Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Luruh Hancur
“Dia … ya, cuma dia. Tanpa nama. Tidak ada namanya, setahuku. Dia … hanya dia. Tapi dia kembaranku.”
Suara Mas Raka bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Pandangannya menunduk, kedua tangannya menggenggam lututnya erat seolah menahan gempa dalam dadanya. Matanya sembab, seolah baru saja dilanda badai, tapi masih ada sisa-sisa luka yang belum sempat reda.
“Entah sejak kapan kami dikurung. Ingatan pertamaku … hanya dimulai saat usiaku menginjak tiga tahun.” Ia terdiam sejenak, menelan ludah, menarik napas panjang.
“Saat pertama kali aku sadar … aku sudah ada di sana. Di ruangan pengap, lembab, bau busuk, gelap … gelap sekali. Kami, ya aku dan dia sudah ada di situ. Gudang sempit, tanpa jendela, tanpa cahaya, tanpa suara dunia luar. Hanya ada tangisan, dan jeritan, dan .…” suaranya tercekat. Matanya berkaca-kaca, lehernya menegang seolah ada sesuatu yang menahan semua luka di tenggorokan.
“Hanya ada rasa lapar, sakit, dan … darah.”
Ruangan itu hening. Polisi yang mencatat pun tak lagi mengetik. Mamah menutup mulutnya dengan telapak tangan. Aku mematung, tubuhku gemetar.
“Ibuk … dia yang mengurung kami. Dia datang tiap hari … atau mungkin dua hari sekali. Kami gak tahu waktu. Kami gak bisa bedakan siang dan malam. Yang kami tahu hanya rasa takut tiap dengar suara pintu digeser.”
Air mata mengalir lagi dari mata Mas Raka. Ia mengusap wajahnya kasar, seperti ingin menghapus kenangan itu dari kulitnya, tapi tidak bisa. Luka itu terlalu dalam, terlalu membekas.
“Dia sering datang membawa makanan basi … atau kadang gak bawa apa-apa, cuma … cambuk, besi panas, dan air mendidih. Dia suka tertawa saat kami menangis. Dia bilang kami bukan anaknya. Dia bilang kami … kutukan.”
“Aku ingat … kembaranku pernah teriak keras-keras, minta keluar. Hari itu … dia dipukuli sampai gak bangun-bangun selama dua hari. Aku kira dia mati. Tapi dia hidup. Dia hidup dan setelah itu … gak pernah bicara lagi.”
“Ibuk mulai berubah lebih gila setelah itu. Dia bilang kami harus pilih siapa yang boleh tetap hidup, siapa yang harus dibunuh duluan. Dia mainkan kami seperti hewan eksperimen. Kadang kami dipaksa berantem, kadang dikurung di dua kandang kecil yang berbeda dan yang menangis akan disiram air panas.”
Mas Raka terisak lagi, kali ini tak bisa ditahan. Air matanya jatuh deras, bahunya bergetar hebat. Tapi ia tetap melanjutkan ceritanya.
Terima kasih.
“Bertahun-tahun … kami disiksa tanpa ampun. Entah apa salah kami … aku tidak tahu. Yang jelas, dia … dia begitu menyeramkan.”
Mas Raka menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Suaranya patah-patah. “Yang paling kuingat … pernah datang seorang pria dewasa. Tubuhnya besar, perutnya buncit, kumisnya tebal, dan caranya memandang kembaranku seperti … seperti binatang buruan.”
Kami semua diam. Mamah perlahan mengusap punggung Mas Raka, memeluknya erat dari samping. Aku sendiri menggenggam erat jemarinya yang gemetar.
“Dia menghampiri kembaranku … dan waktu itu aku tak bisa berbuat apa pun. Aku hanya bisa melihat, mendengar, dan menangis di sudut gelap gudang itu ….” Suara Mas Raka mulai pecah dan air matanya tak terbendung.
“Kembaranku berteriak, meronta … tapi ibuk … ibuk malah ….” Mas Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Dia malah memukulinya. Terus. Dan terus. Dengan karung goni besar yang entah isinya apa. Sampai suara kembaranku … menghilang.”
Semua yang mendengar tak bisa berkata-kata. Ruangan itu penuh sesak dengan rasa getir, ngeri, dan luka yang tak kasat mata.
“Darah di mana-mana … bagian tubuh bawah kembaranku mengucur … wajahnya lebam, tak berbentuk … dan dia tak sadarkan diri. Lalu mereka pergi begitu saja. Begitu saja ….”
Mas Raka terisak lebih keras lagi.
