Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Siapa Wafa
Nama Mbak Mun tertera di layar. ART ayahnya itu jarang menghubungi dan biasanya hanya terjadi saat ada sesuatu yang darurat.
"Ya, Mbak?"
Suara Mbak Mun gemetar. “Non Qale, maaf ganggu malam-malam. Tuan besar … sejak kemarin malam belum pulang. HP-nya mati, GPS-nya off, saya sudah minta sopir dan orang suruhan nyari, tapi … nggak ada jejak,” bebernya panjang.
Qale langsung duduk menegak. “Di peternakan?”
“Enggak ada. Saya udah minta supir buat cek ke makam, pos satpam, warung, semuanya. Saya takut Non …”
"Lea?"
"Ehmm," suara Mbak Mun terjeda, "katanya nanti beliau juga pulang sendiri," jawab Mbak Mun pelan, seperti sedang berbisik.
Qale mendesah panjang. Sang ayah sangat peduli kenapa Lea malah acuh, batinnya.
Panggilan diputus dengan janji Qale akan segera bantu mencari Hasan. Dan sesudah itu, ruangan sunyi kembali—sunyi yang kini berisi pikiran Qale yang bertumpuk.
Dugaan lalu muncul. Jangan-jangan … semua ini karena dia, ancaman dari seseorang. Yang ingin menggagalkannya sebagai saksi di persidangan. Targetnya bisa siapa saja. Bisa dirinya. Bisa … sang ayah.
Atau
Karena pembicaraan kemarin malam itu. Qale menyatakan ingin menjauhi keluarga dan dia tak berniat mencabut gugatan untuk Lea
Qale ingin memberitahu Wafa, tapi dia urungkan. Entah kemana suaminya itu. Dia tak pernah dibagi tahu apapun.
Wafa juga ... Terasa misterius bagi Qale. Tiba-tiba pergi, tiba-tiba datang.
***
Qale berangkat ke rumah saat Ria sudah selesai menyiapkan semua menu. Toko anak lipat sudah siap menyambut pelanggan.
"Kalau Kak Wafa datang, aku ke rumah ayah, ya," ujarnya pada Ria sambil mengecek lagi isi tasnya. "Nggak lama, habis itu ke kampus ada kelas bentar," sambung Qale, tersenyum tipis sambil melambaikan tangan.
Ria menjawab singkat. "Okkss." Mengangguk sambil mengangkat jempolnya.
Qale pergi dengan ojol. Hanya 30 menit, dia sudah sampai di rumah.
Dia langsung masuk dari pintu belakang. Ingin menemui Mbak Mun lebih dulu, tapi ARTnya itu entah kemana.
Saat masuk ke ruang keluarga, dia berpapasan dengan Deni, tapi Qale langsung melewatinya dan mengetuk kamar Lea tanpa basa-basi.
Tok. Tok.
“Lea! Kita perlu bicara!”
Lea muncul membuka pintu, masih mengenakan piyama satin dan matanya sedikit lembab, mungkin baru selesai perawatan.
“Kalau soal ayah, jangan kuatir. Nanti juga pulang,” katanya lesu.
“Enteng bener,” jawab Qale dingin. “Atau ini bagian dari permainan kalian? Ayah diancam, dibungkam, demi nyelametin kalian di pengadilan?”
Deg!
“APA?!” Lea terpaku, lalu menatap Deni sejenak. “Kamu pikir aku segitu kejinya?”
Qale menunjuk wajahnya. “Kalau kamu terbukti jadi dalang semua ini, aku bersumpah, gak akan anggap kamu kakakku lagi. Sampai kapan pun!”
Lea tertawa pahit. “Lucu. Kamu terlalu sibuk jadi ‘penyelamat’ keluarga. Tapi kamu nggak sadar siapa yang sebenarnya kamu peluk dan andalkan.”
Qale mengerutkan alis. “Apa maksudmu?”
Tawa Lea memenuhi ruangan. Tatapan matanya kali ini membuat Qale merinding. Deni menghampirinya, merangkul Lea, membuat Qale merasa terintimidasi.
"Sayang, kamu yang jelasin atau aku?" ucapnya sambil mengecup pipi Deni.
Lelaki itu membalas kecupan Lea, lalu berkata pada Qale. “Wafa ... kamu tau nggak siapa keluarganya? Dari mana asalnya? Ada hubungan apa sama … ibumu?”
Seketika jantung Qale mencelos. “Jangan bawa-bawa Tata.”
“Aku cuma bilang,” Lea mendekat. “Kalau ada yang memecah keluarga kita, bukan aku. Bukan Deni. Tapi mungkin orang yang kamu percaya sepenuh hati. Jangan sampai kamu baru sadar setelah semuanya hancur.”
Qale terdiam. Kata-kata itu menggema, mengendap di kepalanya. Tapi dia tak sanggup menanggapi. Dia memilih pergi, menghindari tatapan mereka.
Sepanjang perjalanan ke kampus, Qale berpikir. Dia memang tidak kenal siapa Wafa, keluarganya dan asal usulnya.
Wafa yang selalu ada. Tiba-tiba pergi dan datang seolah tahu segalanya. Dia juga tidak pernah cerita soal apapun, jika dirinya tak bertanya.
"Tata, siapa kamu sebenarnya?" lirih Qale menggigit bibirnya.
Sampai sore, dia baru pulang ke toko, tak ada Wafa di sana. Ria meletakkan laporan penjualan di meja kasir saat dia tiba tadi.
Qale langsung menutup toko, mandi dan melihat laporan Ria, meski otaknya terasa berisik.
***
Sementara itu, jauh di sebuah rumah lama yang sudah berpindah kepemilikan. Hasan berdiri di depan kolam kecil. Airnya keruh, dipenuhi daun kering dan bayangan masa lalu.
Ia menyentuh pagar bambu di sisi kolam. Melihat ke arah pohon besar yang kini hanya tersisa tangkalnya saja.
Dulu, Rahayu suka duduk di situ sambil meluruskan kaki. Di sinilah mereka menghabiskan sore, saat sapi kembali ke kandang utama. Tawa dan kenangan seperti bayang-bayang kabur di ujung ingatan.
Hasan menarik napas dalam. Hari nyaris kembali petang, dia harus pulang. Dua hari dia menghilang, mengenang jejak pertemuan dengan Rahayu.
Dia kembali ke motornya. Memakai masker dan helm. Sebelum pulang, dia ingin mengunjungi rumah kerabat Rahayu. Hasan meluncur pelan, beberapa menit kemudian dia berhenti di sebuah gapura desa.
Hasan lupa, apakah ini jalan desa yang dia akan tuju atau di seberang jalur satunya. Tapi ketika akan memutar arah, sebuah mobil berpapasan dengannya.
Dia mengenali mobil itu dan siluet di kursi belakang—matanya membelalak.
“Wafa?”
Mobil itu lurus masuk dari gerbang desa.
Hasan segera memutarkan motornya dan mengikuti. Jalan sempit menanjak membawanya makin jauh dari jalan utama.
Sampai akhirnya mobil Wafa berhenti di depan sebuah rumah bergaya lama yang kontras dengan bangunan sekitar.
Hasan menepi, menyamarkan dirinya di balik pohon flamboyan.
Dari kejauhan, ia melihat Wafa turun dari mobil dengan wajah teduh. Seolah dia mengenali tempat ini. Bukan sebagai tamu, tapi seperti pemilik rumah.
Hasan menahan napas.
“Itu kan rumah …”
.
.