Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Ibu mertua nenek gombel
“Mah … apa aku terlalu curiga ya sama Mas Raka?” tanyaku pelan, sambil rebahan di samping mamah yang tengah asyik membaca novel dari aplikasi di ponselnya.
Mamah gak langsung menjawab. Jarinya masih sibuk menggeser-geser layar ponsel, bibirnya komat-kamit membaca dialog tokoh utama di novel itu.
Aku menghela napas panjang. Mengedarkan pandangan ke langit-langit kamar, lalu kembali menoleh ke arah mamah.
“Tapi kayak kebetulan banget, Mah … tiap Mas Raka gak ada di rumah … suara itu pasti muncul dari kamar ibuk. Desahan, suara ranjang berderit … kayak … ya kayak gitu, Mah …,” suaraku mengecil. Pipiku panas sendiri tiap harus bilang begitu ke mamah.
Mamah mendadak berdehem, matanya masih tertuju ke layar ponsel.
“Hmmmm …,” gumamnya. Tangannya berhenti sejenak, lalu dia menoleh pelan, menatapku serius.
“Ayna .…”
Nada suaranya kali ini berubah, lebih dalam, seolah mau kasih wejangan penting.
“Kamu pikir mamah percaya gitu aja sama suamimu? Hah?” tukas mamah, alisnya terangkat tinggi.
Aku mengerjap.
“Ya … enggak sih … tapi kayaknya memang kita harus percaya gak sih mah? Dia kan suamiku .…”
“No … no … no! Jadi perempuan tuh pinteran dikit, Ayna! Jangan mau dibodoh-bodohin kayak di sinetron! Sekali dua kali masih bisa lah dibilang kebetulan. Tapi kalau udah tiap kali dia gak ada, terus suara begituan muncul … itu mah bukan kebetulan. Itu udah janjian namanya!” seru mamah sambil menunjuk-nunjuk ponsel ke arahku.
Aku menahan tawa.
“Isss mamah teh, kebanyakan baca novel drama rumah tangga, ih! Baper banget.”
Mamah langsung cengar-cengir.
“Yee … ini tuh seru tau! Kamu juga harus belajar dari istri-istri di novel yang berani lawan mertuanya. Kuat, tegas, pinter bales omongan! Jangan kayak karakter yang nangis-nangis gak jelas, digampar diem, diperlakukan kayak sampah masih aja ngarep suaminya berubah. Kesel mamah liatnya tuh! Pengen rasanya mamah masuk ke dalam ceritanya!” keluhnya sambil mengibas-ngibaskan ponsel di udara.
Aku nggak bisa nahan tawa lebih lama.
“Hahahahaha … mamah ihh lebay. Sampai pengen masuk ke dalam cerita segala.”
“Beneran, Ayna! Kalau bisa tuh mamah pengen banget masuk ke novel, gelut sama ibu mertua tokohnya! Pake sapu lidi kek, wajan kek … Pokoknya mamah jambak! Biar kapok itu mertua-mertua songong!” katanya dengan nada dramatis, sambil menirukan gaya orang marah-marah.
Aku terpingkal-pingkal di kasur.
“Ya Allah Mah … demi apa mamah kebanyakan baca cerita di KBM kayaknya.”
“Gapapa! Justru dari situ mamah jadi tau banyak trik perempuan-perempuan cerdas, Nak. Gak semua perempuan itu harus ditindas. Gak semua perempuan harus pasrah. Yang kuat yang bertahan!” kata mamah penuh semangat, seperti orator demo.
Aku masih tersenyum, tapi diam-diam dada ini hangat.
Di balik celetukan lucunya, aku tau … mamah sebenarnya sedang menegaskan bahwa dia ada di pihakku. Dia benci liat aku dipermainkan, benci liat aku nangis.
Dan dia pengen aku jadi perempuan kuat, kayak tokoh-tokoh novel yang sering dia baca itu.
Aku peluk mamah pelan.
“Makasih ya, Mah .…”
Mamah terkekeh, mengusap kepalaku.
“Ya iyalah, kamu itu anak perempuan mamah satu-satunya. Kalau bukan mamah yang belain kamu, siapa lagi? Lagian … kapan-kapan kita bikin novel aja yuk, Nak. Kisah istri yang bangkit ngelawan mertua toxic. Judulnya ‘Palu Godam Untuk Mertua’ gimana?”
Aku terbahak.
“Ihh mamah teh … bisa aja!”
Dan malam ini, meski hati masih nyeri dengan banyak pertanyaan, setidaknya tawa kecil kami bisa jadi pereda luka sementara. Aku tau, apa pun nanti yang akan terjadi … aku gak sendirian. Ada mamah. Ada perempuan tangguh di sampingku.
