Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Mamahku
“Ayna!”
Suara mamah mendadak membelah ruangan. Tegas, keras dan penuh nada penekanan. Aku yang masih terpaku, sontak Jantungku berdetak tak karuan, tenggorokan tercekat.
“Jawab Mamah! Jelasin ke mamah ini apa? Ada apa ini?!”
Mamah mengangkat ponsel di tangannya, memperlihatkan layar pesan dari Nenek Gombel yang tadi kubaca. Tangannya sedikit gemetar karena emosi.
Aku tak sanggup menjawab.
Mulutku terbuka, tapi tak ada kata yang keluar. Air mata justru lebih dulu tumpah. Dadaku sesak. Seluruh isi hatiku serasa diaduk-aduk.
Sepertinya Allah memang ingin aku bicara sekarang juga.
Sepertinya memang takdirNya aku harus membuka semua luka yang selama ini kusimpan sendirian.
“Jawab, Nak … Ayna! Ini … ini ibu mertuamu kan?! Nenek Gombel ini kan ibunya Raka?! Jawab ibu, Ayna! Nomor ponselnya ibu hafal!”
Mamah setengah membentak.
Aku hanya bisa mengangguk pelan.
“Iya, Mah … itu … itu ibu Mas Raka …” suaraku serak, hampir tak terdengar.
Dan detik itu juga, mamah berdiri. Bola matanya merah. Napasnya tersengal menahan amarah.
“ Astaghfirullah, ini gak bisa dibiarkan, Ay! Ini udah keterlaluan! Dia ancam kamu, ancam keluarga kita! Ini bukan cuma soal mertua-mentuaan lagi! Ini soal harga diri!”
Aku mengusap air mata dengan punggung tangan.
“Aku … aku takut bikin mama sama papa kecewa … makanya aku gak cerita apa-apa. Aku takut mama sedih … aku takut papa marah. Aku takut kakak nyari mereka, Mah. Aku gak mau keluarga berantakan gara-gara aku.”
Mamah langsung menghampiriku. Menarik tubuhku dalam pelukannya, erat.
“Ayna … dengar ya Nak … kamu anak perempuan mamah satu-satunya. Kamu darah daging mamah. Selama ini kamu diam, kamu kuat … tapi gak bisa terus kayak gitu, Nak. Gak bisa!”
Aku makin menangis. Suara isakanku pecah di pelukan mamah.
“Mamah bakal kasih tau papa malam ini juga. Gak ada itu harga diri mertua kalau udah kayak begini caranya. Mau mertua kek, nenek kek … kalau udah ngancam anak mamah, siap-siap aja.”
“Mah!!! Kumohon, mah! Jangan … kumohon, jangan kasih tau papa … jangan bilang kakak-kakak. Aku mohon, Mah! Aku bisa kok, aku masih bisa ngatasin semuanya, Mah. Kalau nanti Ayna udah gak kuat … Ayna janji, Ayna bakal cerita sama mamah. Tapi jangan sekarang, jangan malam ini .…”
Aku merengek, hampir seperti anak kecil yang ketakutan minta perlindungan. Air mata sudah tumpah, membasahi pipi. Aku berlutut di hadapan mamah, menggenggam kedua tangannya erat. Badanku gemetar, dada sesak.
“Mah …”
Aku mendongakkan kepala, memandang wajah mamah yang mulai memerah, matanya basah. Garis-garis halus di sudut matanya seolah ikut bicara.
Wajah itu … wajah perempuan yang dulu selalu terlihat kuat, kini retak di hadapanku. Retak karena luka yang aku bawa pulang.
Aku tahu.
Aku tahu betul, di balik tatapan itu ada kecewa, ada marah, ada sakit dan ada hancur yang bercampur jadi satu. Sebagai seorang ibu… mamah pasti merasa gagal melindungiku.
Aku menguatkan suara, meskipun di tenggorokan ini rasanya seperti disayat pisau.
“Mah … aku mohon … tolong, Mah… jangan dulu beritahu Papah … jangan kasih tau kakak-kakak .…”
Air mataku jatuh, deras tanpa bisa kutahan lagi.
“Ayna belum sanggup, Mah … aku belum siap lihat wajah Papah kecewa … aku takut lihat mata Kak Dimas yang selalu marah kalo Ayna kenapa-kenapa … aku gak mau mereka kecewa karena Ayna .…”
Aku meremas kedua tangan mamah yang sejak tadi tak henti mengelus punggungku.
