Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Tuduhan Hasan
Hasan berdiri kaku di ruang tengah, setelah mendengar kabar soal Qale dari sopirnya. Napasnya masih tersengal, tapi sorot matanya tajam menatap Lea.
“Lea, jangan sampai ini jadi perpecahan antar saudara,” ucapnya berat.
Namun, Lea hanya diam. Ia menolehs ekilas, lalu melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu tanpa berkata apapun.
Hasan mendesah. Pandangannya berpindah ke arah ruang makan. Deni masih duduk, menghabiskan makanannya perlahan, seolah tak terjadi apa-apa.
Hasan menggeleng. “Kalian memang sejenis.”
Tanpa menunggu jawaban, Hasan pergi. Mobil melaju cepat menuju rumah sakit tempat Qale dirawat. Kepalanya penuh bayangan Qale. Apakah putrinya penuh luka? Apakah Wafa bersamanya?
Tak lama kemudian, dia tiba di rumah sakit. Langkahnya langsung menuju IGD dan bertanya pada suster di sana. Gadisnya susah pindah, ada di ruang perawatan utama. Belum sadar.
Dia mendorong pintu perlahan.
Ruangan itu sepi. Hanya ada satu pasien—Qale. Di sisinya, Wafa duduk diam di kursi rodanya. Posisi tubuhnya sedikit menunduk, kedua tangannya bertumpu di paha.
Pelipis Qale diperban cukup tebal. Tangannya terpasang infus, dan Hasan melihat ada beberapa luka gores di lengan gadisnya. Dia mendadak merasa kuatir.
Wafa menoleh. Ia segera memundurkan kursi rodanya, memberi ruang untuk Hasan duduk.
“Belum sadar?” tanya Hasan tanpa menoleh, mendekat ke brangkar putrinya.
Wafa menggeleng pelan. “Dua jahitan di kanan. Tadi Sya bilang pening sekali. Jadi dibantu obat tidur dulu.” Suaranya sendu. Tak ada gurat emosi, hanya nada datar penuh lelah.
Hasan hanya memandangi wajah Qale. Matanya tak berkedip. Dalam diam, ia seperti melihat Rahayu—sosok itu kembali hidup di dalam putrinya yang tertidur.
Hening.
Pintu terbuka tiba-tiba. Seorang pria masuk, mengenakan jas hitam dan memegang map cokelat tebal.
Wafa mengangguk, dan menyilakannya duduk. Dia mendekati si tuan muda lalu mereka berbicara di sofa dekat brankar.
Hasan tak bermaksud menguping, tapi jarak mereka cukup dekat sehingga percakapan itu jelas terdengar.
“…bukti penghapusan tato sudah lengkap. Pembayaran juga jelas. Lokasinya sesuai.” Si pria menyerahkan salinan dokumen ke Wafa.
Hasan menegang. Matanya beralih ke wajah Wafa.
“Deni juga menyuruh dua orang. Mereka sudah diamankan. Kami juga punya rekaman pembicaraan mereka saat penyidikan," ujarnya lagi.
“Bagus. Persidangan dimajukan pekan depan. Jangan sampai lengah.” Suara Wafa datar, tanpa emosi.
Pria itu menoleh ke arah Qale. "Nona?" tanyanya pelan, seakan kuatir pada kondisi kliennya.
Hasan memalingkan wajah. Tangannya mengepal, tapi ia tak berkata apa-apa.
"Kata dokter hanya memar ringan," jelas Wafa seraya memandangi Qale. "Nanti aku minta didampingi dokter, kalau mengkhawatirkan," sambungnya diangguki si pria berjas.
Lelaki itu lantas bangkit, menunduk sejenak lalu pamit.
Setelah pengacara itu pergi, Hasan duduk di sisi Wafa. Untuk beberapa detik, mereka diam. Tapi akhirnya Hasan bersuara.
“Kamu kenal Rahayu sejak kapan?” tanyanya pelan.
Wafa menoleh sebentar, tapi tak menjawab. Dia malah menyandarkan kepalanya di kursi roda.
“Jangan-jangan kalian punya hubungan lain. Kalian selingkuh?” Nada suara Hasan mulai naik. “Dia sering ke kampung. Rumah itu … kamu sering ke sana juga kan?”
Wafa diam. Tak menyangkal. Tapi tak juga membenarkan. Dugaannya benar, yang mengintip tempo hari adalah mertuanya sendiri.
Hasan makin terpancing. “Jadi bener? Dia gak setia sama aku? Gak heran kalau akhirnya dia—mati … tenggelam! Mati seperti itu!”
"Pak Hasan!" Wafa menegur, matanya kini terbuka dan kini duduknya pun menegak.
Tiba-tiba terdengar suara lirih dari arah ranjang.
“Cukup…”
Hasan dan Wafa menoleh. Qale membuka matanya perlahan. Pelipisnya masih berdenyut, tapi matanya menatap langsung ke ayahnya.
“Jangan pernah ngomong kayak gitu tentang Ibu…” ucapnya lemah tapi jelas.
“Lesa—”
“Beliau bukan perempuan murahan! Ayah nggak pernah benar-benar mencintai Ibu. Ayah ... egois!” tegasnya terbata.
"Sya...." sebut Wafa pelan, dengan nada lembut.
Hasan tercekat. Wajahnya mengeras, tapi ia tak bisa membantah.
Sunyi menggantung di ruangan itu. Wafa mengepal jemarinya di atas paha. Ada sesuatu di tenggorokannya yang nyaris meledak. Tapi ia menahan, belum waktunya.
“Beliau ... orang yang sangat berharga buat aku.”
Deg.
Qale melirik Wafa. Dadanya sesak. Tak pernah sekalipun pria itu bilang mencintainya. Tapi kalimat barusan—tentang Ibu—membuatnya ingin percaya bahwa Wafa menyimpan lebih dari yang dia perlihatkan.
Hasan memalingkan wajah. Rasa curiganya kini mendidih menjadi amarah.
“Berarti dia bohong. Ada hubungan apa kalian, hah?!" seru Hasan, kini berdiri sambil menunjuk wajah Wafa.
Wafa menatap balik Hasan. Matanya tak berkedip. “Beliau malaikatku,” ucapnya pelan.
“Maksud kamu apa?” Hasan menjawab cepat.
Wafa memandang Qale yang sedang mencoba duduk, dengan menaikkan ranjang bagian atasnya. Sorot matanya lunak, tapi penuh makna.
Qale pun menatap Wafa, memicingkan mata. Dalam pandangan buramnya, dia yakin melihat Wafa berdiri. Atau ... berlutut?
“Tata … bisa jalan?” gumamnya dengan suara parau.
Deg!
"Jawab!" sentak Hasan lagi.
Wafa terdiam. Dan ruangan kembali sunyi.
.
.