Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Jelang 7 bulanan
Satu bulan kemudian.
Siang itu berjalan lambat, seperti Qalesya yang mulai terengah-engah.
Tubuhnya punya ritme sendiri—kapan punggung mulai pegal, kapan mata terasa berat, kapan pikirannya minta berhenti meski tangannya masih ingin menulis.
Laptop tergeletak di atas paha. Dokumen skripsi terbuka di layar, dengan paragraf yang belum benar-benar rampung. Kursor berkedip sabar, seolah mengerti bahwa pemiliknya sedang tidak dalam kondisi untuk diajak buru-buru.
Qale mengetik satu kalimat. Berhenti. Menghapusnya pelan. Menarik napas.
Ia menggeser posisi, menambah satu bantal di punggung. Skripsi itu kini tidak lagi dikerjakan sambil duduk tegak seperti dulu. Semuanya berpindah ke ranjang—tempat yang paling nyaman melepas lelahnya.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Winda masuk sambil membawa sepiring potongan mangga dan segelas air. Geraknya ringan, suaranya ceria, cheerleader nya Qale.
“Gimana skripsinya?” tanyanya sambil menaruh piring di nakas.
Qale menoleh sekilas. “Lambat.”
“Merayap tapi kan bukan macet...”
Qale berpikir sebentar. “Iya, padat merayap … ndut-ndutan sering berhenti.”
Winda tertawa kecil, lalu duduk di kursi. Ia memperhatikan anaknya diam-diam—cara Qale bersandar, kelopak mata yang tampak lebih mudah lelah, dan tangan yang berkali-kali tanpa sadar mengusap perut.
Ada perubahan kecil yang hanya bisa dilihat ibu.
“Ngomong-ngomong,” Winda duduk di sisi ranjang, “kamu maunya baby shower apa pengajian tujuh bulanan?”
Qale mengernyit pelan. “Sekarang?”
“Ya biar Mama siap-siap.”
Qale mengangkat bahu. “Terserah Mama aja.”
Winda memiringkan kepala. “Beneran?”
“Iya,” jawab Qale jujur. “Yang penting jangan duduk lama-lama. Ngerjain skripsi aja aku kadang sambil rebahan.”
Winda mengangguk, tapi matanya belum lepas dari perut Qale. Ada senyum kecil di sana—senyum orang yang sedang asik dengan bayangan di otaknya sendiri.
“Perasaan Mama…” katanya pelan, “ini anakmu laki-laki.”
Qale mendesah. “Kenapa pula?”
“Soalnya kamu nggak begitu ketara hamilnya,” jawab Winda mantap. “Terus akhir-akhir ini kamu males mandi.”
“Ma—” Qale berpikir, apa hubungannya?
“Makannya juga nambah. Mintanya daging, ikan, yang gurih-gurih. Jarang pengin manis.”
Qale ingin membantah, tapi malah terdiam. Ia sendiri tidak yakin sejak kapan selera makannya berubah.
“Dan satu lagi,” Winda menyeringai. “Maunya serba nunjuk dan tau beres. Mirip Wafa.” Winda terkekeh, puas dengan kesimpulannya sendiri.
Qale hanya manggut-manggut. Kepalanya mulai terasa berat. Denyut kecil muncul di pelipis.
“Mama,” katanya akhirnya, suaranya rendah tapi jelas, “jangan berisik dulu. Aku pusing.”
Winda langsung menepuk pahanya. “Nah. Kan.”
“Kan apa?”
“Galak,” jawab Winda ceria. “Persis Wafa.”
Belum sempat Qale menyahut, Winda sudah berdiri sambil mengambil ponselnya.
“Mama telepon Wafa dulu,” katanya ringan.
Qale memejamkan mata. Pasrah.
Tak lama kemudian, suara Winda memenuhi kamar.
“Fa, Mama ngerasa cucu Mama laki-laki. Kamu kapan USG lagi?”
Suara Wafa terdengar dari seberang karena Winda meloudspeaker—tenang, nyaris malas.
“Laki atau perempuan nggak masalah, Ma.”
