Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Lea Growth up
Lorong lapas itu tidak pernah benar-benar hangat. Meski matahari kerap menerpa ruangan dari celah-celah kecil.
Dindingnya pucat, langkah-langkah selalu bergema, dan waktu seperti berjalan dengan iramanya sendiri.
Tapi siang itu, Hasan melangkah dengan dada yang entah kenapa terasa lebih ringan.
Ia membawa dua tas. Satu berisi kebutuhan rutin. Satu lagi—lebih ringan, tapi terasa paling penting—berisi beberapa lembar cetakan foto.
Petugas membuka pintu kunjungan.
Lea sudah duduk di sana.
Hasan sempat berhenti sebentar. Anaknya itu terlihat berbeda. Bukan karena seragam lapasnya, bukan pula karena rambutnya yang kini lebih rapi terikat. Ada sesuatu di wajah Lea—tenang, cerah, seperti seseorang yang tidak lagi terus-menerus bertanya kenapa aku di sini.
“Ayah,” sapa Lea lebih dulu. Suaranya ringan, ceria. Matanya berbinar.
Hasan tersenyum lebar tanpa sadar. “Nak.”
Lea bangkit, mendekat, lalu memeluk ayahnya erat. Pelukan yang tidak tergesa, tidak canggung. Pelukan orang yang sama-sama belajar memaafkan hidup.
“Kamu sehat?” tanya Hasan sambil menepuk punggung anaknya.
“Sehat,” jawab Lea mantap. “Alhamdulillah.”
Kata itu terasa seperti ucapan terima kasih. Tidak dipaksakan. Ia keluar begitu saja, tulus.
Mereka duduk berhadapan. Hasan baru sadar, Lea kini duduk dengan punggung tegak. Tatapannya jujur. Tidak menghindar seperti dulu.
“Kamu kelihatan… ceria,” kata Hasan pelan, hampir tidak percaya.
Lea tersenyum. “Aku mulai belajar menerima, Yah.”
“Alhamdulillah. Belajar apalagi?”
“Banyak.” Lea terkekeh kecil. “Belajar sabar. Belajar nerima. Belajar bangun pagi tanpa ngeluh. Belajar sholat yang bener. Ngaji… walau masih terbata-bata.”
Hasan menelan ludah. Dadanya menghangat.
“Kamu… ngaji juga?” tanyanya ragu.
Lea mengangguk. “Iya. Meski malu-malu. Kadang suka nangis, kesel sendiri pas baca huruf hijaiyahnya kebalik.”
Ia tertawa kecil, lalu menambahkan, “Aku nyesel kenapa baru mengenal agamaku di sini," ungkap Lea, menunduk, wajahnya terlihat lebih tenang.
"Gak apa, semua punya waktunya sendiri, Lea. Ayah juga sampai sekarang seperti kalian, belajar memaknai hidup di sisa usia ... gimana caranya agar manfaat lagi nggak banyak bengong," kekeh Hasan. Menepuk punggung tangan putrinya di atas meja.
Lea mendongak. Tersenyum manis, mengangguk setuju.
"Yah, aku juga ngajarin musik.”
“Musik?”
“Nyanyi bareng. Kadang pakai gitar pinjaman. Kadang cuma tepuk tangan. Tapi mereka senang.”
Hasan memandangi wajah anaknya. Manik matanya mengilat cerah. Ada nada percaya diri di sana. Bukan sekedar euforia ceria. Tapi binar mata seseorang yang akhirnya menemukan tempat untuk merasa berguna lagi.
Lea mendekat sedikit, suaranya berubah lebih antusias. “Yah… aku boleh minta sesuatu?”
Hasan tersenyum. “Minta apa?”
“Piano.”
Hasan terdiam. Bukan karena keberatan. Lebih karena terkejut.
“Di lapas?” tanyanya memastikan.
Lea mengangguk cepat. “Aku tahu permintaanku mahal. Tapi banyak yang suka seni di sini. Mereka cuma gak pernah punya alat dan kesempatan belajar, gratis dengan benar. Kalau ada piano, aku bisa ngajarin lebih serius. Kita bisa bikin kelas kecil.”
"Bukannya di sini ada?"
"Ada, cuma satu dan udah ketinggalan mode... Kalau boleh, tolong belikan dari uangku saja. Aku mau sedekah di lapas ini... Belikan satu atau dua," pintanya memandang Hasan sungguh-sungguh.
Hasan mengusap wajahnya pelan. Matanya berkaca-kaca. “Kamu… mulai mikirin orang lain, ya.”
Lea tersenyum malu. “Aku gak mau hidupku di sini cuma buat nunggu waktu.”
Hasan mengangguk mantap. “Ayah usahain.”
Mata Lea berbinar lebih terang. “Beneran?”
“Beneran,” jawab Hasan tanpa ragu. “Ayah akan urus izinnya.”
Lea menghela napas lega. “Makasih, Yah.”
Hasan meraih tas kecilnya. “Oh iya. Ini.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar foto. Foto hitam-putih. Potret sederhana—jendela berjeruji dengan cahaya masuk miring, tangan yang sedang menjahit, bayangan seseorang di dinding lapas.
Lea membelalak. “Ayah cetakin?”
“Iya.” Hasan tersenyum bangga. “Bagus.”
Lea memegang foto-foto itu hati-hati, seolah benda rapuh. Dia belajar tehnik memoto beberapa pekan lalu, dengan kamera tua milik lapas.
