PESANTREN ANGKER

Bab 03. Bukan Darah Daging

Zahra tercekat. Ada yang aneh dari ucapan ayahnya. Sangat aneh.

 

"Apa... apa maksud Bapak?"

 

"Sudah, Mas. Jangan bicarakan itu sekarang—" Khadijah mencoba menghentikan suaminya. Tapi Kyai Syamsul mengangkat tangan, menyuruhnya diam.

 

"Tidak, Khadijah. Sudah saatnya dia tahu." Kyai Syamsul menatap Zahra lagi. "Kamu bukan anakku."

 

Dunia Zahra seolah berhenti berputar.

 

Suara di sekitarnya memudar.

 

Jantungnya berhenti berdetak sejenak.

 

Lalu berdetak lagi—keras, cepat, tidak beraturan.

 

"A... apa?!"

 

"Kamu dengar aku. Kamu. Bukan. Anakku." Kyai Syamsul mengucapkan setiap kata dengan jelas. Dingin. Tanpa perasaan.

 

Zahra menatap ayahnya—laki-laki yang selama dua puluh satu tahun dia panggil 'Bapak'—dengan tatapan tidak percaya. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.

 

Dia menoleh ke ibunya. "Bu… apa yang Bapak bilang itu benar?"

 

Khadijah hanya menunduk. Tubuhnya gemetar. Air matanya jatuh deras.

 

"IBU!" Zahra sedikit berteriak. Memaksa ibunya menjawab. "Apa benar Zahra bukan anak Bapak?!"

 

Khadijah mengangguk pelan. Sangat pelan. Tapi cukup jelas untuk menghancurkan dunia Zahra berkeping-keping.

 

Zahra mundur selangkah. Lututnya lemas. Dia hampir jatuh kalau tidak berpegangan pada meja.

 

"Tidak... tidak mungkin..."

 

"Sekarang kamu tahu," ucap Kyai Syamsul dingin. "Pantas saja kamu tidak seperti anak-anakku yang lain. Fatimah taat pada suaminya, sudah punya dua anak. Maryam juga, sudah punya tiga anak. Bahkan Aisyah yang baru menikah tahun lalu sudah hamil enam bulan. Tapi kamu? Kamu malah dicerai. Mempermalukan nama baik keluarga ini."

 

"Mas, tolong jangan bicara begitu." Khadijah mencoba memohon.

 

"Kamu juga, Khadijah!" Kyai Syamsul menatap istrinya dengan tatapan tajam. "Aku sudah baik mau menerima kamu yang sudah janda hamil. Aku kasih nama baik untuk anak orang lain itu. Aku beri dia makan, tempat tinggal, pendidikan. Dan sekarang? Dia membalas budi dengan mempermalukan keluarga ini?!"

 

"Anak orang lain orang lain?!" Zahra berkata lirih. Dadanya sesak. Kepalanya pusing. "Jadi, saya memang bukan anak Bapak.” 

 

Zahra terdiam. Otaknya bekerja cepat, menyusun potongan-potongan puzzle yang selama ini tidak masuk akal.

 

Semua perlakuan berbeda. Tidak pernah diajak berkumpul keluarga dengan hangat. Selalu diperlakukan seperti tamu di rumah sendiri.

 

Dan yang paling menyakitkan—saat menikah tiga tahun lalu, ayahnya tidak mau menjadi wali nikah.

 

"Bapak ada ceramah di luar kota. Tidak bisa hadir. Pakai wali hakim saja," katanya waktu itu.

 

Padahal Fatimah, Maryam, bahkan Aisyah, semua dinikahkan langsung oleh ayahnya dengan penuh kehangatan.

 

Zahra selalu bertanya-tanya, kenapa hanya dia yang harus pakai wali hakim?

 

Sekarang Zahra mengerti.

 

Bukan karena ayahnya sibuk.

 

Tapi karena dia menghindari menjadi wali nikah untuk anak yang bukan darah dagingnya.