“Lho?”
“Yang penting brojol dari Qale.”
Qale membuka satu mata, menatap langit-langit.
“Terus,” lanjut Wafa, suaranya jelas mengandung senyum, “harus kriting kayak Qale. Matanya sipit. Pokoknya persis ibunya. Jangan mirip saya.”
Winda terdiam sebentar. Lalu terkekeh. “Kamu cinta mati sama istrimu, ya?”
“Iya.”
Jawabannya terlalu cepat untuk dianggap bercanda.
“Habis lahiran,” lanjut Wafa enteng, “kayaknya aku pengin Qale hamil lagi.”
“Mas?” suara Qale muncul, setengah protes.
“Kenapa?”
“Denger, iihhh.”
Winda mendengus keras. “Kamu gila, Fa.”
Wafa tertawa. “Biarin. Aku harus bikin Qale hamil mulu biar dia nggak bisa lepas dari aku.”
“Dasar obsesif,” gumam Winda.
“Kan cuma aku yang mampu ngadepin mereka,” lanjut Wafa santai. “Ibu sama anak.”
Winda menggeleng-geleng, antara kesal dan geli. “Ngebet amat kamu.”
Telepon ditutup.
Qale masih terdiam beberapa detik. Lalu tubuhnya kembali merebah ke bantal.
“Mas itu keterlaluan,” gumamnya.
Tapi senyumnya muncul pelan, tak bisa ditahan. Pusingnya belum sepenuhnya hilang. Skripsinya masih menunggu. Tubuhnya tetap berat.
Namun di sela-sela semua itu, Qale meraih laptop lagi. Mengetik satu kalimat. Dua kalimat. Perlahan, sampai satu halaman penuh.
***
Ruang USG itu dingin, wangi antiseptik, dan terlalu terang untuk mata Qalesya yang masih setengah mengantuk. Ia berbaring setengah miring, bantal kecil diselipkan di pinggang, kausnya digulung hati-hati. Layar hitam di samping ranjang masih kosong, menunggu disentuh alat yang dingin itu.
Wafa berdiri di sampingnya, satu tangan di saku celana, satu lagi menggenggam jemari Qale. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk calon ayah yang sejak pagi sudah berkali-kali bertanya jam berapa mereka berangkat.
“Siap ya,” kata dokter sambil tersenyum ramah.
Qale mengangguk. “Siap, Dok.”
Gel dingin menyentuh perutnya. Qale meringis kecil, refleks menggenggam tangan Wafa lebih erat.
“Dingin,” keluhnya.
Wafa tersenyum. “Sebentar kok, Sayang.”
Layar mulai menampilkan bayangan abu-abu yang belum sepenuhnya bisa dipahami Qale. Ia menatap, mencoba mengerti, mencoba mencari—entah apa. Mungkin kepastian. Mungkin rasa aman bahwa bayinya sehat.
Dokter menggeser alatnya pelan. Keningnya sedikit berkerut. “Hm,” gumamnya.
Wafa langsung tegang. “Kenapa, Dok?”
“Sebentar,” jawab dokter tenang. “Bayinya lagi… ngumpet.”
Qale menahan napas. “Ngumpet?”
“Iya,” kata dokter sambil tersenyum kecil. “Posisinya muter. Bahkan detak jantungnya juga belum mau kelihatan jelas.”
Wafa mendekat refleks. “Kenapa dia?”
Dokter terkekeh. “Bukan kenapa-kenapa. Kayaknya lagi ngambek, main petak umpet atau malu-malu.”
Qale menoleh ke Wafa. “Anak kita drama.”
Wafa tidak tertawa. Ia menatap layar. Tatapannya mencurigai sesuatu.
“Jangan-jangan…” katanya pelan, “dia denger aku.”
Qale mengangkat alis. “Denger apa?”
“Selama ini aku suka bilang soal adik,” jawab Wafa jujur. “Aku sering bilang nanti setelah kamu lahiran, kita punya anak lagi.”
Qale menahan senyum. “Mas… itu mah bercanda.”
