PESANTREN ANGKER

20. Gangguan dan Pengendalian

Hari-hari berikutnya, Zahra menghabiskan waktu dengan belajar dan berlatih. Setiap pagi setelah Subuh, dia menghafalkan doa-doa bersama Bu Le. Setiap siang, dia berlatih mengendalikan mata batinnya dengan bimbingan Gus Azka—sementara Bu Le selalu ada di samping mereka, menjaga batasan antara Zahra dan Azka yang sejatinya bukan mahram. Dan setiap sore, dia belajar ayat-ayat Al-Quran dengan Bu Le.

 

Sementara malam hari, Zahra semakin banyak melihat mereka.

 

Makhluk-makhluk halus yang berkeliaran di sekitar pesantren. Ada yang hanya lewat. Ada yang berdiri menatap. Ada yang mencoba mendekat—tapi selalu mundur saat Zahra membaca Ayat Kursi.

 

Perlahan, Zahra mulai terbiasa. Dia tidak lagi ketakutan setiap melihat mereka. Dia belajar untuk tenang. Untuk fokus.

 

Dan yang paling penting, dia mulai merasakan kekuatannya sendiri.

 

Bu Le selalu tidur di kamarnya. Menemani. Menjaga. Seperti ibu menjaga anaknya.

 

Suatu malam, saat Zahra sedang membaca Al-Quran di kamarnya—sementara Bu Le sedang bersama anak-anak santri—tiba-tiba lampu padam.

 

Kamar menjadi gelap gulita.

 

Zahra merasakan udara menjadi dingin. Sangat dingin.

 

Dia tahu ada sesuatu.

 

"A'udzu billahi minasy syaithanir rajim," bisiknya sambil memegang tasbih.

 

Tiba-tiba, terdengar suara tawa. Tawa pelan. Mengerikan.

 

Zahra menoleh—dan melihatnya.

 

Sosok hitam tinggi berdiri di sudut kamar. Mata merah menyala menatapnya.

 

Ini bukan makhluk halus biasa. Ini lebih kuat.

 

"Anak Rizwan…" suara berat bergema di ruangan. Suara yang membuat bulu kuduk berdiri.

 

Zahra mengepalkan tangannya. Jantungnya berdebar, tapi dia tidak mau ketakutan.

 

"Siapa kamu?" tanya Zahra dengan suara gemetar tapi berusaha tegas.

 

"Aku utusan tuanku," jawab sosok itu. "Tuan Malik Azhraq mengirimku untuk membawakan pesan."

 

"Pesan?"

 

"Berhenti mengejar atau kamu akan memyesal," desis sosok itu. "Kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan tuanku. Kamu hanya akan mati sia-sia. Sama seperti ayahmu yang sekarang menderita sendirian di alam kami."

 

Zahra merasakan amarahnya bangkit. "Jangan bicara tentang ayah ku!"

 

"Kamu marah?" sosok itu tertawa. "Kamu ingin menyelamatkannya? Kamu pikir bisa melakukannya? Kamu hanya manusia lemah. Anak kecil yang tidak tahu apa-apa."

 

"Aku bukan anak kecil!" teriak Zahra. Tangannya mengangkat tasbih. "Dan aku tidak takut padamu!"

 

Zahra mulai membaca dengan suara keras.

 

"Allahu laa ilaaha illaa Huw, Al-Hayyul-Qayyuum! Laa ta'khuzuhuu sinatuw wa laa nawm!"

 

Sosok itu meringis. Mundur sedikit.

 

"Lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil ardh! Man dzal-ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi-idznih!"

 

Cahaya putih mulai muncul dari tasbih di tangan Zahra. Cahaya yang hangat. Cahaya yang membuat sosok itu meraung kesakitan.

 

"BERHENTI!" teriak sosok itu.

 

Tapi Zahra tidak berhenti. Dia terus membaca. Semakin keras. Semakin yakin.

 

"Ya'lamu maa bayna aydiihim wa maa khalfahum! Wa laa yuhiithuuna bi-syay-im-min 'ilmihii illaa bimaa syaa-a!"

