Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Spekulasi

"Non!"

Lea masih berdiri di depan pintu kamar Mbak Mun. Namun karena ada ART lainnya, ia pun mengurungkan langkah dan menghampiri si ART. Dengan suara pelan, ia meminta dibawakan segelas air ke kamar.

Dari balik pintu, Qale menutup mata, mengelus dadanya lega. Tapi sejurus kemudian, napasnya kembali tertahan. Langkah Lea berhenti lagi. Ia menoleh ke arah kamar, meraba panel pintu… dan menutupnya.

Bruk.

"Fyuh," Qale menghela napas tanpa suara. Lututnya nyaris melorot ke lantai.

Kalau pintunya dibuka satu senti lagi... selesai sudah.

Ia belum bisa keluar. Suara langkah ART masih terdengar samar dari dapur. Tapi tak ada suara orang bicara. Seisi rumah hening.

Qale memberanikan diri membuka pintu pelan, mengintip, lalu menyelinap keluar. Langkahnya cepat dan ringan menyusuri sisi rumah. Begitu melihat mobil Wafa di ujung jalan, ia langsung masuk.

Tanpa banyak bicara, Wafa memberi isyarat pada sopir agar segera melajukan mobil.

"Pelan, Sya," ucap Wafa sambil menyodorkan botol air mineral.

Qale meneguknya cepat, lalu bersandar lemas. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Dapat apa?" tanya Wafa, menatapnya dalam.

"Hanya aksesoris boneka dan kertas ini," Qale menyodorkan keduanya.

Wafa membuka kertas itu, matanya menyipit.

"Kamu tahu kenapa ini dikirim?"

Qale ikut melihat tulisan dalam kertas kusut itu. Hening sejenak. Berpikir sebelum akhirnya berkata, "Kalau pesan DM anonim dikirim buat mancing ingatan aku, maka… ini buat peringatan, bukan sih?" Tebak Qale, menatap Wafa yang juga sedang melihatnya.

Wafa tersenyum tipis, membuatnya menawan dalam remang. Ia menjentik hidung Qale ringan. "Pinter."

"Ish, Kak, sakit..." Qale mengomel manja, wajahnya memerah. Entah karena sentuhan, atau karena malu. Tapi matanya bersinar, seperti menemukan alasan untuk percaya lagi.

"Terus... berarti apa?" tanya Wafa.

Qale termenung. Tatapannya menyapu jendela mobil, lalu kembali ke wajah Wafa. "Kak... pelakunya... apakah salah satu dari mereka?"

"Hmm... bisa jadi. Dugaanmu?"

Qale menyandarkan tubuh. Pasrah membayangkan jika benar pelakunya adalah keluarga sendiri. Tatapannya mendung, suara lirih, "Kenapa harus ditutupin sedemikian rupa, Kak? Itu aja."

Wafa ikut bersandar. Merasakan kegelisahan istrinya.

"Lea, nggak mungkin... Ayah? Masak iya tega? Itu istrinya sendiri..." sambung Qale di sisa tenaganya.

Qale mengingat DM itu, suaranya pelan, "Clue-nya: yang paling dekat adalah yang paling menyakiti."

Qale mengulang kalimat itu dalam hati. Tapi dekat secara fisik? Secara darah? Atau... secara rasa?

"Mereka dekat denganmu?" tanya Wafa cepat.

"Nggak begitu..." Qale buru-buru membantah. Lalu menatap Wafa jengkel. "Tata! Jangan nyuruh aku mikir terus… capek!"

Wafa terkekeh pelan. Ia mengalungkan lengan dan menarik Qale dalam pelukan.

"Tidur, ya. Pulang ke rumah kejauhan. Malam banget. Ke toko aja istirahatnya."

Qale mengangguk lemah. Tapi hangatnya pelukan Wafa membuat tubuhnya rileks.

Wafa kemudian berbisik, seolah bicara pada diri sendiri. "Kadang, saking sayangnya kita pada seseorang, kita nggak sadar telah melindungi fakta dan justru mencelakai yang lain..."

Ia menatap Qale lembut. "Ini bukan soal siapa pelakunya, Sya. Tapi... memang semua ini harus terjadi. Supaya kamu bisa pulih. Supaya kamu bisa mendoakan ibumu dengan cara yang baru. Tulus. Dan sembuh, benar-benar sembuh."

"Aku bisa, Kak?"

"Bisa, Sya. Kamu kuat."

Malam itu, mereka beristirahat di toko anak lipat. Tidur bersisian di sofa, duduk selonjoran saling bersandar.

---

Keesokan paginya, Wafa pamit untuk pulang. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, mereka berpapasan dengan Hasan di depan toko.

Wafa memberi isyarat sopan. Hasan hanya menatap dingin, lalu melangkah masuk.

"Apa yang kalian lakukan ke rumah semalam?" tanya Hasan langsung.

Qale menarik napas. "Kami minta maaf. Tapi bukan Kakak yang dimaksud Mbak Mun.

"Apa buktinya?" sergah Hasan tajam.

"Karena Kakak punya alibi kuat. Dan aku percaya padanya," tegas Qale.

Hasan menatapnya lama. "Penyelidikan tetap berjalan. Ayah sudah melapor dan membuka kembali kasus itu."

"Silakan," jawab Wafa santai. "Tapi Anda juga harus siap kalau ternyata... fakta justru berbalik pada keluarga Anda sendiri."

Seketika, muncul pria tegap mengenakan kacamata hitam dari belakang. Ia menghampiri Hasan, menggenggam lengan ayahnya.

"Yah, sudah selesai? Ayo, kita ditunggu WO."

Hasan mengangguk. Tapi sebelum pergi, ia sempat berbalik.

"Datang ke acara Lea malam nanti. Jangan macam-macam. Cukup setor muka biar keluarga kita terlihat rukun."

Qale menyeringai sinis. "Pencitraan mulu... capek."

"Gak usah banyak bacot. Peranmu cuma figuran!" sentak Hasan sebelum berlalu.

Namun Qale tak lagi gentar menghadapi ayahnya. Dia justru menatap pria berkacamata yang berdiri tenang di samping Hasan dengan tajam. Wajah itu... rasanya familiar.

Ia memiringkan kepala, alisnya bertaut. Saat keduanya melangkah pergi. 

"Curiga?" bisik Wafa.

Qale mengangguk pelan. "Dia... kayak pernah liat di...."

Jarinya menunjuk pria berkacamata itu. Matanya membulat.

-

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!