Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

PT. Guldem

Wafa hendak masuk ke kamar tapi suara Qale menahannya. 

"Ada apa, sih?" tanyanya gantian melihat Bakar dan Wafa.

Wafa hanya mengendikkan bahu lalu masuk ke kamarnya. Qale kembali dihadapkan pada situasi canggung sebab hanya ada Winda di sana. Daripada ditanya hal-hal yang tidak ingin didengar, Qale memutuskan menyusul Wafa.

Seperti malam sebelumnya, dia susah tidur. Wafa menguasai selimut sehingga Qale kedinginan. Dia mencari remote AC tapi tidak ketemu, terpaksa, dirinya mendekat ke Wafa, meringkuk.

Qale bangun terlambat, kelopak matanya masih berat. Cahaya matahari sudah menembus tirai tipis, memantul di lantai kayu. Ia menoleh—Wafa sudah tak ada di ranjang. Yang tertinggal hanya aroma parfum yang menenangkan, dan … secarik pesan di nakas.

[“Aku liat lokasi stand dulu. Sarapan di meja makan. Mama sudah menunggu."] Tulis Wafa.

Qale menggaruk Kepalanya. “Beneran mau ketemu ayah?” gumamnya sambil mengacak rambut.

Setelah rapi, Qale makan ditemani Ceu Yati sebab Winda sedang jogging. Tak lama mertuanya itu datang tepat Qale selesai sarapan.

Winda gegas ganti baju dan sejurus kemudian mereka sudah pergi ke kediaman Hasan.

Selama perjalanan, Winda tak banyak bicara. Qale sibuk koordinasi dengan Ria untuk acara lusa. Akhirnya setelah dua jam dalam kekakuan, mereka tiba di peternakan Hasan Sasmita.

Lelaki paruh baya itu menyambut Qale. Senyumnya cerah tapi Hasan menahan diri. "Apa kabar, Lesa?" sapanya lembut.

"Baik." Qale menjawab singkat, lalu menoleh ke arah mertuanya. "Mamanya Kak Wafa," ujarnya mengenalkan mereka.

Hasan mengangguk. Dia pernah melihat fotonya--hanya berdua dengan Wafa, saat Wafa menyerahkan dokumen menjelang pernikahan. 

"Hasan," ucapnya menjulurkan tangan. "Maaf, baru jumpa," sambung Hasan ramah.

"Winda Arman," balasnya tersenyum. "Nggak apa, memang Wafa yang meminta begini. Aku harus menghargai keputusannya," lanjut Winda.

Hasan mengangguk. Dia juga tidak mencari tahu lebih banyak karena menurutnya yang penting Wafa datang menepati janji. 

Sekarang Hasan baru sadar, sikapnya sebagai ayah keterlaluan. Saat itu, dia hanya ingin segera melepaskan tanggungjawab terhadap Qalesya.

Mereka berdua mengobrol ringan. Hasan berterima kasih karena Winda menerima kondisi Qalesya yang kurang sempurna.

"Sempurna itu apa sih? Cantik fisik?" kata Winda melirik menantunya yang diam sejak tadi. "Sempurna bagi saya adalah rasa bahagia ... kalau punya itu, semua akan terlihat memesona. Dan Qale, memilikinya," pungkas Winda.

Hasan mengangguk. "Iya, terima kasih." 

Tak lama Winda pamit sebab akan mengantar Qale ke stand pameran dan toko. Dia memuji rasa croissant buatan Qale, di depan Hasan.

"Anda beruntung bisa sarapan croissant saban pagi. Kemarin Qale bawakan kue-kue buatannya dan langsung ludes," celoteh Winda saat berjalan ke depan.

Deg!

Hasan diam, senyumnya kaku. Dia bahkan belum pernah mencicipi croissant buatan Qale. Malah mengejeknya bahwa Qale membuatnya malu sebab jualan kue.

Winda mengusap punggung menantunya saat akan masuk ke mobil. Dia paham rasa hati Qale sebab gestur Hasan terlihat kaku. Hubungan keduanya tidak baik.

30 menit kemudian mereka tiba di toko. Qale langsung cekatan melihat semua stok bahan. Dia juga berkenalan dengan dua orang gadis part-time yang akan membantunya mulai esok.

Winda membiarkan Qale bekerja. Dia melihat perubahan sikap manis sang menantu. Terlihat serius dan gigih saat bekerja, sementara di rumah berubah menjadi pendiam.

Menjelang sore keduanya tiba di lokasi UMKM, stand croissant merah putih Qale sudah dihias cantik oleh Elan dan Wafa.

Lelaki itu sedang duduk di belakang meja kasir, senyum tipisnya terselip saat melihat kedua wanita itu berjalan ke arahnya.

"Lama amat, sampai selesai baru nongol," protes Wafa pada Qale.

"Mama mampir ke toko, beli banyak kue," kekeh Winda. 

"Maaf. Aku ngobrol dengan anak part-time dulu, kan," jawab Qale sambil meletakkan peralatan dan menatanya untuk esok pagi.

“Aman?” sapa Qale pada Elan.

“Cacing perut gue demo,” jawab Elan. Suaranya datar tapi matanya melirik kesal.

Qale tertawa ringan. Dia membuka jinjingannya lalu menata di atas meja. Croissantrik, Croissayang tersaji menggugah selera.

Mereka bekerja berdampingan, saling mengoper roti. Di sela riuhnya para peserta even yang sedang menghias stand, Winda muncul membawa baki gelas minuman.

“Nih, croissant boleh jual, tapi cucu jangan lupa dibuat. Tenaganya beda kalau sarapan sehat,” ucap Winda sambil meletakkan gelas teh manis ke arah Qale dan Wafa.

