PESANTREN ANGKER
Bab 02. Pengakuan Tak Terduga
Zahra melangkah masuk ke rumah dengan perasaan berat. Setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan yang tidak selalu manis. Dinding cat krem dengan ornamen kaligrafi Arab, lantai keramik putih yang selalu bersih, dan aroma kemenyan samar yang selalu ada di setiap sudut rumah.
Rumah besar ini punya tiga belas kamar tidur. Kyai Syamsul Hadi punya tiga istri dan sepuluh anak. Zahra adalah anak keempat dari istri kedua—ibunya, Khadijah.
Dari istri pertama, Nyai Wardah, Kyai Syamsul punya empat anak: Fatimah dan Maryam—keduanya sudah menikah dan punya anak, Umar yang menjadi ustadz di pesantren, serta Aisyah—hampir seumuran Zahra hanya beda beberapa bulan saja. Dia baru menikah tahun lalu.
Dari istri kedua, ibunya, hanya satu anak: Zahra.
Ibu Zahra sakit-sakitan setelah melahirkannya. Dokter bilang, rahimnya lemah. Tidak bisa hamil lagi. Dan sejak saat itu, Kyai Syamsul menikah dengan istri ketiga, Nyai Siti Aisyah.
Dari istri ketiga ada lima anak: Salman, Zaki, Hasan, Husein, dan Khadijah yang paling muda—namanya diambil dari nama ibu Zahra sebagai bentuk penghormatan, meski ironisnya ibu Zahra sendiri tidak pernah dihormati di rumah itu.
Zahra berjalan ke arah dapur. Di sana, ibunya sedang mengaduk masakan di kompor besar. Rambutnya yang sudah memutih sebagian tertutup kerudung coklat tua. Tubuhnya kurus, bungkuk sedikit. Wajahnya pucat dan lelah.
"Ibu..."
Khadijah menoleh. Wajahnya yang lelah tiba-tiba berubah terkejut. Centong kayu di tangannya hampir jatuh.
"Zahra?!" Khadijah langsung memeluk putrinya erat. "Ya Allah, kenapa kamu pulang? Kenapa nggak kabari Ibu dulu?"
Zahra membalas pelukan ibunya. Air mata yang sudah dia tahan sejak tadi kembali mengalir. Dia menenggelamkan wajahnya di bahu ibunya yang kurus.
"Ibu..." suaranya bergetar. "Zahra... Zahra dicerai, Bu."
Khadijah membeku. Pelukannya mengendur. Dia mendorong tubuh Zahra pelan, menatap wajah putrinya dengan mata yang melebar.
"Apa? Dicerai? Kenapa? Kenapa bisa begitu?"
Zahra menggeleng, tidak sanggup menjawab. Tangisnya pecah. Khadijah memeluknya lagi, kali ini lebih erat. Tangannya yang kurus mengelus punggung Zahra berulang kali.
"Sabar, Nak. Sabar. Cerita pelan-pelan sama Ibu."
"Mas Farhan ceraikan Zahra karena Zahra mandul, Bu. Zahra tidak bisa hamil. Sudah tiga tahun kami menikah tapi tidak ada tanda-tanda kehamilan. Bapak dan ibu mertua mendesak Mas Farhan untuk punya anak. Mereka butuh penerus pesantren. Tapi Mas Farhan tidak mau poligami, jadi dia memilih ceraikan Zahra."
Khadijah menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh.
"Astaghfirullah... astaghfirullah..."
"Zahra sudah bilang ikhlas kalau dia mau poligami, Bu. Tapi dia tidak mau. Dia bilang lebih baik cerai daripada harus berbagi hati. Padahal sejak awal Zahra tahu, dia tidak pernah benar-benar mencintai Zahra." Zahra menghapus air matanya kasar. "Sekarang Zahra janda, Bu. Janda cerai. Maaf, Zahra sudah mempermalukan keluarga."
"Jangan bilang begitu, Nak. Ini bukan salahmu. Ini takdir Allah." Khadijah mengusap pipi Zahra lembut. Tapi matanya menyimpan rasa bersalah yang dalam.