“Sejak saat itu. Dia hanya menatap kosong … seperti jiwanya pergi. Dan aku … hanya bisa duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya, sambil terus bilang, ‘Kita harus kuat … kita harus kuat.’ Tapi aku tahu … dia sudah hancur.”
Aku memeluk Mas Raka. Mamah juga. Kami tak punya kata-kata, hanya hati yang terasa ikut sobek menyaksikan luka yang tak terlihat … tapi nyata, nyata sekali.
“Sampai rasanya … entah sudah berapa tahun berlalu,” lanjut Mas Raka dengan suara bergetar. “Hari itu … tiba-tiba ibuk datang. Ia membuka pintu gudang dengan kasar, seperti biasanya. Tapi kali ini, ada yang berbeda di wajahnya. Tatapannya dingin, tegas, dan seram.”
Kami semua diam, menunggu perkataan Mas Raka selanjutnya dengan hati mencelos.
“Tanpa banyak bicara, ibuk langsung menggeret lenganku. Tarikannya begitu kuat, keras … sampai aku nyaris terseret jatuh. Aku ketakutan.”
Matanya mulai basah, suara Mas Raka makin pelan. “Aku reflek menggenggam tangan kembaranku. Sekuat tenaga. Tanganku berusaha mengait erat jarinya … aku nggak mau ninggalin dia. Aku berteriak, memohon, menjerit, minta jangan dipisahkan. Tapi ibuk terus menarikku keluar.”
Napas Mas Raka terdengar berat. “Tanganku tetap menggenggam tangan kembaranku. Aku berharap dia juga menggenggamku balik … berharap dia menoleh … ngomong sesuatu. Apa saja. Tapi dia cuma duduk di sudut, diam. Menunduk. Pandangannya kosong. Seperti raganya ada, tapi jiwanya nggak lagi di sana.”
Air mata mulai mengalir di pipi Mas Raka.
“Aku terus berteriak … ‘Ayo ikut! Pegang tanganku! Jangan diam!’ Tapi … dia tetap tak menjawab. Tidak menatapku. Tidak menggenggam balik tanganku.”
“Lalu .…” Suaranya nyaris tak terdengar. “Cengkeraman ibuk di lenganku makin kuat. Sekali tarik, tangan kembaranku terlepas dari genggamanku. Sejak itu … aku nggak pernah melihatnya lagi.”
Aku menggenggam tangan Mas Raka lebih erat. Ia menoleh sekilas padaku, lalu kembali menunduk. Matanya merah.
Mas Raka menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Dan sampai sekarang, rasa bersalah itu terus menghantui … Karena aku selamat, dan dia terus menerus disiksa.”
“Aku dimandikan. Diberi pakaian bagus, dibungkus wangi-wangian. Dikasih makanan sehat dan tempat tidur empuk. Demi Allah … baru kali itu aku merasakan udara yang benar-benar sehat masuk ke paru-paruku.”
Mas Raka berhenti sejenak. Suaranya parau, lehernya tampak menegang menahan gejolak batin yang mengganas dari dalam.
“Aku dijadikan anaknya. Ya, ibuk mengakuiku sebagai anak kandungnya. Dia memperkenalkanku ke semua tetangga, memamerkanku ke mana-mana. Dibanggakan. Dipuji. Tapi .…”
Air matanya mengalir deras.
“Setiap malam, aku menderita. Menangis dalam diam. Aku hidup dalam rumah yang asing, dalam pelukan yang menyesakkan. Karena di dalam rumah yang sama ada kembaranku. Dia … masih di dalam gudang itu. Masih dikurung. Masih disiksa.”
Suaranya tercekat. Aku menggenggam tangannya erat, merasa seolah bisa ikut merasakan luka yang menyesakkan dada itu.
“Aku diancam. ‘Jangan pernah anggap dia saudaramu!’ katanya. Bahkan untuk sekadar menatapnya lama saja, aku bisa dihukum.” Suaranya meninggi, penuh sesak. “Ibuk bisa memukulnya habis-habisan hanya karena aku terlalu lama diam menatap mata kembaranku!”
Mas Raka mengepalkan kedua tangannya. Urat-urat di pelipisnya menegang.
“Aku … aku yang antar makanan untuknya. Setiap malam aku mengendap masuk ke gudang. Aku lihat tubuhnya makin rusak. Sayatan-sayatan baru. Luka-luka lebam. Nafasnya berat. Wajahnya makin tak kukenal. Tapi dia … dia masih hidup. Dan dia masih selalu menungguku datang.”
Suaranya terputus. Luruh. Hancur.
“Aku cuma anak kecil waktu itu … tapi kenapa rasa bersalah ini seperti membunuhku sekarang?”