Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Keterlaluan
Tok. Tok.
Papah langsung menoleh ke arah pintu.
Begitu pintu terbuka, Mas Raka muncul di dengan wajah datar, ekspresi yang selama beberapa minggu terakhir ini sudah tak asing lagi buatku. Dingin. Hambar. Tidak ada sisa-sisa kelembutan suami yang dulu pernah kucintai sepenuh hati.
Papah langsung bangkit dari duduknya.
“Baguslah, Nak … akhirnya kamu datang juga tanpa ibumu,” ujar Papah pelan, nada bicaranya mengandung penekanan, seakan sejak kemarin menunggu momen ini.
Mas Raka melangkah masuk setengah, tangannya dimasukkan ke saku celana. “Ibuk di mobil. Aku ke sini cuma mau jemput Ayna. Katanya perawat udah izinin Ayna pulang kan?” ucapnya enteng, tanpa menoleh ke arahku sedikit pun.
Aku tercekat. Demi Allah … baru kali ini aku benar-benar menyaksikan Mas Raka sebegitunya kurang ajar, tidak punya rasa hormat pada orang tuaku. Nada bicaranya datar, tak sedikit pun ada nada peduli, apalagi hangat.
Papah mendekat, menahan pintu agar tak tertutup.
“Nak Raka,” ucap Papah dengan suara tegas, menahan gejolak emosi yang mulai mendidih di dadanya. “Ada yang ingin Papah bicarakan, berdua saja. Tanpa ibumu, tanpa Ayna.”
Mas Raka mendengus pelan, jelas tak nyaman. “Pah … maaf, saya nggak bisa lama. Ibuk nunggu di mobil. Beliau masih belum sehatan, kasian kalau kelamaan. Lagi pula saya di sini cuma mau jemput Ayna aja, nggak lebih.”
Aku menahan napas.
Dan terlihat sekali papah sedang menahan diri, walau raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kekecewaan.
“Nak, lima menit saja. Ada yang perlu Papah sampaikan. Tentang Ayna … tentang keluargamu … tentang rumah tangga kalian.”
Mas Raka menggeleng cepat. “Nggak usah, Pah. Saya udah cukup pusing dengan keadaan sekarang. Ibuk juga belum pulih, papah tau sendiri ibuk yang nolongin hidup Ayna , saya nggak tega ninggalin lama-lama. Besok aja kalau perlu, atau nanti saya telepon, kalau memang penting.”
“Nak Raka, ini soal yang tidak bisa ditunda,”
“Maaf, Pah.” Kali ini Raka memotong cepat. “Saya harus pergi.”
Aku menahan napas, dada perih. Mas Raka berbalik hendak keluar.
Papah bersuara lagi, suaranya berat, menahan amarah. “Nak, kamu sadarkah sikap kamu belakangan ini? Kamu lupa siapa yang baru saja berjuang mempertaruhkan nyawa di ranjang ini? Dia istrimu, Nak. Ayna istrimu!”
Mas Raka terdiam di ambang pintu. Bahunya menegang.
“Saya nggak lupa, Pah. Tapi saya harap papah dan mamah juga jangan lupa jasa ibuk saya terhadap kalian.”
Papah maju selangkah. “Tapi kamu juga nggak bisa memperlakukan Ayna seolah dia nggak berarti. Dia butuh suaminya. Bukan cuma orang tuanya. Kamu tahu diri, Nak!”
“Ibuk lebih penting.”
Kalimat itu bagai belati yang menyayat. Sunyi mendadak memenuhi ruangan. Napasku tercekat, dada ini seperti dihantam sesuatu yang berat. Mamah yang tadi duduk di samping tempat tidur sontak menegang, sedangkan Papah yang masih berdiri dekat pintu menatapnya lurus, sorot matanya seketika berubah dingin.
Papah menelan ludah, tapi tak sedikit pun bergeming. Nadanya rendah tapi tegas.
“Kalau begitu, Nak .…” Papah menarik napas dalam-dalam. “Dengar baik-baik. Anak saya, Ayna … tidak akan ikut bersama kamu.”
Suasana kamar makin mencekam. Mamah yang tadinya hendak bicara, mengurungkan niatnya. Aku hanya bisa diam, mulutku seakan terkunci. Mas Raka, yang tadinya hendak melangkah keluar, berbalik setengah, menatap Papah dengan tatapan keras.
“Saya suaminya. Papah jangan lupa, saya yang punya hak lebih atas Ayna. Hak saya lebih besar dari siapapun, termasuk orang tuanya sekalipun,” tukas Mas Raka, suaranya sedikit meninggi.
Mataku membelalak. Hatiku ngilu. Ya Allah … benar-benar tega.
Papah masih tetap berdiri tenang, meski wajahnya mulai memerah menahan emosi. “Hakmu sebagai suami bukan berarti kamu bisa memperlakukan Ayna seolah dia benda. Dia manusia, Nak. Dia anak saya, darah daging saya. Dan sebagai orang tuanya, saya punya hak penuh untuk menentukan keamanannya. Kalau kamu lebih memilih ibumu dari pada istrimu yang masih berjuang untuk sakitnya, saya rasa kamu juga sudah melepaskan sebagian hak itu, Nak.”
Mas Raka menggertakkan gigi. Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Jangan bawa-bawa soal itu, Pak. Saya datang kemari baik-baik. Kalau bukan karena saya tadi buru-buru, saya juga pasti di sini.”
“Tapi nyatanya tidak.” Kali ini Mamah angkat bicara. “Nyatanya kamu lebih peduli sama ibumu yang notabene baru donor ketimbang istrimu yang hampir mati. Gak ada sedikit pun kabar, gak ada telepon, gak ada pesan. Kamu bahkan lebih banyak jagain ibumu dari pada Ayna. Sementara kami orang tuanya yang harus siaga di sini siang malam. Itu yang kamu sebut suami?! Padahal kami juga mau jika harus bergantian menjaga ibumu, kau disini mamah disana.”
