Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Ambrasiansya Magebaha
Sepanjang jalan pulang dari rumah sakit, mobil melaju pelan. Bukan karena macet—melainkan karena Wafa seperti sedang membawa ide penting di kepalanya.
Ia menyetir sambil sesekali melirik kaca depan, lalu menurunkan suara sendiri, lalu kembali berpikir. Alisnya berkerut, bibirnya komat-kamit.
Qalesya memperhatikannya sambil menahan senyum.
“Mas,” katanya akhirnya. “Mas tuh kelihatan kayak lagi ngerancang masa depan negara.”
Wafa tidak langsung menjawab. Ia malah menghela napas panjang, lalu berkata mantap,“Nama anak itu doa. Nggak boleh asal.”
Qale terkekeh. Tangannya mengusap perut pelan. Di dalam sana, bayinya bergerak kecil—bukan menendang, lebih seperti menyahut.
“Terus?” tanya Qale.
Wafa menoleh. Matanya berbinar.
“Gimana kalau… Ambrasiansya Magebaha.”
Qale terdiam satu detik. Lalu dua. Lalu tertawa lepas. “Mas serius?”
“Serius.”
“Tapi itu—”
“Putra Ambrasta,” potong Wafa cepat, “lahir saat skripsian, mager, rebahan. Apa adanya. Autentik.”
Qale tertawa makin keras sampai air matanya keluar. Wafa justru makin yakin.
“Dengar ya,” lanjutnya serius, “kalau orang nggak tahu artinya, namanya keren.”
Qale menyeka mata. “Kalau tahu?”
“Berarti dia tahu kondisi kamu saat hamil sambil ngerjain skripsi,” jawab Wafa santai.
Bayinya kembali bergerak. Tenang. Tidak protes. Seolah setuju bahwa kegaduhan ini aman-aman saja.
Sesampainya di rumah, Wafa tidak menunggu lama. Ia langsung mencari Winda, menceritakan hasil USG, tingkah bayi yang ‘ngambek’, sampai—tentu saja—nama.
“Ambrasiansya Magebaha,” ulang Winda di seberang sana. “Bagus sih…”
Wafa tersenyum bangga. “Tuh kan.”
“Tapi Fa… artinya apa?”
Wafa menjelaskan dengan penuh keyakinan. Sunyi.
Satu detik.
Dua detik. Lalu suara tawa Winda meledak.
“Ya Allah, kamu ini—” ujarnya, "apa gak ada nama lain gituuuuuuu."
“Nooo,” potong Wafa cepat. “Itu dari bibir istriku. Nggak boleh diganti.”
Winda tertawa lagi, kali ini makin keras.
“Unik dan istimewa, iya. Kalau nggak tahu artinya emang keren,” katanya akhirnya. “Ya sudah. Terserah kamu. Anak kamu.”
Wafa tersenyum lebar, wajahnya terlihat puas. Qale menggeleng pelan, masih tersenyum, tak mengira jika keisengannya ditanggapi serius oleh Wafa.
Beberapa hari kemudian, kabar tujuh bulanan menyebar.
Hasan menerima pesan dari Wafa dan terpaku cukup lama. Dua pekan lagi. Waktu terasa cepat, sebentar lagi dirinya jadi kakek.
Hasan sedang duduk di pohon ketapang yang daunnya mulai rontok, ketika mendapat pesan Wafa.
Jalanan sore ramai oleh orang pulang kerja, suara knalpot saling susul, hatinya ikut ramai, bahagia karena kabar Qale akan 7 bulanan.
Kalimat itu berputar-putar di kepalanya. Ia tersenyum sendiri, seperti orang yang sedang menyiapkan hadiah untuk cucu perdananya.
Waktu cepat sekali, batinnya.
Rasanya baru kemarin berdamai dengan hidup.
Dia berniat akan mengabarkan ini esok hari, saat menjenguk Lea.
Gerbang lapas menjulang dengan cat yang sama, abu-abu. Petugas masih memasang wajah tegas setiap kali jam kunjungan dimulai.
Hasan sudah terlalu sering ke sini. Selalu muncul rasa syukur tiap kali menjejak masuk. Karena ia masih bisa datang, masih ada orang-orang yang menunggunya.
Di ruang tunggu, udara sore masuk dari sela jendela tinggi. Cahaya jatuh miring, menyentuh lantai yang dingin. Hasan duduk sambil menautkan jari, napasnya pelan.
Qale akan jadi ibu, pikirnya lagi. Dan entah kenapa, Hasan senang sekali bakal dipanggil kakek.
Lea datang. Seragamnya rapi, rambutnya dicepol sederhana. Wajahnya bersih, tapi matanya menyimpan banyak cerita.
“Ayah,” sapa Lea pelan, sambil menyalami ayahnya.
Hasan tersenyum. “Kamu sehat?”
Lea mengangguk. Ia duduk, lalu diam cukup lama. Tangannya meremas ujung bajunya, seperti sedang cemas.
