Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Yang Sebenarnya

Ruang kecil di belakang kantor pengacara sore itu terasa pengap, meski pendingin ruangan menyala.

Hasan duduk di ujung meja, tangannya menggenggam botol air mineral berukuran sedang. Matanya menatap kosong ke depan, ke arah Wafa yang duduk tenang, namun tak menyembunyikan kecemasan.

Dua pengacara duduk mendampingi mereka, menjaga kejelasan prosedur. Hening. Tak ada suara selain detak jam dinding.

“Tolong ... ceritakan semuanya,” kata Hasan..Suaranya serak, lirih, seperti menggantung beban yang terlalu lama tak diucapkan.

Wafa mengangguk. Dia menatap map yang dibawanya, lalu membuka lembar demi lembar dokumen kronologi. Di antara semua yang tertulis, yang paling sulit disampaikan adalah kebenaran yang selama ini dia tahan sendiri.

“Malam itu, Qalesya dibujuk anak-anak tetangga untuk main ke halaman belakang,” ujar Wafa pelan. “Lea tahu, dan dia sengaja mengambil boneka kesayangan Sya dari kamar. Ditaruh di dekat kolam...”

Hasan mengernyit. “Boneka...,” desahnya berat. Benda yang tak ingin dilihatnya lagi.

“Boneka yang sengaja dihilangkan saat kejadian. ”

Wafa menunduk, suaranya mulai pelan. “Lea ingin Bu Rahayu panik. Dia tahu bagaimana beliau selalu waspada kalau Sya menghilang. Dan benar, saat sadar boneka hilang dan Sya tak ada di dalam rumah, Bu Rahayu kelabakan," bebernya perlahan.

Dia menjeda, melihat sekilas wajah Hasan sebelum melanjutkan. "Pekerja bilang, anak-anak terlihat di dekat kolam belakang.”

Hasan memijit pelipisnya. “Kolam itu...” dia masih di luar saat itu sehingga tidak tahu situasi kala kejadian berlangsung. 

Setelah maghrib, peternakan senyap. Rahayu menerobos ke sana. Dia sempat melihat boneka Qale di air. Lalu … dia melihat seseorang, seorang pria berdiri di balik pohon. Rahayu berteriak. Tapi tidak ada yang mendengar.

Suara Wafa pecah saat mengurai kisah seperti yang digambarkan oleh forensik. 

“Dia nekat masuk kolam. Padahal tidak bisa berenang…” kata Wafa mulai melemah, seperti menahan isak. Dia melirik Qale yang sedari tadi hanya duduk menunduk disampingnya.

Hasan ikut menurunkan kepalanya memandang lantai, wajahnya mulai basah.

“Dia mengira Qale tenggelam, tapi malah dirinya meregang nyawa. Qale ditemukan tiga jam kemudian. Anak-anak lain mengira itu cuma permainan. Dan pria itu, ‘om’ yang Qale sebut-sebut … Mbak Mun sempat melihat sosoknya dari kejauhan. Tapi waktu itu tidak ada yang percaya.” Wafa melihat wajah-wajah yang mengelilinginya, hanya Qalesya yang tak bisa dia amati sebab tertutup poni yang menjuntai.

Hasan menatap Wafa, dengan suara bergetar dia bertanya, “Kenapa kamu tahu semua ini?”

“Karena Mbak Mun menyerahkan boneka itu padaku. Dan sebelum meninggal, Bu Rahayu sempat menitipkan Sya padaku....”

Wafa ke rumah Hasan kala itu, tapi tidak bertemu lama. Dia berhenti. Menggigit bibir bawahnya. “Sya shock berat ... aku putuskan, menidurkan ingatannya. Dengan izin Anda juga, Pak," jelas Wafa menatap lurus mertuanya.

Hasan membeku. “Aku—”

“Waktu itu setuju, dan bilang, ‘Kalau itu yang terbaik, lakukan' ... Anda terlihat tak peduli pada Qalesya,” sambar Wafa dengan nada dingin.

Hasan memalingkan wajah. “Aku nggak tahu ini semua bakal begini…”

“Aku pun tidak. Tapi aku tetap salah, membiarkan Qale tumbuh tanpa tahu luka terdalamnya. Aku kira aku melindungi, ternyata aku malah mematikan sesuatu dalam dirinya.”

"Apa hubunganmu dengan istriku?" cecar Hasan balik. Tatapannya tajam menusuk. "Sampai Rahayu percaya penuh padamu," sambungnya.

Qalesya mengangkat wajah. Pertanyaan yang sama. Wafa pernah Wafa menjelaskan secara gamblang tapi soal pernikahan ini, tertunda.

