PESANTREN ANGKER
25. Wahyu dalam Shalat
Malam semakin larut. Zahra tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada pertemuan dengan ibunya siang tadi. Pada dua tasbih yang kini menjadi satu di tangannya. Pada perjalanan berat yang menantinya.
Di sampingnya, Bu Le sudah tertidur dengan tenang. Napasnya teratur. Wajahnya damai.
Zahra melirik jam dinding—pukul 02.30 dini hari. Waktu Tahajud.
Dengan perlahan, Zahra bangkit dari tempat tidur. Mengambil wudhu dengan air dingin yang membuat tubuhnya segar. Lalu mengenakan mukena putih.
Dia berdiri di atas sajadah, menghadap kiblat. Tangannya yang memegang dua tasbih terkepal di dada.
"Allahu Akbar," bisiknya pelan.
Zahra memulai shalat Tahajud. Dua rakaat pertama, dia baca dengan khusyuk. Suaranya pelan, tapi setiap huruf terucap jelas.
Saat sujud, air matanya jatuh.
"Ya Allah," bisiknya dengan suara bergetar. "Hamba tidak tahu apakah hamba mampu melakukan ini. Hamba takut. Hamba lemah. Tapi hamba percaya, Engkau tidak akan memberikan beban yang tidak sanggup dipikul hamba."
Dia mengangkat kepala, duduk di antara dua sujud. Lalu sujud lagi.
"Ya Allah, tunjukkan jalan pada hamba. Beri hamba kekuatan. Lindungi hamba dan orang-orang yang menemani hamba. Dan... selamatkan ayah hamba."
Selesai dua rakaat, Zahra tidak langsung salam. Dia melanjutkan lagi. Dua rakaat. Empat rakaat. Enam rakaat.
Sampai akhirnya, dia duduk dalam tasyahud terakhir rakaat kedelapan.
Saat itulah, terjadi sesuatu.
Tiba-tiba, cahaya putih lembut memenuhi ruangan.
Zahra merasakan tubuhnya terasa sangat ringan. Seperti melayang.
Dia membuka mata—tapi bukan mata fisiknya. Mata batinnya.
Dan dia melihat...
Sebuah dimensi yang berbeda dari biasanya. Bukan dimensi gelap seperti saat diserang. Bukan pula dimensi berisi cahaya-cahaya seperti saat latihan.
Ini adalah dimensi yang sangat... suci.
Langit di atasnya berwarna emas keputihan. Bumi di bawahnya seperti permadani cahaya yang lembut. Udara dipenuhi wangi kasturi yang menenangkan.
Di depannya, berdiri sesosok makhluk bercahaya. Sangat tinggi. Sangat megah. Berjubah putih bersinar. Sayap besar terlipat di punggungnya.
Malaikat.
Zahra tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas—terlalu terang. Tapi dia merasakan auranya. Aura yang sangat damai. Sangat suci.
"Assalamualaikum," bisik Zahra dengan suara gemetar.
Malaikat itu mengangguk. Lalu berbicara—bukan dengan suara yang terdengar, tapi langsung ke dalam hati Zahra.
*"Kamu dipilih untuk tugas yang berat, anak manusia. Tugas yang mungkin membuatmu kehilangan segalanya."*
Zahra menelan ludah. "Saya... saya tahu."
*"Tapi kamu tidak sendirian,"* malaikat itu melanjutkan. *"Allah bersama hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Dan kamu... hatimu ikhlas."*
Tiba-tiba, cahaya di sekitar malaikat itu berubah. Membentuk gambar.
Zahra melihat ayahnya—Kyai Rizwan—terkurung dalam sangkar energi biru. Wajahnya pucat. Tubuhnya kurus kering. Tapi matanya... matanya masih hidup. Masih penuh harapan.
"Ayah..." bisik Zahra dengan air mata mengalir.
*"Dia menunggumu,"* ucap malaikat itu. *"Dia menunggu dua puluh satu tahun. Menahan penderitaan yang tidak bisa dibayangkan. Karena dia tahu... suatu saat kamu akan datang."*
Gambar berubah lagi. Kali ini menunjukkan Pesantren Al-Falah yang bobrok. Gelap. Menakutkan.
