Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Ibu Mertuaku Licik
Mas Raka menyenggol lenganku pelan, tepat saat ia baru saja menghabiskan suapan terakhir makan malamnya. Suara sendoknya berbunyi halus menyentuh piring, sementara aku masih setengah hati menyendokkan nasi yang rasanya sudah berubah getir di lidah.
“Dek …,” bisiknya, nyaris seperti rahasia kecil di antara keramaian meja makan malam itu. “Habis ini kamu aja ya yang nyuci piring. Ambil hati Ibuk. Biar suasananya adem lagi.”
Nada suaranya lembut.
Hangat.
Nada seorang suami yang seolah sedang meredam perang dingin di antara dua wanita di hidupnya. Tapi justru di situlah aku kesal. Karena dia pikir semudah itu semua bisa beres cuma dengan ‘ambil hati’.
Aku diam. Menghela napas panjang, menatap piring yang masih setengah penuh di depanku. Makanan yang bahkan tak lagi bisa kutelan dengan baik. Lalu menoleh ke arah Mas Raka.
Matanya menatapku dengan tatapan memelas, yang biasanya bisa dengan mudah melemahkan hatiku. Tatapan yang dulu aku suka, dulu aku tunggu-tunggu. Tapi malam ini, tatapan itu justru bikin dadaku makin sesak.
“Iya,” jawabku singkat.
Suara itu keluar karena malas berdebat. Bukan karena aku ikhlas.
Mas Raka langsung sumringah, bibirnya melebar, mata bulatnya sedikit berbinar. Seperti anak kecil yang baru saja diizinkan main hujan.
“Nanti Mas temenin ya, Dek,” katanya sambil tersenyum manis.
Aku mengangguk pelan.
Berusaha tetap tampil manis di depan Mas Raka, meski sebenarnya aku tahu persis betapa panasnya hati ini.
Begitu melihat Ibuk bangkit dari duduknya, aku pun buru-buru berdiri. Kubuat suara selembut mungkin, seolah-olah aku menantu paling baik sedunia.
Memang ibuk saja yang bisa akting di depan Mas Raka? Aku juga bisa!
“Biar Ayna aja ya, Buk. Ibuk langsung istirahat aja, capek kan dari tadi masak. Biar aku yang beresin semuanya.” Lembut sekali suara ini bahkan bidadari pun kalah lembutnya dengan suaraku saat ini.
Aku bisa merasakan detik itu juga, syaraf-syaraf di wajah Ibuk langsung tegang. Ekspresi wajahnya menegang sekejap, sebelum akhirnya keluar juga suaranya, kali ini tanpa topeng drama.
“Tidak usah! Biar Ibuk sendiri!”
Nada ketusnya meluncur tanpa bisa ia tahan.
Hah.
Aku nyaris ingin bertepuk tangan.
Dalam hati aku ngikik puas.
Wah … akhirnya keluar juga suara aslinya di depan Mas Raka.
Keceplosan, Bu?
Atau udah capek pura-pura ramah terus di depan anak kesayangan?
Mataku sekilas melirik ke arah Mas Raka yang tampak sedikit kaget. Alisnya bertaut, bibirnya mengerucut, ekspresi bingung campur nggak enak hati.
“Buk …,” tegur Mas Raka, nadanya pelan.
Aku lipat tangan di depan dada, berpura-pura tetap tenang. Tapi sumpah … dalam hati aku senengnya minta ampun.
Yes, satu poin buat Ayna.
Mas Raka kembali angkat bicara.
“Benar kata Ayna, Buk. Ibuk istirahat aja, ya. Capek dari tadi masak. Biar Ayna yang nyuci piring sama beresin meja makan. Nanti Raka bantuin kok, Buk.”
Dan detik itu juga, aku lihat mata Ibuk menatapku.
Tatapannya kayak mau makan orang.
Menusuk … sinis … tapi kali ini dia nggak bisa apa-apa karena Mas Raka yang bilang.
Ibuk hanya melirikku sinis. Bibirnya mengerucut, wajahnya kesal setengah mati.
Lalu tanpa kata-kata lagi, dia melangkah pergi ke arah kamarnya.
Suara tapak kakinya berat, menghentak-hentak lantai.
Jelas banget kalau dia kesel.
Dan suara pintu kamarnya yang ditutup agak keras bikin aku makin pengen ngakak.
“Dududu … ada yang kesel nih,” batinku sambil tersenyum tipis, tanpa bisa ditahan.
