Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Palsu

Ruang tamu siang itu tidak ramai, tapi cukup penuh untuk membuat Qalesya kelelahan.

Kursi-kursi disusun renggang. Tidak ada karpet tebal. Tidak ada pengeras suara. Winda benar-benar menepati janjinya: pengajian singkat, doa sederhana, tanpa berlama-lama.

Meski begitu, duduk tetaplah duduk.

Qale bersandar di kursi dengan bantal kecil di punggung bawah. Wafa duduk di sampingnya—bukan ikut menyimak, tapi menjaga.

Tangannya tak pernah benar-benar diam. Kadang mengusap pinggang Qale dengan gerakan memutar pelan. Sesekali menyelipkan bantal lagi di sisi kanan. Atau mencondongkan kipas portabel ke arah wajah istrinya, memastikan angin kecilnya cukup.

Qale menatap ke depan, tapi kelopak matanya terlihat berat.

Setiap beberapa menit, Wafa membungkuk sedikit. “Masih kuat?”

Qale mengangguk, meski bahunya mulai turun, agak membungkuk. “Masih.”

Tapi Wafa tahu—jawaban itu bukan berarti nyaman. Qale menahan. Saat doa dibaca, Qale menutup mata. Bukan khusyuk—melainkan mencoba bersabar.

Wafa bisa merasakan ketegangan di pinggang istrinya lewat sentuhan. Ototnya kaku pelan, seperti menahan sesuatu yang ingin keluar tapi ditahan sopan.

Ia menurunkan suara. “Sandar ke aku.”

Qale menurut. Kepala Qale berpindah ke bahu Wafa. Nafasnya sedikit pendek, tapi teratur.

Wafa mengusap punggungnya perlahan. Satu ritme. Dua ritme. Tidak cepat. Tidak lambat.

Di tangannya, tubuh Qale terasa hangat—dan lelah.

Saat doa selesai, beberapa tamu mulai berdiri. Suara kursi bergeser. Ucapan pamit terdengar bergantian.

Qale ikut mencoba berdiri.

Baru setengah bangkit, tubuhnya berhenti. Wafa langsung menahan bahunya. “Pelan.”

Qale menelan ludah. Tangannya refleks menekan perut. “Mas…” suaranya pelan. “Perutku… kok kenceng.”

Wafa tidak bereaksi berlebihan. Tapi sorot matanya langsung berubah. “Kencengnya gimana?” tanyanya tenang.

“Kayak… ditarik. Dari bawah.”

Wafa merunduk sejajar, satu tangannya tetap di punggung Qale.

“Sekarang masih?”

Qale mengangguk kecil. Lalu beberapa detik kemudian, ia menghela napas panjang.

“Hilang.”

Wafa mengangguk. Tidak berkata apa-apa. Tapi pikirannya mulai mencatat.

Durasi singkat. Hilang sendiri. Belum teratur.

Ia membantu Qale duduk kembali. Menyodorkan air. Mengatur kipas sedikit lebih dekat. “Minum dulu.”

Qale menuruti. Wajahnya pucat tipis, tapi masih bisa tersenyum kecil ke tamu yang pamit.

Wafa berdiri di sampingnya—tidak meninggalkan satu langkah pun.

Setelah rumah sepi, Qale bersandar penuh ke sofa.

“Aku capek,” katanya pelan, tanpa drama.

Wafa berlutut di depan istrinya. Mengusap perutnya pelan, lalu pinggangnya lagi.

“Aku tahu,” jawabnya singkat.

Beberapa menit sunyi. Nafas Qale mulai teratur.

Lalu tiba-tiba—ia meringis lagi.

Tangannya mencengkeram lengan Wafa.

“Mas… ini datang lagi.”

Wafa tidak berubah ekspresi. Tapi tubuhnya menegang. Ia menekan jam di pergelangan tangannya. Mencatat waktu.

Tangannya tetap di pinggang Qale. Gerakannya tetap lembut.

“Tarik napas. Pelan. Aku di sini.”

Qale menurut. Beberapa detik terasa lama. Lalu ketegangan itu mereda.

“Hilang,” bisik Qale.

Wafa mengangguk.

Ia mencium kening istrinya singkat—bukan untuk menenangkan Qale, tapi dirinya sendiri. Dalam hati, ia sudah bersiap.

Bukan panik.

Bukan takut berlebihan.

Hanya waspada.

Karena tubuh Qalesya sedang bicara.

Dan sebagai suami—tugasnya bukan menafsirkan berlebihan, tapi mendengar… dan siap siaga.

***

Bakar datang menjelang sore, ketika rumah sudah lebih lengang dan Qale baru saja merasa tubuhnya kembali “normal”.

Ia berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan raut canggung—tidak seperti biasanya. Tangannya membawa kantong kecil berisi buah, tapi matanya sibuk mencari Wafa dan Qale sekaligus.

“Ganggu nggak?” tanyanya.

Wafa menggeleng. “Masuk.”

