Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Refleksi
Perubahan yang baik datang dengan kekonsistenan.
Berupa kebiasaan kecil yang bergeser—cara seseorang menyapa, cara menunggu, cara mendengar tanpa menyela.
Hasan merasakan itu pertama kali di peternakan.
Pagi itu, sinar jingga menyapa dedaunan lebih lembut dari biasanya. Udara masih basah oleh embun, sapi-sapi belum seluruhnya bangun.
Pekerja yang melihatnya sempat terkejut—bukan karena kehadirannya, tapi karena Hasan tidak langsung memberi perintah.
Ia berdiri, mengamati.
“Pak, pakan mau ditambah hari ini?” tanya seorang pekerja muda, ragu.
Hasan mengangguk pelan. “Tambahin dikit. Yang kemarin kelihatan kurang lahap.”
Nada suaranya datar, tidak tinggi, tidak memerintah. Pekerja itu tersenyum kecil, lalu pergi.
Mbak Mun memperhatikan dari kejauhan. Ia mendekat sambil membawa kopi hitam juga camilan beserta laporan pembelian kemarin.
“Tuan,” katanya, menyodorkan semuanya ke meja di bawah pohon. Tak jauh dari Hasan berdiri.
Hasan tersenyum singkat. “Sehat, Mun?”
"Sehat, Tuan." Mbak Mun menjawab ringan, tapi dahinya mengerut. "Tumben nanyain saya," kekehnya.
"Nanya aja dikomen, gak boleh? Ada yang cemburu, kalau aku nanya gitu?" balas Hasan ikut tertawa geli.
Mbak Mun mengibaskan tangannya. Tertawa lepas. "Mana ada, sudah tua. Cuma heran aja, biasanya nggak pernah," kekehnya.
Hasan jarang membangun komunikasi yang baik dengan para pegawainya, termasuk Mun, meski dirinya sudah bekerja di rumah ini puluhan tahun lamanya.
"Aku aneh?"
Mun menggeleng, masih berdiri di sisi meja. "Nggak, Tuan, tapi..."
"Tapi?"
“Lebih banyak diam.” Mbak Mun menatapnya. “Tapi bukan diam yang kayak lagi marah.”
Hasan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Lalu mencecap kopi sambil melihat laporan tadi.
Diamnya kini memang bukan lagi dimaknai sebagai bentuk amarah. Diam kini lebih seperti ruang untuk berpikir.
Siang harinya, Hasan mengurus izin ke lapas. Ia bolak-balik ke kantor, mengisi formulir, menjelaskan rencana Lea. Ada birokrasi. Ada penundaan. Ada tatapan skeptis.
“Piano?” tanya seorang petugas. “Di lapas?”
“Iya,” jawab Hasan mantap. “Untuk pembinaan.”
Tidak semua langsung setuju. Tapi tidak ada yang menolak mentah-mentah. Hasan belajar sabar. Ia tidak lagi ingin semuanya cepat. Ia ingin semuanya diajukan dengan benar.
Sementara itu, di lapas, Lea menjalani hari-harinya dengan ritme baru.
Ia kini tidak hanya dikenal sebagai “napi seni”. Beberapa memanggilnya “Mbak Guru”, setengah bercanda, setengah hormat.
Ada satu dua yang sinis.
“Paling juga cuma cari muka,” celetuk seorang napi lama.
Lea tidak membalas. Ia tetap mengajari. Tetap tersenyum. Tidak semua orang harus mengerti sekarang.
Ia belajar satu hal di dalam lapas, bahwa perubahan tidak perlu dibela dengan kata-kata. Berbuat baik, tak selamanya diterima baik.
Beberapa hari kemudian, Hasan menemui Deni.
Pertemuan mereka tidak dramatis seperti di awal-awal. Tidak ada pelukan lama. Hanya dua laki-laki duduk berhadapan, mertua dan menantu, dipisahkan meja dan waktu.
Hasan mengeluarkan satu bingkai foto. “Ini dari Lea.”
Deni menatap foto itu lama. Tangannya gemetar saat menerima. Istrinya banyak belajar hal baru di sana. Dan foto ini, jepretannya cantik untuk pemula.
“Lea titip pesan,” lanjut Hasan pelan, “dia kangen banget.”
Deni menunduk. Matanya memerah. “Saya juga."
Hasan mengeluarkan ponsel. “Mau direkam suaramu?”
Deni mengangguk.
Rekaman itu singkat. Tidak ada janji besar. Hanya suara laki-laki yang mencoba terdengar kuat. Menyatakan rindu juga kekaguman untuk istrinya.
“Lea… aku juga makin semangat jalani hari di sini. Nggak sabar ketemu kamu suatu saat nanti. Sehat-sehat ya di sana.”
Hasan mematikan rekaman. Dadanya sesak, haru melihat pasangan muda ini memaknai sabar.
Saat pulang, Hasan tahu hidup tidak sedang mudah. Ia mendengar kabar—izin piano mungkin hanya disetujui satu unit. Ada wacana pemindahan lapas. Ada perubahan jadwal kunjungan.
Semua itu belum jadi masalah baginya. Tapi cukup menjadi bayangan, agar Hasan juga menyesuaikan jadwalnya. Mengunjungi Lea, Deni juga Qalesya.
