Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Hah Aku Tak menyangka

Kami berjongkok di balik semak yang mulai basah oleh embun malam. Dingin tanah merambat lewat lutut, tapi aku sama sekali tak peduli. 

 

Pandanganku tak lepas dari jendela itu. 

 

Suara ranjang berderit makin jelas, diiringi de54han yang … Astaghfirullah … makin menusuk hati.

 

Mamah menunduk, menggenggam tanganku. Jemarinya dingin dan gemetar.

 

“Ya Allah … siapa itu …,” gumam mamah lirih, nyaris tak terdengar.

 

Aku menggigit bibirku kuat-kuat, menahan air mata yang sudah meleleh tanpa bisa kutahan. Dada ini terasa sesak, campur aduk antara takut, marah, jijik, dan … hancur.

 

Aku tahu betul siluet tubuh itu.

 

Tapi tidak … aku tidak boleh menerka terus menerus sebelum ternyata.

 

Aku berusaha menenangkan diri. Mungkin … mungkin itu bukan Mas Raka. Mungkin .…

 

Tapi aku tahu betul postur tubuh itu!

 

“Ayna,” bisik mamah pelan di telingaku. “Kita harus cari celah lain. Dari sini nggak kelihatan.”

 

Aku mengangguk, meski lutut rasanya lemas. Bersama mamah, kami beringsut ke sisi belakang rumah, tempat ada celah kecil di ventilasi kamar yang sedikit terbuka. Aku menempelkan telinga ke sana. Desahan itu makin jelas, bercampur suara samar panggilan manja.

 

Suara ibuk.

 

Aku kenal suara itu. Suara yang sehari-hari memaki dan menyindirku halus … kini terdengar lembut dan memanggil seseorang.

 

“Mas … pelan, Mas … kamu semakin jago semenjak menikah .…”

 

Darahku membeku.

 

Mas? Menikah?

 

Aku menutup mulutku erat-erat. Badan bergetar. Mamah mencengkeram bahuku.

 

“Ayna … kamu denger?”

 

Aku mengangguk. Bibirku bergetar.

 

“M-Mamah … itu … dia manggil ‘Mas’….”

 

Mamah memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya.

 

“Ya Allah … ampuni kami malam ini … kuatkan anakku .…”

 

Air mataku tumpah. Aku meremas bajuku sendiri.

 

“Mah … aku nggak sanggup,” bisikku.

 

“Dengerin, Ay,” mamah menatapku. “Kita nggak boleh mundur sekarang. Kita harus tahu siapa itu. Kalau nggak malam ini, kamu nggak bakal bisa tidur tenang seumur hidup.”

 

Aku menggigit bibirku lagi.

 

“Ayna … kamu di sini, Mamah yang deket ke jendela. Kamu cari celah masuk ke pintu belakang itu, begitu pintu belakang dibuka, kamu langsung kabur ke motor. Kalau ada apa-apa, jangan pikirin Mamah, paham?”

 

Aku geleng cepat-cepat, air mata deras.

 

“Enggak, Mah … aku ikut .…”

 

“Taat sama Mamah, Nak.”

 

Belum sempat aku protes, tiba-tiba lampu kamar itu hidup. Suara ranjang berhenti. Kami berdua saling pandang.

 

“Mereka selesai, Ay,” lirih mamah.

 

Jantungku berdegup kencang. Mamah menarik tanganku, buru-buru mundur ke balik semak yang lebih gelap. Kami mengendap, menunggu, berharap siapa pun yang keluar bisa terlihat jelas.

 

Beberapa menit hening. Hanya suara angin dan dedaunan bergesekan.

 

Lalu ….

 

Krekk .…

 

Suara pintu kamar terbuka pelan. Samar-samar bayangan seseorang keluar. Tubuh tinggi, rambut agak berantakan, memakai kaus hitam tipis.

 

Aku menahan napas.

 

Mamah mencengkeram lenganku makin erat. Jemarinya bergetar.

 

Tapi posisi orang itu membelakangi cahaya, wajahnya tak kelihatan. 

 

Drrrrttt ….

 

Drrrrttt .…

 

Suara getaran ponsel tiba-tiba memecah keheningan.

 

Aku refleks menahan napas, buru-buru menekan tombol silent tanpa sempat lihat siapa yang menelpon. Tapi tetap saja layar menyala terang, cukup membuat kami berdua refleks menoleh.

 

Di layar, tertera tulisan:

My Lovely Super

 

Aku melirik mamah yang langsung memasang wajah serius.

 

“Mas Raka, Mah …!” bisikku cepat, terkejut dealings panik setengah mati.

 

Mamah langsung mendekat, ikut melirik ke layar ponselku.

 

“Angkat,” bisiknya tegas.

 

Aku buru-buru meraih ponsel itu, tapi sial  belum sempat aku tekan tombol answer, panggilan itu keburu mati.

 

Aku dan mamah saling pandang.

Baru saja aku mau berbisik, tiba-tiba .…

 

Ting!

 

Satu notifikasi pesan masuk.

 

Masih dari Mas Raka.

 

Pesan itu langsung terbaca jelas di layar

 

[Dek, kamu sama mamah ke mana? Kok di kamar nggak ada? Mas baru pulang beli martabak telur kesukaanmu nih.]

