Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Saingan mini

Siang itu, matahari terasa lebih terik dari biasanya.

Qalesya duduk di meja kerja kecil di sudut kamar, laptop terbuka, buku catatan penuh coretan, dan pulpen yang entah sudah berapa kali jatuh ke lantai. Kepalanya sedikit berdenyut. Bukan sakit—lebih seperti sinyal halus dari tubuh yang minta diperhatikan.

Ia menatap layar lama.

Revisi dari dosen pembimbing masih terbuka.

“Perkuat argumentasi di subbab 2.2. Contoh sudah baik, tapi refleksinya bisa diperdalam.”

Qalesya menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggung.

“Diperdalam… diperdalam… aku aja lagi dangkal, Bu,” gumamnya lirih.

Perutnya terasa penuh, tapi anehnya lapar. Tangannya refleks mengelus bagian yang mulai membulat.

“Kita capek ya, Nak,” bisiknya. “Ibu juga.”

Ia berniat berdiri, mengambil minum, tapi entah bagaimana kepalanya terasa ringan. Laptop masih menyala ketika kepalanya akhirnya jatuh pelan ke atas buku catatan.

Qalesya tertidur.

Wafa pulang menjelang sore.

Ketika membuka pintu kamar, ia melihat istrinya tertidur di meja. Rambut Qalesya menutupi sebagian wajahnya, napasnya teratur, satu tangan masih memegang pulpen.

Wafa berhenti di ambang pintu.

Tak langsung membangunkan.

Ia mematikan laptop pelan-pelan, merapikan buku, lalu mengambil selimut tipis. Disampirkannya hati-hati ke bahu Qalesya.

Baru saja selimut menyentuh kulitnya, Qalesya menggerak.

“Mas… jangan dimatiin… aku belum selesai…” gumamnya setengah sadar.

Wafa tersenyum kecil.

“Belum, Sayang. Ini namanya istirahat tak terencana.”

Qalesya membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram.

“Kok Mas udah pulang…”

“Kangen, seperti kamu ngerjain skripsimu.”

Qalesya mendengus pelan. “Nyindir.”

“Tapi peduli,” balas Wafa sambil mengelus rambutnya. “Pusing?”

Qalesya mengangguk kecil. “Dikit. Tapi lebih ke… capek.”

Wafa membantu istrinya berdiri.

“Ayo pindah ke ranjang. Kita lanjut nanti. Atau besok.”

Qalesya menurut, tapi begitu duduk, wajahnya berubah sedikit masam.

“Mas…”

“Hm?”

“Aku pengen mangga.”

Wafa mengangguk cepat. “Oke.”

“Yang satu tangkai isinya dua.”

“Oke.”

“Daunnya masih nempel pas dipetik, daunnya ada dua.”

Wafa berhenti melangkah. Menoleh perlahan.

“… sambel?”

Qalesya mengangkat bahu, wajahnya polos. “Tiba-tiba kepikiran, saos sambal aja.”

Wafa menghela napas, lalu tersenyum pasrah.

“Baiklah. Aku laki-laki dewasa yang kalah sama satu janin.”

Qalesya tertawa kecil. “Jealous, ya?”

“Iya,” jawab Wafa jujur. “Sejak kamu hamil, sainganku kecil tapi ras terkuat."

Qale makin terkekeh, apalagi saat mengikuti Wafa mencari mangga di halaman belakang. Bakar berniat membantu tapi Qale larang. Kuatir mangga itu bau kayu bakar, celetuknya aneh membuat Bakar kesal.

Malam datang pelan.

Qalesya kembali membuka laptop, kali ini di sofa ruang tengah. Revisi dosen ia baca ulang. Jarinya sempat berhenti di satu kalimat, lalu dihapus lagi.

“Aku ngerasa tulisanku jelek,” katanya tiba-tiba.

Winda yang sedang memotong melon, menoleh. “Kenapa?”

“Karena biasanya aku pede. Sekarang kok ragu terus, Maaa.”

Suaranya mengecil. “Takut gak selesai tepat waktu. Takut ngecewain Mas.”

Wafa baru datang, duduk di sebelahnya. Tidak langsung bicara.

“Aku gak tahu harus bilang apa biar kamu tenang,” katanya akhirnya. “Aku bukan dosenmu. Bukan juga kamu.”

Qalesya menunduk.

“Tapi,” lanjut Wafa, “aku tahu satu hal. Kamu bukan orang yang berhenti di tengah jalan. Capek iya. Nangis iya. Tapi berhenti? Enggak.”

Qalesya menelan ludah. “Kalau nanti aku lambat?”

“Ya kita jalan pelan.”

“Kalau aku rewel?”

“Aku dengar.”

“Kalau aku nyebelin?”

Wafa tersenyum miring. “Aku istirahat sebentar, terus balik lagi.”

Qalesya tertawa kecil, matanya berkaca-kaca.

“Kok Mas gak capek sih?”

“Capek,” jawab Wafa jujur. “Tapi capek yang aman.”

Ia menunduk, menempelkan telinganya ke perut Qalesya.

“Adek dengerin ya,” katanya ke dalam perut. “Ibumu ini luar biasa. Jadi jangan nendang pas ayah lagi jenguk, ya.”

Winda melempar punggung putranya dengan kulit melon. "Konyol kamu, Fa!"

Qalesya tersipu, sambil mengusap rambut Wafa pelan.

