PESANTREN ANGKER

37. Awal yang Baru

 

Tiga bulan telah berlalu sejak kepulangan Kyai Rizwan. Musim hujan berganti musim kemarau. Kehidupan perlahan kembali normal—atau setidaknya, normal versi baru untuk keluarga ini.

 

Pagi itu, Zahra bangun lebih awal dari biasanya. Dia merapikan kerudungnya di depan cermin, mengenakan gamis hijau muda yang rapi. Hari ini adalah hari pertamanya mengajar di Pesantren Al-Hikmah—menjadi ustadzah ruqyah muda di bawah bimbingan Kyai Taufiq.

 

"Sudah siap, Nak?" suara Khadijah dari pintu kamar.

 

Zahra menoleh. "Insya Allah, Bu. Tapi deg-degan."

 

Khadijah masuk, duduk di samping Zahra. "Wajar deg-degan. Tapi Ibu yakin kamu bisa. Kamu sudah belajar banyak. Kamu sudah melewati ujian yang jauh lebih berat dari ini."

 

"Tapi mengajar itu berbeda, Bu," Zahra menghela napas. "Aku takut tidak bisa menjelaskan dengan baik. Takut mengecewakan Kyai Taufiq."

 

"Kyai Taufiq tidak akan kecewa," suara Rizwan terdengar dari ambang pintu.

 

Ayahnya berdiri di sana—sudah tidak sekurus dulu. Tiga bulan dengan makanan bergizi dan kasih sayang keluarga membuatnya sedikit lebih berisi. Janggutnya sudah dipangkas rapi. Wajahnya lebih cerah.

 

"Kamu adalah murid yang sangat cepat belajar," lanjut Rizwan sambil masuk dan duduk di samping Zahra. "Kyai Taufiq bilang, dalam tiga bulan ini kamu sudah menguasai ilmu ruqyah yang biasanya butuh bertahun-tahun untuk dipelajari."

 

"Itu karena kemampuanku yang sudah ada sejak kecil, Ayah," Zahra tersenyum tipis. "Bukan karena aku pintar."

 

"Kemampuan tanpa usaha tidak ada artinya," Rizwan mengelus kepala putrinya. "Kamu belajar keras. Kamu tekun. Kamu ikhlas. Itu yang membuatmu istimewa."

 

Zahra memeluk ayahnya. "Terima kasih, Ayah. Doakan aku ya."

 

"Selalu," Rizwan mengecup dahi putrinya.

 

***

 

Di Pesantren Al-Hikmah, Zahra disambut oleh Bu Le yang sudah menunggu di gerbang.

 

"Assalamualaikum, Nak!" sapa Bu Le dengan senyum lebar. "Selamat datang kembali!"

 

"Waalaikumsalam, Bu Le," Zahra turun dari angkot, memeluk Bu Le hangat. "Bu Le tidak pulang ke Jogja?"

 

"Belum," Bu Le menggeleng. "Bu Le masih mau di sini beberapa bulan lagi. Bantu Kyai Taufiq mengurus pesantren. Lagipula... Bu Le sudah terlalu rindu dengan kalian semua kalau pulang sekarang."

 

Mereka berjalan bersama menuju ruang kelas. Di sepanjang jalan, santri-santri yang berpapasan memberi salam dengan hormat pada Zahra—mereka sudah tahu siapa Zahra. Putri Kyai Rizwan yang legendaris. Wanita yang berhasil mengalahkan Malik Azhraq.

 

"Mbak Zahra sudah terkenal," Bu Le berbisik dengan senyum. "Santri-santri di sini sangat menghormatimu."

 

"Aku tidak merasa nyaman dengan itu," Zahra menggeleng. "Aku bukan siapa-siapa. Hanya... orang biasa yang dibantu Allah."

 

"Justru itu yang membuat mereka hormat," Bu Le menepuk bahu Zahra. "Kamu tidak sombong. Kamu rendah hati."

 

Di ruang kelas, ada sekitar lima belas santri putri duduk rapi—menunggu dengan wajah penasaran. Mereka semua perempuan muda, usia belasan hingga awal dua puluhan.

 

Zahra berdiri di depan kelas. Gugup. Tangannya sedikit gemetar.

 

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapanya.

 

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," santri-santri menjawab serempak.

 

"Perkenalkan, saya Zahra Kamilah," Zahra memulai. "Saya akan mengajar kalian tentang dasar-dasar ruqyah dan perlindungan diri dari gangguan gaib."

 

Satu santri mengangkat tangan. "Ustadzah, benarkah Ustadzah pernah mengalahkan jin Ifrit?"

 

Zahra terdiam sejenak. "Bukan mengalahkan. Tapi... dilindungi Allah saat menghadapi ujian berat."

 

"Tapi kata Gus Azka, Ustadzah sangat berani," santri lain menambahkan. "Masuk sendirian ke dimensi gaib."

 

"Bukan sendirian," Zahra menggeleng. "Aku ditemani Bu Le dan Gus Azka. Dan yang paling penting, Allah bersama kami."

 

Dia menarik napas. "Kalian harus paham. Ilmu ruqyah bukan untuk menjadi hebat. Bukan untuk pamer kekuatan. Tapi untuk membantu orang yang menderita. Untuk melindungi diri dan keluarga dari kejahatan. Itu tujuannya."

 

Santri-santri mengangguk dengan serius.

 

"Sekarang," Zahra melanjutkan dengan lebih percaya diri, "kita mulai dari dasar. Siapa yang sudah hafal Ayat Kursi?"

 

Semua tangan terangkat.

 

Zahra tersenyum. "Bagus. Sekarang kita belajar memahami makna di balik setiap kalimatnya. Karena bacaan tanpa pemahaman... hanya suara kosong."

