Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Qale jadi sasaran

Wafa langsung membalas pesan dari asistennya itu. Meminta agar terus menjaga Qale dari jauh seperti biasanya.

Dia berdiri di depan jendela kamarnya. Tangan kanannya menggenggam cangkir hangat, sedangkan di tangan kiri memegang ponsel.

Staf IT-nya baru saja mengirimkan rekaman pesan ancaman yang dikirim ke Qale. Wafa memutar ulang pesan itu, mencermati intonasinya. Sambil menatap file dokumen di tangannya. Laporan penyelidikan lengkap. Termasuk lokasi Deni menghapus tato, tanggal pasti, bahkan rekaman pembayaran.

Deni tidak hanya berbohong tentang kebutaannya. Ia menyusun semua ini jauh sebelum Qale datang ke rumah keluarga mereka.

Berita itu kini berada di tangan Wafa, dan sebagian salinannya sudah diserahkan ke pengacara Qale.

Wafa meletakkan ponselnya dan menatap pantulan dirinya di kaca. Wajah yang dulu ringkih, kini dingin dan matang.

“Maaf, Sya...” bisiknya. “Aku janji lindungin kamu. Sekalipun kamu nggak tahu kenapa.”

***

Sementara di toko anak lipat.

Malam belum benar-benar larut saat Qale menyalakan lampu meja dan menatap tumpukan berkas kuliahnya yang belum disentuh.

Kepalanya masih bising. Ucapan Lea terus mengiang :

[“Kamu nggak sadar siapa yang kamu peluk dan andalkan.”]

[“Siapa Wafa? Dari mana dia?”]

[“Jangan-jangan dia ada hubungan special dengan ibumu.”]

Qale menunduk. Telapak tangannya berkeringat. Pandangannya kosong menatap layar laptop yang masih menyala—lampu toko sudah dia padamkan, menyisakan cahaya hanya dari kamar sempitnya.

Ia menghela napas. “Tata nggak mungkin bohong ... kan?”

Namun sebelum pikirannya sempat menjelajah lebih jauh, sebuah pesan masuk.

["Jangan hadir di persidangan."]

["Kalau tidak, siap-siap kehilangan sesuatu yang kamu sayangi."]

Qale membeku. Ancaman ini bukan yang pertama.

Tangannya kali ini gemetar. Ia bangun, berjalan pelan ke depan toko. Memastikan lagi pintu sudah terkunci rapat.

Dia mengintip ke luar jendela, berharap semuanya aman. Tapi pikirannya sudah lebih dulu porak-poranda.

Yang dia sayangi hanyalah nyawanya sendiri. Bukan siapa-siapa. Seandainya harus mati pun, takkan ada yang meratapi kepergiannya.

Keesokan harinya.

Wafa menerima laporan dari asistennya bahwa Qale mendapat ancaman kedua. 

Dia gegas memanggil supirnya dan meminta mengantarkan ke kota. 

"Ke kampus, Pak," pintanya sambil menepuk kursi supir.

"Baik, Den." 

Sepanjang perjalanan, dia cemas. Siapa yang disayangi Qale. Hasan atau nyawa? Wafa tak henti mengetik pesan ke orang-orang yang dia percaya agar memberi kabar terkini soal istrinya.

Di kampus. 

Qale baru saja keluar dari ruang dosen. Hari itu rasanya seperti seribu jam. Pesan-pesan ancaman terus menggantung di pikirannya. Dan Wafa belum muncul sejak dia pamit.

Dia mengeluarkan ponsel, ingin mengirim pesan pada Wafa, tapi diurungkan. Qale tak ingin mengganggunya.

Langkahnya pelan menuruni tangga gedung. Pandangannya semu. Dia melangkah keluar pagar kampus, hendak ke seberang naik angkot.

Tangan Qale gemetar saat menggenggam tas. Rasanya ada bayangan yang terus mengawasi dari belakang. Tapi saat dia menoleh, kosong.

Wafa tiba di kampus. Dari kejauhan, ia melihat Qale keluar gedung. Tapi belum sempat ia memanggil, sebuah motor melaju cepat ke arah Qale. Menghantam sisi tubuhnya dengan keras. Qale terpental ke trotoar. Pelipisnya membentur aspal.

Orang-orang menjerit. Beberapa langsung berlari.

Wafa langsung turun dari mobil tak jauh dari gerbang, melihat tubuh Qale tergeletak. Ia tak lagi peduli. Sepatu kulitnya menghentak aspal tanpa ragu. Napasnya memburu, menerobos kerumunan.

“SYA!”

Orang-orang terpaku. Saling memandang. Siapa pria tampan yang berteriak memanggil si anak sial? 

Dia menghampiri Qale, lalu memangkunya. Darah mengalir dari pelipis gadis itu.

“Sya … Sya, bangun…”

Qale mengerjap samar. Pandangannya kabur. Tapi di balik kabut itu, dia melihat jelas: sosok Wafa berlutut di hadapannya.

Dengan suara lemah, Qale bertanya.

“Tata ... bisa jalan?”

Dan semuanya gelap. "SYAAAA!" 

 

***

Hasan baru selesai makan siang. Ia menerima laporan singkat dari penyelidik pribadi yang ia sewa semalam.

~Nama lengkap Wafa. Kerabat Rahayu.

Info lain, kosong.

Ia memandangi hasil laporan sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. “Kerabat dari mana? Rahayu nggak pernah cerita soal ini," gumamnya heran.

Hasan merobek laporan itu.

“Kalau Wafa bukan kerabat Rahayu … dia siapa?” batinnya.

Tiba-tiba, supirnya terdengar berteriak dari luar. Dia berlari ke arah Hasan di ruang tengah. 

"Tuan besaaarrrr!" serunya panik.

Hasan meneguk air minumnya. "Ada apa?" 

"Non Qale," dia menjeda, "ituuuu, ditabrak!" lanjutnya dengan napas tersengal.

Hasan langsung berdiri, dia mengajak Lea segera pergi, tapi jawaban Lea sungguh membuatnya terkejut. 

Lea melihat ke jendela, menatap mobilnya di luar. Sekejap dia ingin ikut. Tapi begitu mendengar nama Qale, langkahnya terhenti.

“Dia bilang aku bukan kakaknya lagi, kan?”

Hatinya hambar. Dan dia menutupinya dengan wajah dingin.

“Dia bukan urusanku lagi.” Lea bangkit lalu masuk ke kamarnya.

Hasan menoleh tak percaya. "Lea!" sentaknya. "Jangan sampai ini--" 

Lea bergeming, sekilas menatap wajah ayahnya dingin dan berlalu diikuti Deni.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!