ibunya di Kampung. Qalesya kian merasa kerdil, jangan-jangan keluarga suaminya memang CEO seperti keluarga Zhang.
"Qaleeeeee," sapa Winda riang berlari kecil menyongsong mobil Wafa. Dia membuka pintunya, menyilakan menantunya turun. "Ayo, turun," katanya semringah.
"I-iya," gagapnya pasrah.
Dia turun digamit lengan Winda, dibawa ke ruang makan, dilayani layaknya juragan. Qale risih, ingin meminta tolong pada Wafa, tapi suaminya malah entah kemana.
Malam itu, Qale tidak bisa tidur. Sepanjang waktu gelisah. Ia menutup mata, tapi suara telepon Wafa terus berdengung di telinga.
[“Aku nggak keberatan tampil, mungkin sementara saham akan anjlok…”]
Saham? Reputasi? Apa urusannya dengan kue dan kopi yang aku jual?
Qale berbaring miring, menarik selimut sampai kepala. Sesekali ia mengintip, kuatir Wafa terbangun. DM anonim itu juga masih terbaca jelas.
["Tidak pernah ada ibu peri untuk anak sial.”]
Punggungnya meremang. Itu bukan sekadar pesan biasa. Kata-kata itu mengingatkannya pada beberapa bulan lalu saat ingatan lamanya sempurna.
Flashback singkat menari di benaknya. Apa mungkin… Wafa menyembunyikan sesuatu yang justru akan menyeretnya kembali pada sebutan "anak sial".
"Sayang..." ingau Wafa, suaranya serak saat menarik Qale sampai menempel padanya.
"Iya."
"Tidur, Sya. Semua akan baik saja." Wafa menenggelamkan wajahnya di bahu Qale, memeluk erat sampai tubuh mungil itu rileks dan mulai pulas.
Pagi hari, Winda mengetuk pintu kamar. Qale buru-buru bangkit, menyembunyikan wajah murungnya dengan senyum tipis.
“Kamu pucat,” kata Mama sambil menyodorkan secangkir teh. “Lagi banyak pikiran?”
Qale menggeleng. “Biasa aja, Ma.”
Mama duduk di sisi ranjang, menatap lekat anaknya. “Kalau ada masalah sama Wafa, jangan dipendam. Perempuan itu memang harus percaya sama suami. Tapi … perempuan juga berhak tahu kebenaran. Jangan sampai kamu berkorban sendirian.”
Kalimat itu seperti menampar Qale lembut. Ia tidak sanggup menjawab, hanya mengangguk kecil.
Wafa muncul dari kamar mandi. Senyumnya hangat, tangannya membawa sebuah dasi. “Tolong, pasangkan,” pintanya pada Qale.
Qale ragu-ragu menerimanya, dia melirik Winda malu-malu. Wanita itu lalu pergi, merasa kehadirannya membuat Qale canggung meski dia ingin melihat menantunya itu bersikap manis.
Dasi itu Qale kalungkan di leher Wafa. Walau harus menahan napas karena grogi, akhirnya selsai juga.
"Makasih, Sayang." Wafa mengecup dahi Qale sebelum mengajaknya keluar untuk sarapan.
Hatinya menghangat, Lelaki ini selalu tahu cara membuatnya merasa istimewa. Tapi justru perhatian itu terasa janggal—semacam penutup yang terlalu manis.
“Renovasi mulai besok,” ujar Wafa sembari menunjukkan konsep desain yang sudah ia finalisasi bersama Bakar. “Aku mau semuanya nyaman buatmu. Kamu tinggal duduk manis, ya.”
Qale mengangguk, meski di dadanya semakin menumpuk keraguan. Wafa tampak sempurna, terlalu sempurna. Lalu apa arti percakapan telepon semalam?
"Mau kemana?" tanya Qale takut-takut.
"Sama Bakar sebentar, ketemu seseorang," ujarnya di sela sarapan.
