Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

It's ok

Pagi kembali datang tanpa target pekerjaan.

Tidak ada alarm keras. Tidak ada catatan di kepala tentang apa yang harus selesai hari ini. Qalesya bangun lebih siang dari biasanya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menegur dirinya sendiri.

Ia duduk di tepi ranjang, meraba perutnya yang hangat.

“Napas pelan,” bisiknya. “Kita jalan pelan.”

Di meja makan, Winda sudah menyiapkan bubur sederhana. Tidak banyak tanya, tidak banyak saran. 

"Qale, emam ya, Nak," serunya sempat memanggil menantu kesayangan, sebelum pergi.

Qalesya menuruni tangga pelan, merentangkan lengan saat Winda akan pergi. Meminta pelukan hangat di anak tangga.

Pagi ini dia makan sendiri. Wafa berangkat pagi sekali, ada urusan di pinggir kota katanya. 

Dia hanya memakan setengah. Perutnya terasa penuh. Qale berhenti. Tidak memaksa untuk makan banyak.

Setelah meminum vitamin, olah raga ringan, ia tidur lagi—tanpa rasa bersalah.

Menjelang siang, Qalesya bangun. Matanya tertuju ke meja di depan ranjang. Dia beringsut membuka laptop.

Bukan untuk menulis panjang. Hanya membaca ulang. Memberi satu catatan kecil di pinggir lalu menutup lagi.

Satu jam. Dua halaman. Cukup.

Ia tersenyum kecil. Dulu, itu terasa seperti beban berat. Sekarang, lebih ringan. Dia belajar menerima perubahan psikis dan fisiknya.

Tak lama kemudian, notifikasi email masuk.

Dari dosen pembimbingnya.

Qalesya membacanya perlahan.

[Terima kasih sudah memberi kabar. Silakan atur ritme sesuai kondisi. Kita lanjutkan ketika kamu siap. Jaga kesehatan.]

Tidak ada tanda seru.

Tidak ada kata manis berlebihan.

L

Tapi cukup membuat dadanya terasa lebih longgar. 

Huft.

Qalesya menutup laptop dan menyandarkan kepala ke kepala ranjang. Ia tidak menangis. Hanya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.

Sore itu, ia meminta Dewi mengantar ke toko Anak Lipat. Tidak lama. Hanya duduk di sana, melihat suasana toko yang dia rindukan.

Ria sedang mengatur jadwal pengiriman. Tangannya cekatan, wajahnya fokus. Ada satu-dua keputusan yang biasanya akan ia tanyakan dulu—kali ini tidak.

“Kalau rasa cokelatnya ditambah dikit, gapapa?” tanya Rini.

Ria mengangguk mantap. “Gapapa. Minggu lalu juga aman.”

Qalesya memperhatikan dari kursi di sudut ruangan, tempat favoritnya dengan Wafa jika mengerjakan sesuatu di sini.

Biasanya, ia ikut campur. Biasanya, ia memastikan semua harus diputuskan lewat dirinya.

Sekarang, Qale diam.

Dan toko tetap berjalan.

Seorang pelanggan datang, tersenyum ramah. “Bu Qalesya lagi jarang kelihatan ya?”

Ria menjawab ringan, tersenyum manis ke arahnya, “Lagi istirahat. Tapi Anak Lipat, tetap sama kok.” 

Kalimat itu sederhana.

Tapi Qalesya menunduk, menahan rasa hangat yang naik ke dadanya.

Ternyata, ia boleh tidak hadir—dan orang tetap mengingatnya. Ketidakhadirannya tanpa menghilangkan apa pun yang sudah berjalan semestinya.

Malam hari, Wafa pulang lebih lambat.

Ia masuk kamar tanpa suara. Menaruh tas, melepas sepatu, lalu duduk di sofa. Kepalanya bersandar, matanya terpejam.

Qalesya yang terbangun, matanya masih sepet tapi dia memperhatikan dari ranjang. 

Wafa tertidur.

Dengan masih mengenakan kemeja kerja.

Qalesya bangun, berjalan pelan mengambil selimut tipis, menyampirkannya ke bahu suaminya. Tidak membangunkannya.

Saat ia berbalik, Wafa membuka mata.

“Jam berapa, Sayang?” tanyanya, suara serak.