*
“Nyonya … selamat pagi, sayangku!”
Terdengar suara cerah mamah, disusul cahaya matahari yang mendadak menyelinap masuk saat mamah membuka gorden jendela lebar-lebar.
Aku mengerjapkan mata, pelupuk mata masih berat.
“Erghmm … pagi juga, Mah …,” gumamku, suaraku serak sisa begadang semalam.
Aku meregangkan tubuh pelan, tangan diangkat ke atas, lalu mengucek mata.
“Udah pagi toh …,” tambahku setengah malas.
Mamah tersenyum, meletakkan nampan kecil di atas meja samping tempat tidur. Di atasnya ada sepiring nasi goreng hangat dengan irisan telur dadar di pinggirnya, aroma bawang putih dan merica langsung menyeruak mengusik perutku yang kosong sejak malam.
“Mamah bawain nasi goreng nih, sayangku … masih anget, makan dulu, biar nggak masuk angin kamu itu …,” ujar mamah, menyodorkan sendok.
Aku tersenyum kecil.
“Wah … enaknya … tumben mamah romantis pagi-pagi …,” godaku.
“Khusus buat anak gadis kesayangan mamah,” balas mamah sambil mencubit pipiku ringan.
“Istri, Mah.”
Aku tertawa kecil, lalu mengambil sendok dan mulai menyendok nasi goreng itu. Baru saja suapan pertama masuk ke mulut, mamah mendudukkan diri di sisi ranjang, lalu berkata pelan, seolah ingin bicara hati-hati.
“Nak … tadi si Raka titip pesan … maaf katanya dia nggak sempet pamitan. Kamu masih tidur waktu dia berangkat. Dia buru-buru ke klinik, hari ini katanya masuk shift pagi.”
Aku menghentikan sendok di tengah jalan, menatap mamah. “Buru-buru?”
“Buru-buru banget kayaknya sih … Papah ajak sarapan aja katanya nggak sempet. Papah bilang tadi udah di depan mobil, cuma lambaikan tangan sebentar, terus langsung jalan,” tambah mamah sambil mengamati reaksiku.
Aku menghela napas pelan, perut yang tadinya lapar tiba-tiba saja seperti menciut.
“Ooo … gitu ya, Mah …,” gumamku pelan.
Mamah memperhatikan wajahku, lalu tangannya mengusap pundakku pelan.
“Kamu nggak usah mikir yang nggak-nggak dulu ya, Nak … makan aja dulu. Biar perut kamu isi. Ntar sakit, mamah yang repot.”
Aku mengangguk pelan.
Masih sambil mengunyah nasi goreng buatan mamah, tanganku meraih ponsel di atas nakas. Niatku sebenarnya cuma ingin mengirim pesan ke Mas Raka. Sekadar bilang, “Jaga diri di klinik ya, Mas.”
Tapi saat layar menyala, mataku langsung menangkap ada tiga pesan masuk di bilah notifikasi.
Pengirimnya:
‘Nenek Gombel.’
Itu nama kontak untuk ibuku Mas Raka. Nama yang sengaja aku simpan begitu di ponsel karena terlalu banyak sakit hati.
Alisku mengerut.
Kok tiba-tiba dia kirim pesan?
Dengan tangan sedikit gemetar, aku buka pesan itu satu per satu.:
[Lihat tuh, anakku memang baik. Dia lebih memilih sarapan di tempat ibunya dibanding wanita perebut.]
Mataku membelalak saat melihat lampiran foto di bawahnya.
Jelas sekali.
Foto Mas Raka sedang duduk di meja makan. Masih mengenakan jaket coklat favoritnya, lengkap dengan piring berisi nasi uduk, tahu bacem dan sambal goreng kentang, makanan kesukaan dia sejak kecil. Senyumnya lebar.
[Oh iya, ibu lupa berterima kasih padamu.]
[Terima kasih semalam sudah mengizinkan seorang anak pulang ke ibunya. Ya, meski cuma sebentar. Tapi saya tetap berterima kasih.]
Aku membeku.
Nafasku tercekat.
Dada terasa dihantam benda tumpul.
Pulang tadi malam?
Kata-kata itu menggaung di kepalaku, keras, berulang-ulang.
Tadi malam? Berarti dugaanku benar? Berarti motoran tengah malam aku dan mamah ke rumah sana … suara de54han, bayangan samar di balik jendela kamar itu … Mas Raka?
Ya Allah … nggak, nggak, nggak mungkin!
Detik itu juga, jantungku rasanya berhenti berdetak. Tanganku mendadak dingin. Nasi goreng di mulutku terasa hambar, bahkan seperti serbuk kapur yang tak bisa kutelan.
Aku meletakkan sendok pelan.
Pandangan mataku buram.