Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Ibumu Keterlaluan

Aku melangkah pelan melewati gang sempit itu. Kantong plastik di tangan kanan mulai terasa berat.

 

Bukan karena bobotnya.

 

Tapi karena kepalaku yang sesak.

 

Penuh.

 

Berat.

 

Pembicaraan ibu-ibu tadi terus mengiang di telinga, seperti kaset rusak yang tak mau berhenti berputar.

 

“Aku kira si Raka nggak bakal laku, soalnya dari dulu nempel terus sama ibunya.”

 

“Satu kampung juga bisik-bisik kok, cuma nggak berani ngomong.”

 

Semua kata-kata itu terus mengulang di kepala.

 

Aku menggigit bibir bawah.

Sakit.

 

Pedih.

 

Bahkan lebih menyakitkan daripada bentakan Mas Raka tadi pagi.

 

Aku kira … cuma aku yang merasa ada yang aneh.

Ternyata satu kampung ini sudah lama mencium bau busuk itu.

 

Mereka tahu.

 

Mereka semua tahu.

 

Tapi … mereka diam.

 

Sedang aku?

 

Aku yang paling bodoh.

 

Masuk ke dalam rumah itu dengan hati berbunga-bunga.

 

Begitu yakin menikahi lelaki baik.

 

Yang ternyata … aku cuma masuk ke dalam rumah yang penuh luka, penuh nanah, penuh borok yang membusuk pelan-pelan.

 

Aku menelan ludah.

 

Menatap rumah itu dari kejauhan.

 

Rumah itu terlihat biasa saja.

 

Tapi kenapa rasanya seperti sebuah neraka yang menyamar jadi rumah tangga?

 

Aku buka pagar perlahan, langkahku pelan masuk ke halaman.

 

“Ayna .…”

 

Aku menoleh.

 

Mas Raka berdiri di ambang pintu.

Rambutnya sedikit basah.

Mungkin habis cuci muka.

Atau … entah.

 

Argh entahlah ….

 

Aku cuma mengangguk kecil.

 

“Dari pasar?”

 

Aku kembali mengangguk. Tak ada kata-kata yang keluar. Dada ini masih terlalu penuh.

 

Aku masuk ke dapur, menaruh belanjaan di meja, tangan masih terlihat gemetar saat mengeluarkan sayur satu per satu.

 

Aku tahu Mas Raka mengikuti dari belakang. Dia berdiri di ambang pintu dapur. Aku bisa merasakan sorot matanya menusuk punggungku.

 

 

 

“Dek … tadi Mas … salah. Mas janji gak akan kayak gitu lagi. Mas minta maaf …,”

lirih Mas Raka, lalu perlahan kedua lengannya melingkari tubuhku dari belakang.

 

Aku terdiam.

 

Hempasan hangat tubuhnya menempel di punggungku. Aroma sabun dan sedikit wangi parfum yang biasa dia pakai menyusup masuk ke indera penciumanku. Untuk beberapa detik, aku kembali merasa … inilah Raka yang dulu. 

 

Raka yang lembut, manja dan selalu tahu cara meluluhkan hatiku.

 

Mas Raka memang … dari dulu begitu. Manis, hangat, selalu tahu cara menenangkan perasaanku saat marah. 

 

Dan sialnya … itu salah satu alasan kenapa aku dulu jatuh cinta habis-habisan sama dia.

 

Kugenggam pelan tangan besarnya yang memeluk erat perutku.

 

Ya Allah … semoga saja kali ini dia benar-benar sadar. 

 

Benar-benar mau berubah.

 

Aku bukan mau merenggut anak dari ibunya. Bukan.

 

Sumpah … aku nggak pernah ada niat itu.

 

Aku hanya ingin … Mas Raka berhenti diperlakukan seperti anak kecil. Dia suamiku sekarang. 

 

Dan tempatnya adalah di sisiku, bukan di belakang punggung ibunya.

 

Aku ingin rumah tangga yang normal.

 

Yang sehat.

 

Yang manusiawi.

 

Dan saat kami sedang menikmati hangatnya sepesang pengantin baru. 

 

Tiba tiba dehuman  terdengar 

“Ehem ….”

 

Aku kaku.

 

Suara itu ….

 

Ibu.

 

Cepat-cepat aku melepaskan genggaman tangan Mas Raka dan menoleh.

 

“Ayna! Biar Ibu saja yang masak. Raka terbiasa makan masakan Ibu! Kamu nggak seharusnya menggantikan posisi Ibu,” katanya tegas, sorot matanya menyengat.

 

Deg.

 

Posisi?

 

Aku otomatis membalikkan badan sepenuhnya, menatap wajah Ibu.

 

“Posisi?”

 

Aku ulangi kata itu, menatap lurus ke matanya. Nadaku pelan, tapi dingin.

 

Aku masih menunggu jawaban, tapi belum sempat Ibu buka mulut, Mas Raka cepat-cepat memotong.

 

“Sudah, Dek … ayo kita nonton TV aja yuk di depan,” ucapnya cepat sambil menarik lenganku halus, tapi aku tahu … itu lebih ke menyeret.

 

Aku ingin menolak.

 

Ingin bertanya lebih lanjut apa maksudnya dengan ‘posisi’.

 

Tapi aku hanya bisa diam, melangkah ikut ke ruang tamu, duduk di sofa panjang.

 

TV menyala menayangkan sinetron siang, tapi tak ada satupun dari kami yang benar-benar menonton.

 

Beberapa menit kemudian, aroma masakan menyeruak.

 

Harum sambal balado.

 

Harum udang goreng bumbu merah yang menggiurkan.

 

Ibu keluar dari dapur, senyum lebar.

 

Membawa nampan berisi nasi hangat dan udang balado.

 

“Raka, ayo makan … masakan ini spesial untukmu,” katanya.

 

Tatapannya lembut.

 

Tapi matanya … sinis ke arahku.

 

Aku tersenyum tipis, hanya karena sopan.

 

“Sini, sini sayang … makan sama Ibu ya…,”

lanjutnya.

 

Aku menoleh ke Mas Raka.

Berharap dia menolak.

Atau minimal bilang ingin makan sama istrinya.

 

Tapi dia malah tersenyum, malah berdiri dan  duduk di karpet dekat kaki ibunya.

 

Lalu …

 

“Ibu suapin ya … akkkk …,”

ucap Ibu, sambil menyendokkan nasi ke mulut Mas Raka.

 

Aku tercekat.

 

Mataku membelalak.

 

Detik itu juga .…

 

Semua bulu kudukku meremang.

 

Bukan soal disuapnya .…

Tapi .…

Cara Ibu menyuapinya.

Dengan pandangan manja.

Dengan suara lembut.

Seolah bukan dari seorang ibu ke anak.

 

Aku memperhatikan sendok itu.

Perlahan masuk ke mulut Mas Raka.

Lalu tangan Ibu menyeka sudut bibirnya.

 

Bukan pakai tisu.

 

Tapi dengan ujung jarinya.

Dengan gerakan pelan.

Penuh perasaan.

 

Ya Allah .…

 

Itu adegan .…

Mirip sinetron romantis.

 

Bahkan aku saja … tak pernah melakukan itu ke Mas Raka.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!