“Aku tahu, Mah … aku tahu aku salah … aku bodoh … terlalu naif percaya sama Mas Raka … terlalu polos ngira ibu mertuaku itu sebaik di awal. Tapi aku mohon, Mah … kasih aku waktu … jangan dulu buat semua orang sedih karena aku …”
Isakku makin keras. Aku bahkan tak peduli suara itu mungkin terdengar sampai ruang depan.
Mamah diam. Matanya menerawang. Aku tahu, mamah sedang berusaha menahan emosinya.
“Ayna … Nak … sampai kapan kamu mau begini? Sampai kamu sakit? Sampai kamu gak kuat berdiri lagi? Sampai kamu benar-benar hancur di sana? Sampai orang tuamu datang cuma buat jemput jenazah anaknya, hah?!”
Nada suara mamah meninggi.
“ASTAGHFIRULLAH.”
Matanya mulai berair, tapi tetap tajam menatapku.
Aku tak sanggup balas kata-kata itu.
“Kamu anak mamah, Ayna … satu-satunya anak perempuan mamah. Gimana mamah bisa diem aja ngeliat anaknya diperlakukan tidak layak sama orang lain?!”
Aku tunduk, bibirku bergetar.
“Mah … aku takut … aku gak mau mama sedih … aku takut papa marah … aku takut kakak nyari mereka. Aku takut semuanya jadi rusak karena aku, Mah.”
Mamah menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Tangannya mengusap kepalaku perlahan.
“Dengar ya, Nak … kamu bukan beban buat siapa-siapa. Kamu gak salah. Yang salah itu orang-orang yang selama ini ngerendahin kamu. Jangan simpen semuanya sendiri. Mama gak rela. Mamah gak tega .…”
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Isakanku pecah. Sepecah-pecahnya.
“Cerita, Ayna … ceritain semuanya sama mama sekarang. Apa saja yang ibu mertuamu lakuin di sana. Dari awal, dari pertama kamu masuk rumah itu. Jangan ditahan-tahan lagi, Nak.”
Aku masih tak menjawab. Lidahku kelu, sementara kepalaku rasanya penuh. Ingin sekali aku muntahkan semua luka, tapi suara itu masih terjaga di kerongkongan.
“Oke, kalau gak mau, mama tinggal panggil papa sekarang. Mama tinggal bilang ke papa dan kakak-kakak kamu. Biar mereka yang denger langsung pesan ancaman itu, biar mereka yang tahu apa yang kamu alamin.”
Kepalaku langsung mendongak.
“Jangan, Mah…! Kumohon… jangan… jangan libatin papa sama kakak dulu. Nanti mereka marah … nanti mereka ….” Perkataanku terhenti
“Mah, aku takut .…”
“Kalau gitu ceritain semua ke mama. Detik ini juga, Ayna. Mama gak mau tunggu besok.”
Aku menarik napas gemetar. Air mata belum berhenti mengalir.
“Iya, Mah … iya … Ayna cerita … Ayna bakal ceritain semuanya. Mulai dari awal … dari malam pertama aku nginjek rumah itu … nyampek hari ini. Nyampek detik ini .…”
Mamah meraih tubuhku ke dalam pelukannya.
“Nah, gitu … ayo cerita, Nak. Lepaskan semua. Biar habis malam ini. Mama ada buat kamu .…”
Aku pun mulai bercerita … satu per satu, tanpa terlewat. Tentang suara de54han dikamar, tatapan sinis, tentang suapan tangan itu, tentang ancaman halus, tentang sayur dibuang ke dekat tempat sampah, tentang kamar mandi yang dipakai bareng, tentang sindiran-sindiran menusuk, sampai tentang pesan ancaman santet itu.
Dan semakin banyak kata yang keluar … dadaku terasa jauh lebih ringan. Tapi wajah mamah justru makin pucat, air matanya ikut menetes.
Ketika aku selesai … mamah mengusap wajahnya, lalu menggenggam erat tanganku.
“Astaghfirullah, Nak.”
“Mamah janji, Nak … malam ini kamu tidur tenang di rumah ini. Besok, mamah yang akan turun tangan. Urusan kayak begini gak bisa dibiarkan. Kita lihat siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih tega.”