Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Masa Lalu Wafa muncul

Qale melihat dari jauh, Elan menyapa wanita tadi. Dahinya mengerut, apakah Elan juga mengenalnya?

Dia melirik Wafa, sepertinya Wafa juga terkejut akan interaksi keduanya. Qale lalu kembali merapikan perlengkapan, meski dia tahu, Wafa sedang memperhatikannya.

Bakar mendekat, berbicara pelan tapi kali ini kalimatnya menenangkan. "Kadang, mata itu suka keliru menilai, bukan begitu?" 

"Iya."

"Jadi, jaga hati dan pikiran Anda, Nyonya. Kadang, telinga itu lebih jujur dibanding mata," pungkas Bakar, tersenyum tipis sebelum pergi meninggalkan stand.

Qale menunduk, menyimpul senyum. Benar, mendengarkan penjelasan kadang lebih logis bila dibandingkan menilai langsung lewat mata.

Dia akan menunggu Wafa menjelaskan siapa wanita tadi. Meski, jika mengingat perjanjian itu, itu bukan haknya, tapi, seenggaknya Wafa bisa melihatnya sebagai istri di atas kertas.

'Eh, kok aku mulai menuntut, ya?' batin Qale.

Menjelang Maghrib, Winda mengajak Qale pulang. Tapi, dia menolak halus. Dirinya harus ke toko, menyiapkan croissant untuk esok pagi.

Wafa paham keinginan Qale, dia bilang pada Winda, "Nanti pulang sama aku, Ma. Duluan saja sama Pak Supri," katanya.

"Ok, sukses ya, Qale," balas Winda, mencium pipi menantunya sebelum pergi.

Setelah isya, semua persiapan selesai. Wafa pun mengajak pulang ke toko.

Mobil Wafa melaju pelan di jalan menuju Anak Lipat. Lampu-lampu kota berkelebat di kaca, tapi di dalam mobil, suasana lebih mirip ruang hampa. Tidak ada percakapan sejak mereka meninggalkan area even. Hanya suara AC dan gesekan ban di aspal.

Qale duduk di kursi penumpang dengan tatapan kosong, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Dadanya terasa penuh. Seharusnya tadi jadi momen manis mendekorasi stand—sampai sosok itu muncul. Senyum lembut wanita itu, tawa yang mengalun saat berbicara dengan Winda, dan… tatapan matanya pada Wafa. Hangat. Terlalu hangat.

“Lapar nggak?” Wafa memecah diam, suaranya tenang tapi terdengar seperti basa-basi.

Qale mengangguk tipis. “Nggak. Udah makan di stand tadi.”

Tak ada percakapan lanjutan. Wafa menghela napas perlahan, seperti ingin berkata sesuatu, tapi mengurungkannya. Dalam hati, ia masih mencoba mengurai perasaan yang tiba-tiba menyerbu. Melihat masa lalunya muncul lagi membuatnya mengingat masa-masa sebelum kecelakaan. Masa di mana ia merasa cukup layak untuk dicintai. Saat itu, Dia adalah bagian dari semua mimpinya.

Tapi semua berakhir ketika ia lumpuh. Bukan karena Dia meninggalkan dirinya … setidaknya, bukan itu yang sebenarnya. Wafa yang menjauh, takut menatap mata wanita itu saat ia harus menerima kenyataan tak lagi seperti dulu.

Sementara di kursi sebelah, Qale berusaha menelan rasa pahit yang tak mau hilang. Dia membenci dirinya karena … ya, dia mengagumi wanita itu. Bagaimana dia tampak percaya diri, anggun, dan seolah punya magnet alami yang menarik perhatian siapa pun. Bahkan Winda terlihat ramah sekali padanya, bercanda seolah mereka sudah lama dekat.

Lucunya, Qale merasa seperti orang luar di stand tadi. Dia bahkan sempat tersenyum sopan saat wanita itu berbicara, tapi hatinya … remuk. Ini bukan rasa takut kehilangan Wafa karenanya, tapi lebih kepada … takut Wafa sadar kalau hidupnya akan lebih ‘lengkap’ dengan seseorang seperti wanita itu—bukan dirinya.

Mobil berhenti di tepi trotoar. Bakar mematikan mesin dan menoleh sekilas. “Mau stay atau pulang, Bos?” katanya singkat.

Qale turun lebih dulu, tanpa banyak bicara. Fokusnya bertemu Ria dan dua gadis part-time sebelum mereka pulang.

Wafa menggeleng, dia ikut turun, masuk ke toko dengan perasaan yang terasa berat.