 

Cahaya putih semakin terang. Memenuhi ruangan.

 

Sosok itu meraung—lalu meledak menjadi asap hitam. Menghilang.

 

Hening.

 

Zahra masih berdiri dengan tasbih di tangan. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya gemetar—tapi bukan karena takut.

 

Karena dia baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

 

Dia baru saja mengusir makhluk gaib.

 

Pintu kamar terbuka. Bu Le masuk dengan tergesa-gesa, membawa lentera.

 

"Nak! Ada apa? Bu Le dengar suara—" Dia berhenti, melihat Zahra berdiri di tengah kamar dengan wajah pucat tapi penuh kemenangan.

 

"Ada apa, Nak?" tanya Bu Le khawatir sambil langsung memeluk Zahra.

 

"Ada utusan Malik Azhraq," jawab Zahra dengan suara bergetar. "Dia datang. Mengancam saya. Tapi, sudah berhasil saya usir dengan Ayat Kursi."

 

“Alhamdulillah…,” Bu Le memeluk Zahra lebih erat, air matanya jatuh. "Alhamdulillah, Nak. Kamu sudah bisa mengendalikan kekuatanmu."

 

Gus Azka muncul di pintu, wajahnya tegang. Dia menatap Zahra dengan tatapan kagum bercampur khawatir. Azka mendengar percakapan Zahra dan Bule saat baru tiba di depan kamar

 

"Alhamdulillah, Mbak berhasil," ucapnya. "Tapi ini juga berarti sesuatu yang berbahaya mulai mengincar."

 

"Maksud, Gus?" tanya Zahra. 

 

"Jin Malik Azhraq mengirim utusan. Artinya dia sudah tahu Mbak Zahra sedang mengasah kemampuan," jawab Azka dengan nada serius. "Dia mungkin mulai merasa terancam. Ini pertanda baik, tapi juga berbahaya."

 

Zahra mengangguk. Dia paham.

 

Pertarungan yang sesungguhnya semakin dekat.

 

Bu Le memeluk Zahra lebih erat. "Apapun yang terjadi, kami akan selalu mendukungmu. Kami tidak akan membiarkan kamu sendirian."

 

Zahra merasakan air matanya jatuh. "Terima kasih, Bu Le."

***

Seminggu berlalu sejak Zahra berhasil mengusir utusan Malik Azhraq. 

 

Makhluk-makhluk halus yang berkeliaran di sekitar pesantren. Semakin hari, semakin banyak. Semakin berani. Seolah tahu bahwa Zahra sedang berlatih—dan mencoba mengujinya.

 

Tapi Zahra tidak lagi takut. Setiap kali mereka mendekat, dia membaca Ayat Kursi. Dan mereka selalu mundur.

 

Pagi itu, setelah shalat Subuh, Gus Azka menunggu Zahra di ruang latihan. Bu Le seperti biasa menemani dengan duduk di samping Zahra.

 

"Hari ini," Azka berkata dengan nada serius, "kita akan latihan yang berbeda. Bukan hanya melihat. Tapi berinteraksi."

 

Zahra mengerutkan dahi. "Berinteraksi dengan mereka?"

 

Azka mengangguk. "Mbak harus belajar berkomunikasi dengan makhluk gaib. Membedakan mana yang berbahaya, mana yang tidak. Mana yang bisa dimintai informasi, mana yang harus langsung diusir."

 

"Kenapa harus berkomunikasi?" tanya Zahra. "Bukankah lebih baik langsung mengusir saja?"

 

"Tidak semua makhluk gaib jahat," Bu Le menjelaskan dengan lembut. "Ada jin muslim yang tidak mengganggu manusia."

 

"Kalau Mbak langsung mengusir semua tanpa pandang bulu," Azka melanjutkan, "Mbak bisa menyakiti yang tidak bersalah. Atau malah kehilangan informasi penting."

 

Zahra mengangguk paham. "Lalu bagaimana cara membedakan?"

 

"Dengan merasakan energi mereka," jawab Azka. "Setiap makhluk punya aura yang berbeda. Jin jahat punya aura gelap, dingin, menakutkan. Jin muslim punya aura netral. Malaikat punya aura terang, hangat, menenangkan."