 

Dalam hukum Islam, wali nikah harus dari garis keturunan darah. Ayah tiri tidak bisa menjadi wali jika ada wali nasab yang lebih berhak.

 

Dan Kyai Syamsul tahu itu. Dia tahu sejak awal. Jadi dia menghindari. Membiarkan Zahra menikah dengan wali hakim tanpa penjelasan.

 

"Pantas saja..." Zahra berbisik pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Air matanya jatuh lagi. "Pantas saja..."

 

Zahra melirik ayah tirinya dengan air mata yang berlinang. “Lalu siapa ayah kandung saya? Di mana dia sekarang?!"

 

"Tidak tahu. Dan aku tidak peduli." Kyai Syamsul menjawab dingin. "Yang jelas, kamu bukan tanggung jawabku lagi sekarang."

 

Zahra menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Ibu…tolong jelaskan! Siapa ayah kandungku? Kenapa aku baru tahu sekarang?! Kenapa Ibu tidak pernah bilang?!"

 

Khadijah tidak bisa menjawab. Dia hanya menangis, tubuhnya gemetar hebat.

 

"CUKUP!" Kyai Syamsul memukul meja lagi. "Aku tidak mau dengar kalian menyebut-nyebut pria tidak bertanggung jawab itu! Zahra, kamu boleh menginap di sini malam ini saja. Besok pagi, kamu harus pergi. Aku tidak mau menerima anggota keluarga yang berstatus janda cerai. Kecuali cerai mati, itu masih bisa dimaafkan. Kamu bahkan dicerai karena tidak berguna!"

 

"Mas, dia anakku! Tolong jangan usir dia!" Khadijah berlutut di hadapan suaminya. "Dia tidak punya tempat lain untuk pulang!"

 

"Itu bukan urusanku. Dia bukan anakku, jadi bukan tanggung jawabku."

 

Zahra menatap ayah tirinya dengan tatapan kosong—sekarang dia tahu, laki-laki ini memang bukan ayahnya. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi kekuatan untuk menangis.

 

Dia sudah terlalu lelah.

 

Terlalu hancur.

 

Di satu hari, dia kehilangan suami, kehilangan status, dan sekarang kehilangan identitas dirinya sendiri.

 

"Baiklah," ucap Zahra pelan. Suaranya datar. Hampa. "Saya akan pergi besok pagi. Terima kasih sudah mengizinkan menginap semalam."

 

Zahra berbalik, berjalan menuju tangga. Langkahnya gontai. Tubuhnya terasa berat.

 

"Zahra!" Khadijah memanggil, tapi Zahra tidak menoleh.

 

Dia terus berjalan naik ke lantai dua. Menuju kamarnya. Kamar kecil di pojok yang selalu jadi kamarnya sejak kecil. Kamar yang tidak pernah direnovasi seperti kamar-kamar saudaranya yang lain.

 

Zahra masuk, menutup pintu, lalu merosot di lantai.

 

Dia memeluk lututnya. Menenggelamkan wajahnya di sana.

 

Dan akhirnya, dia menangis sejadi-jadinya. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang peduli.

 

Dia sendirian.

 

Benar-benar sendirian.

 

---

 

Di luar kamar, Khadijah berdiri dengan punggung bersandar pada dinding. Tangannya menutup mulut, menahan tangis. Air matanya terus mengalir.

 

"Maafkan Ibu, Zahra," bisiknya pelan. "Maafkan Ibu..."

 

Sementara di lantai bawah, Kyai Syamsul duduk kembali di kursinya. Wajahnya keras. Tidak ada penyesalan.

 

Nyai Siti duduk di sampingnya, tersenyum tipis. "Sudah seharusnya begitu, Mas. Anak orang lain tidak pantas diberi tempat di keluarga kita."

 

Kyai Syamsul tidak menjawab. Dia hanya menatap kosong ke depan.

 

Tapi ada sesuatu dalam tatapannya.

 

Sesuatu yang mirip rasa bersalah.

 

Sesuatu yang dia pendam sejak dua puluh satu tahun lalu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!