PESANTREN ANGKER

Bab 18. Pembukaan Mata Batin

Zahra berbaring di atas tikar. Tubuhnya kaku. Jantungnya berdetak sangat cepat.

 

Bu Le duduk di sisi kanannya, memperhatikan Zahra dengan lekat. "Bu Le di sini, Nak. Tenang saja."

 

Zahra mengangguk sambil tersenyum terima kasih. 

 

Kyai Taufiq duduk di samping kepala Zahra. Tangannya yang kurus dan gemetar terangkat, diletakkan di atas dahi Zahra.

 

"Tenang," bisiknya. "Jangan melawan. Biarkan auramu mengalir."

 

Zahra menutup mata. Berusaha menenangkan napasnya. Genggaman Bu Le memegang tangan Zahwa, memberikan kekuatan.

 

Kyai Taufiq mulai membaca doa. Suaranya pelan tapi penuh kekuatan.

 

"Bismillahilladzi laa yadurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa laa fis-samaa'i wa huwas-samii'ul 'aliim…"

 

"Allahumma rabbaan-naas, adzhib al-ba's, isyfi anta asy-syaafi, laa syifa-a illaa syifa-uka, syifa-an laa yughaadiru saqaman…"

 

Zahra merasakan sesuatu. Seperti ada aliran listrik kecil mengalir dari tangan Kyai Taufiq ke dahinya. Hangat. Tapi juga aneh.

 

Kyai Taufiq terus membaca. Semakin lama, semakin keras.

 

"Qul huwallaahu ahad, Allaahus-shamad, lam yalid wa lam yuulad, wa lam yakul-lahuu kufuwan ahad…"

 

Tiba-tiba—

 

NYUT!

 

Zahra merasakan sakit yang tajam di kepalanya. Seperti ada jarum ditusukkan dari dalam.

 

Dia meringis. Tangannya mencengkeram tangan Bu Le.

 

"Bertahan, Nduk," suara Kyai Taufiq terdengar jauh. "Bertahan."

 

"Bu Le di sini, Nak," bisik Bu Le sambil mengusap tangan Zahra. "Kamu tidak sendirian."

 

Sakit itu semakin hebat. Semakin tajam. Seperti kepalanya mau pecah.

 

Zahra menggigit bibirnya. Napasnya memburu. Keringat mulai membasahi wajahnya.

 

"Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad…"

 

NYUT! NYUT! NYUT!

 

Sakit itu menjalar. Dari kepala ke leher. Ke dada. Ke seluruh tubuh.

 

Zahra merasakan tubuhnya terbakar. Panas. Sangat panas. Seperti ada api di dalam nadinya.

 

"AAAHHH!" dia berteriak tidak tahan.

 

"Azka, bantu pegang!" Bu Le memanggil Azka dengan suara tegang.

 

Gus Azka langsung berlutut di sisi kiri Zahra, memegang bahunya supaya tidak bergerak terlalu banyak—sementara Bu Le tetap memegang tangan dan bahu kirinya Zahra.

 

"Mbak Zahra, bertahan!" ucap Azka dengan suara tegang. "Ini akan segera selesai!"

 

"Ya Allah, lindungi anak ini," bisik Bu Le sambil ikut membaca doa. Air matanya jatuh melihat Zahra kesakitan.

 

Tapi sakit itu tidak berhenti. Malah semakin parah.

 

Zahra merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Matanya terbuka—tapi pandangannya kabur. Dia melihat cahaya-cahaya putih berkilauan di sekitarnya.

 

Dan tiba-tiba, Dia melihat sesuatu yang lain.

 

Bayangan-bayangan gelap di sudut ruangan. Bergerak-gerak. Melayang.

 

"A-apa itu?" bisik Zahra dengan suara bergetar.

 

"Jangan takut," suara Kyai Taufiq terdengar seperti gema. "Itu hanya bayangan. Mereka tidak bisa menyakitimu."

 

Tapi bayangan-bayangan itu semakin jelas. Semakin nyata. Zahra melihat wajah-wajah tanpa mata. Tangan-tangan panjang menjulur.

 

"KYAI!" teriak Zahra ketakutan.

 

"Baca Ayat Kursi!" teriak Kyai Taufiq.

 

"Nak, baca bersama Bu Le!" Bu Le ikut membaca dengan suara keras, memandu Zahra.

 

Zahra berusaha mengikuti. Bibirnya bergetar. Suaranya gemetar.

