Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Apakah Kamu Sabar Bertahan? 15
Tangan mamah mengusap lembut kepalaku, jemarinya menangkup kedua pipiku, seakan ingin memastikan aku benar-benar melihat matanya.
Tatapan itu bukan lagi sekadar tatapan ibu, tapi pandangan seorang perempuan yang pernah sama-sama menjadi menantu, yang mengerti betul rasa dihina, direndahkan, dan tetap bertahan karena cinta.
“Ayna .…”
Aku menahan napas. Tenggorokanku tercekat.
“Kamu masih mau terus sama suamimu itu?”
lanjut mamah lirih, tapi nadanya tegas dan penuh penekanan.
Aku terdiam.
Mulutku terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Bibirku bergetar. Entah kenapa, saat mamah menyebut namanya saja, dada ini langsung sesak.
“Aku … aku sayang, Mah … tapi aku juga capek. Aku benci diriku karena masih nungguin dia berubah … masih berharap ibuk bakal nerima aku .…”
Air mataku tumpah lagi, hangat, deras, seakan semua luka yang kutahan dari kemarin-kemarin akhirnya minta dikeluarkan sekarang juga.
Aku menggenggam tangan mamah makin erat. Suaraku parau. “Aku nggak ngerti kenapa aku sebodoh ini, Mah … kenapa aku masih bertahan sama orang yang nggak bisa jagain aku baik-baik .…”
Mamah langsung menarik tubuhku dalam pelukannya, lebih erat. Kehangatan itu masih sama seperti dulu waktu aku kecil. Saat aku jatuh main sepeda, saat aku dihina anak tetangga atau waktu aku pertama kali gagal ujian. Pelukan mamah, selalu jadi tempat paling aman di dunia.
“Sayang … cinta itu boleh … berharap itu boleh … tapi jangan sampai kamu ngorbanin diri kamu sendiri. Jangan sampai kamu jadi perempuan yang diinjak harga dirinya demi seseorang yang bahkan nggak bisa ngebelain kamu.”
Aku memejamkan mata. Menghirup wangi tubuh mamah, Harum yang sekarang justru bikin dada makin sesak karena menyesal, kenapa aku nggak cerita dari awal.
Tapi di sela tangisku, aku masih mencoba membela orang itu. Orang yang sebenarnya sebagian hatiku masih ingin pertahankan.
“Mas Raka … sedikit lebih baik kok, Mah,”
Aku mendongak, menatap wajah mamah. Bibirku bergetar berusaha tersenyum.
“Dia … dari kemarin udah mulai belain Ayna di depan ibunya. Dia mulai lebih perhatian. Mulai kayak dulu waktu sebelum nikah. Mungkin … mungkin dia cuma kejebak sama omongan ibunya aja, Mah .…”
Suaraku gemetar. Entah kenapa, meskipun logikaku bilang aku bodoh, hatiku tetap maksa mencari pembenaran untuk orang yang berkali-kali ninggalin aku sendirian di medan perang.
Mamah menghela napas panjang. Tatapannya menusuk mataku.
“Ayna … perempuan itu sering kayak gitu, Nak. Begitu dikasih sepotong perhatian, semua luka yang selama ini disayat kayak ketutup sama satu plester kecil. Seolah-olah nggak sakit lagi, padahal masih basah lukanya.”
Aku tercekat.
Mamah mengusap sisa air mataku.
“Mamah ngerti kamu sayang sama dia. Mamah juga nggak pernah ngajarin anak mamah buat jadi perempuan yang gampang nyerah. Tapi mamah juga nggak ngajarin kamu buat jadi perempuan bodoh yang rela diinjak-injak demi orang yang nggak tahu diri.”
Aku diam. Bibirku bergetar.
“Sayang … kalau dia beneran cinta, dia bakal ngelawan siapa pun buat jagain kamu. Bukan cuma belain kamu kalau kebetulan sempat, tapi bakal pasang badan kapan pun kamu butuh. Kalau dia nggak berani lawan ibunya demi kamu … buat apa?”
Aku menarik napas panjang. Pipiku makin panas. Kata-kata mamah itu masuk, merobek dinding pertahanan yang selama ini kubangun demi tetap berpikir positif.
Tapi tetap … aku masih berusaha keras membela.
“Mas Raka … sebenernya dia sayang kok, Mah … dia cuma bingung … dia belum bisa sepenuhnya lepas dari ibuk ….”
