Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Suamiku

Wafa pamit pagi itu dengan pesan sederhana tapi hangat, "Jualan yang bener, ya. Biar pelanggan makin banyak. Urusan yang lain, kita pikirkan berdua. Oke?"

Qale mengangguk. Hatinya hangat oleh perhatian kecil itu. Bibirnya mencoba tersenyum, walau matanya menyimpan gelisah.

Belum sempat Wafa masuk ke mobil, Qale tersadar satu hal—dia tidak punya nomor suaminya sendiri.

"Kak," panggilnya malu-malu sambil menyodorkan ponsel. "Boleh…?"

Wafa menoleh dengan senyum menggoda. "Kirain nggak butuh," godanya, memiringkan kepala untuk melihat wajah manis Qale di bawah cahaya pagi.

Pipi Qale langsung merona. "Iihh, ayo dong," rengeknya.

"Senyum dulu," Wafa mengulur tangan.

"Nggak mau!" Qale mencubit lengannya gemas.

"Aw! Iya iya, sini..." Wafa akhirnya menyerah, menerima ponsel bercasing pink itu.

Qale mencuri pandang. Meski mata kirinya kosong, Wafa tetap tampan. Setelah menyimpan kontak, Wafa menyerahkan kembali ponsel itu.

Begitu Qale melihat kontak barunya, matanya membesar. "Suamiku?" Qale melongo tapi langsung menuntut balasan. "Kalau aku di kontak Kakak, namanya apa?"

Wafa hanya angkat bahu, wajahnya tenang.

“Biar kamu inget,” katanya ringan. "nanti pas ulang tahun aja kukasih tau, surprise."

Qale manyun tapi tak protes. Tapi matanya tetap berbinar saat Wafa pamit dengan Hyundai Creta-nya yang melaju pelan.

Hari itu, Qale fokus di toko. Tapi pikirannya tetap berpusat pada sosok pria berkacamata.

Dia berniat akan membawa croissant dari tokonya, untuk suguhan tapi dalam ukuran kecil.

Bukan untuk cari muka dan perhatian tapi untuk dirinya sendiri. Dia datang, dengan produk yang menghidupinya selama ini. Dan itu membuatnya bangga.

Sore menjelang, hantaran sudah tertata rapi di meja kasir.

Wafa datang kembali. Kali ini ia bersama dua wanita muda dengan koper make-up dan pakaian. Ia tampak rapi, mengenakan batik hitam bersemburat pink dan sepatu pantofel mengilap. Rambutnya ditata apik, poni tak lagi menutupi mata kirinya.

"Kak?" Qale heran, belum sempat bertanya, Wafa langsung bicara pada dua wanita tadi.

"Tolong siapkan istriku, ya. Girly, natural, elegan manis." 

"Ehhh?" Qale panik, tapi tak sempat protes. Ia langsung digiring ke kamar belakang.

Satu jam kemudian, Qale keluar dari ruang belakang. Mengenakan kebaya Janggan lengan pendek, tersemat bros pink di dada kanan. Rambut ikalnya dicepol manis, poni dikeriting natural. Cermin memantulkan sosok yang tak ia kenal—begitu… anggun.

Wafa menatapnya puas, seolah menahan napas. Dia memandangi istrinya yang berdiri menunduk malu. Lalu tersenyum manis saat meminta Qale mendekat.

Qale mendekat. Wafa menyematkan cincin kecil di jari manis istrinya.

"Pake ini, ya," katanya.

"Too much nggak sih, Kak?" Qale tampak ragu, sorot matanya meredup.

"Nggak. Owner Anak Lipat harus glow up dong."

Jawaban itu membuat senyum Qale menciut. Dia memaklumi, kesepakatan mereka masih sama : jangan jatuh cinta.

Di rumah Hasan, acara pertunangan Lea tampak megah. Nuansa pink dan ungu mendominasi. Tanpa diberi tahu dress code, busana mereka nyaris senada dengan empunya hajat.

Qale meletakkan croissant mini buatannya di ruang tengah. Ia tak mencari perhatian—ia hanya ingin membawa bagian dari dirinya. Ini bukan soal pamer, tapi harga diri.

Dia melihat mbak Mun, bekas memar masih terlihat di lengannya. Qale mendekat, mengusap lengan ART lamanya itu. "Mbak, suguhin ini ya, nanti," ucap Qale iba.

Mbak Mun tersenyum hangat, memeluknya sejenak. "Ok, Non." Dia lalu meminta Qale ke depan.

Di ruang tamu, Qale dan Wafa nyaris tak dianggap. Tapi Wafa justru menggandeng Qale berbincang ke para tamu.

Saat ditanya, "Sudah menikah?"

Wafa menjawab mantap, "Sudah. Ini istriku. Yang punya acara, kakaknya."

Qale sempat senyum bangga … sampai matanya menangkap pria berkacamata itu.

"Siapa yaaa?" bisiknya.

Wafa mendengar desisan istrinya, dia menepuk tautan tangan mereka. "Pelan, Sya."

Acara inti berlangsung lancar. Lea resmi bertunangan dengan Deni. 

Namun di sela prosesi foto, pria berkacamata itu melepas kacamatanya. Lea pun menoleh … saling pandang dan tersenyum kepadanya.

Deg.

"Senyum itu…" gumam Qale. Bukan senyum sembarangan. Itu … senyum yang tertinggal dalam ingatan.

"Sya?" Wafa menepuk bahunya.

"Aku ingat… senyum itu. Dia? Dia...?" Mata Qale memejam, seperti hendak mengais sesuatu dari balik reruntuhan ingatan.

Wafa menggenggam erat tangannya.

Di sesi makan-makan, tamu sibuk berbincang. Lea dan tunangannya menepi ke teras samping. Qale yang hendak mengambil air mineral di ruang tengah, melihat ke teras belakang, mereka bicara dengan wajah tegang—terlalu dekat. Suara mereka—sangat hati-hati.

Qale pura-pura melangkah ke arah dapur, mengambil gelas, dan dengan lantang berkata :

“Alex!”

Pasangan itu langsung diam.

"Heh! Ngapain di situ? Nguping?!" Lea membalas galak.

"Iiih, aku kira itu temenku... kayak Alex deh," sanggah Qale sambil tersenyum lugu. Tapi ekspresi mereka? Aneh.

Pria itu pucat sesaat. Tersenyum tipis, tapi salah tingkah.

Dari kejauhan, Wafa sudah berdiri, matanya tajam. Ia merogoh ponselnya dan mengirim pesan cepat.

“Bantu aku cari siapa Alex… atau apapun nama aslinya. Aku yakin dia kuncinya.”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!