Mas Raka mendengus, terlihat ingin membalas, tapi tak sanggup.
“Kami bukan melarang kamu ketemu Ayna, Nak,” Papah kembali bersuara, nada suaranya lebih tenang tapi tegas. “Kami cuma minta kamu jadi suami yang tahu diri. Kalau belum bisa jadi pelindung yang baik buat Ayna, setidaknya jangan jadi alasan dia makin terluka.”
Hening.
Mas Raka diam sesaat. Sorot matanya berubah antara marah, malu, dan tidak terima. Tapi akhirnya dia menundukkan wajah, lalu kembali berkata pelan, “Saya tetap akan bawa Ayna pulang. Dia istri saya.”
Papah menggeleng, nadanya mantap. “Selama dia masih dalam pengawasan medis, selama dokter belum kasih izin secara resmi ke kami, dan selama kamu belum bisa jaga sikap, Ayna tetap di sini, bersama kami.”
Aku menelan ludah, menahan air mata.
“Kalau kamu sayang sama Ayna, buktikan. Bukan cuma bawa nama status suami. Tapi hadir saat dibutuhkan. Kalau nggak bisa, jangan ganggu.”
Kalimat Papah itu membelah udara kamar yang tadinya sudah tegang.
Mas Raka diam beberapa detik, seperti menimbang-nimbang sesuatu. Lalu dengan wajah yang sudah kehilangan sisa-sisa hormatnya, dia menggeleng pelan.
“Ya sudah,” katanya dingin. “Saya ke sini hanya ingin menjemput Ayna. Berkas administrasi dan semua urusan rumah sakit sudah saya urus. Sekarang Ayna tinggal pulang. Itu saja. Jangan bikin keributan di sini.”
Sumpah demi Allah, aku yang dari tadi cuma bisa diam di atas ranjang langsung tercekat. Rasanya antara ingin marah, menangis, atau bangkit dan menamparnya saat itu juga. Tapi tubuhku masih lemah dan yang bisa kulakukan hanya menahan air mata yang siap tumpah.
Mamah menghela napas, tapi aku bisa lihat betapa keras rahangnya menahan amarah. Dengan langkah mantap, mamah maju satu langkah.
“Baiklah, Raka … kalau begitu, mamah ikut ke rumahmu. Menemani Ayna di sana.”
Tapi Mas Raka malah mendongakkan wajahnya perlahan.
“Ibuk saya nggak suka sama Mamah,” katanya tanpa basa-basi. “Dan saya juga tahu Mamah nggak pernah suka sama Ibuk saya. Jadi saya mohon … jangan lagi datang ke rumah kami, Mah. Dengan alasan apa pun.”
Jantungku seperti diremas. Seketika aku tak bisa percaya Mas Raka bisa berkata setega itu di depan mamah yang sudah susah payah siang malam menjagaku, bahkan yang rela ribut di rumah ibunya demi membela aku.
Mamah menatapnya, wajahnya tetap tenang meski aku tahu dari sorot matanya ada amarah yang begitu dalam.
“Lalu, Raka …,” suara mamah mulai menegang, “Bagaimana nanti dengan Ayna di sana? Apa kamu sanggup merawatnya sendiri? Apa kamu bisa menggantikan peran seorang ibu saat dia butuh seseorang buat ngurusin obatnya, makanannya, ganti perbannya? Apa kamu bisa?”
Mas Raka mendesah berat. Dia tampak ingin segera pergi dari ruangan itu.
“Ayna masih muda. Dia bisa rawat dirinya sendiri,” katanya enteng.
Aku nyaris membelalakkan mata. Hati ini benar-benar remuk. Sebegitunya kah aku di matanya?
“Dan lagi,” lanjut Mas Raka, “Saya bawa Ayna ke rumah itu untuk menjaga Ibuk. Bagaimanapun, Ibuk yang paling berjasa buat kehidupan Ayna sekarang.”
Mamah tertawa kecil mendengar kata-kata Mas Raka.
“Ayna itu istrimu, bukan babu. Kalau kamu masih punya hati, kamu rawat dia baik-baik. Kalau nggak bisa, biarkan kami yang bawa pulang Ayna.” Papah akhirnya angkat suara, nadanya berat.
Mas Raka mengepalkan tangan, bibirnya mengeras. “Saya nggak bisa lepasin Ayna. Dia istri saya. Saya bawa dia ke rumah saya, itu hak saya.”
“Baik,” mamah menahan napas, matanya berkaca-kaca. “Tapi mulai detik ini, Raka … kalau sampai aku dengar kamu atau ibukmu berani macam-macam lagi sama anakku, aku nggak akan diam. Jangan anggap aku nggak bisa ngelindungin anakku meski dia udah bersuami!”
Mas Raka hanya mendengus, lalu memalingkan wajah.
“Saya tunggu di mobil. Kalau kalian mau ngurus barang, cepat.”
Dan dia pergi begitu saja, meninggalkan ruangan tanpa menoleh sedikit pun ke arah kami.
Sungguh demi Allah demi apa pun juga. Aku tidak menyangka Mas Raka sebegitunya sekarang.
Aku tak mampu menahan air mata. Mamah langsung mendekat, menggenggam tanganku.
“Ssstt … sabar, Nak … sabar ya … mamah di sini. Kamu nggak sendirian. Jangan takut, Ayna. Jangan takut ….”
Aku mengangguk, meski tenggorokanku tercekat.
“Aku nggak mau balik ke rumah itu, Mah … aku takut … aku nggak kuat, aku .…”