Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Ya Allah Lindungi Aku
“Raka … sebentar lagi jam empat sore, ayo siap-siap berangkat kerja, sayang! Ibu sudah gosokkan baju kerjamu. Ibu taruh di tempat biasa, ya .…”
Teriakan suara Ibu dari balik pintu kamar kami terdengar begitu jelas.
Seolah tak peduli bahwa di kamar ini sudah ada aku, istri sahnya.
Seolah … aku tak pernah benar-benar hadir di antara hubungan mereka.
Aku yang tengah menyisir rambut di depan cermin hanya bisa diam.
Menahan napas.
Mas Raka yang duduk di tepi ranjang mendesah pelan, menunduk, lalu melirikku sekilas.
Aku memberanikan diri berkata, nada suaraku pelan tapi serius.
“Mas … kayaknya mulai sekarang kamu harus mulai bicara ke Ibu. Semua urusanmu, biar aku yang urus. Ibu cukup istirahat aja. Sekarang aku istrimu, Mas. Sudah jadi tugasku.”
Aku berusaha bicara selembut mungkin agar tak menyinggung perasaannya.
Mas Raka diam sejenak.
Aku tahu, kalimat itu baginya bagaikan peluru kecil.
Karena sebelum menikah, tak sekalipun ada yang berani menyentuh wilayah kekuasaan Ibuk.
Bahkan soal baju kerja, soal kopi pagi, soal sepatu kerja … semuanya diurus Ibuk.
Mas Raka menarik napas dalam-dalam, seakan berusaha menahan sesuatu.
“Iya, Dek … iya. Nanti Mas coba bicara.”
Aku mengangguk pelan.
Tapi kemudian … Mas Raka menoleh, menatapku serius.
“Tapi tolong … tolong banget, buang pikiran kotormu itu, ya.”
Deg.
Aku mengerutkan kening.
“Pikiran kotor?” batinku.
“Tolong hargai Mas … hargai Ibuk. Jangan berpikir aneh-aneh. Kamu berpikir begitu karena kamu belum merasakan gimana rasanya punya anak. Nanti kalau kamu udah punya anak, kamu bakal paham, Dek.”
Nada suaranya sedikit menekan.
Aku menunduk.
Mungkin … benar.
Mungkin memang aku saja yang terlalu berlebihan, benar kata Mas Raka … aku harus lebih menghormati mereka.
Tak baik berprasangka buruk pada suami dan ibu mertua sendiri.
Aku menggenggam tangan Mas Raka.
“Maaf, Mas … maaf.”
Mas Raka tersenyum tipis, memegang tangan kecilku.
“Mas minta tolong, ya … jadilah menantu yang baik, Ayna. Jangan bikin Ibuk stres. Mas mohon, kalian akur. Mas nggak mau rumah tangga kita rusak cuma karena hal-hal kecil kayak gini.”
Aku mengangguk lagi. Mengiyakan.
Dan kali ini, aku berusaha benar-benar membenarkan perkataan Mas Raka.
Berusaha menenangkan hatiku, membungkam semua prasangka buruk yang dari tadi bergemuruh di kepala.
“Udah, Ayna … udah. Jangan aneh-aneh lagi. Semua baik-baik aja.”
Aku meyakinkan diri sendiri.
Mas Raka berjalan keluar kamar. Langkahnya tegap.
Meski dia bukan perwira militer, cuma seorang perawat di klinik desa, tapi kuakui … postur tubuh Mas Raka memang kekar.
Hidung mancung, bulu mata lentik, kulit kuning langsat. Countur wajahnya tegas, rahang kokoh, garis hidung lurus sempurna.
Badan atletisnya selalu berhasil membuat siapa saja yang melihat pasti akan melirik dua kali.
Dulu … aku sangat mengaguminya. Bisa dibilang aku adalah Fans fanatik Mas Raka sejak sekolah.
“Yang bener dong, Raka!”
Suara lantang itu membuyarkan lamunanku.
Suara Ibu.
Tingginya suara itu membuat tubuhku otomatis terlonjak.
Tanpa pikir panjang aku segera keluar kamar, langkahku cepat menuju ruang tamu.
Dan saat pandanganku sampai di sana …
Aku memberhentikan langkah seketika di ambang pintu.
Adegan di depan mataku benar-benar …
Aku nggak tahu harus kasih label apa.
Ibu .…
Ibu sedang memakaikan baju Mas Raka.
Bukan sekadar menyerahkan baju, bukan sekadar meletakkan di atas kasur. Tapi benar-benar memakaikan.
Tangan keriputnya yang masih tampak halus itu merapikan kemeja navy milik Mas Raka, mengancingkannya satu per satu …
Dari kancing paling atas sampai bawah.
Gerakannya lembut, telaten, seolah sedang merawat balita.
Bahkan dia merapikan kerah kemeja itu dengan hati-hati.
Aku terpaku.
Mas Raka hanya berdiri diam.
Wajahnya santai.
Seolah semua itu adalah hal biasa, ritual yang rutin, sesuatu yang lumrah di rumah ini.
Dan saat aku kira adegan itu selesai .…
Tiba-tiba.
Cup.
Aku melihat jelas.
Dengan mata kepalaku sendiri.
Ibu mencium pipi kanan Mas Raka.
Lembut.
Manja.
“Hati-hati ya, sayang. Kerjanya yang benar,” bisiknya lirih, tapi masih cukup jelas terdengar sampai ke tempatku berdiri.
Aku membeku.
Mataku membelalak.
Ya Allah … ini apa?
Jantungku berdetak makin keras, begitu keras sampai telingaku terasa berdenging.
Aku menahan napas.
“Oke … ibu dan anak. Cuma ibu dan anak. Ayna, jangan goblok. Jangan halu. Ayo berpikir jernih. Itu ibu kandungnya. Bukan perempuan lain. Ibu kandung.”
Aku berusaha bicara ke diriku sendiri.
Tapi otakku menolak.
Terlalu banyak adegan-adegan aneh yang sudah kulihat beberapa akhir-akhir ini.
Terlalu banyak sinyal.
Mandi bareng. De54h4n di kamar. Suap-suapan. Sekarang pakaikan baju. Cup pipi. Dan itu bukan sekadar cium biasa. Itu ciuman penuh manja. Ciuman…
Aku mengerang pelan, menutup mulut.
“Ya Allah… lindungi aku. Lindungi akalku.”
Aku nggak berani bergerak.
Keduanya masih di sana.
Mas Raka merapikan jam tangannya, lalu menoleh ke arahku.
“Dek … Mas berangkat dulu ya,” ujarnya santai, seolah tak terjadi apa-apa.
Aku mengangguk kaku.
Mulutku terkunci. Tenggorokan ini tercekat.
Aku nggak sanggup bilang apapun.
“Jaga rumah ya. Jangan lupa makan.”
Aku tetap diam.
Mas Raka mencium kening Ibuk, baru mencium keningku, sebelum akhirnya berjalan keluar.
Ibuk menatap punggungnya dengan senyum lebar. "Hati-hati sayang ... jangan lupa makan bekal yang dari ibu." Ibu melambaikan tangannya pada Mas Raka.
Jangan tanya aku.
Aku masih diam saja … masih berdiri di ambang pintu dengan pikiran yang saling bersahutan di kepala.