“Aku bingung,” katanya akhirnya. “Mau ngasih apa buat anak Qale kalau lahir nanti, tiba-tiba kepikiran aja."
Hasan tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan, ke arah jeruji yang membentang jauh.
“Yang paling mencirikan kamu sekarang,” ucapnya pelan.
Lea menoleh. “Aku?”
“Iya,” Hasan tersenyum kecil. “Bukan yang indah menurut orang lain. Tapi yang Lea banget.”
Lea terdiam. Wajahnya berubah. Ada senyum kecil yang malu-malu, tapi juga ragu.
“Kalau…” ia menarik napas, “…foto?”
“Fotomu?”
“Iya. Tapi—” Lea menunduk. “Foto penjara.”
Hasan tidak terkejut.
“Aku kan sering motret sore-sore,” lanjut Lea, suaranya makin lirih. “Waktu nunggu azan magrib. Cahaya jatuh di jeruji, di halaman lapas, di ruang makan. Aneh ya… tapi buat aku, itu cantik.”
“Estetik ala kamu,” sahut Hasan pelan.
Lea tersenyum tipis. “Atau surat perkenalan?”
Hasan mengangguk mantap. “Itu bisa juga. Pas mau 7 bulanan, nanti ayah berikan.”
Lea menelan ludah. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya.
“Tapi Yah…”
“Hmm?”
“Aku… nggak pantas ya?”
Hasan mencondongkan tubuhnya mendekat ke meja. “Pantas untuk apa?”
“Untuk minta dimaafkan,” jawab Lea lirih. “Meminta dikenalkan ke anak itu. Kalau nanti dia tahu masa lalu aku…”
Ia terdiam. Tangannya gemetar kecil.
Hasan menunggu. Tidak menyela.
“Titip pesanku ya, Yah,” kata Lea akhirnya, nyaris berbisik. “Bilang ke Qale… aku minta maaf. Semoga anaknya nggak membenciku kalau suatu hari tahu… siapa aku dulu.”
Sunyi jatuh di antara mereka. Air mata Lea jatuh. Rasa sakit menjalari hatinya.
Hasan mengangguk pelan. “Ayah akan sampaikan.”
Lea mendongak, menghela napas panjang, seperti baru melepas beban dari dadanya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah menerimaku lagi, Yah.”
Hasan berdiri. “Terima kasih sudah hidup dengan baik, Kalea Sasmita."
Lea memeluk ayahnya. Tangisnya muncul tapi buru-buru dia seka. Dia tak mau Hasan merasa sedih. Sudah cukup. Dia ingin ayahnya bahagia menjalani masa tua.
Saat Hasan melangkah keluar lapas, matahari hampir tenggelam. Langit jingga, lembut, tidak menyilaukan. Ia menggenggam amplop berisi foto itu dengan hati-hati—seperti membawa harta satu-satunya milik Lea.
Beberapa hari kemudian, Hasan datang ke rumah besannya, membawa bingkisan sederhana. Di dalamnya, foto jepretan Lea—berdiri di lapas, wajahnya tenang, matanya jujur.
Dia disambut Qalesya yang kini jauh lebih gemuk. Mulai lambat berjalan juga napas yang mudah terengah.
"Apa ini?" katanya saat duduk di sofa dan Hasan menyodorkan bingkisan.
"Buka aja," sahut Winda yang menemani.
Qale menarik bingkai dari tasnya. Dahinya mengernyit, disusul lengkung manis di bibirnya saat melihat foto ini.
"Cantik, hitam putih."
"Lea?" tanya Winda.
Qalesya mengangguk. "Iya, Ma... Terlihat berbeda, ya..."
Winda mengangguk. "Benar, dewasa, tenang dan cantik," pujinya saat melihat foto terbaru Lea.
Dipotret dari samping. Dia duduk di halaman lapas, menutup mata menengadah ke langit. Sinar jingga menerpa sebagian wajahnya, rambutnya terurai natural tertiup angin
“Biar nanti anakmu kenal,” kata Hasan pelan pada Qale. “Ada orang-orang yang juga menyayanginya… dari jauh.”
Qale menerima foto itu dengan hati yang hangat. “Terima kasih,” katanya. “Ini berarti.”
Malamnya, Qale rebahan seperti biasa. Skripsinya terbuka di laptop, tapi matanya lebih sering menatap langit-langit.
Wafa mendekat, duduk di sampingnya.
“Syaa?”
“Hmm."
Wafa mengusap perut Qale pelan. “Dek,” katanya lembut, “sehat-sehat ya. Ayah nggak sabar pengen liat kamu.”
Qale tersenyum kecil. Bayinya bergerak halus, seolah mengerti.
Nama boleh aneh. Proses boleh mager.
Tapi cinta di rumah itu… tumbuh pelan, kian menghangat. Anak ini memang datang bukan untuk membuatnya jadi sempurna—melainkan untuk merasa cukup, lengkap tanpa ketakutan tidak layak dicintai.
.
.