Qale langsung tersenyum lebar, seolah lupa beberapa jam lalu perutnya sempat menegang. Ia duduk lebih tegak. Matanya berbinar.

“Kenapa, Damkar?”

Bakar menggaruk tengkuk. “Aku mau… lamar Ria. Pekan depan.”

Qale langsung berseru kecil. “Serius?” Tangannya refleks bergerak—lalu ditahan Wafa yang cepat meraih pergelangannya.

“Pelan,” bisik Wafa.

Qale menurut, tapi antusiasmenya tak turun. “Terus? Terus?”

Bakar menghela napas. “Masalahnya… aku tanya harus bawa apa. Dia jawabnya cuma ‘terserah’. Iya iya aja.”

Qale tertawa kecil. “Itu kode.”

“Kode apa?” Bakar makin bingung.

“Kode dia nggak mau ribet, tapi pengin Pak Bakar niat,” jawab Qale mantap. “Tenang. Kita bantuin.”

Wafa mengangkat alis. “Kita?”

Qale menoleh, senyum manisnya muncul. “Aku.”

Wafa mendesah pelan, tapi tidak memotong. Ia hanya memperhatikan napas Qale, ekspresi wajahnya, gerak kecil di perutnya, kewaspadaan yang tidak ditunjukkan dengan kata-kata.

“Pak Bakar,” lanjut Qale, “seserahan nggak perlu heboh. Yang penting rapi, pantas. Aku bisa bantu list-nya.”

“Beneran?” Bakar tampak lega.

“Iya. Dewi bisa bantu beliin perlengkapan. Aku tinggal nyiapin—”

“Tidak,” potong Wafa cepat, tapi suaranya tetap rendah.

Qale terdiam. Menoleh.

Wafa menatapnya tenang. “Kue dari rumah boleh. Tapi kamu nggak terjun langsung. Duduk. Ngasih arahan. Selesai.”

Qale cemberut tipis. “Mas…”

Wafa menoleh ke Bakar, suaranya tegas. “Ini ibu hamil tujuh bulan. Jangan diajak konspirasi.”

Bakar terkekeh. “Siap, Bos. Saya patuh.”

Qale menghela napas kecil, lalu mengangguk. “Yaudah. Dewi aku suruh belanja. Kue aku arahkan dari jauh.”

Wafa mengangguk ke arah Winda yang sejak tadi mengamati dari dapur. “Ma, tolong dicatat. Kalau dia ngeluh apa pun—perut, pinggang, napas—langsung berhenti.”

Winda mengacungkan buku catatan. “Siap, Komandan.”

Qale mendengus, tapi tersenyum. Ia memang lelah—dan diam-diam bersyukur ada yang setegas itu menjaganya.

Malamnya.

Qale tidak tidur. Laptop terbuka di depannya, skripsi menyala dengan baris-baris revisi yang tak kunjung habis. Ia duduk setengah rebah, bantal bertumpuk, selimut menutup kaki.

Wafa keluar-masuk kamar tanpa suara. Mengambil air hangat. Menaruh camilan kecil. Mengatur lampu agar tidak terlalu terang.

“Belum capek?” katanya pelan.

“Sedikit lagi,” jawab Qale tanpa menoleh. “Aku pengin… pas anakku lahir, aku tinggal nunggu jadwal sidang.”

Wafa duduk di sisi ranjang. Tangannya mengusap perut Qale pelan.

“Tubuhmu juga lagi sidang, Sayang,” katanya singkat.

Qale tersenyum kecil, tapi jarinya tetap menari di keyboard. Bahunya tegang. Napasnya pendek-pendek.

Beberapa menit kemudian, ia berhenti. Menutup mata.

“Mas…"

“Iya.”

“Perutku kayak… kenceng lagi.”

Wafa tidak bergerak panik. Ia menekan jam. Menghitung. Tangannya tetap di pinggang Qale, ritmenya stabil.

“Tarik napas,” ucapnya. “Ikut aku.”

Qale menurut. Ketegangan itu datang—lalu pergi.

“Hilang,” bisiknya.

Wafa mengangguk. “Cukup.”

Qale ingin membantah. Tapi tatapan Wafa tidak membuka ruang negosiasi.

Laptop ditutup. Lampu diredupkan. Qale ditarik lebih nyaman ke pelukan.

“Besok lanjut,” kata Wafa. “Malam ini kamu istirahat.”

Qale mendesah, menyerah. Kepalanya bersandar.

“Maaf.”

Wafa mengecup pelipisnya. “Kamu nggak salah. Kamu cuma terlalu ingin semuanya lekas beres.”

Di dalam perutnya, bayi itu bergerak kecil—tenang, seolah setuju dengan keputusan ayahnya.

Malam itu, Wafa terjaga lebih lama.

Mendengarkan napas istrinya.

Mencatat waktu.

Siap—kalau tubuh Qalesya kembali bicara.

Karena di antara lamaran yang akan datang, skripsi yang dikejar, dan bayi yang menunggu waktunya—ada satu hal yang tidak bisa ditawar : keselamatan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!