PESANTREN ANGKER

Bab 17. Pengawasan

Malam hari, Zahra tidur di kamar tamu kecil. Dia berbaring dengan tangannya memegang tasbih ayahnya.

 

"Ayah…" bisik Zahra, "aku akan menyelamatkanmu. Meski nyawa jadi taruhannya. Aku janji."

 

Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang.

 

Tapi di kejauhan, di balik pepohonan gelap, sepasang mata merah menyala.

 

Mengawasi.

 

Menunggu.

 

"Datanglah, anak Rizwan…" suara berat bergema di alam gaib. "Aku sudah menyiapkan segalanya untukmu… Takdirmu adalah mati di tanganku…"

 

Pagi itu, Zahra terbangun dengan mata bengkak. Semalam dia hampir tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada cerita Kyai Taufiq. Tentang ayahnya. Tentang pertarungan melawan Malik Azhraq. Tentang kemampuan tersembunyi dalam dirinya.

 

Suara adzan Subuh terdengar dari mesjid pesantren. Zahra bangkit dari kasurnya, mengambil wudhu, lalu shalat.

 

Setelah shalat, dia duduk bersimpuh di atas sajadah. Tangannya memegang tasbih ayahnya. Jari-jarinya memutar butir demi butir kayu coklat itu sambil membaca dzikir.

 

"Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar…"

 

Di luar jendela, langit mulai terang. Fajar menyingsing. Burung-burung mulai berkicau. Suara santri mengaji terdengar merdu dari mushola.

 

Tiba-tiba, ada ketukan lembut di pintu.

 

"Mbak Zahra? Sudah bangun, Nak?" suara perempuan paruh baya dari luar. Suara yang hangat dan lembut.

 

Zahra berdiri, membuka pintu. Seorang wanita berjilbab putih berdiri di depan pintu dengan senyum ramah. Usianya sekitar empat puluh lima tahun. Wajahnya lembut, teduh. Matanya berbinar penuh kebaikan. Dia mengenakan gamis coklat sederhana dan membawa nampan berisi segelas teh hangat.

 

"Assalamualaikum, Nduk," sapa wanita itu.

 

"Waalaikumsalam," jawab Zahra sambil merapikan kerudungnya.

 

"Perkenalkan, saya Halimah. Tapi dipanggil Bu Le saja," ucap wanita itu sambil tersenyum. "Saya pengasuh santri putri di sini. Dan saya bibi Azka."

 

"Salam kenal, Bu Le," Zahra sedikit terkejut. Dia belum bertemu Halimah semalam karena langsung bertemu kyai Taufik dan mengobrol hingga cukup larut. "Saya Zahra Kamilah.”

 

Halimah tersenyum. Dia masuk ke kamar, meletakkan nampan di meja kecil. "Ini teh jahe untuk Mbak. Badan pasti masih lemes setelah perjalanan."

 

"Terima kasih, Bu Le," ucap Zahra sambil menerima gelas teh itu. Hangat dan wangi.

 

Bu Le duduk di tepi tempat tidur, menatap Zahra dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada keharuan. Ada kerinduan. Ada sesuatu yang lebih dalam.

 

"Subhanallah…" bisiknya. "Kamu bukan hanya mirip ayahmu. Tapi kamu juga mirip ibumu."

 

Zahra tersentak. "Bu Le… kenal ayah dan ibu saya?"

 

Bu Le mengangguk sambil menghapus air matanya. "Kenal. Sangat kenal. Dulu, Bu Le teman satu pondok Ayahmu. Dan Bu le yang mengasuh ibumu saat dia mondok di sini dua puluh satu tahun lalu. Waktu itu Bu Le masih muda, baru jadi ustadzah di pesantren ini."

 

Zahra merasakan dadanya sesak. "Jadi… Bu Le ustadzah ibu?"

 

"Iya, Nak," jawab Bu Le dengan suara bergetar. "Bu Le yang menemani ibumu saat dia sakit. Bu Le yang menjaganya di kamar saat Abi melakukan ruqyah. Bu Le yang merawatnya setelah sembuh. Dan Bu Le… yang menemani ibumu saat ayahmu pergi dan tidak pernah kembali."

 

Air mata Bu Le mengalir deras. Zahra ikut menangis.

 

"Bu Le melihat ibumu menangis setiap malam," lanjut Bu Le. "Menunggu ayahmu. Berharap ayahmu pulang. Tapi tidak pernah ada kabar. Sampai akhirnya, ibumu harus menerima kenyataan."

 

Bu Le meraih tangan Zahra, menggenggamnya erat.

 

"Dan sekarang, kamu ada di sini," bisiknya. "Anak dari Khadijah dan Rizwan. Dua orang yang Bu Le sayangi seperti adik sendiri. Kamu tahu, Nak, Bu Le sangat bahagia sekaligus sangat khawatir."

 

"Khawatir?" tanya Zahra.