Dan bayangan itu, tanpa disadari, juga sampai ke Elan.
Di dalam lapas Elan, petang turun disertai hujan. Suaranya terdengar nyaring di luar sel.
Elan duduk sendirian di ranjang besi. Tangannya terlipat, pandangannya kosong menatap dinding.
Kata-kata Mama Danisha kembali terngiang.
“Apakah hidupmu bermakna setelah masuk lapas?”
Elan menutup mata.
Ia tidak tahu jawabannya. Belum.
Ia hanya tahu, selama ini hidupnya diisi pembelaan, kemarahan, dan penyangkalan.
Tapi kini—dengan Danisha yang mulai berkarya, dengan orang-orang yang perlahan bangkit—pertanyaan itu tidak lagi bisa ia abaikan.
Apakah aku hanya menunggu waktu… atau mengisinya?
Napasnya berat. Ada sisa marah di dadanya. Ada juga ketakutan.
Elan lantas duduk. Dia celingukan akan mencari seseorang saat jam makan malam nanti.
Sipir sahabatnya. Mereka sudah cukup dekat, saling kenal.
“Kamu kelihatan banyak pikiran,” kata Pak Surya tanpa menoleh.
Elan mengangguk. “Iya, Pak.”
“Mikir apa?”
Elan terdiam sebentar. “Saya… bingung mau ngapain di sini.”
Pak Surya terkekeh kecil. “Baru kepikiran sekarang?”
Elan tersenyum tipis. “Baru sekarang berani nanya ke diri sendiri, sih.”
Pak Surya menoleh. “Pilihanmu banyak. Dapur lagi butuh orang. Unit dokumentasi juga. Atau administrasi—ngurus arsip, laporan. Tapi ya… gak ada yang instan.”
Elan menatap lantai. “Saya tidak pede.”
Pak Surya mengangguk pelan. “Takut itu wajar. Tapi diem nggak ngapa-ngapain juga pilihan.”
Elan menghela napas. “Menurut Bapak… saya cocok di mana?”
Pak Surya berpikir sebentar. “Kamu teliti. Tapi juga emosional. Tukang dokumentasi bisa jadi jalan. Dapur juga bagus—belajar melayani. Administrasi… butuh konsistensi.”
Elan mengangguk. “Kalau saya mau belajar dari nol?”
“Semua di sini dari nol,” jawab Pak Surya datar. “Bedanya cuma mau atau enggak.”
Elan teringat ucapan Mama Danisha.
Bukan tentang memaafkan. Tapi agar kemarahan tidak jadi kebencian.
“Saya gak mau cuma nunggu waktu, makan tidur, bengong,” kata Elan akhirnya.
Pak Surya tersenyum tipis. “Nah. Itu baru keputusan.”
Elan berdiri. Di dalam hatinya masih ada keraguan dan cemas. Tapi langkahnya sedikit lebih pasti.
Malam itu, sebelum tidur, Elan menatap langit-langit sel.
Mungkin hidupku belum bermakna, pikirnya.
Tapi kalau aku masih diberi waktu… aku mau belajar mengisinya. "Jangan mati dulu, Tuhan."
***
Deni baru benar-benar memandangi bingkai foto itu saat malam turun.
Lampu sel kecilnya redup. Dindingnya polos. Foto karya Lea itu sederhana—bayangan jeruji, cahaya yang masuk miring, garis-garis yang tidak lurus. Tidak ada wajah. Tidak ada pose. Tapi Deni tahu : itu Lea. Cara ia melihat dunia selalu seperti itu.
Deni tersenyum lama.
“Cantik,” gumamnya. “Kamu selalu tahu cara bikin sesuatu yang sempit kelihatan lapang.”
Ia menempelkan foto itu di dinding, tepat di depan ranjang. Lalu duduk, bersandar, menatapnya.
Rindunya datang pelan. Tidak meledak. Tidak menyakitkan. Rindu yang hangat, seperti mengingat rumah.
Siang tadi, dia hanya merekam...
[Lea… tolong jaga kesehatan.]
[Jangan lupa makan.]
[Kalau capek, istirahat. Jangan sok kuat.]
Ia tertawa sendiri, masih memandang foto. Ia tahu Lea pasti akan menjawab : kamu juga.
[“Anggap saja kita lagi mesantren,” bisiknya. “Tempatnya beda. Aturannya keras. Tapi tujuannya sama.”]
Ia menghela napas panjang.
[“Kita ketemu nanti,” lanjutnya pelan. “Dengan versi kita yang lebih jujur. Lebih tenang. Lebih tahu cara mencintai.”]
Deni memejamkan mata sejenak.
“Kalau suatu hari kita punya anak…” suaranya sedikit bergetar, tapi senyumnya tetap ada.
“Aku mau mereka tahu—ayah ibunya pernah salah. Tapi gak kabur.”
Ia membuka mata lagi, menatap foto itu.
“Mereka boleh merasa malu” katanya lembut. “Tapi semoga akhirnya… bangga.”
Deni berbaring sambil tersenyum. "Sabar Deni. Sabar."
.
.