 

"Sekarang," Azka berdiri, "coba Mbak buka mata batin. Lihat sekeliling. Apa yang Mbak rasakan?"

 

Zahra menutup mata sebentar. Membaca doa pembukaan dalam hati. Lalu membuka mata.

 

Ruangan yang tadinya kosong kini dipenuhi cahaya-cahaya kecil melayang. Ada yang putih. Ada yang kebiruan. Ada yang kekuningan.

 

"Saya melihat cahaya-cahaya dengan warna berbeda," ucap Zahra pelan.

 

"Bagus," Azka tersenyum. "Itu energi spiritual. Sekarang, fokus pada satu cahaya. Rasakan. Apa yang Mbak rasakan?"

 

Zahra menatap salah satu cahaya putih yang melayang dekat jendela. Dia memusatkan perhatian. Merasakan…

 

Hangat. Damai. Tenang.

 

"Hangat," bisik Zahra. "Seperti… pelukan ibu."

 

"Itu energi baik," Bu Le tersenyum. "Mungkin malaikat penjaga."

 

"Sekarang coba lihat cahaya yang lain," Azka menunjuk cahaya kebiruan di sudut ruangan.

 

Zahra menatap cahaya itu. Merasakan…

 

Dingin. Tapi tidak menakutkan. Netral. Seperti angin malam.

 

"Dingin," ucap Zahra. "Tapi tidak menakutkan. Seperti… cuek. Tidak peduli."

 

"Itu mungkin jin yang hanya lewat," Azka menjelaskan. "Tidak mengganggu, tapi juga tidak membantu. Biarkan saja."

 

"Bagus sekali, Nak," Bu Le menepuk tangan pelan. "Kamu bisa merasakan perbedaannya."

 

"Tapi kalau ada energi gelap," Azka melanjutkan dengan nada serius, "energi yang membuat bulu kuduk berdiri, yang membuat napas sesak, yang membuat takut—itu yang harus langsung diusir. Jangan ditunda. Jangan ragu."

 

Zahra mengangguk. "Baik, Gus."

 

"Sekarang," Azka berkata, "kita akan latihan komunikasi. Mbak akan mencoba memanggil jin muslim yang ada di sekitar pesantren ini. Memintanya datang. Lalu bertanya."

 

"Bertanya apa?" tanya Zahra.

 

"Apa saja," jawab Azka. "Yang penting, Mbak belajar berkomunikasi tanpa takut. Belajar mengontrol situasi."

 

Bu Le menggenggam tangan Zahra. "Bu Le di sini, Nak. Jangan takut."

 

Zahra menarik napas dalam. "Baik. Saya siap."

 

Azka membuka kitab di pangkuannya. "Bacakan doa pemanggilan ini. Pelan-pelan. Dengan niat memanggil jin muslim yang tidak jahat."

 

Zahra menerima kitab itu. Membaca doa dalam bahasa Arab dengan tartil.

 

"Bismillahirrahmanirrahim… Ya ayyuhal jinn al-muslimiin… in kuntum fi haadzal makaan… fa aqbil ila haadzal majlis… bi-idznil Laahi ta'ala…"

 

(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang… Wahai jin-jin muslim… jika kalian ada di tempat ini… datanglah ke majelis ini… dengan izin Allah Yang Maha Tinggi…)

 

Hening.

 

Tidak ada yang terjadi.

 

Zahra menatap Azka bingung. "Tidak ada—"

 

Tiba-tiba, cahaya kebiruan di sudut ruangan bergerak. Mendekat. Perlahan.

 

Zahra merasakan bulu kuduknya berdiri. Tapi bukan karena takut. Karena… ada sesuatu.

 

Cahaya itu berhenti di tengah ruangan. Melayang. Diam.

 

"Assalamualaikum," ucap Zahra pelan dengan suara bergetar.

 

Hening.

 

Lalu terdengar suara. Suara yang sangat pelan. Seperti bisikan angin.

 

"Wa'alaikumussalam…”

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!