 

Aku dan mamah sama-sama melotot membaca isi pesan itu. Pandangan kami berpindah dari layar ponsel ke arah kamar yang baru hening setelah bergemuruh suara de54han hebat.

 

Kami saling menatap.

 

Aku nyaris kehilangan suara. Tenggorokanku tercekat.

 

“Mah …,” bisikku, suara gemetar. “Kalo … kalo Mas Raka katanya baru pulang … trus yang di dalam itu … siapa?”

 

Mamah menggenggam pergelangan tanganku erat.

 

Wajahnya makin tegang. Matanya berkaca-kaca, antara marah, jijik, dan lega.

 

“Kita pulang, Ay!” bisik mamah akhirnya, setelah beberapa menit kami diam mematung.

 

“Semoga saja benar suamimu itu di rumah! Dan soal perempuan jalang itu …,” mamah menoleh ke arah kamar ibuk, “biarkan saja … malam ini kita anggap belum pernah lihat apapun.”

 

Aku menahan napas, air mataku menggenang. 

 

Tanpa banyak bicara lagi, mamah menarik tanganku, buru-buru kami mundur perlahan menjauhi jendela. Langkah kaki kami begitu hati-hati, berusaha tak menimbulkan suara sekecil apa pun. Bahkan suara gesekan sandal saja rasanya seperti petir di telinga kami sendiri.

 

Saat melewati pagar, mamah kembali menahan decitnya dengan telapak tangan. Aku menoleh sekali lagi ke arah rumah itu. Lampu teras masih menyala redup. Angin malam membawa aroma tanah basah, bercampur dengan getir di dada.

 

“Ayo, Nak.” Mamah menarik lenganku.

 

Aku mengangguk cepat. Kami bergegas menuju motor yang terparkir di ujung gang. 

 

Di atas motor, aku duduk di jok belakang sambil memeluk mamah erat. Angin malam menampar wajahku, tapi tetap saja hawa panas di dada ini tak bisa padam. 

 

Masih memikirkan yang tidak-tidak padahal sudah jelas Mas Raka bilang ia di rumah.

 

Perjalanan pulang sepi. Hanya suara motor matic mamah yang terdengar menyisir jalan kampung yang gelap. Beberapa lampu jalan redup, sebagian padam. 

 

Sesampainya di depan halaman rumah orang tuaku.

 

Terlihat mobil putih itu sudah terparkir rapi di depan teras rumah, tepat di posisi biasanya. Kilau lampu taman mengenai bodi mobilnya yang masih basah oleh embun malam. 

 

Aku dan mamah saling pandang, lalu tanpa sadar menghela napas panjang bersamaan.

 

“Alhamdulillah …,” desahku lirih.

 

Setidaknya, prasangka buruk yang sempat menyesakkan dada kami sepanjang perjalanan tadi, ternyata tak terbukti. 

 

“Alhamdulillah, Nak … dia di sini,” ucap mamah pelan, menepuk punggung tanganku seakan ingin menenangkan. Tapi aku tahu, hati mamah pun masih belum sepenuhnya tenang.

 

Kami segera memarkirkan motor di halaman samping rumah. Aku buru-buru turun, tubuhku masih sedikit gemetar meski sudah mencoba tersenyum.

 

Begitu aku melangkah ke depan, pintu rumah terbuka. Mas Raka berdiri di ambang pintu dengan wajah sedikit heran sekaligus lega. Senyumnya merekah lebar, manis … seolah tak pernah terjadi apapun malam ini.

 

“Lho, Mah … Dek Ayna … dari mana malam-malam begini?” tanyanya pelan.

 

Mamah melangkah lebih dulu. Wajahnya kembali dipasang biasa, seolah tidak ada apa-apa. Dia memang begitu perempuan kuat yang tahu bagaimana bersandiwara di hadapan orang yang tak perlu tahu lukanya.

 

“Eh … anu … dari depan, Nak. Tadi Ayna ngajakin Mamah ngadem di depan gang, katanya kepikiran terus sama masalahnya. Ya udah Mamah temenin sebentar, minta angin malam biar segeran. Maaf ya udah bikin Nak Raka khawatir,” jawab mamah, suaranya ramah, bahkan disisipi tawa kecil seolah tak terjadi apa-apa.

 

Aku ikut memaksa senyum.

 

“Iya, Mas … maaf ya … tadi Ayna kepikiran, jadi ngajak Mamah jalan bentar,” sambungku pelan.

 

Mas Raka tertawa kecil, mengacak rambutku ringan.

 

“Ah, dasar kalian berdua. Tadi Mas nyariin ke kamar gak ada, ke dapur kosong, ke ruang tengah gelap. Eh malah keluar malam-malam. Untung aja Mas baru balik beli martabak telur buat kamu, Dek,” ujarnya sambil mengangkat kantong plastik putih dari tangannya.

 

Aroma martabak hangat langsung tercium samar.

 

“Tuh, martabak telur favorit kamu. Mas beli di lapak Bang Arif. Tadi rame banget, makanya baru pulang,” lanjutnya sambil tersenyum.

 

Aku dan mamah saling pandang sekilas.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!