Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Ragu

Pagi itu, Qalesya bangun dengan kepala berat dan dada terasa sempit.

Bukan sesak.

Lebih seperti napas pendek yang terengah-engah, tapi pelan.

Ia duduk lama di tepi ranjang, menghitung detak sendiri. Nyaris lima bulan. Perutnya makin jelas, tapi tenaganya seperti tertinggal entah di mana.

Wafa masih terlelap. Qalesya tak membangunkannya.

Ia ke walk in closet, menuang air, tapi tangan kanannya bergetar ringan. Gelasnya beradu tipis ke meja.

“Aduh…” gumamnya.

Ia duduk. Menunggu sensasi itu reda. Tapi justru kepalanya makin ringan. Qalesya perlahan berdiri, ujung jarinya memegangi sisi meja. 

Berjalan pelan ke lemari, menyiapkan setelah Wafa, aksesoris, dompet, termasuk memeriksa baterai tablet Wafa. Setelahnya dia ke kamar mandi, membersihkan dirinya.

Wafa bangun ketika mencium wangi sabun Qalesya. Dia mencari istrinya ke toilet dan mendapati Qale mematung di depan cermin. 

Dia memeluknya dari belakang, mengusap lembut perut Qale. 

"Besok, bangunkan aku saja ... jangan siapin ini sendiri, adek mulai gede, kamu pasti sesak, Sayang," bisiknya menempelkan wajahnya di bahu Qale sambil menatap cermin.

Qale hanya tersenyum mengangguk, rasanya menjawab pun butuh tenaga. Wafa meminta Qale kembali ke kamar, sementara dia mandi.

Laptop sudah menunggu di meja belajarnya.

Hari ini seharusnya ia mengirim revisi kecil. Ia sudah menyusunnya sejak malam.

Setelah Wafa berangkat kerja, Qale kembali memandang laptop. Namun, sampai siang menjelang tanpa kemajuan berarti.

Qalesya membaca ulang tulisannya untuk kesekian kali. Kalimatnya terasa asing. Seperti ditulis orang lain yang lebih rapi, lebih yakin.

Ia mengubah satu paragraf.

Menghapus.

Menulis ulang.

Menghapus lagi.

Akhirnya, ia menutup laptop.

Dadanya mengencang.

Bukan karena malas.

Tapi karena tidak sanggup.

Tangannya berpindah ke perut, refleks. Gerakan kecil menyapa dari dalam, lembut tapi menuntut perhatian.

“Sebentar ya,” bisiknya. “Ibu lagi… penat.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak mengirim apa pun ke dosen pembimbing hari itu. Dan itu, membuatnya merasa bersalah.

Sore, Wafa pulang.

Ia langsung tahu ada yang tidak beres.

Qalesya tidak menyambut dari pintu. Tidak ada suara dari ruang tengah. Rumah terasa terlalu sepi.

Ia menemukan Qalesya duduk di lantai kamar, punggung bersandar ke sofa, kaki selonjoran menatap kosong ke depan.

“Sayang?” panggilnya pelan.

Qalesya menoleh. Senyumnya muncul terlambat.

“Aku gak ngirim revisi hari ini,” katanya tanpa basa-basi. Wajahnya memelas.

Wafa meletakkan peralatan kerjanya, ponsel, dompet, tablet. Lalu mendekat. Jongkok di depannya.

“Kenapa?” kata Wafa, mengusap pipi Qalesya.

Qalesya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Napasnya terhembus panjang.

“Aku… gak bisa.” Telunjuknya ke arah laptop.

Wafa terdiam sebentar. Lalu berkata, “Ya udah. Besok juga bisa.”

Kalimat itu keluar ringan. Terlalu ringan.

Qalesya menunduk.

“Aku tahu,” katanya pelan. “Tapi biasanya aku gak begini.”

Wafa mengangguk, berusaha menenangkan. “Mungkin kamu cuma kecapekan, Sayang.”

Itu niat baik.

Tapi jatuhnya salah.

Qalesya mengangkat wajah, matanya berkaca. “Aku gak butuh alasan, Mas. Aku butuh Mas ngerti… aku kehilangan kendali.”

Wafa tercekat. Ia ingin menarik kata-katanya kembali. Tapi terlambat, istrinya sudah badmood.

“Aku cuma—” ia berhenti. Menghela napas. “Aku gak tahu harus ngomong apa.” Wafa hanya mampu mengusap pucuk kepala istrinya.

Lalu, mereka diam. Lumayan lama sampai Wafa menopang Qale berdiri dan pindah duduk di tepi ranjang. Dia memijat bahunya pelan, berharap sang istri meras rileks.

Malamnya, Qalesya muntah ringan.

Tidak parah. Tidak dramatis. Tapi cukup membuat Wafa panik setengah mati.

“Besok kita ke dokter,” katanya tegas.