 

"Karena Bu Le tahu kamu akan menghadapi bahaya yang sangat besar," jawab Bu Le dengan nada serius. "Jin yang mengurung ayahmu adalah jin yang sangat kejam. Bu Le tidak ingin kehilangan kamu seperti yang terjadi pada ayahmu."

 

Zahra menggenggam tangan Bu Le balik. "Saya harus menyelamatkan ayah, Bu Le. Saya tidak bisa membiarkan dia terkurung selamanya."

 

Bu Le menatap Zahra dengan tatapan penuh air mata. Lalu dia tersenyum tipis.

 

"Kamu benar-benar anak ayahmu," bisiknya. "Berani. Tegar. Penuh pengorbanan."

 

Bu Le berdiri, menghapus air matanya. "Bu Le akan menemani kamu. Mulai hari ini, Bu Le yang akan mendampingi kamu berlatih dengan Azka. Bu le harap kamu tidak merasa canggung selama disini. Kalau butuh apa-apa katakan saja.."

 

Zahra merasakan hatinya hangat. Dia merasa punya keluarga baru, yang menerimanya tanpa pamrih.

 

"Terima kasih, Bu Le," bisik Zahra dengan suara bergetar.

 

Bu Le tersenyum. "Sekarang, minum teh dulu. Nanti setelah sarapan, kita mulai belajar. Azka sudah menunggu."

 

***

 

Setelah sarapan sederhana—nasi putih dengan sayur lodeh dan tempe goreng—Zahra mengikuti Bu Le dan Gus Azka ke sebuah bangunan kecil di belakang pesantren. Bangunan itu terpisah dari bangunan utama. Terlihat sangat tua, tapi terurus.

 

"Ini ruang khusus," Azka menjelaskan sambil membuka pintu kayu yang berderit. "Dulu Mbah sering pakai untuk mengajar ilmu ruqyah pada murid-murid senior. Termasuk ayah Mbak."

 

Zahra merasakan dadanya sesak mendengar itu. Ayahnya pernah belajar di ruangan ini.

 

Di dalam, ruangan itu kecil dan gelap. Hanya ada satu jendela di dinding. Lantainya terlihat bersih. Dindingnya ditempel ayat-ayat Al-Quran dengan tulisan Arab yang indah.

 

Di tengah ruangan, ada tikar pandan tua. Dan di atas tikar itu, duduk Kyai Taufiq. Wajahnya tenang. Matanya menatap Zahra dengan tatapan yang dalam.

 

"Masuk, Nduk," ucap Kyai Taufiq lembut.

 

Zahra masuk dengan langkah pelan. Bu Le mengikuti di sampingnya. Gus Azka masuk terakhir, lalu menutup pintu.

 

"Duduk di hadapanku," Kyai Taufiq menunjuk tempat di depannya.

 

Zahra duduk bersila. Tangannya gemetar sedikit. Dia mencoba menenangkan napasnya. Bu Le Halimah ikut duduk di sampingnya.

 

Kyai Taufiq menatap Zahra lama seolah sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat.

 

"Kamu masih yakin ingin melakukan ini?" tanya Kyai Taufiq pelan.

 

Zahra mengangguk tanpa ragu. "Ya, Kyai. Saya yakin."

 

"Ini akan sangat sakit," Kyai Taufiq memperingatkan. "Kamu akan merasakan sakit seperti seluruh tubuhmu terbakar dari dalam. Kamu mungkin akan pingsan. Mungkin akan demam berhari-hari. Tapi kamu tidak boleh menyerah. Kamu harus bertahan."

 

"Saya akan bertahan, Kyai," jawab Zahra mantap.

 

Kyai Taufiq tersenyum tipis. "Kamu benar-benar anak ayahmu."

 

Dia menoleh pada Gus Azka. "Azka, siapkan."

 

Gus Azka mengangguk. Dia mengeluarkan beberapa benda dari tas kain yang dibawanya. Sebotol air. Sebuah mangkuk kecil. Sepotong kain putih. Dan sebuah kitab tua.

 

"Ini air zam-zam," Azka menjelaskan sambil menuangkan air ke mangkuk. "Dan ini kitab doa-doa pembukaan."

 

Kyai Taufiq mengambil mangkuk itu. Dia membaca beberapa ayat Al-Quran di atas air itu. Suaranya pelan tapi jelas. Tartil.

 

"Bismillahirrahmanirrahim… Alhamdulillahi Rabbil 'alamin…"

 

Setelah selesai, dia menyerahkan mangkuk itu pada Zahra.

 

"Minum," ucapnya.

 

Zahra menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. Dia menatap air itu sejenak, lalu meminumnya perlahan.

 

Air itu dingin. Sangat dingin. Seperti mengalir dari mata air gunung. Tapi ada kehangatan aneh yang menyebar di dadanya setelah menelan.

 

"Sekarang," Kyai Taufiq berkata, "berbaring."

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!