Qale tersedak air minum. Wafa pura-pura sibuk, tapi telinganya jelas memerah.

Bakar yang ikut membantu di pojok stand cuma batuk-batuk menahan tawa. “Gaass ... lembur di PT. Guldem.”

"Apaan pula Guldem?" sambar Wafa.

"Gular galer sambil ngerem," sahutnya cengengesan, kedua alisnya naik turun.

Winda tertawa, Elan yang sibuk ngunyah, terbatuk sedikit, menahan geli karena singkatan absurd Bakar.

"Ayam kali, ngerem," jawab Qale kali ini.

“Iihhh, ngerti,” balas Winda sambil tersenyum penuh arti pada Qale, membuatnya tersipu.

"Ihhhh ... dah ngode aja si nyonyaahh," ujar Bakar lagi, membuat Qale makin merona.

Namun, suasana hangat dan nyaman itu pecah ketika sebuah suara memanggil dari arah pintu masuk tenda pameran.

“Faaa? It's that you?”

Wafa menoleh. Tatapannya terkunci. Sosok itu berdiri dengan rambut hitam legam yang jatuh rapi melewati bahu, bibirnya diberi sentuhan merah muda tipis. Blazer krem membalut tubuhnya pas. Wangi parfumnya yang segar bercampur manis terbawa angin, membuat kepala Qale refleks menoleh.

Qale tak mengenalnya, tapi aura wanita itu sulit diabaikan—anggun, tapi ramah. Cara berdirinya penuh percaya diri.

Dia ... cantik dan punya wibawa. Tatapan itu... cuma dimiliki oleh orang yang pernah hadir di hidup seseorang.

Qale menunggu Wafa mengenalkan, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

"Betul ini kamu!" ujarnya lagi, tak percaya dan langsung sedikit membungkuk, meraih kedua tangan Wafa. "Ka-mu sehat?"

Wafa tersenyum tipis. Mengangguk pelan tak melepaskan pandangannya. "Alhamdulillah. Kamu apa kabar?" ujarnya singkat.

“Kemana aja, sih?” sahut sang wanita—suaranya lembut, ada kekhawatiran dan kekecewaan di sana.

Winda, entah karena terbawa nostalgia, langsung menyapanya ramah. “Kamu?” ucap Winda menoleh ke arah putranya, seolah butuh keyakinan bahwa dugaannya benar. Wafa pun mengangguk cepat.

"Akhirnya ketemu juga.” Winda semringah, membuat ketiganya larut dalam obrolan singkat, dan Qale nyaris tak disapa.

Qale berdehem, mencoba menyibukkan diri menata stand bagian belakang dengan Elan. Tapi matanya sesekali tetap melirik, menangkap kilasan senyum lembut dan tatapan Wafa yang entah kenapa terasa berbeda.

Kalau Wafa nemu yang lebih sepadan … yang lebih “pas” sama masa lalunya … apa aku siap melepas? pikir Qale, mengingat perjanjian pernikahan mereka yang selalu jadi bayang-bayang. Dadanya mendadak terasa sempit.

Bahkan ketika obrolan di depan hanya berupa tanya kabar dan basa-basi, Qale merasa seperti sedang berdiri di luar—lingkaran yang mungkin pernah jadi milik Wafa sepenuhnya.

Wanita itu melangkah pergi, meninggalkan jejak aroma parfum yang samar-samar masih tertinggal di udara. Qale menatap punggungnya sampai menghilang, lalu kembali memalingkan wajah cepat-cepat, pura-pura fokus merapikan tumpukan brosur.

Namun hatinya terus menimbang—bukan hanya tentang wanita itu, tapi tentang dirinya sendiri di posisi ini. Perjanjian itu pengingat bahwa Wafa berhak pergi kapan pun jika merasa mereka tak lagi berjalan searah. Dan pertemuan barusan membuat bayangan itu terasa lebih dekat dari sebelumnya.

Winda menoleh pada Qale. “Eh, kamu udah beresin belakang?”

“Udah, Ma.” Qale tersenyum tipis, menahan banyak hal di kepalanya.

Beberapa menit kemudian, Bakar menghampiri Wafa di sela kesibukan. Tubuhnya agak membungkuk, suaranya diturunkan. “Tadi itu Dia, kan?”

Wafa diam sejenak, lalu mengangguk tanpa ekspresi berlebih. “Iya.”

Bakar tersenyum samar. “Dia kelihatan masih inget banget sama Boss.”

Kalimat itu entah kenapa menancap di kepala Wafa. Pandangannya mengikuti kerumunan tanpa fokus, tapi di kepalanya, adegan barusan terus terulang. Tatapannya yang hangat, suara lembutnya, dan cara ia menyebut nama Wafa dengan nada yang sama seperti dulu.

Sementara Qale berdiri di sudut lain, menimbang-nimbang jarak yang mulai ia rasakan. Bagi orang lain mungkin ini cuma pertemuan singkat. Tapi bagi Qale, ini seperti alarm yang berdentang pelan namun pasti—mengingatkannya bahwa hubungan mereka masih punya celah.

"Loh, kamu?" sapanya pada sang wanita, yang sedang berjalan ke stand Qale.

"Eh, kamu?" balasnya pada Elan. 

Wafa menoleh ke arah mereka, terheran. Apakah keduanya saling kenal? 

Bakar lalu mendekat dan berbisik pelan di telinga Wafa. “Jangan jadikan nyonya kue pelampiasan.”

Wafa terpaku. Suara riuh pameran terdengar jauh, berganti dengan gema pertanyaan di kepalanya. "Aku jahat kah?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!