Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Anak Kandungku

POV Mamah Ayna

 

Aku menatap wajah Ayna yang tertidur lelap di ranjang rumah sakit itu. Wajahnya pucat sekali, bahkan sejak dua hari lalu setelah operasi transplantasi tulang belakang itu selesai, wajahnya tak pernah benar-benar cerah. Pipinya makin tirus, matanya masih bengkak. Rambutnya yang dulu lebat, kini mulai menipis karena efek obat.

 

Tanganku tak berhenti membelai pelan rambutnya, sesekali mengusap keringat di pelipisnya. Napasnya pelan. Alat di samping ranjangnya masih berbunyi stabil. Alhamdulillah, setidaknya untuk malam ini, keadaannya lebih tenang dibanding kemarin.

 

Di sisi kursi, suamiku … papahnya Ayna  duduk terkantuk-kantuk, tapi tetap tak meninggalkan tempatnya. Sesekali beliau menggenggam tangan Ayna, sesekali membenarkan posisi selimut yang mungkin bergeser.

 

Aku menoleh ke arahnya, lalu berbisik pelan.

 

“Pah … sikap Raka sekarang makin keterlaluan gak sih?” suaraku kubuat sangat pelan, takut didengar Ayna.

 

Papah membuka matanya, menoleh ke arahku. Wajahnya lelah, tapi sorot matanya jelas.

 

“Iya, Mah … Papah juga lihat. Dari kemarin pasca operasi, anak itu makin kayak orang asing. Gak ada inisiatif nengokin istrinya. Padahal Ayna itu masih istri sahnya.”

 

Aku mendesah pelan, menatap putriku lagi.

 

“Aku tuh paham, Pah … aku ngerti, dia khawatir sama ibunya. Siapa sih yang nggak? Tapi masak iya sih, dari sekian jam dia ngurusin ibunya, nggak ada sedikit pun waktu buat nengok istrinya? Masak iya nggak kepikiran sama perempuan yang udah dia tinggalin di ruang operasi sendirian kemarin? Dia pikir Ayna ini apa? Barang sisa?”

 

Suamiku mengangguk, wajahnya serius.

 

“Papah juga ngerasa, Mah … semenjak ibunya Raka dinyatakan jadi relawan donor kemarin, sikap anak itu langsung berubah. Kayak orang ketakutan, kayak nggak berani nyinggung ibunya, kayak menutup mata dari Ayna. Kayak … kayak milih pura-pura lupa kalau dia punya istri.”

 

Aku meremas jari-jariku, dada ini sesak sekali rasanya. Marah, sedih, kecewa … semuanya campur jadi satu.

 

“Tau gak, Pah … waktu aku mampir ke ruangannya si ibuk tadi siang, aku dipelototin. Disambut makian. Padahal aku cuma mau nitipin makanan ringan, karena aku pikir ya siapa tau anaknya bisa sekalian nengok. Tapi dia malah bilang ‘Bawa aja tuh makanan buat anakmu. Saya gak butuh.’ Udah gitu anaknya diem aja. Diam! Gak ada satu kata pun buat belain mamah.”

 

Papah menghela napas berat.

 

“Papah … sebenernya pengen negur anak itu, Mah. Tapi papah nahan. Takut makin panjang masalahnya, takut malah bikin Ayna makin tertekan kalau kita ribut di sini. Papah gak habis pikir, kok ada ya suami kayak gitu.”

 

Aku mengangguk pelan, mengelus tangan Ayna yang masih diinfus.

 

“Aku juga nahan, Pah. Tapi rasanya … ya Allah, sumpah ya … kalau bukan karena aku mikirin kondisi Ayna dan hutang budi pada ibunya, mungkin dari kemarin-kemarin aku udah gampar anak itu.”

 

Kami terdiam beberapa saat.

 

Malam makin larut. Rumah sakit mulai sepi. Suara langkah kaki perawat yang bergantian ronda terdengar samar dari luar. Bau obat menyengat khas rumah sakit semakin menusuk.

 

Aku kembali menatap wajah Ayna.

Lalu melirik ke arah Papah Ayna yang sedari tadi duduk di dekat jendela, sibuk menatap langit malam dari balik kaca.

 

Entah kenapa, mendadak ada sesuatu yang mencuat di pikiranku. Sebuah rasa yang sejak awal sebenarnya sudah ada, tapi terus aku tekan, aku abaikan. Tapi semakin hari, rasanya makin sulit dipendam.

 

Aku mendekat pelan, lalu memegang lengan bajunya. “Pah …,” bisikku.

 

Papah menoleh. “Ada apa, Mah?”

 

Aku melirik ke arah Ayna, memastikan dia masih tertidur, lalu kubisikkan lagi, “Kita ke luar sebentar, yuk.”

 

Papah mengernyit. “Kenapa?”

 

“Sebentar aja. Aku pengen ngomong, gak enak kalau di sini.”

