Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Saling Mencurigai

Dada Hasan bergemuruh. Matanya terpaku pada sosok pria yang baru saja turun dari mobil di depan rumah bercat putih itu.

Wafa.

Tak salah lagi. Pria muda itu mendorong kursi rodanya dengan tenang, membuka pagar, dan masuk ke dalam rumah tanpa ragu. Hasan menyipitkan mata. Rumah itu bukan rumah sembarangan. Ia tahu betul—itu milik kerabat Rahayu.

“Mustahil,” gumamnya lirih, setengah tak percaya. “Dia... ngapain di situ?”

Hasan menarik napas panjang, menunduk, lalu segera menaiki motornya dan pergi. Tapi kepalanya kini penuh tanya.

Ia mengenali rumah itu karena dahulu, Rahayu tinggal di sana. Sebuah kediaman persinggahan tempat keluarga asuhnya menetap. Meski bukan rumah masa kecilnya, Rahayu kerap datang saat liburan, merawat tempat itu sebagai bentuk bakti.

Pertemuan-pertemuan kecil itulah yang dulu membuat Hasan akhirnya mantap melamar Rahayu. Bahkan, ia pernah melihat Rahayu di rumah itu saat mencari pemasok rumput untuk peternakannya. Meski rumah lama Rahayu terletak beberapa kilometer dari sana, rumah ini tetap menyimpan jejak masa lalunya.

Sepanjang perjalanan pulang, Hasan menyusun ulang serpihan memori yang berserakan. Bayangan Wafa, dan hubungannya dengan Rahayu, membayangi pikirannya.

Apakah semua ini hanya kebetulan?

Sesampainya di rumah, Hasan melangkah lesu. Ia tak menggubris sapaan siapapun, termasuk Lea yang langsung mencegat langkahnya.

"Masih inget pulang, Yah?" sindir Lea, tajam. "Qale baru aja ke sini. Dia nuduh kami yang ngancem dia. Eh, ayah malah ngilang! Ayah pikir kita semua ini nggak kuatir?!"

Hasan hanya menatapnya sekilas. Tak ada jawaban. Ia terus berjalan ke kamarnya dan menutup pintu tanpa sepatah kata pun.

Lea mengetuk pintu berulang-ulang. “Yah! Buka! Kita harus bicara!”

Tapi Hasan tak menggubris.

Di dalam kamar, ia duduk di tepi ranjang. Nafasnya berat. Pandangannya terhenti pada pigura tua yang tergantung di dinding.

Wajah Rahayu menatap dari balik kaca—lembut, manis, penuh kasih.

“Dia selingkuhanmu?” bisik Hasan pelan, nyaris seperti doa yang tertahan.

Ia mengusap wajah, getir.

“Pantas kamu mati-matian jodohin Lea sama Wafa... biar apa? Supaya aib kalian terkubur dalam-dalam?”

Hasan mengatup bibirnya. “Tapi malah anakmu sendiri yang nikah sama laki-laki itu.”

Salahnya juga, tidak menyelidiki siapa calon menantunya. Saat itu, Hasan hanya ingin agar tanggung jawab mengurus Qale selesai. Tidak peduli siapa suaminya, dia hanya ingin meloloskan keinginan terakhir Rahayu.

"Apa ini kesalahanku lagi?" keluhnya memejam.

Kepalanya berdenyut. Malam terasa panjang. Rasa curiga menjelma ketakutan. Ia meraih ponsel, mengetik cepat :

["Saya perlu bantuanmu. Cari tahu siapa sebenarnya menantuku, Wafa."]

Hasan tahu malam ini ia takkan bisa tidur.

Sebuah pesan dari petugas kepolisian sebenarnya sudah masuk sejak tadi, tapi baru ia buka. Isinya pun tak mampu menenangkan pikirannya. Ia memijat pelipis, berharap menemukan jeda dalam pikirannya yang gaduh.

Lalu ia membuka pesan terakhir dari Qale. Berharap gadis itu mencari, atau mengkuatirkannya. Tapi ... tidak ada. Hasan merasa hampa. Sunyi.

Hasan memandangi ponselnya dalam diam, lalu meletakkannya begitu saja di samping tempat tidur.

“Maafin ayah, Lesa...” katanya pelan, berulang-ulang. Sampai akhirnya kantuk menyeret tubuhnya terlelap dalam kegelisahan.

***

Sementara itu...

Wafa baru saja menutup pintu rumah bercat putih itu. Ia tak butuh firasat kuat untuk tahu, ada seseorang yang memperhatikannya tadi.

Sambil bersandar di sandaran kursi roda, ia memanggil supir dari balik pintu.

"Orang itu masih ada?" tanyanya pendek.

Sang supir mengangguk hormat. "Yang papasan tadi? Sudah pergi, Tuan muda."

Wafa mengangguk kecil, lalu kembali mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar.

Dia membuka ponsel dan menelpon seseorang. Suaranya datar, tapi penuh ketegasan.

“Cek lagi siapa Deni sebenarnya. Dia hapus tato kapan? Di mana?”

Hening sejenak. “Dan cari tahu siapa saja yang mendukung dia berpura-pura buta.”

"Baik, Bos," jawab suara di ujung sana, tak kalah sigap.

Belum sempat Wafa menyimpan ponsel, panggilan lain masuk—dari rumah sakit.

"Sudah siap?" tanya seorang perempuan di seberang.

“Saya akan ke sana. Konsul dulu, sebab saya hanya bawa foto terakhir,” jawab Wafa, kali ini suaranya lebih lembut.

"Kalau begitu kirim dulu lewat dokumen. Nanti kami lakukan analisa awal sebelum pasien datang," ujar sang dokter.

Wafa mengangguk sendiri. Ia meraih selembar foto kecil di meja. Wajah seorang gadis muda tersenyum samar—lembut, namun menyimpan duka. Wafa menatap foto itu lama.

“Kamu tuh imut,” gumamnya. “Mau kan ... diobati?”

Wafa mengarahkan kameranya, memotret, lalu mengirimnya ke dokter. Setelah itu, ia melepas sepatu dan menyusunnya rapi. Melangkah ke kamar mandi. Air yang mengalir membasahi tubuhnya, seolah ikut meluruhkan lelah, luka, dan kenangan-kenangan yang enggan padam.

Sebelum tidur, Wafa membuka laptop. Wajah Qale muncul di layar, tengah mengobrol santai dengan Ria. Senyum di wajah Qale begitu tulus. Sesekali tertawa kecil, polos.

Wafa lalu tersenyum. “Kamu tuh... cabe rawit, Sya,” bisiknya. Tangannya terulur, menyentuh layar dengan hati-hati.

Dia sesekali meminta staf ITnya untuk memantau Qale jika sedang bepergian jauh. Melihat wajah manis itu, hiburan bagi Wafa sebelum tidur. Dia ingin selalu dekat tapi ada janji yang enggan dilanggar.

"Janji sendiri tapi berat sendiri," gumamnya seolah menyesal.

PING!

Sebuah notifikasi muncul.

“Tuan, Nona diancam seseorang.”

Wafa langsung duduk tegak. Matanya menyipit. Sorotnya tajam.

“Siapa ya...” lirihnya. “Lea kah?”

.

.

(Di sini clue yaa, buanyak.)

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!