Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Menahan Tangis

Aku terdiam.

 

Tanganku masih erat menggenggam koper, tapi kaki ini terasa berat. Napas beratku naik turun tak teratur, bercampur dengan isakan pelan yang makin sulit kutahan.

 

“Mas mohon, Dek … jangan pergi … jangan tinggalin Mas .…”

 

Suara itu  suara seorang suami yang biasanya begitu kuat, kini terdengar sangat rapuh. 

Begitu menyedihkan. 

 

Mas Raka bersimpuh di hadapanku, dengan mata yang memerah dan air mata yang jatuh di pipinya.

 

Aku ingin membenci laki-laki itu.

 

Aku ingin tetap pergi, membiarkan rumah ini penuh dengan dosa dan kebohongan yang mereka bangun.

 

Tapi nyatanya, hatiku kalah.

 

Aku masih sayang.

 

Masih terlalu sayang.

 

Bodohnya aku.

 

Tanganku mengepal, air mataku makin deras jatuh. Aku tak sanggup menatap wajahnya. Aku benci melihatnya menangis, tapi aku lebih benci lagi karena ternyata aku masih peduli.

 

“Mas … kenapa kamu kayak gini, Mas …?”

Suaraku bergetar, nyaris tak terdengar.

 

Mas Raka mengangkat wajahnya, menatapku dengan tatapan memelas.

 

“Mas gak sempurna, Dek … Mas banyak salah … Mas cuma manusia … Mas janji, gak akan kayak gitu lagi … Mas bakal ubah semuanya .…”

 

Aku diam.

 

Dada ini sesak. Perih. Tapi … aku terlalu pengecut untuk benar-benar pergi. 

 

Entah karena takut, atau karena masih cinta.

 

Perlahan, tanpa sadar, aku jatuhkan koper itu ke lantai.

 

Tanganku terkulai, pundakku turun.

 

“Aku … aku kasih kamu kesempatan, Mas. Tapi… cuma sekali ini. Dan satu hal … jangan pernah lakukan hal yang sama .…”

Suaraku lirih, tapi tegas.

 

Mas Raka mengangguk cepat.

“Iya, Dek … Mas janji … demi Allah … demi apa pun .…”

 

Dia langsung memeluk kakiku, seperti orang yang baru saja diselamatkan dari tepi jurang.

 

Aku pejamkan mata, menahan tangis.

 

Dalam hati aku berkata, ‘Kalau sekali ini kau lukai aku lagi, Raka … aku gak akan pernah balik.’

 

*

 

Jam nakas menunjukkan pukul 10 pagi.

Cahaya matahari menyusup malu-malu lewat sela tirai kamar yang masih tertutup setengah. Aku duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai.

 

Kepalaku berat. Mataku sembab. Tapi aku tahu aku nggak bisa terus begini.

 

Aku bangkit pelan. Mengambil dompet kecil di meja, dan mengenakan cardigan tipis.

“Aku ke pasar bentar. Mau masak,” gumamku pelan ke diri sendiri, lebih untuk sekadar alasan agar keluar dari rumah itu.

 

 

Dari rumah yang entah kenapa  hari ini terasa pengap, sesak, dan penuh pertanyaan di kepala.

 

Pasar tradisional itu letaknya memang tak jauh. Hanya perlu berjalan kaki melewati dua gang kecil, lalu belok ke kiri.

 

Saat berjalan melewati gang sempit, aku bertemu beberapa ibu-ibu yang sedang duduk di beranda rumah, sembari mengupas sayur dan menjemur pakaian.

 

Mereka tersenyum ramah. Aku balas menyapa.

 

“Wah, penganten baru ya? Selamat ya, Nak Ayna. Semoga cepet dikasih momongan.”

 

Aku mengangguk kecil, tersenyum paksa.

 

“Aamiin, Bu, makasih doanya.”

 

Tapi saat aku sudah beberapa langkah berlalu, samar kudengar bisikan yang entah disengaja atau tidak.

 

“Akhirnya si Raka nikah juga ya … Aku kira nggak bakal laku, soalnya dari dulu nempel terus sama ibunya.”

 

Deg.

 

Langkahku otomatis melambat. 

 

Nafasku tercekat.

 

Aku berhenti di depan warung kecil, pura-pura melihat jajanan di etalase, padahal telingaku fokus mendengar suara-suara di belakangku.

 

“Hush, Bu … jangan ngomong gitu. Kasian istrinya kalau dengar.”

 

“Lah iya, tapi kan emang bener. Satu kampung juga pada bisik-bisik kok. Cuma ya, Pak RT dulu pesen, jangan ada yang nuduh tanpa bukti. Padahal ya, kita juga gak buta-buta amat. Semua orang tua sini tau, anak itu nempel terus kayak … ya kamu tau lah .…”

 

“Udah, udah … jangan ngomong sembarangan. Suaminya anak tunggal. Wajar lah manja sama ibunya. Apalagi kan… katanya ibunya itu sayang banget sama anaknya. Awas lho, Ayna denger, bisa baper nanti.”

 

Aku menunduk. Hatiku mencelos.

 

Ingin rasanya aku membalikkan badan, menatap mereka dan minta penjelasan lebih. 

 

Aku pura-pura memilih cabai rawit di lapak warung yang tak jauh dari mereka, tapi pikiranku berputar.

 

Jadi … bukan cuma aku? Selama ini semua orang di kampung ini juga udah curiga?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!