Zahra menatap ibunya. Ada sesuatu dalam tatapan itu. Sesuatu yang aneh.
"Ibu kenapa?" tanya Zahra pelan.
Khadijah menggeleng cepat. "Tidak. Tidak apa-apa. Ibu cuma sedih dengar nasibmu begini."
Sebelum Zahra bisa bertanya lagi, suara keras datang dari arah ruang tamu.
"SIAPA YANG DATANG?!"
Suara itu berat dan penuh wibawa yang selalu membuat Zahra merinding sejak kecil.
Ayahnya. Kyai Syamsul Hadi.
Khadijah menatap Zahra dengan tatapan cemas. "Ayahmu memanggil. Ayo temui dia."
Zahra mengangguk lalu menarik napas dalam. Dia tidak siap bertemu sang ayah. Tapi mau bagaimana lagi?
Mereka berdua berjalan ke ruang tamu. Di sana, Kyai Syamsul Hadi duduk di kursi kayunya yang besar. Laki-laki berusia lima puluh tujuh tahun itu mengenakan sarung kotak-kotak dan koko putih. Jenggotnya lebat memutih. Matanya tajam dan dingin.
Disampingnya berdiri Nyai Siti, istri ketiga. Wanita gemuk berkerudung hitam itu menatap Zahra dengan tatapan mengejek.
"Zahra pulang, Mas," ucap Khadijah pelan.
Kyai Syamsul menatap Zahra dari atas sampai bawah. Tatapannya menusuk.
"Kamu pulang? Kenapa tidak memberitahu? Suamimu tahu kamu pulang ke sini?"
Zahra menunduk. Tangannya gemetar. "Assalamualaikum, Pak."
"Waalaikumsalam. Jawab pertanyaan Bapak."
"Zahra... Zahra sudah tidak punya suami lagi, Pak."
Hening.
Kyai Syamsul mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Zahra dicerai. Hari ini. Di Pengadilan Agama Malang."
BRAK!
Kyai Syamsul memukul meja di sampingnya keras. Zahra terlonjak kaget. Khadijah langsung berdiri di depan putrinya, seolah melindungi.
"DICERAI?!" suara Kyai Syamsul menggelegar. "Kamu dicerai? Kamu berani pulang ke rumah ini dengan status janda cerai?!"
"Mas, tolong dengarkan penjelasan Zahra dulu—" Khadijah mencoba menenangkan.
"DIAM!" Kyai Syamsul menatap tajam istrinya. Khadijah langsung terdiam, gemetar.
Kyai Syamsul berdiri. Tubuhnya tinggi besar. Dia melangkah mendekati Zahra. Setiap langkahnya berat, penuh amarah.
"Apa alasan Farhan menceraikan kamu? Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu selingkuh? Kamu durhaka pada suami?"
"Tidak, Pak! Zahra tidak pernah—"
"LALU KENAPA?!"
Zahra menggigit bibir. Air matanya jatuh lagi. "Zahra dinyatakan mandul, Pak. Zahra tidak bisa memberikan keturunan. Sudah tiga tahun menikah tapi tidak ada anak. Mas Farhan dan keluarganya butuh penerus. Jadi, dia putuskan untuk ceraikan saya."
Kyai Syamsul terdiam. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal.
"Mandul," ucapnya pelan. Lalu dia tertawa sinis yang membuat bulu kuduk Zahra berdiri. "Mandul. Pantas saja."
Zahra mendongak. "Apa maksud Bapak?"
Kyai Syamsul menatap Zahra dengan tatapan yang aneh. Tatapan yang penuh dengan sesuatu yang Zahra tidak mengerti. Kecewa? Marah? Atau jijik?
"Darah memang tidak pernah salah," gumam Kyai Syamsul keras. "Kamu memang tidak mewarisi apapun dari keluarga ini. Tidak mewarisi ketaatan. Tidak mewarisi kebaikan. Bahkan tidak mewarisi keberkahan untuk punya anak!"