PESANTREN ANGKER

39. Jejak Baru (Ending)

 

Satu tahun kemudian...

 

Hujan gerimis turun di sore hari. Zahra duduk di teras belakang rumahnya, memegang secangkir teh hangat sambil menatap taman kecil yang mulai rimbun. Kehidupan setahun terakhir terasa seperti mimpi—mimpi indah yang tidak ingin dia bangunkan.

 

Ayahnya, Kyai Rizwan, kini sudah sepenuhnya pulih. Beliau mengajar ruqyah di beberapa pesantren, termasuk Pesantren Al-Hikmah. Wajahnya yang dulu kurus kering kini sudah berisi, senyumnya yang dulu jarang kini sering terlihat.

 

Ibunya, Khadijah, lebih bahagia dari sebelumnya. Rumah selalu penuh tawa. Masakan selalu hangat di meja. Dan yang paling penting—keluarga mereka utuh.

 

Zahra sendiri sudah menjadi ustadzah ruqyah yang cukup dikenal. Banyak orang datang meminta bantuan—dari kasus kesurupan ringan hingga gangguan gaib yang kompleks. Dia membantu mereka dengan ilmu yang diajarkan Kyai Taufiq dan ayahnya, dengan pengalaman yang dia lalui sendiri.

 

"Zahra?" suara ibunya dari dalam rumah. "Ada tamu untukmu."

 

Zahra masuk ke ruang tamu—dan tersenyum melihat siapa yang datang.

 

Bu Le dan Gus Azka.

 

"Bu Le!" Zahra langsung memeluk Bu Le yang baru tiba dari Jogja. "Kapan sampai?"

 

"Tadi siang, Nak," Bu Le melepaskan pelukan sambil tersenyum. "Langsung ke sini. Kangen dengan kalian semua."

 

"Assalamualaikum, Mbak Zahra," Azka memberi salam dengan senyum hangat.

 

"Waalaikumsalam, Gus," Zahra membalas. "Alhamdulillah, sehat semua?"

 

"Alhamdulillah," Azka mengangguk.

 

Mereka duduk di ruang tamu. Khadijah menyajikan kue dan teh. Rizwan yang baru pulang dari masjid ikut bergabung.

 

"Ada keperluan khusus datang ke sini?" tanya Rizwan sambil duduk.

 

Bu Le dan Azka saling berpandangan. Wajah mereka sedikit serius.

 

"Sebenarnya," Bu Le memulai dengan nada hati-hati, "kami datang karena ada sesuatu yang ingin kami sampaikan."

 

Zahra dan Rizwan langsung waspada. "Ada apa, Bu Le?"

 

Azka yang melanjutkan. "Seminggu yang lalu, ada laporan dari Pesantren Al-Hikmah. Beberapa santri mengalami gangguan aneh. Mimpi buruk kolektif. Melihat bayangan hitam. Merasa diawasi."

 

Rizwan mengerutkan dahi. "Mbah Kyai sudah mencoba ruqyah?"

 

"Sudah," Azka mengangguk. "Tapi gangguannya... berbeda. Bukan seperti gangguan jin biasa. Ada yang lebih kuat. Lebih terorganisir."

 

Hening.

 

"Dan yang lebih mengkhawatirkan," Bu Le menambahkan dengan suara pelan, "salah satu santri yang paling parah gangguannya... dia bilang dia melihat sesuatu dalam mimpinya."

 

"Melihat apa?" tanya Zahra dengan perasaan tidak enak.

 

Bu Le menatap Zahra dengan tatapan serius. "Dia bilang... dia melihat Malik Azhraq."

 

Zahra merasakan darahnya membeku. "Tidak mungkin. Malik Azhraq sudah lenyap. Aku melihatnya sendiri terbakar dan terhisap ke sumur."

 

"Aku juga tidak percaya awalnya," Azka menggeleng. "Tapi santri itu menggambar apa yang dia lihat. Dan gambarannya... persis seperti Malik Azhraq. Jubah hitam, mata merah, tanduk, semuanya."