Menjelang tengah malam, Qalesya menutup laptop.

Belum sempurna. Tapi ada kemajuan.

Ia bersandar di bahu Wafa.

“Mas… aku baru ngerti satu hal hari ini.”

“Apa?”

“Komitmen itu ternyata capek.”

Ia tersenyum kecil. “Tapi gak seseram yang aku kira.”

Wafa mengangguk pelan. “Karena kamu gak sendirian.”

Qalesya memejamkan mata, begitu Wafa membelai kepalanya. 

Di luar, malam berjalan lambat.

Di dalam kamar, dua orang belajar satu hal penting:

Bahwa bertahan bukan tentang kuat terus-menerus—tapi tentang tetap tinggal, bahkan saat lelah.

Dan itu…

ternyata cukup.

***

Esoknya, Anak Lipat buka toko lebih awal dari biasanya.

Bukan karena ada pesanan besar, tapi karena kotak-kotak kue yang berjajar, menunggu untuk dibagi di Jumat berkah.

Ria berdiri di depan meja kasir, mengecek ulang daftar.

Tangannya cekatan, tapi wajahnya semringah.

“Udah siap?” tanya Rini dari dapur.

Ria mengangguk. “Siap. Tinggal nunggu yang datang.”

Belum lama menunggu, seorang ibu paruh baya datang. Pakaiannya sederhana, wajahnya lelah, tapi matanya hangat. Di belakangnya, dua anak kecil berdiri ragu.

“Ini… dari sini ya?” tanyanya pelan, menyodorkan kupon yang sudah disebar.

“Iya, Bu,” jawab Ria sambil tersenyum. “Silakan.”

Ibu itu menerima kotak kue dengan dua tangan. Ia terdiam sebentar, lalu menunduk.

“Makasih, Nak,” katanya lirih. “Jarang ada yang inget kami.”

Ria mengembalikan kupon itu lagi. "Untuk pekan depan ya, Bu."

Ibu itu tersenyum, matanya berkaca-kaca.

“Cuma toko ini yang bolehin kami masuk,” katanya pelan sebelum pergi.

Ria berdiri sebentar, menatap pintu yang menutup.

Tak ada yang mencatat momen itu.

Tak ada yang memotret.

Hanya Anak Lipat yang melihat.

Menjelang siang, rombongan kecil dari panti asuhan datang.

Anak-anak berlarian, mata mereka berbinar melihat etalase. Croissant berjajar rapi, mengilap oleh mentega.

“Ka,” panggil seorang anak laki-laki. “Itu namanya apa?”

“Croissant,” jawab Ria lembut.

Anak itu mengernyit. “Krosong?”

Temannya menyela, lebih yakin. “Bukan. Ko-is-an.”

Dari belakang, seorang bapak yang ikut mengantar tertawa.

“Dari tadi mereka debat. Saya juga bingung nyebutnya.”

Ria tak bisa menahan senyum.

“Kalian mau beli?”

Anak-anak saling pandang. Salah satu dari mereka mengeluarkan uang receh dari saku celana. Menghitung di depan Ria. Rupanya patungan.

“Satu aja.”

Ria terdiam sesaat.

Lalu ia jongkok, sejajar dengan mereka.

“Gini,” katanya pelan. “Hari ini kalian makan mana aja yang mau. Tapi ada satu syarat."

Anak-anak serempak mendekat. “Apa?”

“Kalian doain satu orang.”

“Siapa?”

“Ibu baik,” sahut Rini dari belakang.

Ria mengangguk. “Namanya Qalesya. Lagi hamil. Doain supaya sehat sampai lahiran.”

Anak-anak langsung mengangguk serius, seperti menerima tugas penting.

“Siap,” kata yang paling kecil. “Nanti aku doa paling kenceng.”

Ria tertawa.

Tertawa lepas. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Croissant dibagi. Tawa mereka riuh.

Remah roti jatuh ke meja, ke lantai, ke tawa yang tak dibuat-buat.

“Ko-is-an enak,” kata seorang anak dengan mulut penuh.

“Namanya croissant,” koreksi temannya sok dewasa.

“Ah, sama aja,” sahut yang lain. “Yang penting gratis.”

Ria menutup mulutnya, menahan tawa yang mengalir begitu saja.

Dari luar ruangan, Bakar memperhatikan.

Ia tidak ikut campur.

Tidak memotret.

Hanya melihat.

Melihat Ria tertawa tanpa beban.

Melihat anak-anak makan dengan gembira.

Melihat toko kecil ini hidup dengan caranya sendiri.

Saat anak-anak pamit, salah satu dari mereka menoleh.

“Kak, nanti kalau bayinya lahir, bilang ya. Biar kami doa lagi.”

Ria mengangguk. “Iya. Pasti.”

Pintu tertutup.

Suasana kembali tenang.

Ria berdiri di tengah toko, masih tersenyum.

“Capek?” tanya Bakar pelan.

Ria menggeleng. “Enggak. Aneh ya… rasanya ringan.”

Bakar mengangguk. “Karena hari ini gak ada yang diselamatkan. Cuma ditemani.”

Sore itu, Anak Lipat tutup lebih awal.

Di meja kasir, tersisa remah croissant dan selembar kertas kecil:

Doa anak-anak panti, ditujukan untuk seorang ibu yang sedang menunggu.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!