 

Kelas dimulai. Dan Zahra menemukan bahwa mengajar... tidak sesulit yang dia bayangkan. Santri-santri antusias. Bertanya banyak. Dan Zahra bisa menjawab dengan baik—berbekal pengalaman nyata yang dia lalui.

 

***

 

Sore harinya, setelah kelas selesai, Zahra duduk di taman pesantren bersama Gus Azka.

 

"Bagaimana hari pertama mengajar?" tanya Azka sambil menyerahkan segelas teh hangat.

 

"Alhamdulillah, lancar," Zahra tersenyum. "Santri-santrinya baik. Mudah diatur."

 

"Syukurlah," Azka ikut tersenyum. "Aku tadi mengintip dari jendela. Mbak Zahra mengajar dengan bagus. Tenang. Jelas."

 

Zahra melirik Azka. "Gus mengintip?"

 

Azka tertawa. "Bukan mengintip. Cuma... memastikan Mbak Zahra baik-baik saja."

 

Mereka terdiam sejenak. Menikmati sore yang teduh.

 

"Gus Azka," panggil Zahra pelan. "Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk sudah menemani aku sampai sejauh ini."

 

Azka menatap Zahra—ada sesuatu dalam tatapannya. Sesuatu yang hangat. Tapi dia langsung menunduk.

 

"Sama-sama, Mbak Zahra. Itu sudah tugasku."

 

"Bukan hanya tugas," Zahra menggeleng. "Gus rela mempertaruhkan nyawa. Itu bukan sekadar tugas."

 

Azka terdiam. Lalu tersenyum tipis. "Mungkin... lebih dari tugas."

 

Hening.

 

Zahra merasakan pipinya memanas. Dia tidak bodoh—dia tahu apa yang tersirat dalam kata-kata Azka. Dan jika dia jujur pada diri sendiri... dia juga merasakan sesuatu.

 

Tapi ini bukan waktu yang tepat. Mereka baru saja melewati ujian berat. Keluarganya baru saja bersatu kembali. Ada banyak hal yang harus dia benahi dulu.

 

"Gus," ucap Zahra pelan, "aku menghargai apa yang Gus rasakan. Tapi... aku butuh waktu. Aku masih harus fokus membantu Ayah pulih. Fokus belajar. Fokus mengajar."

 

Azka mengangguk paham. "Aku tahu, Mbak. Aku tidak berharap jawaban sekarang. Aku hanya... ingin Mbak Zahra tahu. Bahwa aku ada. Dan aku akan menunggu. Selama apapun."

 

Zahra tersenyum—senyum yang hangat. "Terima kasih, Gus."

 

***

 

Malam itu, di rumah, Zahra menceritakan hari pertamanya pada ayah dan ibu saat makan malam.

 

"Santri-santrinya baik-baik, Ayah. Mereka antusias belajar," cerita Zahra sambil menyuap nasi.

 

"Alhamdulillah," Rizwan tersenyum. "Ayah bangga kamu sudah bisa mengajar. Melanjutkan ilmu yang Ayah pelajari dulu."

 

"Tapi aku masih banyak belajar dari Ayah," Zahra menambahkan. "Setiap malam Ayah mengajariku hal baru."

 

Memang benar—setiap malam setelah Isya, Rizwan mengajar Zahra tentang ilmu ruqyah tingkat lanjut, tentang dimensi gaib, tentang cara melindungi diri dari serangan spiritual. Khadijah juga kadang ikut mendengarkan.

 

"Ayah senang bisa berbagi ilmu," Rizwan menggenggam tangan Khadijah di sampingnya. "Ilmu yang berguna untuk melindungi orang lain."

 

"Ayah sudah mulai mengajar lagi di masjid, kan?" tanya Zahra.

 

Rizwan mengangguk. "Seminggu dua kali. Mengajar ngaji untuk anak-anak. Ayah tidak mau terlalu berat dulu. Masih harus jaga kesehatan."

 

"Bagus," Khadijah menambahkan sambil menyuapi Rizwan sayur. "Pelan-pelan saja. Jangan terburu-buru seperti dulu."

 

Rizwan tersenyum pada istrinya. "Iya, Bu. Aku janji."

 

Setelah makan malam, mereka duduk di ruang keluarga—menonton TV bersama. Acara sederhana. Tapi hangat.

 

Zahra menatap ayah dan ibunya yang duduk berdampingan di sofa—ayahnya bersandar di bahu ibu, ibunya menggenggam tangan ayah.

 

Dua puluh satu tahun terpisah. Tapi cinta mereka tidak pernah pudar.

 

"Ayah, Ibu," panggil Zahra pelan.

 

Mereka menoleh.

 

"Aku bersyukur punya kalian," ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca. "Bersyukur bisa melihat kalian bersama. Bersyukur punya keluarga yang utuh."

 

Khadijah tersenyum. "Kami juga bersyukur, Nak. Bersyukur punya anak seperti kamu. Berani. Kuat. Penuh iman."

 

Rizwan mengangguk. "Kamu adalah anugerah terbesar kami, Zahra. Bukti bahwa cinta kami tidak sia-sia."

 

Zahra menghampiri kedua orang tuanya—duduk di tengah mereka. Khadijah memeluknya dari kiri. Rizwan dari kanan.

 

Keluarga yang utuh.

 

Keluarga yang sempat hancur, tapi kini bersatu kembali.

 

Keluarga yang diuji, tapi tidak kalah.

 

Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang.

 

Tapi kali ini, tidak ada yang perlu ditakutkan.

 

Karena kegelapan sudah berlalu.

 

Yang tersisa hanya cahaya.

 

Cahaya cinta.

 

Cahaya harapan.

 

Cahaya keluarga yang tidak akan pernah padam.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!