Winda diam sedari tadi, dia malah ingin menemani Qale seharian.
"Mama temani ke kampus, nonton, jalan-jalan," tawarnya semangat.
"Aku mau nengok Kak Lea," cicit Qale, melirik ke arah Wafa.
"Yuk, Mama ikut," balas Winda setuju.
"Sama aku, Sya. Janjian setelah makan siang gimana?"
Qale mengangguk cepat, senyumnya terbit membuatnya dihadiahi usapan lembut di kepala oleh Wafa.
Setelah sarapan, mereka meninggalkan kediaman ke tujuan masing-masing.
Jam dua siang, dia baru saja keluar kampus, hendak menuju mobil mertuanya. Ponsel Qale bergetar lagi. DM anonim masuk.
[“Kamu masih pura-pura nggak tahu siapa suamimu itu, Qalesya? Dia sedang bersenang-senang."] Sebuah video remang-remang dikirimkan serta, belum sempurna dia unduh.
Tangan Qale bergetar. Nafasnya tercekat. Dia berdiri di tengah pelataran loby gedung.
Ia ingin menutup pesan itu, tapi matanya terus terpaku. Kakinya lemas, tapi tangannya justru refleks menekan tombol play.
"Qale!" seru Winda melambaikan tangan di sisi mobil di parkiran depan.
Qale masih terpaku di video. Tak lama, suara langkah kaki terdengar mendekat. Qale buru-buru menutup ponsel, napasnya tersengal.
“Nak, ada apa?” suara Winda menghampirinya. Tenang, penuh kasih. “Ada jadwal lagi?”
Qale menoleh. Senyum mertuanya menenangkan. Ia hanya bisa menggeleng pelan. "Nggak, Ma."
Mereka lalu berjalan menuju mobil. Saat akan masuk, suara klakson mobil membuat Winda menoleh.
Kaca depan kendaraan itu turun. "Satu mobil saja, Nyah." Bakar meminta mereka segera naik dan menyuruh supir Winda pulang.
"Siang, Sayang," sapa Wafa manis, dasinya sudah terlepas, menyisakan kemeja putih saja.
"Siang, Kak."
"Langsung ke rutan, ya, Damkar."
Sisa perjalanan didominasi percakapan antara Winda dan Qale, soal rencana mereka menonton film sore nanti.
Wafa memejam, berpikir soal apakah dirinya akan mulai mengenalkan Qale atau justru membiarkan tahu sendiri. Mana yang lebih efektif, agar Qale tidak merasa dibodohi.
Dia juga sudah mencari pengganti Elan, Bakar yang akan menyeleksi kali ini.
Beberapa menit berlalu, mereka tiba di rutan. Sipir memanggilkan Lea. Selagi menunggu, Qale berjalan di lorong penjengukan. Tiba-tiba.
Bruk!
"Awh!" keluh Qale, membuat Wafa menoleh dan segera mendekat.
"Heh, jalan pake mata!" hardik gadis itu melotot ke arah Qale.
"Kamu yang jalan pake mata. Main hape mulu," jawab Qale, tapi gadis itu melengos pergi.
Dia berpapasan dengan Wafa, matanya melirik tajam.
"Sakit, Sya?" tanya Wafa melihat istrinya memegangi bahu.
"Nggak." Dalam hati, Qale meragu. Siapa sebenarnya lelaki yang kupanggil suami ini?
Sipir memanggil Qale. Mereka pun gegas ke ruangan dan bertemu Lea. Entah karena sebab telat makan siang atau lelah, tiba-tiba Qale mual.
Hoek.
"Sya." Wafa yang disebelahnya cemas, dia mengusap pelan tengkuk istrinya.
Seketika ekspresi Lea berubah. "Ke sini mau pamer hamil, hah?"
Qale mendongak. "Kak!"
"Harusnya kamu nggak bisa hamil." Lea tersenyum sinis.
"Heh!" tegur Winda.
.
.