PESANTREN ANGKER

19. Latihan

Malam hari, Zahra terbangun di tengah malam. Kamarnya gelap. Hanya ada cahaya bulan samar masuk dari jendela.

 

Di sebelahnya, Bu Le tertidur di atas tikar dengan selimut tipis. Wajahnya tenang. Napasnya teratur. Dia sengaja tidur di kamar Zahra untuk menjaganya.

 

Zahra merasakan ada yang aneh. Udara terasa dingin. Sangat dingin. Meskipun ini musim panas.

 

Zahra duduk di tempat tidur. Matanya menyesuaikan dengan kegelapan.

 

Dan tiba-tiba, Zahra melihatnya.

 

Di sudut kamar. Berdiri. Sosok hitam tinggi. Tidak bergerak. Menatapnya.

 

Jantung Zahra langsung berdebar kencang. Napasnya tercekat.

 

"Siapa… kamu?" bisik Zahra dengan suara bergetar.

 

Sosok itu tidak menjawab. Hanya berdiri. Diam.

 

Zahra meraih tasbih di sampingnya. Tangannya gemetar. Dia mulai membaca ayat perlindungan dengan suara pelan supaya tidak membangunkan Bu Le.

 

"A'udzu billahi minasy syaithanir rajim…"

 

Sosok itu bergerak. Melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.

 

Zahra mundur ke dinding. "Jangan mendekat!"

 

"Bismillahirrahmanirrahim…"

 

Sosok itu terus maju. Dan saat cahaya bulan menyinarinya—Zahra melihat wajahnya.

 

Bukan wajah manusia. Wajah itu pucat. Mata kosong. Mulut terbuka lebar seperti menjerit tanpa suara.

 

Zahra berteriak, dan Bu Le Halimah langsung terbangun.

 

"Nak, ada apa?" tanya Bu Le sambil langsung duduk, melihat wajah Zahra yang pucat ketakutan.

 

Zahra menunjuk ke sudut kamar. "Di sana! Ada—"

 

Tapi sosok itu menghilang. Sudut kamar itu kosong.

 

Bu Le langsung berdiri, menyalakan lampu. Cahaya hangat ruangan.

 

"Tidak ada apa-apa, Nak," ucap Bu Le pelan sambil memeluk Zahra yang gemetar.

 

"Tapi… tapi saya melihatnya, Bu!" Zahra berkata dengan suara bergetar. "Sosok hitam. Wajahnya mengerikan."

 

Bu Le mengelus kepala Zahra dengan lembut. "Bu Le percaya kamu melihatnya, Nak. Itu efek samping pembukaan mata batin. Sekarang kamu bisa melihat mereka. Makhluk-makhluk yang selama ini tidak terlihat."

 

"Mereka ada di sekitar kita, tapi manusia biasa tidak bisa lihat. Kamu sekarang bisa," Bu Le menjelaskan dengan sabar. "Tapi kamu tidak perlu takut. Mereka tidak bisa menyakitimu selama kamu dalam perlindungan Allah."

 

"Apa mereka selalu ada, Bu?" tanya Zahra ketakutan.

 

"Tidak selalu," Bu Le menjawab. "Tapi di tempat-tempat tertentu, mereka lebih banyak. Terutama di malam hari. Dan terutama kalau ada orang dengan kemampuan sepertimu. Mereka tertarik pada energi spiritual."

 

Bu Le melirik tasbih di tangan Zahwa. "Ini tasbih ayahmu, kan?"

 

Zahra mengangguk sambil melirik tasbih di tangannya. "Bagaimana Bu Le tahu?"

 

"Bu Le juga Tasbih yang sama. Pemberian dari eyang guru kami,” ucap Bu Le Halimah. “Tasbih itu sudah dibacakan ayat-ayat perlindungan. Kalau kamu melihat mereka lagi, pegang tasbih ini dan baca Ayat Kursi. Mereka akan pergi."

 

Zahra mengangguk. Tangannya masih gemetar.

 

Bu Le duduk di samping Zahra, menggenggam tangannya dengan hangat. "Bu Le, boleh Bu Le cerita sesuatu?"

 

"Cerita apa, Bu?"

 

"Tentang ibumu," jawab Bu Le dengan suara lembut. "Dulu, saat ibumu pertama kali datang ke pesantren ini, dia juga sangat ketakutan. Setiap malam mendengar bisikan. Melihat bayangan. Dia tidak bisa tidur sendirian. Bu Le selalu menemaninya. Persis seperti sekarang."

 

Zahra menatap Bu Le dengan mata berkaca-kaca.

 

"Tapi lama-lama, ibumu belajar untuk tidak takut," lanjut Bu Le. "Dia belajar berdoa. Belajar melindungi diri. Dan akhirnya, dia sembuh. Dia kuat."

 

Bu Le mengusap air mata Zahra dengan lembut. "Kamu adalah anak ibumu. Kamu juga bisa kuat. Bu Le akan menemanimu sampai kamu bisa."

 

Zahra memeluk Bu Le erat. "Terima kasih, Bu Le."

 

"Sama-sama, Nak," bisik Bu Le sambil mengelus punggung Zahra. "Sekarang tidur lagi. Bu Le di sini. Tidak akan ke mana-mana."

 

Zahra berbaring kembali. Bu Le duduk di sampingnya, memegang tangannya sampai Zahra tertidur.

 

Tapi di luar kamar, Gus Azka berdiri di koridor gelap. Dia mendengar semuanya. Wajahnya tegang. Tangannya terkepal.

 

Dia tahu yang dilihat Zahra tadi bukan sembarang makhluk halus.

 

Itu utusan.

 

Utusan dari Malik Azhraq.

 

Untuk memperingatkan. Untuk menakut-nakuti.

