Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Apa Kurangnya

Aku memandangi semangkuk bubur di pangkuanku, tapi selera makanku benar-benar lenyap. Bahkan aroma hangatnya pun tak mampu menarik hati.

 

Sambil menahan perih di dada, aku menoleh pelan ke arah mamah yang sedang menyuapiku dengan sabar. Ada gurat lelah di wajahnya, tapi tatapan sayang itu masih sama hangatnya seperti dulu saat aku kecil jatuh dari sepeda dan mamah panik setengah mati.

 

“Mas Raka masih di ruang Ibuk, Mah?” tanyaku pelan, suara serak, berusaha terdengar santai meski kenyataannya tidak.

 

Mamah terdiam sejenak. Hanya anggukan pelan yang keluar darinya.

 

Aku menghela napas panjang.

 

“Sudahlah, Ay … fokus saja dulu ke kesehatanmu,” kata mamah akhirnya, suaranya lirih. Tangannya menggenggam jemariku yang dingin. Kehangatan itu sedikit meredakan sesak di dadaku.

 

Aku memaksa tersenyum tipis. “Aku … nggak papa kok, Mah. Aku ngerti.”

 

Mamah mendengus, lalu matanya memandangku lekat-lekat.

 

“Ngerti apaan? Ngerti kalau suamimu lebih peduli sama ibunya ketimbang kamu? Ngerti kalau kamu bahkan nggak dianggap di saat kamu nyaris mati? Ngerti kalau kamu harus terus-terusan jadi orang sabar sementara mereka semena-mena? Astaga Ayna …!” suara mamah meninggi. 

 

“Apa lagi semenjak suamimu tau kalo ibunya yang mendonorkan tulang untukmu, tingkahnya semakin menjadi! Astaghfirullah.” Seketika air matanya menetes.

 

Aku terdiam. Rasanya aku nggak punya tenaga buat membela siapa pun atau menjelaskan apa pun.

 

“Tadi juga mamah ke ruangan ibuknya, yang mamah dapetin cuma makian, marah-marah. Entah apa isi kepalanya itu manusia. Dia marah-marah karena merasa dirinya pahlawan besar udah donor buat kamu. Sombongnya minta ampun. Padahal ya Allah … andai bukan karena dia satu-satunya pendonor yang cocok, mamah udah caci-maki dia di situ juga!”

 

Nada suara mamah semakin tinggi. Aku bisa lihat matanya merah karena menahan amarah.

 

Aku menggenggam jemarinya, mencoba menenangkan.

“Mamah … udahlah, Mah. Jangan marah-marah nanti darah tinggi mamah kambuh lagi.”

 

Tapi mamah malah terisak pelan. “Mamah nggak terima, Nak. Nggak terima. Anakku disakitin begini … Anakku diperlakukan kayak gak ada harganya!”

 

Air matanya menetes ke punggung tanganku.

 

“Aku salah ya, Mah? Ini semua karena Ayna kan? Aku … aku yang nggak bisa bikin Mas Raka bahagia. Aku istri nggak berguna. Aku cuma bikin malu di depan keluarganya. Aku nggak bisa kasih anak sampai akhirnya malah begini … aku jatuh sakit. Aku …,” suaraku pecah.

 

Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.

Sakit fisik ini bahkan kalah jauh dari perihnya dihina, dibanding ditinggalkan, dibanding rasa gak dianggap sama sekali.

 

Mamah menggeleng cepat. Wajahnya tegas meski basah oleh air mata.

 

“Jangan pernah ngomong gitu, Ayna! Denger ya, Nak … kamu tuh bukan salah. Dosa kamu apa? Setia sama suami? Bertahan meski dihina? Itu salah? Salahnya mereka, Nak. Salahnya orang-orang itu yang nggak tahu cara menghargai perempuan sekuat kamu.”

 

Aku menggigit bibir. Dada ini makin sesak.

 

“Kamu itu anak baik, Ay. Kamu perempuan baik. Masalahnya bukan kamu. Tapi suamimu. Ibunya. Mereka yang rusak, bukan kamu.”

 

Aku memalingkan wajah, takut air mata ini makin deras.

 

“Aku cuma pengen dicintai, Mah. Pengen dihargai. Apa itu susah?” bisikku.

 

Mamah menarikku ke pelukannya, hati-hati supaya selang infus di tanganku nggak terganggu.

 

“Denger ya, Ay … kalau orang lain gak bisa ngasih kamu cinta dan penghargaan, kamu wajib kasih itu ke diri kamu sendiri. Jangan ngemis ke siapa pun buat disayang. Apalagi ngemis di rumah orang kayak gitu.”