Wafa tidak membalas. Ia justru membungkuk sedikit, mendekat ke perut Qale. Suaranya turun, hampir seperti bisikan rahasia. “Dek,” katanya pelan.
Qale menoleh, tapi tidak menghentikannya.
“Dengerin ayah ya,” lanjut Wafa lembut. “Ayah sayang kamu. Ayah juga sayang ibu. Banyaaaaakkk sayang.”
Tangannya mengusap pelan, gerakannya hati-hati, seperti takut mengganggu.
“Walaupun nanti kamu jadi anak tunggal atau punya adik… kamu nggak bakal kekurangan cinta dari ayah,” bisiknya. “Janji.”
Qale menatapnya. Dadanya menghangat mendengar ucapan Wafa.
“Ayah janji bakal makin sayang sama ibu kamu,” Wafa melanjutkan, suaranya nyaris terbata. “Jadi kamu nggak perlu takut kehilangan apa-apa.”
Dokter menghentikan gerak tangannya sejenak, memperhatikan.
Lalu—
“Ah,” katanya pelan.
Layar menunjukkan garis yang lebih jelas. Bunyi dup-dup muncul, pelan tapi pasti.
“Itu,” kata dokter sambil tersenyum. “Detak jantungnya sudah muncul.”
Qale menghembuskan napas panjang. Matanya berkaca-kaca. Wafa tersenyum lebar, seperti anak kecil yang baru saja memenangkan sesuatu.
“Sehat?” tanyanya cepat.
“Sehat,” jawab dokter mantap. “Usianya mendekati 28 pekan. Berat badannya naik cukup signifikan.”
Qale tertawa kecil. “Porsi maakannya kebanyakan ya, Dok.”
Dokter meliriknya. “Stres?”
Qale mengangguk. “Skripsi.”
“Oh,” dokter mengangguk paham. “Wajar. Lagian gapapa asal bernutrisi.”
Wafa mendekat lagi ke layar. “Jenis kelaminnya kelihatan, Dok?”
Dokter menggeser alatnya sedikit, lalu menggeleng. “Belum mau,” katanya santai. “Masih ngumpet.”
Qale mendengus. “Drama lagi kan.”
Dokter tertawa. “Kayaknya dia mau ngasih kejutan buat ayah ibunya.”
Wafa menatap layar lama. Tidak kecewa. Tidak memaksa ingin tahu. “Ya sudah,” katanya pelan. “Yang penting sehat.”
Dokter tersenyum. “Nah, itu paling benar.” Ia menyimpan alatnya, lalu menulis sesuatu di berkas.
“Oh ya,” katanya sambil bercanda, “kalau lahir nanti, namanya apa?”
Qale berpikir sebentar. Wafa ikut diam.
“Skripsiyandra,” jawab Qale tiba-tiba.
Wafa tersedak tawa. “Apa?”
Dokter terbahak. “Keren itu. Unik.”
Qale menyeringai. “Biar inget perjuangan.”
“Nama belakangnya apa?” tanya dokter iseng.
Qale berpikir sebentar, lalu tertawa sendiri. “Magebaha.”
Wafa mengernyit. “Itu apalagi?”
“Mageran dan rebahan,” jawab Qale ringan.
Dokter tertawa keras. “Lengkap sekali.”
Wafa menatap perut Qale, lalu mengangguk serius. “Bagus juga ya namanya.”
Qale menoleh. “Mas jangan serius-serius amat.”
“Aku serius,” jawab Wafa santai. “Anak kita kan unik.”
Qale tertawa lepas. Tawa yang lama tidak muncul—ringan, jujur, tanpa beban.
Saat mereka keluar dari ruang USG, tangan Wafa ma
sih menggenggam jemari Qale. Lebih erat dari tadi.
Di dalam perutnya, bayi itu tetap menyimpan rahasia kecilnya. Tidak menunjukkan jenis kelamin. Tidak terburu-buru.
Seolah berkata—pelan saja, Ayah. Ibu, aku datang dengan caraku sendiri.