Di dalam, Qale mengganti sepatu dengan sandal, lalu berjalan ke dapur, menuang segelas air. Tangannya sedikit gemetar saat memegang gelas. Pikirannya kembali pada perjanjian pernikahan mereka—perjanjian yang awalnya ia pikir akan memberi jarak aman bagi hati masing-masing. Tapi sekarang, jarak itu terasa seperti jurang yang bisa dipanjat siapa saja … termasuk Elan.

Ia teringat bagaimana Elan memperhatikannya diam-diam akhir-akhir ini. Bukan tatapan menggoda, tapi tatapan yang seperti berkata : Aku tahu kamu sedang goyah.

Pintu depan berderit. Wafa masuk, membawa aroma parfum yang samar-samar tertinggal dari acara tadi. “Langsung kerja lagi?” tanyanya saat masuk ke dapur.

Qale menaruh gelas di meja. “Iya. Pulang saja, jangan di sini, kamarku jadi tempat ngerumpi kita nanti,” ucap Qale tanpa melihat ke arah Wafa.

Suasana kembali hening. Wafa memutar kursi rodanya ke depan, di pojok sambil membuka ponsel.

“Ada yang nggak beres, Kak?” suara Ria terdengar ringan, tapi membuat hati Qale berdebar.

Qale mengangkat kepala. "Ehm, nggak apa. Sudah beres semua, kok.”

Ria tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Qale lalu mengusapnya. Seolah tahu, hatinya sedang bergejolak.

Qale lalu membagikan kertas tugas ke dua gadis part-time. Keduanya jaga stand, membantunya. Dia lalu meminta Ria memberikan penjelasan singkat soal s.o.p juga nama produk.

Satu jam kemudian, kedua gadis itu pulang. Mereka harus tiba di stand lebih dulu sebelum Qale. 

Menjelang tengah malam. Semua pekerjaan selesai. Ria rebahan di kamar belakang, sementara Qale mengintip ke depan. Apakah Wafa tidur atau masih terjaga.

Pria itu tersenyum tipis saat Qale menghampirinya dengan wajah lelah. Jari-jarinya bergerak cepat di atas ponsel, entah sedang membalas pesan siapa.

Qale menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangan keluar, mencari Bakar. Wafa lalu menepuk kursi di sebelahnya tapi Qale memilih duduk di hadapan Wafa.

"Selesai? Sini ... aku pijitin," kata Wafa akan meraih kaki Qale.

Qale menjauhkan kakinya. Dia ingin bicara soal wanita itu. Ada yang mengganjal di hati.

“Tadi tuh, teman dekat?” Qale bertanya hati-hati.

Wafa mengangguk, lalu menambahkan, “Dia … bagian dari masa lalu. Nggak lebih.”

Jawaban itu membuat Qale terdiam. Nggak lebih—tapi tatapan tadi di stand, senyum yang mereka bagi, dan sikap ramah Winda … semua berkata sebaliknya.

Wafa menutup ponsel dan memandang Qale. “Ada yang mau ditanyakan?"

Qale tersenyum tipis. “Ehmm ...” Ia ingin berkata lebih, ingin mengungkapkan keresahan yang menumpuk, tapi takut terdengar seperti istri cemburuan tanpa hak. Lagipula, apa gunanya? Perjanjian pernikahan mereka tidak melindungi hati dari rasa sakit seperti ini.

Beberapa menit kemudian, Wafa berdiri. “Aku pulang saja kalau gitu,” Ia memutar kursi rodanya menuju pintu, meninggalkan Qale sendirian di ruangan itu.

Qale menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepala di sofa. Matanya memejam, tapi pikirannya liar. Dia sadar—perasaan ini berbahaya. Mencurigai wanita itu hanya akan membuat galau. Dan entah kenapa, Qale merasa Elan tidak akan membuang kesempatan mendekatinya.

Sementara itu, di mobil, Bakar mengetik pesan di ponselnya. Ia memperhatikan Qale saat Wafa sibuk berbicara dengan Danisha dan Winda.

["Bos, jelaskan siapa dia ke nyonya kueh. Tanya hatimu, orang baru atau orang lama."]

Saat akan masuk ke mobil, ponsel Wafa bergetar. Ia melihat layar, membaca pesan Bakar, dan terdiam lama.

Sebuah sinyal samar mulai terpancar di dadanya—bukan dari rasa takut kehilangan Qale, tapi dari kesadaran bahwa ia memang sudah memberi celah itu.

"Bos?" 

"Jalan! Jangan ikut campur." 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!