Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Kian rumit

Qale diseret Hasan Sasmita sampai masuk ke kamar.

"Ayah! Lepasin akuuuuuu!" teriak Qale, menggedor pintu kamarnya berulang kali malam itu.

Dia tidak diizinkan keluar kamar sejak malam itu. Bahkan ponselnya disita. Pintu biliknya terkunci dari luar. Hanya ART lain yang sesekali mengantarkan makanan, tapi tanpa sepatah kata.

Sejak kemarin Qale hanya diam. Malam ini, dia menangis, lalu diam lagi. Kepalanya nyeri, pikirannya riuh. Di luar, tak ada tanda-tanda keberadaan Lea atau sang ayah. Dia betul-betul ditinggalkan.

Sementara di toko. Karyawannya bingung sebab Qale tidak muncul nyaris dua hari. Bahan baku toko menipis dan dia tak punya kuasa untuk restock meskipun ada uang penjualan.

Tak lama, Wafa mendatangi toko setelah beberapa hari terakhir melihat Qale. Dia heran, etalase kosong, hanya ada karyawan baru di sana yang tampak kebingungan.

"Malam, Kak," sapanya ketika Wafa masuk.

"Qale mana?" tanya Wafa langsung.

Dia ragu-ragu. Tapi mendengar nama Qale disebut, gadis itu yakin bahwa pria ini mengenal sang owner toko. "Kak Qale belum datang nyaris dua hari ini. Saya nunggu kabar, sebab nggak bisa hubungin beliau."

Wafa mengangguk, meski dahinya sedikit mengernyit. "Bahan yang kemarin, udah diolah?"

"Sudah semua ... Ini lagi bingung, kalau stock sisa diolah lagi, besok nggak ada bahan. Saya nggak berani mutusin sendiri."

Wafa menatap toko itu, menghela napas. “Oke. Besok tetap buka, beli sesuai kebutuhan harian dulu. Catat semuanya,” titah Wafa sebelum pergi.

Berpuluh menit kemudian, Wafa tiba di kediaman Hasan Sasmita. Dia disambut tatapan waspada dari ART lain. Namun, dia tetap menyampaikan maksudnya dengan tenang.

Wafa melihat sekeliling ruang tamu. Rumah baru keluarga Sasmita lebih modern dibandingkan kediaman lama. Hanya ada satu kesamaan, foto keluarga yang dibingkai kecil tergantung di tembok, seperti yang pernah Wafa lihat dulu.

"Baru nongol, kamu?" sindir Hasan saat melihat Wafa duduk menghadap tembok yang memajang banyak foto.

"Aku mau jemput Qale, Pak," ujarnya kepada Hasan yang akhirnya keluar.

Hasan menatap Wafa lama. Ada ragu di wajahnya, tapi akhirnya mengangguk pelan. "Hem."

Dia memerintahkan ARTnya untuk membuka kamar Qale lalu menyilakan Wafa masuk.

Pintu kamar dibuka. Qale duduk di sudut ranjang, memeluk lutut. Matanya sayu. Dia tak berkata apa pun saat Wafa masuk dan duduk di sampingnya.

Tak ada percakapan. Tapi Wafa tetap di situ. Sementara si ART membantu Qale bersiap, lalu membawakan barang-barang majikannya keluar rumah.

Diam menyertai perjalanan menuju toko. Tapi, entah kenapa, kehadiran laki-laki itu membuat Qale perlahan merasa tenang. Dia melangkah gontai tapi tegar. Tubuhnya rebah sendiri di atas bantal. Tak lama kemudian, dia tertidur.

"Tata, jangan pergi ... Aku takut." Qale mengigau lagi.

Wafa menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Udah mulai inget, ya…” gumamnya pelan saat mendengar Qale mengigau.

Biasanya Qale gelisah saat tidur, tubuhnya kejut beberapa kali. Namun, malam ini istrinya tampak pulas. Wafa pun mengusap kepalanya lembut.

Dia lalu membuka ponsel, mengetik sesuatu sambil sesekali melirik ke arah Qale. Seolah memastikan bahwa Qale masih lelap.

Sebelum pamit, Wafa menaruh sesuatu di atas foto yang tergeletak di meja : mata boneka.

Dia juga meninggalkan sebuah catatan kecil:

"Hati-hati. Jangan lama-lama pulangnya."