*"Tempat ini adalah gerbang kegelapan,"* malaikat itu menjelaskan. *"Jika Gerbang itu terbuka sepenuhnya, dunia akan diliputi kegelapan. Jutaan jin jahat akan bebas. Manusia akan menderita."*
Zahra merasakan dadanya sesak.
*"Tapi kamu bisa menghentikannya,"* lanjut malaikat itu. *"Dengan iman. Dengan pengorbanan. Dan dengan cinta."*
"Bagaimana caranya?" tanya Zahra dengan suara bergetar.
Malaikat itu mengangkat tangannya. Dari tangannya, keluar cahaya putih yang membentuk tulisan Arab di udara:
*"Dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."* (QS. Al-Insyirah: 5-6)
*"Ingatlah ayat ini,"* ucap malaikat itu. *"Saat kamu merasa tidak sanggup lagi, ingatlah. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."*
Cahaya di sekitar malaikat itu semakin terang.
*"Pergilah dengan hati yang bersih. Bawa mereka yang ikhlas. Dan percayalah—kemenangan adalah milik mereka yang yakin pada Allah."*
Lalu malaikat itu perlahan memudar.
Zahra ingin bertanya lebih banyak. Tapi cahaya putih itu sudah menelannya.
***
Zahra tersentak—kembali ke dunia nyata.
Dia masih duduk di atas sajadah. Masih dalam posisi tasyahud terakhir. Tapi air matanya mengalir deras.
Dengan suara bergetar, dia mengucapkan salam.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."
Begitu salam, Zahra langsung bersujud lagi. Menangis tersedu-sedu.
"Ya Allah... terima kasih... terima kasih telah menunjukkan jalan pada hamba..."
Di sampingnya, Bu Le terbangun. Wanita itu langsung duduk, melihat Zahra menangis dalam sujud.
"Nak?" Bu Le mendekat dengan khawatir. "Kamu kenapa?"
Zahra mengangkat wajahnya. Matanya merah, basah oleh air mata. Tapi ada senyum di wajahnya—senyum yang penuh kedamaian.
"Bu Le," bisiknya, "saya melihat malaikat. Saya... saya mendapat petunjuk."
Bu Le tercekat. "Alhamdulillah..." Air matanya jatuh. "Alhamdulillah, Nak."
Bu Le memeluk Zahra erat. Mereka berdua menangis bersama—tangis bahagia, tangis lega, tangis penuh syukur.
***
Pagi itu, setelah shalat Subuh berjamaah, Zahra, Gus Azka, dan Bu Le berkumpul di ruang tamu Kyai Taufiq.
Zahra menceritakan pengalaman spiritualnya tadi malam. Tentang malaikat yang dilihatnya. Tentang pesan yang diterimanya.
Kyai Taufiq mendengarkan dengan seksama. Wajahnya tenang tapi matanya berkaca-kaca.
"Subhanallah," bisiknya setelah Zahra selesai bercerita. "Kamu mendapat ru'ya—penglihatan spiritual yang benar. Ini bukan mimpi biasa. Ini petunjuk dari Allah."
"Apa artinya, Kyai?" tanya Zahra.
"Artinya," Kyai Taufiq menjawab dengan nada serius, "Allah meridhai niatmu. Dia membukakan jalan untukmu. Dan yang paling penting—Dia menjanjikan kemenangan, selama kamu tetap ikhlas dan yakin."
Gus Azka yang duduk di seberang berbicara. "Mbah, kalau Mbak Zahra sudah mendapat petunjuk seperti ini... artinya sudah waktunya?"
Kyai Taufiq terdiam lama. Sangat lama.
Lalu dia mengangguk pelan.
"Ya," jawabnya dengan suara berat. "Sudah waktunya. Kita tidak bisa menunda lagi. Malik Azhraq semakin kuat setiap hari. Dan ayah Zahra... dia tidak sanggup bertahan lebih lama lagi."
Zahra merasakan dadanya berdebar.
"Tapi sebelum kalian berangkat," Kyai Taufiq melanjutkan, "aku harus melakukan uji kelayakan terakhir."
"Uji kelayakan?" Zahra mengerutkan dahi.
"Ruqyah langsung padamu," jawab Kyai Taufiq. "Untuk memastikan tidak ada kelemahan spiritual yang bisa dieksploitasi Malik Azhraq. Untuk memastikan kamu benar-benar siap."