“Aku gak mau skripsiku jadi alasan semua orang nyuruh aku berhenti,” sahut Qalesya cepat.

“Aku gak bilang berhenti.”

“Kedengerannya begitu.”

Nada mereka naik. Tidak tinggi. Tapi tegang. Sampai Winda datang ke kamar mereka, kuatir bertengkar karena hal sepele.

Wafa mengusap wajah. “Aku capek, Sayang.”

Kalimat itu jujur.

Dan itu yang membuat Qalesya terdiam.

“Maaf,” katanya lirih. “Aku juga.”

Mereka duduk berdampingan di ranjang, punggung bersentuhan tipis. Tidak saling menatap.

Winda tak ikut bicara, dia hanya mengusap punggung Qalesya, menaikkan kaki menantunya ke tempat tidur dan memberi pijatan ringan.

Wafa memilih keluar kamar, dirinya butuh udara segar agar tak terbawa mood Qale yang naik turun.

Keesokan paginya, sebelum Wafa berangkat kerja, telepon dari Ria masuk.

“Kak Qale,” suaranya ragu. “Hari ini ada pesanan lumayan, tapi mereka ingin ketemu langsung dengan owner nya.”

Qalesya memejamkan mata.

“Aku gak bisa datang,” katanya pelan.

Ria terdiam sebentar. “Gapapa. Aku tangani.”

Ada jeda.

Lalu Ria menambahkan, lebih pelan, “Ada titipan doa dari anak panti juga, kemarin mereka ke sini.”

Dada Qalesya sesak.

Biasanya, ia ada di sana.

Biasanya, ia yang menyapa.

Biasanya, ia kuat.

Sekarang, tidak.

Setelah menutup telepon, ia menangis tanpa suara. Merasa dirinya lemah, bukan karena kehamilan tapi karena merasa kehilangan kegigihannya.

Wafa melihat dari pintu. Tidak mendekat. Tidak menasehati. Ia hanya memperhatikan, sedikit jauh, tapi tetap ada.

Beberapa menit kemudian, Wafa berkata pelan, “Ada aku, Sayang. Tapi aku gak mau maksa kamu kuat hari ini.”

Qalesya mengangguk. Air matanya jatuh ke lutut.

Sore harinya, mereka ke dokter.

Tidak ada kabar buruk. Hanya satu kalimat yang tertancap di pikiran Qalesya.

[“Kurangi menatap layar. Dengarkan sinyal tubuh Anda.”]

Di mobil, perjalanan pulang menjadi terasa lebih lama karena suasana sunyi. Tak ada percakapan.

“Mas,” kata Qalesya akhirnya. “Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut aku gak bisa jadi semuanya sekaligus.”

Wafa memegang setir lebih erat. “Kita gak pernah sepakat kamu harus jadi semuanya, Sya.”

Qalesya menoleh. “Tapi aku biasa begitu.”

Wafa berhenti di lampu merah. Menatapnya. “Dan sekarang kamu belajar menjeda, Sayang.”

Lampu hijau menyala. Mobil kembali jalan. Tak lama, keduanya tiba di rumah. Winda hanya tersenyum, tak bertanya apapun. Dia tahu, menantunya sedang berkutat dengan banyak hal.

Pandangan dan isyarat jemari Wafa saat melihatnya, sudah menjelaskan bahwa kondisi Qale baik saja.

Malam itu, Qalesya membuka laptop. Tidak untuk melanjutkan skripsinya.

Ia menulis email singkat ke dosen pembimbing. 

[Mohon izin, Bu. Saya butuh waktu tambahan beberapa hari. Kondisi fisik sedang kurang baik. Terima kasih atas pengertiannya.]

Qale menatap layar lama sebelum menekan kirim.

Jarinya gemetar.

Wafa berdiri di belakangnya. Tidak memeluk. Tidak berkata apa-apa.

Hanya berdiri.

Sebelum tidur, Qalesya berbaring miring. Wafa berbaring membelakanginya, memberi ruang.

“Mas,” panggilnya pelan.

Wafa menoleh.

“Aku baru ngerti hari ini.”

“Hmm?”

“Aku capek karena...”

Ia menelan ludah. “Belum bisa menerima … kalau kita gak harus selalu berguna.”

Wafa meraih tangannya. Menggenggam, mengecup kecil jemarinya.

“Kamu gak berguna itu bohong,” katanya. “Kamu hanya gak harus membuktikan apa-apa hari ini.”

Qalesya memejamkan mata, mulai menguap. "Jadi, aku boleh santai kan ya? Gak apa-apa kan?" 

Wafa tersenyum, memeluk menyamping, mengelus kepala istrinya. "Bobok, Sayang. Mau glundang glundung aja pun gapapa, karena kamu ... Qalesya ... istriku..." 

Senyum manis terukir di bibir Qale. Hela napas panjang pun menjadi jawabannya. "Ok."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!