Suasana ruangan makin berat. Tak ada yang bicara selama beberapa menit. Hanya napas berat Hasan, dan bunyi berkas yang ditutup pelan oleh Wafa.

Wafa mendesah panjang, memejamkan matanya sejenak. "Beliau menolongku saat kecelakaan di tikungan tajam. Mataku terlambat tertolong dan Bu Rahayu merasa bersalah," ucap Wafa sambil menoleh melihat ke arah Qale.

Tatapan keduanya bertemu, mengunci beberapa detik sebelum Wafa melanjutkan. 

"Beliau memanggilkan ART untukku. Semua pengobatan yang memakai uang beliau sudah aku ganti ... dan beliau mengizinkan aku tinggal di rumah itu sekaligus mengurusnya." 

Hasan menggeleng pelan, "Nggak mungkin," sanggahnya pelan.

"Terserah Anda saja, aku utang budi padanya. Dan sedang kutebus," ujar Wafa sambil menoleh ke arah Qale. "Meski aku tak memilihnya, tapi beliau memilihkan untukku," sambungnya diikuti sorot mata meneduhkan.

Senyum tipis Qalesya terbit saat melihat manik mata Wafa tertuju untuknya. 

Hasan menghempas napas panjang, tubuhnya roboh ke kursi. Prasangka dia pada Rahayu ternyata salah.

Sunyi beberapa menit.

“Lea?” tanya Hasan kemudian. “Benarkah dia tahu semua ini?”

Wafa menatap tajam. “Lea ... Dia tahu posisi boneka, jadwal Bu Rahayu. Paham kebiasaan Qale ... dan diperparah, Anda terlalu percaya padanya.”

Hasan mengusap wajah dengan kedua tangan. “Aku pikir dia anak yang kuat. Pintar. Cepat terbiasa dengan semua…”

“Dia pintar menyembunyikan. Pintar menyesuaikan wajah di depanmu.” Kali ini Qalesya angkat suara, ada nada kemarahan di kalimatnya.

Hasan menitikkan air mata. Bahunya bergetar halus. Sang Pengacara menepuk bahunya pelan, membiarkan pria setengah baya itu roboh oleh kenyataan.

“Aku … pelihara iblis,” gumam Hasan hancur.

Wafa tidak menjawab. Apalagi Qale, terlalu lelah untuk membenci. Kenyang terluka untuk menyalahkan ayahnya.

Beberapa saat kemudian, Hasan berdiri. Menghadap Wafa dan pengacaranya.

“Tak perlu diteruskan lagi kasus ini,” ujarnya pelan. “Ayah tidak akan banding. Mohon, cukup sampai sini. Biarkan hukum memutuskan yang sudah terlanjur. Sisanya, biar Ayah tanggung," kata Hasan di sisa suara seraknya.

Wafa mengangguk.

Hasan kemudian menatap ke arah putrinya. “Maafin ayah, Lesa.”

Qale duduk menegak, tangannya meremas botol minum di atas meja. Hasan meraih jemarinya, meremat halus dan pelan.

“Maafkan Ayah.”

Qale mengangkat wajah menatap sang ayah. Matanya datar. Tak ada air mata, tapi kata-katanya terdengar pedas. “Ayah cuma datang pas semua selesai,” jawabnya pelan.

Hasan tertunduk, mengangguk masih menggenggam tangan Qale yang tak membalasnya. “Mau ... tinggal lagi di rumah?”

Qale menggeleng. “Rumahku sekarang bukan itu, Yah.”

Hasan hanya bisa mengangguk. Kali ini, ia tahu tak ada jawaban. Dia melepaskan tautan jemari mereka. Lalu bersiap bangkit.

Semua penghuni ruangan itu bangun. Menyalami satu per satu sebelum berjalan keluar dengan langkah pelan.

Di halaman, angin berembus lembut. Qale menatap langit, lalu menoleh ke Wafa.

“Kak,” gumamnya, “Kapan kita pulang ke rumah yang disebut sebelum Kakak pergi?”

Wafa menghela napas panjang, lalu tersenyum. “Segera. Kita pulang sama-sama.”

Qale mengangguk lalu mendorong kursi roda Wafa, melangkah pelan, menuju parkiran. 

Tepat ketika Qale membuka pintu mobil, seseorang berdiri tak jauh dari mereka, menatap diam.

Dia tak bicara. Hanya satu kalimat bergumam di hatinya. "Mari kita perbaiki semuanya ... oke, Nona Lipat?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!