“Aku mau bingkai, Yah. Mau aku taruh di kamar. Biar aku inget… aku masih bisa bikin sesuatu yang indah.”
Hasan mengangguk. Tenggorokannya tercekat.
Lea mengangkat satu foto. “Ayah… boleh berikan yang satu dikasih ke Deni?”
Hasan terdiam sejenak. “Boleh.”
“Tolong bilang,” lanjut Lea pelan, “aku kangen banget.”
Hasan mengangguk lagi.
“Oh iya,” Lea mencondongkan tubuhnya. “Ayah nanti rekamin suara Deni ya. Sama… video pas Ayah jenguk suamiku.”
Hasan tersenyum lebar. “Siap.”
Waktu kunjungan hampir habis. Petugas memberi tanda.
Lea berdiri, memeluk ayahnya lagi. Kali ini lebih erat. “Makasih ya, Yah. Masih mau datang jenguk aku ... gantian dengan Deni. Masih percaya aku dan suamiku bisa berubah.”
Hasan mengusap kepala anaknya. “Ayah yang harusnya bilang terima kasih.”
Saat Hasan keluar dari lapas, langkahnya terasa ringan. Senyum tak lepas dari wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa … berguna lagi, bagi anak-anaknya yang pernah dia telantarkan.
Ia teringat peternakan yang sempat terbengkalai. Yang sempat diambil alih Mbak Mun. Ia teringat pagi-pagi yang dulu ia habiskan dengan murung.
Sekarang, dadanya penuh rencana.
Ia pulang dengan semangat baru. Mengatur ulang urusan peternakan. Menyapa pekerja dengan lebih ramah. Mendengarkan, bukan hanya memerintah.
Hasan tidak langsung pulang hari itu. Ia menyetir tanpa tujuan jelas. Jalanan yang dilalui terasa familiar, saat hidup masih berjalan dengan amarah dan penyesalan yang tidak pernah selesai.
Lampu merah. Klakson. Motor menyelip.
Semua itu memicu kenangan.
Ia teringat masa ketika Lea masih remaja—berisik, keras kepala, dan sering membantah. Teringat dirinya sendiri, ayah yang merasa selalu benar, tapi jarang benar-benar mendengar.
Dan ia teringat Qalesya.
Perempuan itu selalu jadi penyeimbang. Yang tidak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan berjuang demi keinginannya sendiri.
Mobil berhenti di pelataran makam.
Hasan turun pelan. Membawa kantong kecil berisi bunga yang tadi dibelinya di pinggir jalan—tidak direncanakan, tapi rasanya memang harus.
Langkahnya menyusuri nisan yang sudah terlalu ia kenal.
Rahayu.
Nama itu terukir sederhana. Tidak berlebihan. Seperti orangnya. Hasan duduk di hadapan makam. Menghela napas panjang.
“Ayu…” suaranya serak. “Aku baru pulang dari lapas.” Ia tersenyum kecil, getir. “Anak-anak kita… bangkit.”
Ia menunduk. Tangannya menggenggam tanah di dekat nisan.
“Lea sekarang rajin sholat. Ngaji. Ngajarin musik.”
"Qalesya, putrimu bahagia..."
Hasan tertawa pelan, lalu terisak. “Kamu pasti ketawa, ya. Aku baru sekarang ngerti mereka.”
Angin sore berembus pelan. Daun-daun bergerak halus.
“Ayu,” lanjutnya lirih, “aku minta maaf.” Bukan pada nisan itu. Tapi pada dirinya sendiri yang dulu terlalu sombong untuk mendengar.
“Aku janji… aku jaga anak-anak kita.”
“Aku jaga hidupku.”
“Aku belajar jadi ayah yang lebih baik… walau telat.”
Tangisnya jatuh. Tidak ditahan. Tidak disembunyikan.
“Kalau nanti waktuku dipanggil,” bisiknya, “aku pengin pulang dalam keadaan gak ninggalin dendam.”
Ia mengusap wajah, lalu menatap nisan itu lama.
“Terima kasih,” ucapnya pelan. “Karena kamu pernah hidup bersamaku. Karena kamu ninggalin Qalesya, untuk menyadarkanku.”
Hasan berdiri perlahan. Menaburkan bunga.
Ia tahu hidup tidak akan sempurna. Tapi ia juga tahu—ia tidak sendirian dalam memperbaiki diri.
Di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin, Hasan menengadah sebentar. “Bismillah,” gumamnya.
Siang itu, setelah semua selesai, Hasan masuk ke kamarnya. Menutup pintu. Menggelar sajadah.
Ia sholat taubat dengan tubuh bergetar. Tangisnya pecah tanpa ditahan. Tangis seorang ayah yang merasa gagal, lalu diberi kesempatan untuk menebus.
“Terima kasih, Ya Allah,” bisiknya. “Masih Kau izinkan aku melihat anak-anakku bangkit.”
Ia bersujud lama.
Bukan hanya menyesali masa lalu, tapi mensyukuri hari ini.
Di luar kamar, kehidupan berjalan seperti biasa. Tapi di dalam hati Hasan, sesuatu telah benar-benar berubah.
Bukan karena semua masalah selesai.
Melainkan karena ia tahu—harapan masih tumbuh. Diam-diam. Pelan. Tapi nyata.
.
.