Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Bab 10. Pertikaian

"Assalamualaikum .…”

 

Suara berat itu terdengar dari arah depan rumah, disertai suara pintu yang berderit pelan. 

 

Aku yang baru saja melipat mukena usai sholat Isya, sontak menghentikan gerakan tanganku.

 

Aku beranjak pelan, hendak keluar dari kamar. Tapi langkahku terhenti tepat di depan pintu saat samar-samar aku mendengar percakapan dari ruang tengah.

 

Suara Mas Raka .…

Dan suara Ibuk.

 

Aku menajamkan pendengaran, berdiri terpaku di balik pintu yang sedikit terbuka.

 

“Buk, apa nggak sebaiknya kasih Ayna sedikit aja dari gajiku? Gimanapun dia istriku, Buk. Aku takut dia salah paham lagi …,” suara Mas Raka terdengar pelan, tapi jelas.

 

Hatiku langsung mencelos.

 

Aku mengintip pelan dari celah pintu.

 

Di sana, Ibuk duduk di kursi panjang ruang tamu, tangannya menggenggam amplop coklat tebal  yang aku tahu pasti itu amplop berisi gaji bulanan Mas Raka.

 

Ibuk menggeleng pelan, wajahnya serius.

 

“Buat apa? Dia nggak butuh uang, Raka. Semua kebutuhan di rumah ini Ibu yang urus. Kamu juga. Mau apa-apa tinggal ngomong. Lagi pula, Ayna itu cuma numpang tinggal di sini. Belum waktunya dia pegang uang. Masih baru jadi istri, jangan manja.”

 

Aku menghela napas panjang.

 

Ada rasa panas merambat ke dada. Perih. Getir. Seketika air mata menggenang di pelupuk mata, tapi aku paksa untuk tidak jatuh.

 

“Tapi Buk … dia pasti butuh juga. Kasian .…”

 

Mas Raka masih mencoba beralasan, nadanya terdengar ragu, tapi tetap memohon.

 

Ibuk mendengus, lalu meletakkan amplop itu di atas meja.

 

“Udah! Jangan dibahas. Kamu itu anak Ibu. Sampai kapan pun. Gaji kamu, hak Ibu. Kalau Ayna butuh apa-apa, tinggal ngomong ke Ibu. Jangan mau di atur-atur sama anak orang!”

 

Hati ini rasanya mau meledak.

 

Jadi selama ini? Semua gajinya langsung ke Ibuk? Jadi sekarang aku? Aku istri … hanya status di KUA.

 

Tiba-tiba aku sadar, tangan dan kakiku dingin. Napasku sesak.

 

Aku tarik napas dalam-dalam, menguatkan diri. Lalu pura-pura keluar dari kamar memasang wajah seakan tak mendengar apapun.

 

“Mas …?” panggilku, seolah baru menyadari kedatangannya.

 

Keduanya sontak menoleh.

 

Aku tersenyum tipis, menyembunyikan badai yang berputar di dada.

 

“Sudah pulang?” tanyaku basa-basi.

 

Mas Raka langsung berdiri dari duduknya, wajahnya sedikit panik, mungkin merasa bersalah karena takut aku mendengar.

 

“Eh … iya, Dek. Baru aja sampai.”

Dia cepat-cepat berjalan ke arahku, seolah ingin menutupi kegugupan.

 

Ibuk pun ikut tersenyum kecil, senyum palsu yang saat ini semakin hari semakin membuatku muak.

 

“Ayna… sini Nak, temenin Raka makan. Ibu udah bikinkan lauk kesukaannya.”

 

Aku menoleh pelan ke arah suara itu.

Ibuk yang melangkah ke meja makan, dengan senyum tipis di wajahnya. Senyum yang kini aku hafal betul, bukan senyuman tulus seorang ibu mertua, tapi senyum yang terpaksa ia lemparkan demi mendapatkan hati anaknya.

 

Aku menarik napas panjang, berusaha keras menyembunyikan sesak yang sejak tadi menyesaki dada. Bibirku membentuk senyum tipis.

Kepalaku sedikit menunduk.

Bukan karena sopan, tapi karena aku takut … mereka akan melihat mataku yang mulai memerah.

 

Aku berjalan pelan, duduk di ujung meja.

Mas Raka duduk di hadapanku, terlihat lelah tapi masih menyempatkan tersenyum tipis.

 

“Raka … ini makanan kesukaanmu, semua ibu yang masak. Banyak, kan? Capek emang masak sendirian. Tapi nggak apa, demi anak Ibu bisa makan enak.”

 

Ibuk berkata begitu sambil meletakkan sepiring besar ayam goreng balado di meja, tepat di depan Mas Raka.

 

Aku menelan ludah.

 

Sedikit terkejut.

Ternyata kini ibuk bukan hanya berpura-pura baik di depanku, tapi mulai memutarbalikkan keadaan secara terang-terangan. Bermain di depan mataku, seolah aku ini benar-benar musuh bagi ya.