 

Rizwan berdiri, berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang. "Ini tidak baik. Kalau Malik Azhraq benar-benar kembali..."

 

"Atau," Zahra memotong, "ini bukan Malik Azhraq. Tapi jin lain yang mencoba menakut-nakuti dengan menyamar sebagai dia."

 

"Bisa jadi," Bu Le mengangguk. "Tapi kita tidak bisa mengabaikannya. Mbah Kyai meminta Zahra datang ke pesantren. Untuk memeriksa sendiri."

 

Zahra menatap ayahnya—mencari persetujuan.

 

Rizwan terdiam lama. Wajahnya penuh kekhawatiran. "Aku tidak mau kamu terlibat dalam bahaya lagi, Zahra."

 

"Tapi kalau memang ada yang harus dilakukan, aku tidak bisa diam, Ayah," Zahra menjawab mantap. "Ini bagian dari tanggung jawabku sebagai ustadzah ruqyah."

 

"Aku akan ikut," Rizwan memutuskan. "Kita hadapi bersama-sama."

 

"Tidak, Ayah," Zahra menggeleng. "Ayah masih harus jaga kesehatan. Biar aku yang pergi. Dengan Bu Le dan Gus Azka, aku aman."

 

Rizwan ingin protes, tapi Khadijah menyentuh tangannya dengan lembut. "Percaya pada anak kita," bisik Khadijah. "Dia sudah dewasa. Dia sudah kuat."

 

Rizwan menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi kamu harus janji—kalau situasinya berbahaya, kamu langsung keluar. Jangan memaksakan diri."

 

"Aku janji, Ayah," Zahra tersenyum menenangkan.

 

***

 

Keesokan harinya, Zahra, Bu Le, dan Gus Azka berangkat ke Pesantren Al-Hikmah. Perjalanan memakan waktu beberapa jam dengan kereta.

 

Sesampainya di pesantren, Kyai Taufiq menyambut mereka dengan wajah lelah.

 

"Alhamdulillah, kalian datang," ucap Kyai Taufiq sambil memeluk Zahra. "Situasinya semakin buruk. Tadi malam, lima santri mengalami gangguan bersamaan."

 

"Boleh saya bertemu dengan santri yang paling parah gangguannya, Kyai?" tanya Zahra.

 

"Tentu. Ikut saya."

 

Mereka dibawa ke kamar isolasi—sebuah kamar kecil di ujung pesantren yang dindingnya ditempel ayat-ayat Al-Quran.

 

Di dalam, seorang santri putri berusia sekitar tujuh belas tahun duduk di sudut ruangan—memeluk lututnya, menatap kosong ke depan. Wajahnya pucat. Matanya cekung.

 

"Namanya Siti," Kyai Taufiq berbisik. "Dia yang paling parah. Sudah tiga hari tidak mau makan. Hanya diam seperti itu."

 

Zahra mendekat perlahan. Berlutut di depan Siti dengan lembut.

 

"Assalamualaikum, Siti," sapa Zahra pelan.

 

Siti tidak menjawab. Hanya menatap dengan tatapan kosong.

 

Zahra membuka mata batinnya—dan langsung melihat.

 

Ada bayangan hitam menempel di punggung Siti. Seperti lintah raksasa yang menghisap energi.

 

"Ya Allah," bisik Zahra.

 

"Ada apa, Nak?" Bu Le bertanya dari belakang.

 

"Ada sesuatu menempel padanya," jawab Zahra. "Jin parasit. Menghisap energi spiritualnya."

 

Zahra mengangkat tangannya, meletakkannya di dahi Siti. Mulai membaca Ayat Kursi dengan suara pelan tapi penuh keyakinan.

 

"Allahu laa ilaaha illaa Huw, Al-Hayyul-Qayyuum..."

 

Bayangan hitam di punggung Siti mulai bergetar.