 

"Ya Allah," bisik Azka, "lindungi hamba-Mu. Kuatkan dia. Karena pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

 

***

 

Keesokan paginya, Zahra bangun dengan tubuh masih pegal. Tapi dia merasa sedikit lebih baik dari kemarin. Bu Le sudah bangun, sedang merapikan tikar.

 

"Alhamdulillah, sudah bangun," sapa Bu Le dengan senyum hangat. "Yuk, mandi dan shalat Subuh dulu. Nanti setelah sarapan, kamu mulai latihan."

 

Setelah shalat Subuh dan sarapan, Bu Le membawa Zahra ke ruangan latihan—ruangan yang sama tempat mata batinnya dibuka kemarin.

 

Kali ini, Gus Azka juga ada di sana. Dia duduk bersila dengan kitab di pangkuannya.

 

"Assalamualaikum," sapa Azka saat Zahra dan Bu Le masuk.

 

"Waalaikumsalam," jawab Zahra.

 

Bu Le duduk di samping Zahra, sementara Azka duduk di hadapan mereka—menjaga jarak yang sopan.

 

"Hari ini," Azka berkata, "kita mulai latihan dasar. Mengendalikan kemampuan Mbak."

 

"Bagaimana caranya?" tanya Zahra.

 

"Pertama," Azka menjelaskan, "Mbak harus belajar membedakan. Membedakan antara penglihatan dunia nyata dan dunia gaib. Sekarang, kedua dunia itu tercampur di mata Mbak. Makanya Mbak melihat mereka setiap saat."

 

"Lalu?"

 

"Mbak harus belajar menutup dan membuka," Azka melanjutkan. "Seperti kelopak mata. Kalau Mbak tidak ingin melihat, tutup mata batin Mbak. Kalau Mbak perlu melihat, buka."

 

"Bagaimana caranya menutup dan membuka?" tanya Zahra bingung.

 

"Dengan konsentrasi dan doa," jawab Bu Le yang ikut menjelaskan. "Mata batin dikontrol oleh hati. Kalau hatimu tenang dan fokus, kamu bisa mengontrolnya."

 

Azka berdiri. "Sekarang, coba Mbak lihat sekeliling. Apa Mbak melihat sesuatu?"

 

Zahra menatap sekeliling ruangan. Awalnya tidak ada apa-apa. Tapi perlahan, dia melihat cahaya-cahaya kecil melayang di udara. Seperti kunang-kunang, tapi lebih terang.

 

"Saya melihat cahaya-cahaya," ucap Zahra pelan.

 

"Bagus," Bu Le tersenyum. "Itu energi spiritual. Mereka tidak berbahaya."

 

"Sekarang, coba tutup mata batin Mbak," Azka melanjutkan. "Bayangkan kelopak mata menutup perlahan. Sambil membaca dalam hati: Allahumma a'innii 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni 'ibaadatika."

 

Zahra menutup mata. Membayangkan kelopak mata batin menutup. Membaca doa yang diajarkan Azka dalam hati.

 

Dia membuka mata lagi—cahaya-cahaya itu menghilang.

 

"Tidak ada!" seru Zahra senang. “Cahaya-cahaya itu pergi.”

 

"Alhamdulillah," Bu Le menepuk tangan lembut. "Kamu berhasil."

 

"Sekarang coba buka lagi," Azka melanjutkan. "Bayangkan kelopak mata membuka. Baca: Allahumma naw-wir qalbii."

 

Zahra melakukannya—dan cahaya-cahaya itu muncul lagi.

 

"Luar biasa," ucap Azka dengan nada kagum. "Mbak belajar cepat. Mungkin karena kemampuan ini memang asli dari dalam diri Mbak."

 

Zahra tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia merasa ada harapan. Dia bisa mengendalikan ini. Dan dia merasa berguna. 

 

"Sekarang," Bu Le berkata dengan nada serius, "kita lanjut ke latihan berikutnya. Latihan melindungi diri."

 

"Melindungi diri?" tanya Zahra.

 

"Ya. Melindungi diri dari serangan gaib," jawab Azka. "Malik Azhraq pasti tahu kalau Mbak sedang berlatih. Dia tidak akan diam saja. Dia akan mencoba mengganggu. Menakut-nakuti. Atau bahkan menyerang."

 

Zahra merasakan bulu kuduknya berdiri. Teringat sosok mengerikan semalam.

 

"Kalau dia menyerang, apa yang harus saya lakukan?" tanya Zahra.

 

"Bertahan dengan doa dan iman," jawab Bu Le tegas sambil menggenggam tangan Zahra. "Jin sekuat apapun, tidak bisa melawan kekuatan Allah. Selama kamu yakin pada Allah, selama kamu terus berdoa, kamu akan terlindungi."

 

Azka mengeluarkan sebuah kitab kecil dari tasnya. "Ini kitab doa-doa ruqyah. Ayah Mbak dulu menghafalkan semua doa di kitab ini. Sekarang, Mbak juga harus menghafalkannya."

 

Zahra menerima kitab itu. Membukanya. Di dalamnya, ada puluhan doa dalam bahasa Arab dengan terjemahan.

 

"Mulai dari doa perlindungan pagi dan petang," Bu Le menjelaskan sambil membuka halaman pertama. "Lalu Ayat Kursi, Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Kamu harus hafalkan semuanya. Karena di saat bahaya, kamu tidak akan punya waktu untuk membaca. Kamu harus langsung bisa melafalkan dari ingatan."

 

Zahra mengangguk. "Baik, Bu Le. Saya akan belajar."

 

"Bagus," Azka tersenyum. "Kita mulai sekarang. Bu Le akan membantu Mbak menghafalkan."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!