“Mas ketiduran,” jawab Qalesya pelan. “Lanjutin aja.”

Wafa tersenyum kecil, lalu duduk tegak mengusap wajahnya. “Enggak. Nanti kamu kehilangan kehangatan.”

Qalesya duduk di sebelahnya. “Aku pikir, Mas capek.”

Wafa mengangguk. Tidak menyangkal.

Mereka diam sejenak.

“Aku lupa beli jeruknya, Sayang,” kata Wafa tiba-tiba. “Padahal kamu dah minta tadi.”

Qalesya tersenyum. “Besok juga bisa.”

Kalimat yang dulu membuatnya sesak, sekarang terasa berbeda.

Malam itu, mereka duduk di balkon kecil. Wafa meminta Qale bersandar, berbaring di dadanya, lalu memeluknya.

Tidak membahas skripsi. Tidak membahas toko. Tidak membahas jadwal.

“Aku sempat takut,” kata Qalesya pelan. “Takut jadi beban.”

Wafa menatap ke depan. “Aku juga takut, Sayang.”

“Takut apa?”

“Takut aku gak cukup sabar buat ngertiin mood kamu.”

Qalesya menoleh.

Wafa melanjutkan, jujur, “Aku juga capek, Sya. Tapi bukan capek yang pengen pergi jauhin kamu, loh.”

Qalesya mengangguk. “Aku gak minta Mas sok kuat terus.”

“Aku tahu,” jawab Wafa. “Makanya aku bilang.”

Angin malam lewat pelan. Wafa menarik selimut, menghangatkan tubuh mereka. Keduanya hanya saling mendekap, sama-sama tidak mencoba mengingkari segala perasaan cemas di hati masing-masing.

Sebelum tidur, Qalesya bergeser ke samping Wafa, menulis satu kalimat di catatan ponselnya. Bukan untuk skripsi.

[Hari ini aku tidak menyelesaikan apa-apa.

Tapi aku tidak merasa gagal.]

Ia menutup gawai itu, menarik lengan suaminya ke dada, lalu berbaring menghadap Wafa.

Wafa menariknya pelan ke dalam pelukan.

“Besok kita jalan pagi, mau?” tanya Wafa.

Qalesya mengangguk. “Ok”

“Sebentar juga gak apa-apa,” jawab Wafa.

Qalesya memejamkan mata. Mengangguk setuju.

Di antara napas yang mulai terhembus pelan, ia menyadari satu hal yang belum pernah benar-benar ia sadari.

Bahwa komitmen tidak selalu tampak seperti perjuangan besar.

Kadang, ia hanya hadir sebagai izin kecil—untuk berhenti sebentar, tanpa merasa tertinggal.

Dan malam itu,

ia tidur tanpa rasa dikejar apa pun...

"Sayang banget sama kamu, Sya." Wafa mengecup pucuk kepala istrinya. "Jangan jadi tangguh, cukup jadi Qalesya yang gemesin, meski sudah jadi ibu nanti, ya, Sayang," lirihnya membelai rambut coklat Qale yang mulai panjang.

"Maaf jika aku tidak banyak respon, kurang sabar dan bicara apa adanya. Aku masih belajar ... Jadi calon ayah ... Jadi suamimu, sekaligus teman." 

Qalesya belum sepenuhnya tidur, dia mendengar gumaman Wafa dan merasa tersanjung. 

Ternyata, meski suaminya sempurna, dia mengikuti keinginan tubuhnya untuk bergerak lambat tidak membuat Wafa jengah padanya.

Wafa yang mengenalnya serba bisa sendiri, tidak menuntutnya melakukan semua sendiri. Qalesya menduselkan kepalanya kian erat ke Wafa.

Lelaki itu tertawa kecil, mengecupi dahi istrinya. 

"Koalanya aku." 

Helaan napasnya terasa sampai perut Qale berdenyut sesekali. 

"Adek, ibu tetep punyanya ayah. Kamu sama mbak Mun aja nanti ya, sama Oma Winda, Opa Hasan ... biar ayah dan ibu konsentrasi ngasih kamu teman main, oke?" kekehnya sambil membayangkan rumah ini ramai dengan bocah kecil miniatur Qale dan dirinya.

"Aamiin," jawab Qale serak.

"Aamiin, Sayang, aamiin."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!