 

"Laa ta'khuzuhuu sinatuw wa laa nawm..."

 

Bayangan itu mulai melepaskan diri.

 

Tapi tiba-tiba—

 

Siti membuka mulutnya. Dan suara yang keluar... bukan suaranya. Suara berat. Suara yang membuat bulu kuduk berdiri.

 

Suara yang sangat familiar.

 

"Selamat bertemu lagi... anak Rizwan..."

 

Zahra membeku.

 

Siti—atau apapun yang menguasai tubuhnya—mengangkat kepalanya. Matanya berubah merah menyala.

 

Dan dia tersenyum.

 

Senyum lebar dengan gigi yang terlalu runcing untuk manusia.

 

"Kau pikir... aku benar-benar lenyap?" suara itu tertawa. "Kau pikir... kau bisa membunuh sesuatu yang sudah hidup ratusan tahun... semudah itu?"

 

Zahra mundur selangkah. Jantungnya berdebar kencang.

 

"Malik Azhraq," bisiknya dengan suara bergetar.

 

"Bukan," suara itu menggeleng. "Malik Azhraq memang lenyap. Tapi sebelum lenyap... dia meninggalkan hadiah. Meninggalkan kami. Anak-anaknya. Utusan-utusannya. Dan kami... akan melanjutkan misinya."

 

Mata merah itu menatap Zahra dengan tatapan lapar.

 

"Gerbang Kegelapan memang tertutup. Tapi ada gerbang lain. Gerbang yang lebih kecil. Gerbang yang bisa dibuka... sedikit demi sedikit. Dan kamu, anak Rizwan... adalah kunci yang sempurna."

 

Zahra merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.

 

"Gus, Bu Le," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari Siti. "Kita punya masalah besar."

 

Gus Azka langsung maju, berdiri di samping Zahra. Bu Le membaca ayat pelindung dengan suara keras.

 

Tapi jin yang menguasai Siti hanya tertawa.

 

"Kalian tidak bisa menghentikan kami. Kami banyak. Kami tersebar. Dan kami... baru saja memulai."

 

Lalu tubuh Siti jatuh terkulai—pingsan.

 

Jin itu pergi. Tapi pesan nya tertinggal.

 

Zahra, Azka, dan Bu Le saling berpandangan dengan wajah pucat.

 

Di luar jendela, langit mendung tiba-tiba. Petir menyambar di kejauhan.

 

Dan di suatu tempat yang gelap, di dimensi yang tidak terlihat mata manusia, ratusan pasang mata merah menyala.

 

Mengawasi.

 

Menunggu.

 

Bersiap.

 

Karena pertarungan yang sebenarnya...

 

Baru saja dimulai.

 

---

 

**— TAMAT —**

 

---

 

**EPILOG**

 

*Beberapa tahun kemudian, Zahra menjadi salah satu ustadzah ruqyah paling disegani di Indonesia. Bersama Gus Azka yang akhirnya menjadi suaminya, dan Bu Le yang menjadi mentor spiritual mereka, Zahra terus membantu orang-orang yang terganggu jin dan makhluk gaib.*

 

*Kyai Rizwan kembali mengajar di berbagai pesantren, berbagi pengalaman dan ilmu untuk generasi baru.*

 

*Pesantren Al-Falah yang kini menjadi Masjid An-Nur tetap berdiri sebagai simbol kemenangan cahaya atas kegelapan.*

 

*Tapi seperti yang dikatakan jin itu...*

 

*Ada gerbang-gerbang lain.*

 

*Ada kegelapan-kegelapan lain.*

 

*Dan Zahra tahu, suatu saat, dia harus menghadapinya lagi.*

 

*Tapi kali ini, dia tidak sendirian.*

 

*Dia punya keluarga.*

 

*Dia punya iman.*

 

*Dan dia punya cahaya yang tidak akan pernah padam.*

 

---

 

**PENYELAMATAN AYAH**

**— SELESAI —**

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!