Seru juga ternyata lama-lama begini.
“Sayang … maapin Ibuk, ya,” bisik Mas Raka pelan sambil mengusap punggungku lembut.
Aku diam. Menahan diri supaya nggak meledak lagi. Karena jujur … tiap kali tangan hangatnya menyentuh punggungku kayak gini, benteng emosiku langsung goyah.
“Yaudah … sini biar Mas yang beresin di sini. Adek tunggu aja di dapur, ya?”
Aku mengangguk lemah.
Lalu melangkah pelan ke dapur.
Begitu sampai di sana, deg.
Mata ini langsung membelalak.
“Lailahaillallah, amsyong aku! Ternyata sebanyak ini?! Ya Allah, cucian piringnyaaa …!”
Rak piring penuh tumpukan piring kotor, gelas, sisa sendok, wajan bekas goreng sambal, panci bekas rebusan, ulekan masih belepotan sambal … ternyata bekas ibu tadi masak nggak dibereskan sama sekali.
Astaga naga, ini mah bukan dapur habis makan, tapi dapur habis hajatan tujuh kampung!
Aku berdiri bengong beberapa detik.
Baru sadar … Oalah, ini Ibuk nih sengaja!
Dia tadi pura-pura ngalah, biar aku yang cuci piring sebanyak ini.
Licik juga.
Aku geleng-geleng kepala sambil manyun.
“Pinter juga si emak … kayak begini caranya ngasih pelajaran ke menantu.”
Aku hela napas panjang, mulai gulung lengan baju.
Masih sambil ngomel sendiri pelan.
“Dikira gue bakal mundur? Halah, ibuk … liat aja nih, Ayna bukan tipe yang gampang KO. Ini mah sepele … meskipun hati gue panas, tangan tetap kerja coy!” aku bergumam dengan diri sendiri.
Aku mulai ambil piring pertama, nyalain keran, dan sambil nyuci, mulut nggak berhenti berkomentar.
“Sayang? Banyak banget ya,” suara berat Mas Raka terdengar persis di belakangku, disertai kedua lengannya yang tiba-tiba melingkar di pinggangku.
Tubuhnya yang hangat menempel di punggungku, membuat aku sempat terkejut.
Belum sempat aku berkata apa-apa, dia mengecup pelan tengkuk leherku, menimbulkan sensasi hangat yang merambat ke seluruh tubuh.
Aku menahan napas.
Jantungku berdetak agak lebih cepat.
“Mas bantuin ya, sayangku,” bisiknya lembut di telinga. Suaranya serak-serak manja, penuh rayuan seperti biasa kalau dia lagi ingin meluluhkan aku.
Tangannya mempererat pelukan, dagunya bersandar di pundakku.
“Jangan capek-capek, soalnya nanti malem tugasmu masih ada lagi, nih.”
Aku menoleh sedikit, keningku mengernyit.
“Tugas? Tugas apa, Mas?”
Mas Raka tersenyum kecil, bibirnya nyaris menyentuh telingaku saat dia membisikkan sesuatu yang bikin seluruh tubuhku seketika panas dingin.
“Tugas menyenangkan suami … dan membuat cucu buat orang tuamu sama Ibuk.”
Nadanya berat, pelan dan begitu dekat di telingaku.
Aku bisa merasakan helaan napasnya menyapu kulit leherku.
Aku spontan mencubit pelan lengannya sambil pura-pura sebal.
“Ish, Mas nih … ngomongnya sembarangan aja.”
Tapi senyumku nggak bisa kutahan.
Rasanya campur aduk antara malu, geli, dan ada bahagia kecil yang diam-diam merayap di perut.
Mas Raka terkekeh kecil, lalu memutar tubuhku perlahan agar berhadapan dengannya.
Dia menatap wajahku dalam-dalam, kedua tangannya mengusap pipiku pelan.
“Kamu tahu nggak, Sayang? Dari semua yang pernah Mas rasain … pelukan kamu, sentuhan kamu, itu rumah paling nyaman buat Mas. Rumah yang bisa Mas datengin kapan pun Mas lelah sama dunia. Jadi, biarin Mas bantu kamu ya malam ini. Mas nggak mau liat kamu capek sendirian.”
Aku menunduk, senyumku makin lebar.
Degupan jantungku makin kencang.
“Ayna sayang Mas,” bisikku lirih.
“Mas juga sayang kamu … lebih dari apa saja di dunia ini,” balasnya, lalu mengecup keningku lama-lama, penuh makna.