Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Iblis bernama Kalea
Ria mengangguk. "Hu um. Baru saja," jawabnya sungkan.
Lelaki ini lama tak terlihat tapi kini terlihat berbeda dari biasanya. Ria mengamati Wafa yang langsung pamit lagi.
"Masih pake kursi roda, tapi perasaan ada yang beda," gumam Ria dari dalam toko. "Sebenernya hubungan mereka apa, sih? Pacar, saudara, pasangan?" imbuh Ria. Bola matanya mendelik ke atas, berpikir. Dari Awal masuk kerja, dia tak diberitahu apapun soal siapa pria itu.
Langit Jakarta pagi itu menggantung mendung tipis, seolah ikut memeluk kecemasan yang memenuhi dada Qalesya. Ia berdiri di lobi pengadilan, menggenggam map berisi surat-surat ibunya, sebagai penenang.
Elan duduk tak jauh darinya, sesekali menatap layar ponsel, lalu diam. Ia tahu ini bukan waktunya berkata lucu. Tatapannya tak lepas dari Qale, yang terlihat tenang di luar tapi jiwanya seperti kapal diterjang ombak.
"Lo siap?" tanya Elan pelan.
Qale mengangguk. “Siap.”
Ketika ruang sidang dibuka, mereka dipersilakan masuk. Di dalam, sudah duduk pengacara masing-masing pihak. Di sisi kanan, Deni terlihat lebih tirus, wajahnya pucat. Sementara Lea hanya menunduk, pandangannya lurus ke lantai.
Qale menarik napas panjang sebelum melangkah ke kursi saksi. Ia duduk, meletakkan map di pangkuannya. Tak ada gemetar di tangan, hanya dingin yang menyelimuti telapak.
Majelis Hakim memasuki ruangan. Semua berdiri. Tak lama, sidang dinyatakan dibuka.
"Sidang putusan atas perkara dugaan Kekerasan Fisik, Rencana Pembunuhan dan Pemalsuan Dokumen antara Saudari Qalesya Namari Hasna dan Tergugat Deni Arwandhana serta Kalea Sasmita, dimulai..."
Qale menunduk, mendengarkan setiap kalimat pembacaan putusan oleh hakim ketua. Nada suara beliau tenang, tapi tegas.
“... berdasarkan fakta-fakta hukum, keterangan saksi, serta alat bukti yang telah diuji secara sah…”
Qale memejamkan mata sejenak. Wajah ibunya terbayang. Sorot matanya, genggaman tangannya di momen terakhir.
Elan menatap Qale dari kursi pengunjung, diam-diam menahan napas sendiri.
“... maka diputuskan bahwa Tergugat Deni Arwandhana terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan-perbuatan tersebut sehingga melenyapkan nyawa Rahayu dan merugikan ahli warisnya, Qalesya Namari Hasna.”
“Dengan ini dijatuhi hukuman pidana penjara selama 10 tahun dan denda sejumlah ...”
Qale menatap ke depan. Bibirnya mengatup, mata basah tapi tak menangis.
Hakim melanjutkan, “… serta atas peran Kalea Sasmita yang terbukti melakukan pelanggaran sumpah saksi, turut serta dalam pengaburan barang bukti, maka dijatuhi hukuman 10 tahun 6 bulan masa tahanan.”
Terdengar gumaman di antara hadirin. Deni menunduk. Lea mendesah kasar, lalu menangis. Tapi bukan sedih, lebih seperti kaget dan malu.
Qale masih diam.
Hakim menutup sidang, “Demikian putusan ini. Para pihak diberikan hak banding dalam waktu tujuh hari ke depan, sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Sidang selesai.”
Semua berdiri. Tapi Qale tetap duduk. Tangannya menyentuh surat ibunya yang terselip di map.
Elan berjalan mendekat, memberi waktu pada Qale untuk memproses semuanya.
“Gue nggak tahu harus bilang apa, tapi lo hebat banget hari ini,” ujar Elan, berdiri di sampingnya.
Qale menoleh pelan. “Aku nggak senang. Tapi aku lega. Ibu tenang sekarang.”
Semua penghuni sidang mulai bubar satu per satu.
Tiba-tiba, seseorang masuk ke ruang sidang. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi tatapannya cemas.
“Syaa…” panggilnya.
Qale berdiri. Semua orang mulai beringsut keluar, menyisakan mereka berdua.
“Aku telat. Maaf.” Wafa menunduk. “Nggak bisa nemenin tadi," katanya menyesal.
Qale mendekat. Ia mengulurkan jemarinya meminta Wafa menggenggam tangannya. Wafa menyambutnya dan meremat halus.
“Tapi Tata tetap datang. Itu cukup.”
Wafa menatapnya. “Kamu nggak sendiri,” katanya pelan. “Kita udah terlalu jauh buat mundur kan?”
Qale mengangguk. Di belakang mereka, Elan berdiri, menyaksikan mereka seolah saling menguatkan.
'Bukan hubungan biasa, kan? Kalau seperti ini?' batin Elan dari jauh.
Pengacara Qale bertanya apakah dia akan bicara dengan Kalea Sasmita sebelum mereka dibawa ke tahanan.
Qale mengangguk. Dia tidak akan bilang apapun, hanya ingin melihat ayahnya menyaksikan semua ini.
Mereka lantas menuju ruang tahanan sementara. Di sana Hasan berdiri, menangis memeluk putrinya. Sementara Deni ditenangkan orang tuanya.
Hasan menoleh saat Qale datang. Tatapannya kembali sinis. "Puas?" kata Hasan.
Wafa menjawab, "Tidak. Sebab ini terlalu ringan ... tidak setara dengan apa yang Sya-ku alami," ujarnya dengan sorot mata tajam.
Pandangan Wafa beralih pada Lea. "Stop pura-pura buta! Kamu dalang semuanya," cecar Wafa masih menatapnya dingin.
Lea tertawa, membuat Hasan mengerutkan dahinya.
"Punya bukti apa?"
"Aku punya gambaran kronologinya. Bagaimana kamu menyusun semua ini ... kami akan banding!" kata Wafa, melirik ke pengacaranya.
"Heh!" sentak Ibu Deni, menunjuk Wafa. "Lumpuh kok banyak tingkah!"
"Jangan ditambah lagi, ayah mohon," pinta Hasan.
Qale masih diam, dia mendekati Lea sambil berkata, "Setega itu sama ibuku."
Senyum Lea makin lebar. "Tolol!" Dia menoleh ke arah Deni, keduanya pun tertawa lepas, membuat Hasan mulai goyah.
"Lea?"
Kalea diam, menoleh ke arah Hasan. "Ayah bingung?" ucapnya kembali tertawa.
"Dasar gila!" pungkas Wafa, menarik jemari Qale agar keluar dari ruangan itu.
"Kami akan bebas dalam waktu dekat!" seloroh Deni saat mereka keluar.
Hasan ikut mengejar Qale dan Wafa. Dia memanggil sehingga keduanya berhenti.
"Ayah miara iblis!" Qale berkata dengan sinis, sorot matanya penuh amarah.
"Benarkah Lea?" Hasan menatap Wafa, binar mata senja itu terlihat iba sekaligus tak percaya.
Wafa diam, melirik ke arah sang pengacara, menunggu instruksi beliau untuk bicara.
.