Wafa pergi menjelang subuh. Saat Qale terbangun. Matanya tertumbuk pada catatan dan sebuah benda. Matanya membelalak.

“Mata ini … seperti mata—”

Lalu, ia memandangi foto usang yang tergenggam sejak semalam—dirinya dan sang ibu di tepi kolam.

Tiba-tiba semuanya masuk akal.

Dia ingat boneka itu. Dan bahwa satu matanya pernah hilang. Tapi kenapa Wafa yang menyimpan matanya? Kenapa Wafa tahu?

Belum juga tuntas rasa penasarannya, notifikasi masuk ke ponsel.

Dengan tangan gemetar karena lapar, Qale membuka DM akun anonim. Kali ini pesan baru masuk :

["Selamat. Kamu udah mulai ingat, kan? Tapi jangan seneng dulu."]

["Jangan percaya siapa pun. Bahkan dia."]

Napas Qale tersengal. Tangannya masih bergetar. Dia beranjak, menatap sekeliling kamar, lalu ke depan toko. Tapi jalanan masih sepi.

Dia memutuskan salat subuh dan gegas ke pasar. Sepanjang hari dia hanya diam. Menyapa karyawan barunya lalu berkutat dengan adonan. 

Berkali-kali karyawan menawari Qale makan atau minum dulu, tapi dia menolak.

“Aku pengen pulang … tapi aku nggak tahu, aku pulang ke mana.”

"Rumahnya di luar jangkauan ya, Kak?" balas sang karyawan sambil mengelap baki.

"Aku juga nggak tahu harus hubungi dia kemana?" racau Qale, entah mengapa tiba-tiba hampa.

Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya. Ulang-ulang. Sampai senja dan petang kembali datang.

Malam ini, Wafa menjemputnya di toko anak lipat. Tak banyak bicara hanya mengajak pulang. 

"Pulang yuk," katanya pelan saat Wafa baru masuk dan kedua mata mereka beradu.

Sorot mata Qale berbinar. Gegas mengambil tasnya lalu mengikuti Wafa dari belakang. 

Satu jam kemudian, mereka tiba. Kali ini, Qale langsung menghambur masuk ke dalam dan merebahkan badannya di sofa.

Wafa menghampiri, dengan lembut dia berkata, "Jadilah dirimu sendiri di sini." 

Qale masih memejam, merasakan nyaman yang tak biasa. Seketika tubuhnya rileks dan merasa aman.

["Lesa ... Sya ... asalnya dari sini."] 

Dia tiba-tiba terhenyak bangun. Jantungnya berdetak kencang. Qale duduk lalu melihat sekeliling. 

Gelap. Hening.

Pintu kamar Wafa masih tertutup. Ada keraguan dalam hatinya tapi harus dia cari tahu. Qale bangun, berjalan menuju bilik suaminya.

Tapi, tangan kurus itu hanya menggantung di udara. 

"Non Lesa?" 

Qale langsung terlonjak. Suara itu bukan suara Wafa.

Dia menoleh cepat dan melihat ... ART Wafa. Perempuan paruh baya, rambutnya dicepol, berdiri sambil membawa sapu kecil.

"Maaf, Non. Saya kira nggak jadi pulangnya."

Qale mendekat perlahan. Nafasnya berat. "Tunggu ... tadi Ibu manggil apa?"

"Non Lesa..." ART itu ragu.

Qale terdiam. Seolah segala kemungkinan berkecamuk di kepalanya.

"Siapa yang nyuruh manggil aku gitu?" tanyanya pelan, tapi penuh tekanan.

ART itu tampak gugup, ada cemas di sorot matanya.

"Saya disuruh ehhm ... saya cuma ngikutin orang-orang sini yang manggil begitu."

Dahi Qale mengernyit. "Kak Wafa juga tahu? ... Apa dia yang minta aku dilupain?!"

Tangannya mengusap wajahnya kasar. Kepalanya makin riuh.

["Jangan percaya siapa pun. Bahkan dia."]

DM itu kini terasa makin menusuk.

Qale membatin, otaknya berpikir cepat. Bukan Mbak Mun yang ngirim DM itu, lagian dia nggak mungkin ngerti caranya main medsos. 

Jangan-jangan ... Wafa justru bagian dari semua ini?

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!