 

Aku baru saja mengambil sendok, suara Mas Raka terdengar datar.

 

“Loh, Dek? Nggak bantuin Ibuk masak?”

 

Deg.

 

Belum sempat aku menjawab, Ibuk dengan cepat menyambung, nadanya begitu lembut bagai bunda-bunda yang sedang mengajar anak TK.

 

“Ayna seharian di kamar. Ibu panggil-panggilin juga nggak nyaut. Ibu sempet ngintip, maaf ya Nak … kayaknya Ayna sibuk banget sama handphonenya di kamar.”

 

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari pada pisau manapun.

 

Aku mendongak pelan, menatap Ibuk. Senyum kecil itu masih di sana, seolah berkata, ‘Lihat, betapa mudahnya aku membolak-balik keadaan.’

 

“Dek .…”

Suara Mas Raka memanggilku pelan.

 

Aku tahu, sebentar lagi dia akan menghakimi. Bukan karena dia jahat. Tapi karena dia terlalu mudah dipengaruhi wanita yang melahirkannya itu.

 

Aku menahan napas.

 

Dan benar saja.

 

“Sudah … sudah, Raka.”

Ibuk pura-pura menenangkan.

 

“Ibu tahu kok, anak-anak zaman sekarang memang candu sama HP. Susah lepas. Mungkin Ayna capek atau lagi males bantu-bantu. Nggak apa-apa … asal kalian baik-baik aja. Ibu nggak mau kalian ribut cuma soal dapur. Kan nggak enak kalau tetangga denger.”

 

Aku mengepalkan tangan di atas pangkuan. Rahangku mengeras.

 

Dapur? Ribut soal dapur?

Ini bukan soal dapur.

Ini soal harga diri.

Soal bagaimana aku diperlakukan di rumah ini.

 

Aku paksa bibirku tersenyum, meski dada ini terasa seperti diremas.

 

“Maaf, Mas … Ayna tadi ketiduran.”

Kalimat itu akhirnya keluar dari mulutku.

Bohong. Tapi lebih baik dari pada membuang energi berdebat di atas meja makan ini.

 

Mas Raka hanya mengangguk kecil, lalu kembali melanjutkan makannya.

 

Ibuk tersenyum puas.

 

Senyum tipis di sudut bibirnya yang membuatku ingin sekali membalikkan meja makan ini saat itu juga. 

 

Tapi aku hanya menunduk.

 

Menunduk dengan tangis yang tak bisa keluar lewat mata.

 

Aku menangis di dalam dada. Di dalam jantung.

Tangisan yang lebih menyakitkan dari pada air mata yang tumpah.

 

Aku menelan ludah, memaksa sendok pertama masuk ke mulutku.

Masakan yang seharusnya terasa enak itu … anehnya hambar.

Bahkan terasa getir.

Seolah ada pasir halus yang bercampur di dalamnya.

Atau beling halus yang kumakan secara bulat-bulat.

 

Setiap kunyahan terasa seperti serpihan kaca yang mengiris pelan-pelan bagian dalam mulut dan tenggorokanku.

Perih.

Sakit.

Tapi aku tetap menelan.

 

Karena kalau aku berhenti, aku tahu … Ibuk akan berkomentar lagi.

 

Aku meremas ujung rokku di bawah meja. Jemariku menggenggam erat kain itu, seakan bisa meredam semua amarah yang mulai membuncah di dada.

 

Suara sendok dan garpu bersentuhan di piring terdengar nyaring di telingaku.

 

“Enak, Nak Raka?” tanya Ibuk lembut.

 

Mas Raka tersenyum.

“Enak banget, Buk. Kayak biasa. Masakan Ibu nggak pernah gagal.”

 

“Very … very good!” tambah Mas Raka lagi.

 

Aku memejamkan mata sesaat.

 

Dadaku makin sesak.

 

Mas Raka benar-benar tak menyadari ada peperangan batin di antara dua perempuan di hadapannya. Dia terlalu sibuk mengunyah masakan sambil sesekali memuji Ibuk.

 

Aku menelan nasi itu.

Bukan karena lapar.

Tapi karena gengsi.

Karena aku tak mau kelihatan lemah di depan wanita itu.

 

Aku mengangkat kepala perlahan, menatap Ibuk.

 

Ia balas menatapku, senyumnya masih sama.

Tipis. Licik.

Seolah berkata, ‘Lihat, Ayna … siapa yang menang di rumah ini.’

 

Aku mengulum senyum tipis.

Senyum penuh luka.

Dan pelan-pelan aku kembali menunduk.

 

Sambil dalam hati bersumpah,

‘Aku nggak akan lama-lama di bawah kaki perempuan tua ini. Sumpah, suatu hari … aku bakal buat dia berhenti merasa menang.’

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!