 

"Allahu… laa ilaaha illaa Huw… Al-Hayyul-Qayyuum…"

 

Begitu dia membaca, bayangan-bayangan itu mundur. Seperti terpukul oleh cahaya.

 

"Laa ta'khuzuhuu sinatuw wa laa nawm… lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil ardh…"

 

Bu Le membaca dengan lantang, memberikan bimbingan dan kekuatan pada Zahra.

 

Zahra terus membaca. Suaranya semakin kuat. Dan anehnya, rasa sakit di tubuhnya mulai berkurang.

 

"Man dzal-ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi-idznih…"

 

Cahaya putih di sekitarnya semakin terang. Bayangan-bayangan itu menghilang satu per satu.

 

"Ya'lamu maa bayna aydiihim wa maa khalfahum…"

 

Dan tiba-tiba—

 

FLASH!

 

Cahaya putih yang sangat terang meledak di depan matanya.

 

Zahra berteriak—lalu semuanya gelap.

 

***

 

Saat Zahra membuka mata, dia sudah berbaring di kamarnya. Bu Le duduk di samping tempat tidur dengan wajah penuh kekhawatiran, mengompres dahinya dengan kain basah.

 

"Alhamdulillah, Nduk, kamu sadar," ucap Bu Le lega. Air matanya jatuh.

 

Zahra mencoba duduk, tapi tubuhnya terasa sangat lemas. Kepalanya pusing. Seluruh badannya pegal seperti habis dipukuli.

 

"Jangan dipaksakan dulu," Bu Le membantu Zahra berbaring kembali. "Tubuhmu masih lemah."

 

"Apa yang terjadi pada saya, Bu Le?" tanya Zahra dengan suara serak.

 

"Kamu pingsan setelah proses pembukaan mata batin selesai. Sudah hampir tiga jam," jawab Bu Le sambil terus mengompres dahi Zahra dengan lembut. "Abi bilang proses pembukaan mata batinmu berhasil. Tapi tubuhmu kelelahan. Makanya pingsan."

 

Zahra merasakan dadanya sesak. Dia teringat bayangan-bayangan gelap yang dilihatnya tadi.

 

"Bu Le," bisiknya, "tadi saya melihat sesuatu. Bayangan-bayangan gelap. Wajah-wajah tanpa mata. Itu… apa?"

 

Bu Le menatap Zahra dengan tatapan lembut tapi serius. "Itu makhluk halus tingkat rendah. Jin kecil. Mereka tertarik pada energi spiritual yang keluar saat mata batinmu dibuka. Tapi mereka tidak berbahaya. Kamu sudah mengusir mereka dengan Ayat Kursi."

 

Zahra menarik napas gemetar. Jadi, dia benar-benar bisa melihat makhluk halus.

 

Kemampuan itu benar-benar ada.

 

"Sekarang istirahat dulu," Bu Le berkata lembut sambil merapikan selimut. "Setelah baikan baru shalat. Tubuhmu butuh waktu untuk menyesuaikan. Besok, kamu mulai latihan dengan Azka. Bu Le akan menemani kamu terus."

 

"Latihan apa, Bu Le?" tanya Zahra.

 

"Latihan mengendalikan kemampuanmu," jawab Bu Le. "Supaya kamu bisa melihat tapi tidak ketakutan. Bisa berinteraksi tapi tetap terlindungi. Dan yang paling penting, supaya kamu bisa melawan."

 

Zahra mengangguk pelan. Dia tahu perjalanannya masih panjang.

 

"Bu Le," ucap Zahra pelan, "terima kasih sudah menemani saya. Terima kasih sudah merawat saya seperti ibu."

 

Bu Le tersenyum sambil menghapus air matanya. "Kamu adalah anak dari Khadijah dan Rizwan. Dua orang yang Bu Le sayangi. Tentu saja Bu Le akan menjagamu seperti anak sendiri."

 

Dia menggenggam tangan Zahra dengan hangat. "Kamu tidak sendirian, Nak. Bu Le, Azka, dan Abi akan selalu ada untukmu. Kita bersama-sama sampai akhir."

 

Zahra merasakan matanya berkaca-kaca. Hatinya tersentuh.

 

Di luar jendela, matahari mulai condong ke barat. Sore akan segera tiba.

 

Dan Zahra tidak tahu seseorang—atau sesuatu—sedang mengawasinya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!