 

Aku mengangguk pelan, tapi dada ini masih berat.

 

“Kalau aku ninggalin Mas Raka … aku salah nggak, Mah?” tanyaku lirih.

 

Mamah mengusap kepalaku lembut.

 

“Kamu berhak bahagia, Nak. Entah itu sama dia … atau tanpa dia. Tapi mamah gak rela lihat kamu kayak gini terus. Hidupmu tuh bukan cuma buat jadi istri orang, Nak. Kamu masih bisa bahagiain diri kamu. Mamah dukung apa pun keputusan kamu. Mamah di sini, Nak … selalu di sini.”

 

Aku menangis di pelukannya. Rasa sakit itu sedikit mereda. Entah sejak kapan, aku benar-benar lupa rasanya punya orang yang membelaku habis-habisan tanpa pamrih.

 

“Makasih ya, Mah .…”

 

Mamah tersenyum tipis.

 

“Udah, jangan banyak mikir dulu. Kita fokus sembuh. Nanti urusan rumah itu gampang, ada mamah. Mau cerai, mau apapun … ayo, mamah temenin. Mau kamu pergi dari situ, ayo, mamah temenin. Tapi mamah minta satu, Ayna … jangan pernah kehilangan dirimu sendiri lagi cuma buat orang yang gak pantes.”

 

Aku mengangguk, menggenggam tangannya lebih erat.

 

Di luar kamar, samar-samar terdengar langkah kaki.

 

“Bu, permisi … ada tamu.” suara perawat mengetuk pelan.

 

Mamah melirikku.

 

“Siapa?”

 

“Ibu Nurhayati, Bu … mau ketemu.”

 

Mamah berdiri, wajahnya kembali keras.

“Ngapain dia kesini … udah ya Ay, kamu diam aja, biar mamah yang hadapin.”

 

Aku terdiam.

 

Pintu kamar itu terbuka perlahan.

 

Aku langsung merapatkan selimut ke dada, jantungku berdegup keras. Mamah yang tadi duduk di sampingku spontan berdiri, menegakkan tubuh, seolah siap perang.

 

Ibuk melangkah masuk.

 

Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Kantung matanya gelap, garis-garis keriput di sudut bibirnya makin jelas. Tapi sorot matanya … tetap sama. Sinis. Dingin.

 

Di belakangnya, Mas Raka ikut masuk, menunduk, tak berani menatapku. Tangannya masih menggenggam tas kecil berisi obat ibunya.

 

“Permisi,” ucap Ibuk datar, tanpa senyum, tanpa sapa hangat.

 

Aku diam. Mamah juga tidak menyahut. Hanya berdiri di sana, menatap Ibuk tanpa berkedip.

 

Ibuk duduk di kursi pojok kamar. Suasana hening. Hanya suara detak alat monitor di samping ranjang yang terdengar pelan.

 

“Bagaimana rasanya hidup karena wanita ini Ayna?” ucap Ibuk tiba-tiba, suaranya berat, nyaris serak.

 

Aku menoleh, tak paham maksudnya.

 

“Saya donor buat kamu bukan karena saya peduli. Bukan juga karena sayang. Tapi karena saya benci sama penyakit. Saya benci kalau ada manusia yang bikin anak saya sedih,” katanya sambil menatapku tajam.

 

“Jadi… jangan salah paham. Ini bukan karena aku peduli sama kamu, Ayna,” lanjutnya.

 

Aku menarik napas dalam. “Aku nggak pernah berharap Ibuk peduli, tapi Ayna sangat sangat berterima kasih dengan ibuk” jawabku pelan.

 

Ibuk menyipitkan mata. “Bagus.”

 

Aku menoleh ke arah Mas Raka.

 

“Mas,” panggilku pelan.

 

Dia menoleh, matanya masih merah.

 

“Kenapa dari tadi Mas nggak pernah nengok aku, Mas? Kenapa waktu aku sadar, yang Mas cium ibuk … bukan aku? Aku ini siapa buat Mas, ha?” suaraku bergetar, menahan perih yang entah kenapa lebih sakit dari bekas luka operasi di punggungku.

 

Mas Raka diam. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tak ada suara keluar.

 

Lalu sedetik kemudian Mas Raka menatap wajahku.

 

“Tolong jangan drama di sini ya, Ayna. Gak ada yang ninggalin kamu. Kamu masih hidup kan? Masih di ranjang rumah sakit, masih bisa makan, masih bisa ngeluh. Apa kurangnya?”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!