Zahra menelan ludah. "Kapan, Kyai?"
"Sekarang."
Hening.
Kyai Taufiq berdiri dengan bantuan tongkatnya. "Ikut aku."
Mereka semua mengikuti Kyai Taufiq ke ruang latihan. Ruangan yang sama tempat mata batin Zahra dibuka pertama kali.
Kyai Taufiq duduk di tengah ruangan. "Zahra, duduk di hadapanku. Azka, Bu Le, kalian bantu pegang kalau dia memberontak."
"Memberontak?" Zahra menatap Kyai Taufiq bingung.
"Ruqyah bisa sangat menyakitkan kalau ada sesuatu yang salah di dalam dirimu," Kyai Taufiq menjelaskan. "Bisa jadi ada jejak energi gelap yang menempel tanpa kamu sadari. Bisa jadi ada keraguan tersembunyi di hatimu. Ruqyah akan mengeluarkan semuanya."
Zahra duduk bersila dengan gugup. Bu Le duduk di sampingnya, memegang tangannya. Gus Azka di sisi satunya.
Kyai Taufiq menutup mata. Tangannya terangkat, diletakkan di atas kepala Zahra.
Lalu dia mulai membaca.
"Bismillahirrahmanirrahim... A'udzu billahi minasy syaithanir rajim..."
Zahra merasakan kehangatan dari tangan Kyai Taufiq. Hangat dan menenangkan.
"Qul huwallaahu ahad, Allaahus-shamad, lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakul-lahuu kufuwan ahad..."
Kehangatan itu berubah panas. Zahra menggigit bibirnya.
"Allahumma rabban-naas, adzhib al-ba's, isyfi anta asy-syaafi..."
Panas semakin hebat. Seperti api di dalam dadanya.
Tapi Zahra tidak berteriak. Tidak memberontak. Dia menutup mata, membaca dzikir dalam hati.
Kyai Taufiq terus membaca. Semakin keras. Semakin khusyuk.
Dan tiba-tiba—cahaya putih memancar dari tubuh Zahra.
Cahaya yang sangat terang. Memenuhi seluruh ruangan.
Bu Le dan Gus Azka menutup mata karena silau.
Kyai Taufiq tersenyum. Air matanya jatuh.
"Alhamdulillah..." bisiknya. "Bersih. Hatimu bersih. Tidak ada kegelapan di dalammu."
Cahaya perlahan meredup. Zahra membuka mata—matanya bersinar putih samar sebelum kembali normal.
"Kyai?" bisiknya dengan suara lemah.
Kyai Taufiq melepaskan tangannya. "Kamu lulus, Nduk. Kamu benar-benar siap."
Dia menatap Gus Azka dan Bu Le. "Besok, kalian bertiga akan berangkat ke Lampung."
Gus Azka tersentak. "Besok, Mbah?"
"Ya," Kyai Taufiq mengangguk. "Tidak ada waktu lagi. Bulan purnama tiga hari lagi. Kalau kalian tidak sampai sebelum itu, ritual Malik Azhraq akan sempurna."
Zahra, Bu Le, dan Gus Azka saling berpandangan.
Ini dia. Waktunya sudah tiba.
Kyai Taufiq berdiri. Dia membuka lemari tua di sudut ruangan, mengeluarkan sebuah tas kain besar.
"Ini perbekalan kalian," ucapnya sambil menyerahkan tas itu pada Gus Azka. "Air zam-zam yang sudah dibacakan seribu kali Ayat Kursi. Minyak zaitun yang sudah diruqyah. Jubah putih berlambang kaligrafi pelindung. Tasbih kayu gaharu. Dan Al-Quran saku."
Gus Azka menerima tas itu dengan hormat. "Terima kasih, Mbah."
Kyai Taufiq menghampiri Zahra. Tangannya yang keriput menyentuh dahi Zahra dengan lembut.
"Semoga Allah melindungimu, Nduk," bisiknya. "Semoga Dia memberi mu kekuatan. Dan semoga... kamu berhasil membawa ayahmu pulang."
Zahra memeluk Kyai Taufiq. "Terima kasih, Kyai. Untuk semuanya."
Malam itu, Zahra tidak bisa tidur lagi.
Besok, perjalanannya akan dimulai.