 

Akhirnya Papah bangkit dari kursinya. Kami berjalan keluar pelan-pelan, melewati lorong sepi menuju ruang tunggu dekat nurse station. Sepi. Hanya ada deretan kursi plastik biru yang kosong.

 

Aku duduk, menarik napas panjang. Sempat ragu, tapi akhirnya kutanya juga.

 

Aku menoleh ke arah Papah. “Pah …,” panggilku lirih, berusaha pelan dan tenang.

 

Papah menoleh. “Hm?”

 

Aku menarik napas panjang yang entah ke berapa kalinya. “Aku nggak tahu ini perasaanku aja apa gimana, tapi … sejak hasil donor kemarin, aku ngerasa ada sesuatu yang aneh.”

 

Papah mengerutkan kening, lalu menghela napas. “Mah … kita udah bahas ini tadi kan. Ya anggap aja mukjizat.”

 

Aku menatap matanya lekat-lekat. “Pah … bukan soal cocoknya aja. Tapi kok bisa secepat itu? Dan yang cocok malah dia … dia yang selama ini bahkan kayak benci sama Ayna, Pah. Bukannya aku suuzon, tapi logika mana yang nerima? Rumah sakit kan bukan pasar, donor ginjal aja butuh waktu dicek banyak hal. Ini transplantasi jaringan tulang belakang, Pah. Nggak segampang itu, kan bahkan keluarga terdekat aja kemungkinan besar cocok itu hanya 1% selain orang tua kandung!”

 

Papah terdiam. Kutahu dia juga sebenarnya punya pikiran yang sama, tapi berusaha menyangkal.

 

“Apa jangan-jangan?” 

 

“Mah … jangan aneh-aneh. Itu udah lama banget, nggak usah diungkit,” katanya, tapi nada suaranya berubah. Ada getaran disana

 

Aku tersenyum tipis. “Aku nggak aneh-aneh, Pah. Aku cuma … penasaran. Kalau itu benar, aku cuma pengen tahu kenapa harus seperti ini jalannya? Kenapa harus dia pah? Kenapa baru sekarang, di saat begini? Apa memang takdir Allah kayak gini caranya buat nunjukin sesuatu?”

 

 

Papah menarik napas panjang, begitu berat, seolah semua udara di dadanya menggumpal jadi satu beban. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah taman kecil di depan rumah sakit yang terlihat samar dari balik kaca. 

 

“Aku bilang nggak, Mah! Udah. Nggak mungkin!” suaranya terdengar lebih keras dari yang seharusnya, membuat aku tersentak.

 

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan debar di dada yang makin tak karuan. Aku tahu suamiku keras kepala. Aku tahu dia nggak pernah suka kalau aku mulai bahas hal-hal yang berkaitan sama masa lalu. Tapi kali ini beda. Aku nggak bisa diem, nggak bisa pura-pura nggak merasa apa pun.

 

“Pah …,” bisikku lirih, suaraku bergetar. Aku berusaha meraih tangannya, tapi papah mengelak, malah menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. “Aku juga takut. Aku takut, Pah. Takut banget. Tapi gimana kalau iya?”

 

Aku menatap wajahnya yang mulai mengeras, rahangnya mengatup. Tapi aku nggak berhenti. Aku harus teruskan.

 

“Kalau memang yang selama ini kita kira cuma orang luar, ternyata bukan? Kalau memang ibuknya Raka itu … kalau memang dia ….”

 

“Cukup, Mah!” potong papah cepat, nadanya meninggi. Matanya kini menatapku, tapi bukan tatapan lembut seperti biasanya. Ada amarah, ada ketakutan dan ada luka lama yang tiba-tiba seperti diungkit kembali.

 

Aku menggigit bibir bawah, air mataku menggenang.

 

“Pah … kita nggak bisa tutup mata. Kita nggak bisa terus pura-pura. Aku … aku ngerasa kayak ada yang gak beres dari awal saat aku tau dia dinyatakan positif 100% cocok,” suaraku pelan, bergetar, hampir putus di tengah jalan. “Terus kalau memang iya, Pah? Si Raka? Ayna?”

 

Aku menunduk, tak sanggup menatap matanya yang tajam.

 

“Ayna kan … Ayna anak kita, Pah. Putri kita satu-satunya. Tapi kalau selama ini ternyata yang kita kira cuma mertua dia itu … lebih dari sekadar mertua .…” aku nggak sanggup meneruskan.

 

Papah menggeram pelan, napasnya terdengar berat.

 

“Buang jauh-jauh pikiran kamu itu, Mah!” suaranya menegang. “Aku benci dengar itu. Aku benci setiap kali kamu bawa-bawa masa lalu!”

 

Dia berdiri, kursi plastik itu sampai bergeser menimbulkan bunyi berderit pelan. Aku mendongak, menatap wajahnya yang memerah.

 

“Ayna itu anak kandungku! Darah dagingku! Putriku satu-satunya, Mah!” katanya setengah membentak.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!