“Dan kamu sampai kapan mau nunggu dia ‘belum bisa’ itu, Nak?” potong mamah, suaranya tegas.
Aku terdiam.
Mamah memegang kedua pipiku, menundukkan wajahnya, menatap mataku lekat-lekat.
“Ayna … mamah cuma mau bilang satu hal. Kamu boleh cinta siapa pun. Tapi jangan pernah, sekali pun, ngerelain diri kamu dihina, diancam, dipermainkan demi laki-laki. Kamu masih muda. Dunia kamu luas. Kalau dia nggak bisa jagain kamu, berarti dia nggak pantas menjadi suami kamu.”
Aku mengangguk.
“Tapi Ayna sudah terlanjur menikah, Mah ….”
Bibirku gemetar.
“Belum terlambat Ayna!”
“Iya, Mah …”
“Sekarang sudah yang penting kamu menginap disini. Mau ibu mertuamu telpon kek, ibuknya chat kek, mamah yang hadapin. Kamu tidur tenang malam ini. Besok kita pikirin sama-sama.”
Aku tak kuasa menahan air mata. Aku peluk mamah lagi, lebih erat. Rasa nyaman yang lama hilang, akhirnya aku dapatkan kembali.
Mamah mengusap punggungku.
“Besok, kita lihat siapa yang lebih kuat. Perempuan yang udah sepuh itu … atau anak gadis mamah yang nggak pernah mamah didik buat jadi pecundang.”
“Besok kamu harus pulang! Janji sama mamah untuk jadi pemenang!”
Aku terkekeh kecil, di sela air mata.
“Iya, Mah… Ayna janji.”
Pelukan itu bertahan lama, meskipun hati masih luka, setidaknya aku tahu … aku nggak sendirian lagi.
*
Cklekk …
Suara kunci pintu diputar pelan dari arah ruang depan. Refleks aku dan mamah saling menatap di atas kasur, pandangan kami seketika terkunci.
aku dan mamah memang sengaja izin pada Mas Raka untuk tidur berdua. Alasan kami sederhana, katanya mamah kangen berat ingin menghabiskan waktu berdua dengan anak perempuannya.
Padahal kami berdua ingin menghabiskan waktu untuk bercerita saja.
Sementara itu, Mas Raka aku minta tidur bersama papa di kamar sebelah. Katanya sih nggak apa-apa, malah dia senang bisa ngobrol sama papa karena sudah lama nggak ketemu.
“Siapa itu, Mah?” bisikku.
Mamah menaruh telunjuk di bibir, mengisyaratkan agar aku diam. Pelan-pelan kami turun dari kasur, berjingkat ke balik tirai ruang tengah, mengintip tanpa menyalakan lampu. Rumah sedang gelap, hanya temaram lampu taman depan yang samar masuk lewat ventilasi.
Dari balik celah tirai, tampak bayangan tubuh seorang lelaki berjalan hati-hati ke arah pintu utama. Tangannya memutar kunci pelan, seakan takut suaranya terdengar.
Dan saat cahaya lampu teras menyorot sebagian wajahnya, jantungku langsung berdegup kencang.
Mas Raka.
Aku spontan menahan napas.
Mas Raka? Jam segini? Mau ke mana?
Dengan langkah tergesa, Mas Raka keluar rumah, buru-buru menutup pintu tanpa membunyikan kunci.
Kakinya melangkah ke arah mobil yang terparkir di halaman.
Ponsel di telinganya, wajahnya terlihat tegang. Dia membuka pintu mobil, masuk, lalu menghidupkan mesin.
Brumm .…
Suara mesin menyala pelan. Lampu mobil menyala, lalu perlahan bergerak ke luar pagar.
Aku masih tertegun di balik tirai. Mamah di sebelahku menatapku lekat-lekat.
“Apa aku … terlalu curiga, Mah?” bisikku pelan, lidahku terasa kaku.
Mamah menggeleng pelan. “Mungkin … mungkin cuma ke warung. Siapa tau dia lapar,” jawab mamah, meskipun nadanya terdengar dipaksakan, seolah ia sendiri tak yakin dengan ucapannya.
Aku menoleh, menatap mamah tak percaya. “Malam-malam gini? Warung mana, Mah? Paling jauh warung Haji Saleh, itu pun jam sepuluh udah tutup semua .…”
Mamah menarik napas panjang.
“Kalau dalam satu jam dia gak balik, kita susul. Kita intip rumahnya.”